Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
#S2 Dika 32


__ADS_3

Setelah puas melihat-lihat , akhirnya Dika dan Maira memutuskan untuk kembali ke rumah . Ternyata benar kata Maira , membeli etalase bekas harganya lebih murah daripada membeli yang baru selisihnya hampir satu jutaan . Dan kalau membeli dua bisa sampai dua juta . Uang dua juta , daripada untuk membeli etalase baru lebih baik digunakan untuk modal usahanya nanti . Begitulah yang Maira katakan kepada Dika . Dan akhirnya Dika menyetujui apa yang Maira katakan .


Mereka akhirnya pulang dengan tangan kosong , dan hanya menunggu kedatangan mobil mereka di rumah . Besok Dika akan melakukan pertemuan dengan orang yang menjual etalase untuk toko Maira . Tadi Maira sudah menyimpan nomor ponsel orang tersebut , sehingga dia hanya tinggal menghubunginya saja . Dan Dika bisa melihat barangnya secara langsung . Apakah masih layak dipakai atau tidak .


Sesampainya di rumah , rumah sudah dalam keadaan sepi Bu Ayu pasti sudah tidur . Karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam . Maira segera masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur , setelah itu dia keluar dan menuju dapur untuk membuatkan teh untuk suaminya yang sedang menunggu kedatangan mobilnya .


Benar saja , tak lama mobil yang Dika pesan pun sudah datang di depan rumah . Dika menyuruh mereka untuk memasukkan mobilnya ke dalam garasi .


Maira sudah menyiapkan tiga gelas teh untuk Dika dan dua orang pegawai showroom yang mengantarkan mobil mereka.


"Silahkan diminum Mas , tawar Maira kepada para tamunya . " Maira kemudian masuk ke dalam kamarnya lagi, sambil menunggu Dika menyelesaikan semua urusannya .


Lima belas menit berlalu, akhirnya tamu Dika pulang dan Dika segera masuk kedalam kamar setelah mengunci pagar dan pintu rumah . Dilihatnya Maira , yang sedang berdiri menghadap cermin sedang membersihkan wajahnya . Dika langsung mendekat dan memeluk Maira dari belakang.


"Apa kau senang, Mai? " tanya Dika sambil memeluk istrinya .


Dilihatnya di depan cermin Maira sedang tersenyum , "Tentu saja aku senang Mas , mas Dika memang baik karena memberikan yang terbaik untuk keluarga kita , terima kasih ya Mas . Aku beruntung mengenalmu dan menjadi istrimu ." ucap Maira pada akhirnya.


Dika lalu membalikkan tubuh mereka , agar menghadap arahnya . Dia menatap mata Maira lekat-lekat. Lalu mencium bibir Maira sekilas .


"Akulah yang beruntung , karena mengenalmu Mai. Dan menjadikanmu istriku. Aku sangat bahagia memilikimu. " Dika lalu memeluk Maira dengan erat.


"Ayo tidur, mas. Aku ngantuk. " ajak Maira.


"Apa kamu sudah meminum susu ? " Tanya Dika memastikan , agar istrinya itu tidak lupa meminum susunya .


"Sudah Mas , tadi saat aku membuatkan teh untuk kalian . Sekalian saja aku membuat susu untukku ." jawab Maira memastikan.


"Ya sudah kalau begitu , kamu tidur dulu aku mau ganti pakaian ."


Maira kemudian merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur. Tak lama Dika menyusul berbaring di sampingnya.


************


Keesokan harinya sama seperti kemarin , Maira mengalami mual muntah di pagi hari . Dan itu membuat kepanikan pada Dika . Karena dua istri sebelumnya tidak pernah mengalami hal seperti ini .


"Tidak perlu khawatir Mas , kata dokter ini juga sudah biasa bagi ibu hamil . Apa lagi di trimester pertama . Lagi pula aku hanya merasa mual dan muntah di pagi hari .Di siang hari sampai malam hari aku baik-baik saja . Jadi tidak usah terlalu khawatir, aku baik-baik saja kok ." Kata Maira yang menenangkan suaminya .


