
Tanpa terasa satu bulan telah berlalu sejak meninggalnya Bagus. Kini baik Bu Ayu maupun Dika sudah bisa menerima kepergian Bagus dari keluarga mereka. Mungkin memang harus seperti itu jalan kehidupan yang harus Bagus lalui . Maya jugs sudah diberitahu oleh Mario melalui informasi yang di dapat dari Dika melalui Abhi. Ada sedikit rasa sedih, yang mendera . Maya dan Arum kala itu, karena bagaimanapun mereka pernah tinggL dalam satu atap selama sembilan tahun.
Tapi semua telah berlalu dan mereka semua menjadikan ini sebagai sebuah pelajaran dalam hidup. Bahwa kenikmatan sesaat hanya akan menyesatkan. Bersyukurlah Dika dan Dila yang segera sadar bahwa kenikmatan sesaat itu hanya berlangsung singkat.
Di awal bulan, di akhir pekan. Dika mendapat sebuah panggilan video dari Abhi. Dengan penasaran Dika yang sedang membantu Maira di tokonya langsung mengangkat panggilan telpon dari Abhi.
"Hallo, Ayah.... " sapaan dari seberang telpon itu membuat Dika dan Maira terkejut, Namun mereka segera tersenyum.
"Hallo anak ayah. Ada apa? "
"Aku sudah liburan yah kemarin dari rumah uti di kampung tiga hari, di rumah nenek tiga hari. Aku hanya belum liburan di rumah ayah. " kata Aksa dengan semangat.
"Aksa mau liburan di rumah Ayah? " kata Dika tak percaya.
"Iya ayah. Jemput aku besok sore yah, setelah ayah pulang kerja. Mama sudah nyiapin baju gantiku. " Kata Aksa yang menunjukan tas selempang nya yang sudah berisi pakaian dan kebutuhannya.
"Memangnya Aksa mau nginap berapa hari di rumah ayah? " tanya Dika dengan senyum tertahan
Maira ikut merasa senang melihat suaminya kini lebih akrab dengan anaknya.
"Dua hari dua malam, sesuai ayah libur kerja kata papa. Jadi ayah jemput aku di jumat sore atau malam. Nanti minggu sore atau malam nya ayah antarkan aku pulang. " jawab Aksa dengan wajah berbinar.
"Baiklah, besok ayah akan jemput Aksa langsung setelah ayah pulang kerja. Naik sepeda motor ya?"
"Iya, yah. Aku pengen naik sepeda motor sama ayah. " kata Aksa dengan menunjukkan gigi-gigi putihnya.
"Ya sudah sekarang Aksa istirahat dulu. Ayah masih membantu tante Maira jualan. "
"Memangnya tante Maira jualan apa, yah? "
Dika lalu menunjukkan apa yang sedang Maira lakukan.
"Hallo Aksa. " Maira mencoba menyapa Aksa.
"Hallo tante... Tante sedang apa itu? " tanya Aksa yang merasa penasaran dengan aoa yang dilakukan Maira.
"Tante sedang bikin gorengan Aksa. Apa Aksa suka gorengan? "
"Gorengan apa, tan?"
__ADS_1
"Ada pisang goreng, tahu goreng, bakwan jagung dan bakwan sayur. "
"Waaahhh... aku suka bakwan jagung sama pisang goreng. Kalau aku kesana buatin ya, tan. "
"Iya sayang? "
Dika lalu menunjukkan wajahnya lagi ,
"Ayah, sekarang di rumah ayah ada tokonya ya? "
"Iya, ayah buatkan toko buat tante Maira. Ayah terinspirasi dari mama kamu yang tangguh. Yang bisa berdiri dengan kakinya sendir.Tapi Ayah hanya membuatkan toko kecil buat tante. hanya untuk kesibukannya di rumah. " Kata Dika sambil merangkul istrinya itu.
"Ya sudah kalau begitu. Ayahku memang benar-benar sudah berubah. Aku bangga punya ayah seperti ayah. Besok jangan lupa jemput aku ya ayah. " Aksa mengingatkan lagi.
"Iya sayang... "
"Dah, ayah.... Assalamu'alaikum. "
"Wa'alaikum salam. "
Tanpa mereka sadari semua percakapan mereka di dengan Abhi dan Yesha yang berada di depan Aksa. Mereka ikut bahagia melihat perubahan kehidupan Dika yang jauh lebih baik.
