Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Bertemu Agus


__ADS_3

"Apakah tadi tidak keterlaluan mas? "


"Tidak dia pantas mendapatkannya. "


Abhi mengantarkan Yesha pulang dan dia akan segera kembali nanti setelah makan siang di rumah.


"Hari ini sangat menegangkan ya? " Seru Yesha yang melihat suaminya memejamkan matanya.


"Iya, aku tidak pernah menyangka kalau Jasmin akan berbuat nekat seperti itu. "


Abhi kembali memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di bahu Yesha, dengan satu tangan Yesha yang membelai rahang kokoh suaminya.


Akhirnya mobil yang mereka kendarai berhenti di depan rumah Yesha. Dengan hati-hati Yesha membangunkan suaminya yang tertidur. Dan saat memegang tangannya terasa hangat. Sepertinya suaminya itu sedikit shock dengan apa yang terjadi tadi. Dia meluapkan emosinya dengan meledak-ledak hingga membuat hatinya tidak nyaman.


"Mas ayo bangun sudah sampai. " Yesha membangunkan suaminya dengan perlahan. Karrna dia tau sepertinya suaminya dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Dengan perlahan Abhi membuka matanya dan segera mengumpulkan nyawanya.


"Ayo turun mas. " Ajak Yesha yang sudah turun dari pintu sebelah.


"Pak, bisa bantu suami saya turun dari mobil? Sepertinya dia sedang tidak enak badan. " pinta Yesha kepada Pakr Mardi sopir suaminya untuk membantu.


Pak Mardi pun segera membantu membopong tubuh Abhi yang sepertinya lemas sekali. Melihat itu Aryo dengan cekatan juga membantu membopong Abhi yang tubuhnya tinggi besar. Yesha langsung mengarahkan mereka untuk merebahkan Abhi ke kamar nya agar Yesha bisa merawatnya dengan baik


"Pak, sepertinya mas Abhi nggak datang ke kantor lagi deh, keadaannya nggak memungkinkan. " ujar Yesha kepada sopir nya.


"Iya nggak apa-apa bu nanti saya akan sampaikan kepada tuan Mario. " ujar pak Mardi dia segera undur diri.


Yesha segera membuka sepatu kaos kaki dan semua yang melekat di tubuh Abhi saat ini, hingga suara ketukan pintu menghentikan aktifitasnya.


Yesha menghentikan kegiatannya dan segera melihat siapa yang mengetuk pintu.


"Mbak, mas Abhi kenapa? " tanya Jihan yang tadi mendengar keributan saat dia sedang sholat.


"Mas Abhi nggak enak badan kayaknya. Tapi nanti dulu ya lihatnya, mbak masih bersihin badan mas Abhi. Ini mau gantiin baju santai dulu. " kata Yesha melarang adiknya yang mau menerobos pintu.


"Oohhh, oke mbak. Kalau sudah beres panggil aku ya, aku pengen lihat keadaan mas Abhi. " pinta Jihan.


"Iya." Yesha kembali mengunci pintu kamarnya dan melanjutkan kegiatannya.


"Mas Abhi ini kenapa sih, kok bisa kayak gini. " Tanya Yesha yang sudah melihat suaminya membuka mata.


"Nggak tau, habis meluapkan semua kekesalanku sama dia badanku lemes, Yesha."


"Bentar ya, aku ambilkan baju ganti dulu.. "


Yesha segera mengambilkan baju ganti buat suaminya, lalu memakaikan dengan perlahan.


"Itu karena emosi mas meledak-ledak tadi. Sekarang di rumah aja istirahat dulu tenangkan pikiran. Mas hubungi Mario kalau nggak bisa ke kantor lagi. Aku akan keluar bikinin mas makan siang. "


Abhi mengangguk menyetujui semua ucapan Yesha. Yesha segera keluar untuk membuatkan suaminya makanan.


"Jihan kamu jagain mas Abhi bentar, mbak mau buatin makanan untuk masmu. " ujar Yesha saat melihat Jihan sudah bersantai di depan televisi.

__ADS_1


"Ok mbak. " Jihan segera ke kamar kakaknya, karena dia juga penasaran dengan apa yang terjadi pada kakaknya itu. Sedangkan Yesha langsung menuju dapur untuk memasak.


"Mas Abhi kenapa? " Tanya Jihan yang duduk di samping kakaknya.


Abhi hanya menggeleng. Tanda kalau dia tidak apa-apa.


"Aku baik-bajk saja,Jihan"


"Jujur, mas sebenarnya apa yang terjadi? Mas nggak pernah kayak gini lho setelah lima tahu terakhir. "


Deg....


"jangan bilang kalau ini karena wanita itu. " duga Jihan karena ia mengingat kalau hari ini kakaknya itu ada pertemuan dengan wanita ular itu.


Dan dugaan Jihan langsung di anggukki Abhi.


"Kok Bisa? "


Abhi kemudian menceritakan apa yang terjadi tadi di pertemuan.


"Emang ya tuh wanita nggak tau malu banget. " gerutu Jihan.


"Siapa Jihan? " Yesha yang bertanya.