Mendengar hal itu , membuat Dika sedikit tenang. Tapi dia khawatir saat melihat wajah Maira yang memucat .


"Aku buatkan teh hangat seperti kemarin ya agar perutmu nyaman . Setelah lebih baik makan roti dan susu yang sudah aku belikan kemarin ." Kata Dika mengingatkan .


Maira hanya mengangguk melihat kekhawatiran suaminya.


Dika lalu keluar dari kamarnya , dan membuat teh hangat untuk istrinya .

__ADS_1


"Apa Maira mengalami mual muntah lagi? "tanya Bu Ayu yang sudah berada di samping Dika.


"Iya Bu , dari bangun tidur subuh tadi dia langsung muntah sampai sekarang . Kasihan sampai lama sekali , wajahnya juga sudah pucat . Aku jadi nggak tega melihatnya . " adu Dika kepada ibunya.


"Itu sudah biasa bagi wanita hamil , biasanya sampai tiga bulan . Tapi setelah itu dia akan kembali normal lagi ." Kata bu Ayu yang menenangkan kecemasan anaknya.


"Aku kasihan melihatnya, dia yang selalu bersemangat di pagi hari, kini tak berdaya ."


"Karena itu selama dia tidak berdaya seperti ini , kita harus membantunya . Dan menyemangatinya agar dia merasa disayangi oleh kita." ujar bu Ayu .


"Katakan padanya untuk sementara tidak usah memikirkan pekerjaan rumah dulu . Biar Ibu saja yang masak , kamu yang bantu nyuci pakaian . " kata Bu Ayu yang membagi tugasnya dengan Dika, selama Maira mengalami morning sickness.


"Baikah bu, aku mengerti aku ke kamar dulu. " Dika segera pergi menuju kamarnya , untuk memberikan teh hangat kepada Maira .


Di dalam kamar dilihatnya Maira yang sedang meringkuk menahan mual di perutnya .


"Minumlah, Mai. untuk menghangatkan perutmu. " ujar Dika.


Maira segera duduk dan meminum teh hangat yang dibuatkan Maira.


"Bagiamana? apa terasa lebih baik? "


Maira mengangguk.


"Ya sudah kalau begitu , kamu istirahat dulu . Tadi pesan ibu , Kamu tidak usah memikirkan pekerjaan rumah . Biarkan Ibu dan aku yang menyelesaikannya , selama kamu mengalami morning sickness seperti ini . Ibu akan memasak untuk kita dan aku akan mencuci pakaian . Kamu tidak usah memikirkan pekerjaan rumah dulu ." kata Dika menyampaikan pesan ibunya .


"Jangan memikirkan hal itu May , semua baik-baik saja . Asalkan kamu sehat , dan bayimu juga sehat kami tidak apa-apa . Hanya sebuah bantuan kecil yang kami berikan ,untuk membantumu. " kata Dika yang menghibur Maira. "Sekarang tidurlah aku keluar dulu ."


Dika lalu keluar dari kamarnya dan mengerjakan pekerjaan rumah yang biasa dilakukan oleh Maira yaitu mencuci pakaian . Setelah pekerjaannya selesai Dika kemudian bersiap untuk ke kantor . Maira juga sudah bangun dan terlihat lebih segar daripada sebelumnya .


"Apakah sudah baik-baik saja Mai ?"


"Sudah Mas , kalau dibuat tidur terus . Aku akan jadi seorang pemalas . Aku akan menyiapkan makanan untukmu , dan membuat susu untukku. " kata Maira yang berjalan keluar kamar , setelah menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya.


Dika selalu merasa kagum melihat Maira , karena dia selalu yang mementingkan keluarga ini daripada dirinya sendiri . Dia lalu keluar dari kamarnya setelah rapi dengan setelan kerjanya . Dilihatnya Maira sedang duduk di meja makan bersama ibunya . Dika lalu ikut bergabung bersama mereka .


"Apa kau sudah lebih baik. " tanya Dika sambil membelai lembut rambut Maira .