Sedangkan Dika, dia juga merasa sangat bahagia, saat mendengar kalau anaknya bangga kepada dirinya. Tanpa sadar dia langsung memeluk dN mencium istrinya yang sedang melayani pembeli.
"Iya nih mas Dika, apalagi suami saya sedang di luar kota. Aduh jadi kangen deh. pengen di sayang suami juga. "
Mendengar celetukan dari ibu-ibu membuat Dika malu dan salah tingkah. Dan langsung melepaskan pelukannya dari Maira,
"Maaf ibu-ibu, khilaf sangking senangnya ini. " Dika langsung masuk ke dalam rumah karena malu.
"Mas Dika kayaknya berubah total ya, sejak menikah dengan mbak Maira. " kata seorang ibu yang sedang antri gorengan.
"Iya... betul. " kata ibu satunya.
"Memangnya dulu mas Dika seperti apa ibu-ibu? " tanya Maira yang ikut. Menanggapi obrolan ibu-ibu mengenai suaminya.
"Dulu tuh, mas Dika orang nya pendiam. Jarang tersenyum dam sedikit angkuh. " kata seorang ibu yang ada di sana
"Iya benar itu. " yang lainnya menimpali
__ADS_1
"Tapi sekarang mas Dika sudah lebih ramah dan mau bersosialisasi dengan warga sekitar. "
"Alhamdulillah kalau begitu bu, setiap orang kan bisa berubah. Dan mungkin sudah saatnya mas Dika berubah. Jika itu perubahan yang baik, sudah sepantasnya kita mendukung perubahan sesorang itu. " kata Maira pada akhirnya.
Dan ucapan Maira disetujui oleh semua orang yang berada disana.
°
°
Keesokan hari nya Sesuai kesepakatan Dika dan Aksa. Sepulang kerja Dika langsung ke rumah Yesha untuk menjemput Aksa. Dengan senyum bahagianya Dika memarkirkan motornya di depan rumah Yesha. Teriakan Aksa sudah nyaring terdengar dari dalam rumah.
"Ayaaaaaahhhhh..... "
Aksa langsung berhamburan ke pelukan ayahnya. Dika langsung menangkap tubuh Aksa dan menggendongnya. Anak berusia sembilan tahun itu merasa bahagia bisa digendong oleh ayahnya. Dika langsung membawa Aksa masuk ke dalam rumah, mereka sudah di sambut oleh Abhi.
"Aksa jadi menginap di rumah ayah? " tanya Abhi memastikan.
"Jadi dong, pa. " jawab Aksa dengan yakin.
"Baiklah kalau begitu. Cepat di ambil barang-barang aksa yang disudah disiapkan mama. "
Aksa langsung berlari ke kamarnya, dan mengambil tas yang berisi kebutuhannya.
Saat mereka berpamitan, Yesha memeluk Aksa. "Jaga diri Aksa baik-baik ya. jangan nakal. Aksa harus patuh sama Ayah dan tante Maira. "
"Iya ma. "
"Mas, titip Aksa. Jaga dia baik-baik. jangan sampai terluka. " Kata Yesha yabg sepertinya tidak tega melepaskan kepergian Aksa ke rumah Dika.
"Tenang saja Yesh.. aku akan menjaganya. Kami semua akan menjaganya. Kamu jangan khawatir.
" Baiklah, ku percaya padamu. "
Setelah berpamitan akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan rumah Yesha menuju ke rumah Dika.
Aksa merasa bahagia, dia bonceng ayahnya di depan. Jadi dia bisa merasakan semilir angin yang menerpa wajahnya.
Dika menjadi pusat perhatian para tetangga yang sedang nongkrong di luar, karena Dika pulang dengan membawa seorang anak. Motor yang meerka kendarai berhenti di depan rumahnya. Maira langsung membukakan pintu pagar rumah, agar Dika bisa masuk. Dia lalu mencium tangan Dika, dan aksa mencium tangan Maira. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah bertepatan dengan bu Ayu yang baru saja keluat dari kamarnya.
__ADS_1
Matanya memanas saat melihat sosok kecil itu bersembunyi di belakang tubuh Dika saat melihat dirinya.
"Aksa... cucuku... ini nenek, nak. "