
Agus berlari mencari Dila, dimana dia di rawat dan mendapat tindakan medis. Hingga seseorang menunjukkan ruang operasi, dan dia segera bergegas kesana. Agus akan merasa bersalah jika sampai teejadi apa-apa pada bayi dalam kandungan Dila. Apalagi jika itu anaknya.
Beberapa dokter akan masuk ke ruang operasi bersama dokter yang memeriksa kandungan Dila tadi. Dan dia tampak heran karena ada Agus disana.
"Dokter, tolong selamatkan Dila dan anaknya. " pinta Agus kepada para dokter.
"Kami akan berusaha yang terbaik tuan, permisi. " beberapa dokter dan perawat itu segera masuk keruangan operasi dan melakuakan tindakan kepada Dila.
"Kasihan keadaannya sampai seperti ini. " kata seorang dokter yang menatap kasihan kepada Dila.
"Dia baru saja periksa di tempatku, dokter. Dan dia tampak bahagia saat mendengar bayinya kembar .Tapi kita bertemu lagi dalam keadaan seperti ini. "
Semua orang di sana menghembuskan nafas nya setelah mendengar penuturan salah satu rekannya.
Setelah beberapa jam berlalu akhirnya pintu ruangan terbuka. Agus segera berdiri dan menanyakan keadaan Dila.
"Bagaimana keadaan Dila dokter. " tanya Agus dengan tidak sabaran.
"Ada dua kabar yang harus kami sampaikan kepada anda tuan. kabar baik dan kabar buruk."
"Apa? katakanlah."
"Kabar baiknya nona Dila sudah baik-baik saja dan salah satu janinnya bisa kami selamatkan. "
"Apa? Jadi? "
Dokter itu mengangguk "iya, salah satu janin tidak bisa kami selamatkan akibat benturan keras yang dialami nona Dila. "
Agus terduduk lemas mendengar itu, tapi hanya beberapa saat, setelah itu dia bersemangat kembali.
__ADS_1
"Dokter apakah dari janin yang meninggal itu kita bisa melakukan tes DNA? " tanya Agus dengan menggebu.
"Bisa, memangnya kenapa? "
Agus langsung mengambil beberapa sampel rambutnya dan memberikannya kepada dokter.
"Tolong, lakukan tes DNA antara aku dan anak itu." pintanya dengan wajah memelas.
Para tenaga medis yang melihat itu mengernyitkan keningnya. Mungkin dalam pikiran mereka tesirat sesuatu yang berbeda tentang apa yang terjadi beberapa detik lalu.
"Baiklah, setelah ini anda bisa keruangan saya untuk menandatangani prosedur pengambilan tes DNA. "
"Baiklah, dokter. "
Agus masih menunggu Dila diluar ruang pemulihan pasca operasi sebelum dipindahkan ke ruang rawat. Tak lupa dia menceritakan pada ibunya tentang apa yang terjadi pada Dila dan bayinya. Ibu Maria merasa geram dengan ulah Susan menantunya itu, sudah tidak bisa melahirkan anak, sekarang dia buat ulah. Ibu Maria jadi berandai-andai, jika saja anak yang dikandung Dila adalah anak Agus, maka dia akan merasa sangat senang, karena langsung diberi keturunan kembar. Tapi sayang salah satu dari mereka sudah tiada.
Kini Dila sudah berada di ruang rawat setelah dinyatakan stabil. Agus terus menunggui Dila dan terus menggenggan tangannya. Berkali-kali kata maaf terucap dari mulutnya, tapi sayang Dila tidak bisa mendengarnya. Dia juga sudah menceritakan kepada dokter perihal tes DNA dan kejadian tadi siang. Dokter memaklumi apa uang terjadi pada mereka berdua, dan akan membantu Agus melakukan tes. Hasil Yang paling cepat dia Terima adalah dalam waktu dua mingguan.
"Sudah satu minggu Dila di rawat di rumah sakit, keadaanya berangsur-angsur membaik. Agus selalu setia menunggunya, walau kadang dia membayar perawat untuk menjaga Dila jika dia sedang pergi bekerja. Agus juga menceritakan apa yang tejadi kepada salah satu bayinya. Dila awalnya menangis tak terima jika salah satu anaknya meninggal. Tapi dia bisa apa? semua sudah terjadi, dan ini semua gara-gara istri Agus.
Dila berusaha bersikap baik kepada Agus, saat dia dengan senang hati melayani Dila. Tapi sebenarnya Dila sangat tidak suka, karena istri Agus lah dia harus kehilangan satu bayinya. Dila berfikir untuk kabur dari rumah sakit dan menjauh dari Agus, tak peduli anak yang dikandungnya adalah anak Agus atau bukan. Dia sudah terlanjur menyayangi bayi dalam perutnya, jadi dia tak rela jika harus berpisah dari anaknya. Dila selalu mengecek tas yang berisi dompet dan ponselnya, dia akan mengambil waktu yang tepat untuk kabur dari sana.