"Sudah Mas , sekarang makanlah aku sudah menyiapkan makanan untukmu . Kita sarapan bersama ." ujar Maira kepada suaminya .


Sebenarnya Dika tidak terlalu selera makan, karena yang memasak bukanlah Maira. Rasanya sungguh berbeda dengan masakan Maira . Mungkin Dika sudah terbiasa dengan masakan Maira jadi dia tidak begitu menikmati masakan ibunya tapi dia memaksakan diri untuk menghabiskan sarapannya . Demi menghargai ibunya yang sudah memasak untuknya.


Maira mengantarkan Dika ke teras rumah, untuk berangkat kerja. Dia memutuskan tidak menggunakan mobil, untuk bekerja karena bahan bakar untuk mengisi mobil sangat mahal. Jadi dia akan tetap menggunakan sepeda motor untuk menghemat pengeluaran membeli bahan bakar.


"Mai cepatlah kembali seperti semula , Aku merindukan masakanmu ." Kata Dika sambil merengek .

__ADS_1


"Iya Mas aku tahu , kamu menahannya tadi ."


Maira langsung memeluk Dika . Nanti kalau aku sudah mendingan, akan aku masakkan sesuatu untukmu .


"Terimakasih sayang. " ujar Dika membalas pelukan dari istrinya.


"Aku mungkin nanti pulang agak malam, karena langsung menemui orang yang menjual etalase bekas seperti yang kau bilang. "


Maira mengangguk. "Hati-hati ya mas. Kalau menurut mas Dika kemahalan ya jangan di beli."


"Iya, sayang. Aku tau kau sangat memperhatikan semuanya dengan baik." kata Dika membelai pipi istirnya dengan lembut.


Maira lalu mencium tangan Dika sebelum berangkat.


*


Benar kata Dika malam ini Dika pulang lebih malam. Baru pada pukul tujuh Dika sampai di rumahnya. Tak lama berselang, sebuah mobil pickup berhenti didepan rumahnya. Dika langsung menyuruh Maira membukakan rollingdoor toko mereka. Sehingga etalase mereka akan langsung di tata di tempatnya. Setelah semua selesai Maira menutupnya kembali.


"Wah, mas Dika mau buka toko ya? " tanya salah satu ibu-ibu yang melihatnya memasukkan etalase ke dalam tokonya.


"InsyaAllah, bu. Buat kegiatan istri saya di rumah. "


"Iya nih kangen sama gorengannya mbak Maira. sudah lama nggak jualan, sejak renovasi rumah. "


"Iya bu, kebetulan saat ini istri saya juga sedang hamil. Jadi, saya memintanya istirahat dulu. Nanti kalau kandungannya sudah kuat, dia akan jualan lagi katanya. "


"Wah.. alhamdulillah ya, mas. Akhirnya mbak Maira hamil juga. Pantesan nggak pernah kelihatan belanja bareng. Tapi tadi dia sepertinya belanja, deh. "


"Ya sudah, bu. Permisi. saya masuk dulu. "


Setelah berpamitan dengan tetangganya, Dika segera masuk ke dalam rumah. Maira berada di dalam kamar, menyiapkan pakaian santai untuk Dika.


"Barangnya gimana menurut mu, Mai? " tanya Dika meminta pendapat Maira.


"Masih bagus mas. Alhamdulillah. aku suka. "


"Kalau begitu, besok kita mulai belanja barang apa saja yang akan kamu jual untuk mengisi etalase itu. . " kata Dika bersemangat saat melihat keceriaan di wajah istrinya.


"Iya mas. "


"Oh, ya mas. Aku tadi sudah masak untuk makan malam kita. "


"Masak apa? "


"Hanya goreng ikan dan tempe penyet mas. Soalnya aku nggak bisa mencium aroma bumbu yang menyengat. "

__ADS_1


"Ya sudah, itu juga nggak masalah. asalkan itu masakanmu, Mai. " kata Dika lalu mencium kening Maira, Dia merasa sangat senang, akhirnya bisa memakan masakan istrinya.


__ADS_2