Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
#S2 Dika 14


__ADS_3

Seperti biasa Maira bangun pagi-pagi sekali dan langsung mengerjakan semua pekerjaan rumah . Sehingga saat mertua dan suaminya sudah bangun , semuanya sudah selesai dan siap .


Maira masuk ke dalam kamarnya untuk membangunkan Dika , karena sepertinya baik Dika maupun Bu Ayu belum bangun dari tidurnya . Atau karena dia bangun terlalu pagi hari ini .


"Mas bangun mas , sudah pagi . Apa Mas Dika nggak kerja hari ini ? " Maira menggoyang-goyangkan kaki Dika untuk membangunkannya agar dia segera bangun .


Dika yang merasa terganggu pun langsung membuka matanya , dan dilihatnya Maira sudah ada di depannya .


"Sudah jam berapa ini ? " Tanya Dika sambil menggeliatkan badannya.


"Hampir jam 06.00 Mas . " jawab Maira.


Dika segera bangkit dan membersihkan badannya . Sedangkan Maira mulai menyiapkan pakaian yang akan Dika pakai untuk kerja , namun sebelumnya dia bertanya dulu kepada Dika Apakah dia boleh membuka lemari suaminya itu dan Dika mengangguk sebagai jawaban .


Akhirnya satu set pakaian yang akan dipakai Dika ke kantor hari ini sudah Maira siapkan di atas tempat tidur . Maira kemudian membersihkan tempat tidurnya agar terlihat lebih rapi .


Dika keluar kamar mandi , dan terlihat sudah segar. Dia hanya Memakai handuk yang dililitkan di perutnya. Jika kalian berfikir perut Dika seperti roti sobek, maka Kalian keliru. Dika bukan lah orang yang suka fitnes atau olah raga. jadi tubuhnya , tak sebagus pemeran utama di novel-novel lainnya . Dia hanya memiliki bentuk tubuh ideal saja tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk .


Maira yang melihat Dika bertelanjang dada merasa malu , karena baru kali ini dia melihat seorang pria bertelanjang dada di depannya . Maira langsung membalikkan badan dan ingin segera pergi dari kamar namun Dika memegang tangannya sehingga membuat Maira tidak tidak bisa ke mana-mana .


Dika lalu mendekat dan melingkarkan tangannya di perut Maira .lalu menopangkan dagunya di bahu Maira .


"Kamu mau ke mana ?" Tanya Dika yang melihat kegugupan di mata merah .


"Aku mau menyiapkan makanan dulu mas untuk sarapan Mas Dika dan ibu ." kata Maira gugup


"Kenapa kamu gugup ketika melihatku ?"


"Karena ini baru pertama bagiku melihat seseorang bertelanjang dada di depanku, . "ujar Maira dengan tersipu .


Dika lalu membalikkan tubuh Maira . Ditatapnya Wajah Maira lekat-lekat , dia melihat kalau istri kecilnya ini masih sangat polos . Dan perlu diajarkan beberapa hal tentang rumah tangga . Meskipun dia dulu pernah gagal , tapi kali ini dia akan mempertahankannya .

__ADS_1


"Mai mulai sekarang , kamu tidak perlu malu padaku . Karena semua yang ada padaku sudah halal untuk dilihat dan disentuh olehmu . Begitu juga denganmu , apa yang ada padamu sudah halal bagiku untuk kulihat maupun kusentuh. Dan satu hal lagi , apapun yang ada di kamar ini kamu boleh melakukan apapun sesukamu , tidak perlu bertanya kepadaku . Apa kau sudah paham ? " Tanya Dika setelah menjelaskan apa yang harus Maira ketahui .


Maira hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban ,dia masih tertunduk malu .


Dika mengangkat dagu Maira dengan jari tangannya , agar Maira memandang wajahnya . Mata mereka saling bertemu dan menatap satu sama lain . Wajah Dika mendekat ke arah Maira untuk mengikis jarak antara dirinya dan Maira . Kemudian Dika memberikan sebuah kecupan singkat di bibir Maira .


Cup.


Dika langsung melepaskan kecupan nya, karena dia tidak ingin terburu-buru. Dia ingin mengenal Maira lebih dekat dulu dan membuat Maira nyaman, sebelum mereka melakukan hal yang lebih . Dan Dika ingin , Maira merasakan bahwa dirinya dihargai di rumah ini .


Mendapatkan sebuah kecupan singkat dari Dika , langsung membuat wajah Maira memerah Menahan malu . Dia ingin segera keluar dari sini, karena jika terlalu lama berdua dengan Dika . Akan membuat jantungnya tidak baik-baik saja .


"Mau ke mana Mai?" Dika masih menggenggam Tangan Maira , sehingga Maira tidak bisa kemana-mana .


"Ma.. mau keluar mas." Ucap Maira tergagap .


"Tunggu dulu , tugasmu di kamar ini belum selesai . Kau harus membantuku memakaikan pakaianku , Karena itu adalah salah satu tugas seorang istri . " Kata Dika yang berniat menggoda Maira


"Ta...tapi mas aku malu ."