"Mas, aku pengen makan rendang apa boleh? " pinta Dila di suatu sore saat Agus baru sampai.
"Kenapa nggak bilang dari tadi? Aku kan bisa membelikan mu saat perjalanan kemari tadi. " kata Agus, karena dia merasa lelah sekali hari ini.
"Maaf, aku pengennya baru sekarang. " ujar Dila sambil menunduk.
Melihat itu membuat Agus tak tega, akhirnya dia beranjak dari duduknya dan hendak membelikan makanan yang diinginkan Dila.
__ADS_1
"Nasi sama Rendang aja ya? nggak usah lainnya, aku takut kamu kenapa-napa. "
Dila mengangguk, dan mengucapkan, "Terimakasih mas. " dengan tulus.
Setelah kepergian Agus Dila lalu bersiap, dia segera mengganti baju yang dipesan secara online beberapa hari lalu dan membawa tasnya. Tak lupa dia segera memesan taksi online untuk pergi dari sana, sebelum keluar dari kamar inapnya, Dila menaruh sepucuk surat untuk Agus. Benar-benar rencana sudah dia siap kan dengan matang. Dila berjalan santai dengan menggunakan masker di wajahnya agar tidak dicurigai. Dan setelah sampai di luar rumah sakit, dia langsung masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya. Dia bernafas lega, karena tidak ada yang mengenalinya.
Sekarang, entahlah kemana dia akan pergi. Akankah pergi ke rumah ibunya? tidak mungkin, dia sudah berjanji tidak akan membuat ibunya malu.
Ke rumah Dika? entahlah, itu mungkin pilihan terakhir yang akan dia ambil jika sudah tidak ada jalan keluar.
Agus kembali keruangannya, dengan wajah yang sudah sangat lelah. Pesanan yang Dila inginkan juga sudah didapatkan. Dia memasuki ruangan kamar inap Dila. Matanya mengerjap-ngerjap saat tidak melihat sosok Dila di sana, biasanya dia akan mendapatkan senyuman Dila saat dia masuk.
Agus segera memanggil perawat barangkali melihat Dila pergi,tapi semua perawat yang berjaga tidak melihatnya. Agus mencari Dila mungkin saja dia sedang kekamar mandi atau kemanapun, tapi tetap Dila tidak ditemukan. Dia terududk lemas di tepi ranjang dan hampir putus asa. Hingga matanya menatap secarik kertas yang terselip di atas nakas. Sebuat surat yang Dila tulis untuknya. Agus segera membaca surat itu.
Assalamu'alaikum
Aku minta maaf jika Aku pergi tanpa berpamitan. Aku ingin mengucapkan terimakasih kepada mas Agus dan ibu Maria yang sudah merawatku selama tiga bulan terakhir. Aku senang karena kalian merawat Aku dengan baik. Terimakasih banyak Aku ucapkan dengan tulus.
Tapi Aku harus pergi, karena aku tidak ingin kehilangan bayi ini, aku sudah terlanjur menyayangi nya. Aku sangat merasa kehilangan dengan kematian salah satu Bayiku, sehingga aku tidak akan pernah memaafkan istrimu. Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang sudah membunuh anakku
Aku tau kamu sedang melakukan tes DNA untuk anak kita, tapi jangan berharap kamu bisa mengambilnya dariku.Jika hasil tes DNA menyatakan bayi ini adalah anakmu maka...jika kamu ingin melihatnya dan bersamanya kamu harus menikahi aku dan menceraikan istrimu.
Dan ku harap kamu bisa memilih antara aku dan bayimu atau dengan istrimu.
Sekian,
wassalam.
Agus mengepalkan tangannya dan segera pergi dari kamar rawat Dila. Dia ingin melihat kemana Dila pergi melalui CCTV yang terpasang di rumah sakit itu. Hasilnya, Dila benar-benar sudah pergi dari rumah sakit. Makin kacau saja pikiran Agus. Dia segera membayar biaya rumah sakit Dila dan kembali ke rumahnya.
__ADS_1
Sedangkan Dila, dia sudah turun di sebuah taman dan bejalan-jalan menyusuri taman itu. Hingga saat dia merasakan lelah, Dila duduk disebuah bangku memperhatikan sekitarnya, banyak orang tua mengajak anaknya pergi ke taman itu untuk menghabiskan waktu bersama. Dila tersenyum miris melihat kebahagiaan orang-orang disekitarnya, dia lalu mengusap perutnya dan tanpa terasa menangis. Apa salahnya di masa lalu hingga membuat nya jadi seperti ini. Batinnya
"Dila... "