"Nggak apa-apa mbak, Ya sudah aku keluar dulu. mbak . " kata Jihan setelah melihat kakak iparnya itu membawa makanan untuk kakaknya.


Jihan mengangguk dan menggantikan Jihan duduk disamping suami.


Abhi menurut, dan mulai membuka mulutnya dan mengunyah makanan dengan perlahan. Sampai makanan di piring tandas.


"Mas Abhi istirahat ya? aku taruh piring dulu. "


Abhi mengangguk, lalu merebahkan dirinya dengan nyaman. Tak lama Yesha menyusul suaminya dan tidur di sampingnya.


"Mas... "


"Hmmm.... "


"Aku harap mulai sekarang kamu bisa mengontrol emosimu. lihatlah sekarang, aku nggak tega lihat kamu kayak gini. Suamiku yang kuat kok tiba-tiba lemes kayak gini. "


"Siapa bilang aku lemes, sayang. Untuk main kuda-kudaan sama kamu siang ini aku masih kuat lho. "


"Apa sih mas, larinya kok ke sana sih. "


"Lha tadi kamu bilangnya aku lemes, jadi... "


"Stop... ayo tidur. " ujar Yesha sambil menutup mulut abhi dengan satu jarinya, lalu dia memeluk suaminya itu agar segera tidur dan tidak bicara aneh-aneh lagi dan Abhi membalas pelukan istrinya itu dengan erat.


*************


Sore harinya, Maya yang sudah janjian untuk keluar dengan Dila sudah bersiap. Arum tidak ikut karena ada tugas dari sekolah katanya. Maya sudah janjian dengan Dika di telpon tadi yang akan menjemput mereka nanti.


Dika sendiri sudah merencanakan semuanya dengan matang bersama Agus. Agus akan ke klinik menggunkan sepeda motor Dika dan Dika menggunakan mobil Agus untuk menjemput Maya dan Dila ke klinik.

__ADS_1


Maya dan Dila keluar dari tempat kost dan menuju mobil yang akan membawa mereka jalan-jalan karena Maya bilang itu adalah mobil taksi online, jadi Dila tidak curiga sama sekali.


Setelah mobil itu jalan, Dika baru membuka suaranya.


"Bagaimana kabarmu Dil? "


Mendengar suara yang sangat dia kenal membuat Dila membelalakan matanya kepada Maya, sedangkan Maya hanya bisa nyengir kuda.


"Mbak... " pekiknya tertahan.


Maya hanya menunjukkan dua jari tangannya membentuk huruf V.


"Kita mau kemana ini? " tanya Dila kepada siapapun yang mau menjawab pertanyaannya.


"Nanti kamu juga tau. " Dika yang menjawab.


Tak lama mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di sebuah klinik praktek dokter kandungan. Dila lagi-lagi membulat melihat tempat tujuan mereka.


"Kenapa kita disini? "


"Tentu saja untuk memeriksakan keadaan keponakan ku. " ujar Dika dengan santai, dan segera keluar dari mobil.


Mereka bertiga menuju tempat praktek dokter, dan ikut mengantri dengan beberapa orang yang akan memeriksakan kandungan mereka. Dila sungguh tidak menyangka kalau kakaknya Dika dan Maya merencanakan ini semua untuknya, ada rasa haru yang menyeruak di dalam dadanya.


Hingga kedatangan seseorang yang tidak ingin Dila lihat mengganggu pikirannya.


"Apa yang dia lakukan disini. " batin Dila.


"Hai Dila. " Sapa Agus yang langsung duduk di samping Dila.


"Mas Agus, ngapain disini? " tanya Dila, untung saja keadaan klinik tidak begitu ramai


" Aku kemari untuk menemuimu dan calon ansk kita ."


Mendengarkan ucapan Agus, Dila langsung melihat kakaknya dan Maya bergantian. Maya menggedikkan bahunya sambil menggeleng sedangkan Dika mengangguk. Itu artinya ini semua ulah kakaknya sedangkan mbak Maya tidak tau apa-apa.


"Dila, kamu sudah besar, bicara baik-baik dengan Agus. Agus berjanji akan bertanggung jawab atas bayi dikandunganmu. "


"Tapi mas, dia sudah punya istri. " pekiknya tertahan dengan air mata yang sudah membasahi pipi nya.


Melihat itu, Agus langsung menangkup wajah Dila dan menghapus air matanya.


"Aku sudah bercerai dengan istriku Dila? ibu memintaku menceraikan istriku dan segera menikahimu karena kau sedang hamil anakku. Aku bukan pria brengsek yang akan lari dari tanggung jawab. " Agus berusaha menjelaskan semuanya kepada Dila.


"Ibu Dila... " panggilan suster menghentikan drama antara Dila dan Agus.


"Masuklah dulu bersama Agus, aku dan Maya akan menunggu disini. Nanti setelah periksa kita bicarakan lagi." kata Dika untuk mencairkan suasana yang tegang antara Agus dan Dila.


Agus mengangguk dan segera menuntun Dila masuk ke ruangan dokter untuk memeriksakan kandungan Dila.


"Jadi dia? " tanya Maya yang tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan.


Dan Dika hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


__ADS_2