Dengan terpaksa , dan dengan setengah hati Maira membantu Dika memakaikan pakaian kerjanya . Karena dia sendiri masih merasa kikuk dengan keadaan ini. Walau sebenarnya , Dika bisa memakainya sendiri . Karena itulah yang ia lakukan selama ini . Entah kenapa saat ini , dia begitu senang menggoda Maira yang sudah menjadi istri kecilnya .


Dika sudah memakai semua pakaian kerjanya , dan terlihat sudah rapi . Mereka berdua keluar dari kamar bersamaan , dilihatnya Bu Ayu yang sudah berada di depan televisi untuk menyaksikan acara berita pagi kesukaannya .


Axku kira kalian belum bangun , tapi setelah melihat makanan di meja aku yakin Maira sudah bangun . Tapi aku bingung dia tidak ada di mana-mana . Rupanya dia sedang berada di kamar bersamamu. "kata Bu Ayu saat melihat anak dan menantunya keluar dari kamar bersama .


"Iya Bu Maira membantuku menyiapkan pakaianku terlebih dahulu sebelum kami keluar bersama ." kata Dika yang menjawab pertanyaan ibunya . Mereka bertiga kemudian menuju meja makan untuk memulai sarapannya .


"Mas Apakah aku boleh memindahkan semua pakaianku di kamar kita? 'tanya Maira di sela-sela makannya .


"Tentu saja Pindahkan semua pakaianmu ke kamarku kamu bisa menata ulang yang ada di lemariku ." kata Dika sambil mengunyah makanannya .

__ADS_1


"Baju yang diberikan Dila itu banyak loh Dik Apa lemarimu muat ? " tanya bu Ayu yang ikut dalam obrolan mereka berdua.


"Ya sudah nanti lemari Dila kita pindahkan ke kamarku satu. Bukankah lemari Dila ada dua? " tanya Dika pada ibunya.


"iya."jawab bu Ayu singkat.


"Ya sudah biar nanti aku sendiri yang akan memindahkan lemari pakaian itu ke kamar Mas Dika. " Kata Dila dengan penuh semangat


Bu Ayu dan saling bertatapan mendengar apa yang dikatakan Maira


"Apa kamu kuat Mai? Nanti saja nunggu aku pulang. Nanti kita akan mengangkatnya bersama. " kata Dika yang merasa tidak percaya dengan ucapan Maira.


"Tidak usah Mas, Insya 'Allah aku bisa mengerjakannya sendiri hari ini tugasku adalah membersihkan kamar mbak Dila dan kamar masDikaa sekaligus merapikan pakaian-pakaianku ." kata Maira lagi dengan penuh semangat


"Terserah padamu , Jika kamu memaksa. Tapi jika kamu tidak bisa tidak usah memaksa, lebih baik menungguku pulang kerja nanti kita akan melakukannya bersama." kata Dika yang tidak ingin terjadi apa-apa pada Maira.


"Nggak usah Mas aku bisa kok aku akan melakukannya dengan caraku nanti . pokoknya nanti kalau mas Dika pulang akan terkejut dengan apa yang akan aku lakukan pada kamar kita. " kata Maira dengan penuh percaya diri


"Nanti malam Mas Dika harus membantuku untuk memeriksa kompor yang kemarin akan aku pakai untuk berjualan ." kata Maira dengan mata berbinar.


"Apa kamu masih ingin berjualan lagi setelah menikah denganku ? " tanya Dika yang ingin tau apa yang akan dilakukan istrinya setelag menikah.


Dengan yakin Maira mengangguk. " Iya Mas Aku jualan untuk mengisi waktu senggangku. Aku tidak ingin berdiam diri di rumah. Aku ingin menghasilkan uang walaupun tidak banyak dan tetap berada di rumah untuk menjaga ibu dan rumah ini . " kata Maira .


"Walau tidak banyak, aku ingin menghasilkan uang sendiri untuk kita.. Paling tidak untuk membeli minyak goreng atau beras. " kata Maira sambil terkekeh.


"Apa kau tidak malu ?" kIni giliran Bu Ayu yang bertanya .


Untuk apa malu bu , selama kita tidak mencuri ataupun mendapatkan uang dari sesuatu yang haram . Kita tidak perlu malu . Kalaupun nanti ada omongan dsri tetangga atau orang lain kita cukup senyumin aja. Karena kita tidak pernah meminta dari mereka, atau menyusahkan mereka." kata yang membuat bu Ayu terdiam.


Karena itulah yabg dipikirkan bu Ayu, yaitu omongan tentangga.

__ADS_1


Tapi jika Maira sendiri tidak malu, apa boleh buat. Terserah Maira saja. Toh dia sendiri yang melakukannya. Kini bu Ayu juga sudah tidak begitu mendengarkan ocehan tetangga yang kadang membuat telinganya panas.


Mendengar hal itu , Dika merasa bangga dan bahagia. Ternyata istri kecilnya adalah seorang wanita tangguh, dan pekerja keras.


__ADS_2