Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Toko Perhiasan ( 2 )


__ADS_3

Setelah makan malam, Abhi dan Yesha pergi ke sebuah mall, Abhi berencana membelikan Yesha sebuah cincin dan set perhiasan untuk pernikahannya. Memang sedikit demi sedikit harus dipersiapkan untuk acara pernikahan mereka. Sedangkan masalah WO sudah di tangani mama Erina, karena mama Erina lah yang paling exited dengan acara pernikahan Abhi. Tak lupa Bu Dian yang sudah di anggap sebagai ibu angkat Yesha ikut serta dalam persiapan acara pernikahan Abhi dan Yesha.


Mereka sudah sampai di sebuah outlet perhiasan langganan mama Erina. Abhi sudah menceritakan pada Yesha kalau hari ini mereka akan membeli perhiasan. Awalnya Yesha menolak, karena baginya cincin lamaran kemarin saja sudah cukup. Tapi bagi Abhi itu belum cukup, karena saat itu yang menyiapkannya bukan dia sendiri melainkan mamanya.


Dengan terpaksa akhirnya Yesha menerima semua permintaan Abhi. Walau menurutnya itu sangat berlebihan.


Saat memilih perhiasan, Abhi minta ijin ke toilet sebentar.


"Kamu pilih-pilih saja dulu mana yang cocok, Aku ke toilet dulu. Mbak tolong layani kekasih saya dengan baik. " kata Abhi meminta ijin kepada Yesha.


"Baiklah." Yesha tersenyum ke arah Abhi lalu fokus kembali ke perhiasan. Dia ingin mencari cincin yang sederhana dan tidak terlalu mahal. Karena dia tidak ingin membebani Abhi.


Disebuah outlet pakaian yang tak jauh dari tempat Yesha sepasang mata memicing melihat ke arah Yesha, seolah-olah tak percaya Yesha berada di toko berlian itu. Dengan angkuhnya orang itu mendekati Yesha bersama teman-teman nya dan bersama kekasihnya juga. Dia berpikir akan memberi pelajaran kepada Yesha dan mempermalukannya di depan umum.


Yesha yang sedang asik melihat-lihat perhiasan itu merasa terkejut saat bahunya ditarik kebelakang dengan kasar oleh seseorang.


"Aduh." Rintihnya. "Apa-apaan ini. " pekik Yesha.


Matanya langsung membulat saat melihat siapa yang sudah menariknya.


"Hallo mantan kakak ipar, bagaimana kabarmu? " sapa Dila kepada Yesha.


Yesha memutar bola matanya jengah, melihat siapa yang sudah menyapanya.


"Apa maumu. " ketus Yesha.


"Hai, kakak ipar harusnya kamu bersikap baik padaku karena aku sudah berbaik hati menyapamu. " Dila pura-pura bersikap baik kepada Yesha meski Yesha ketus kepadanya.


Yesha jengah dengan Sikap Dila yang penuh kepura-puraan. Dia berbalik melihat sepasang cincin yang yang menarik perhatiannya tadi.


"Sombong sekali, wanita miskin sepertimu mana mampu membeli berlian di tempat mahal ini. " kesal Dila yang di acuhkan Yesha, akhirnya kalimat pedas itu keluar juga dari mulut nya.


"Mbak, sebaiknya kalian nggak usah ngelayani orang miskin seperti dia. Karena hanya akan mengotori tempat kalian. " Ejek Dela kepada Yesha yang masih melihat cincin pernikahannya, namun Yesha masih tidak memperdulikan Dila yang sudah menghinanya.


Bagi Yesha, tidak perlu membalas mereka dengan marah-marah atau teriak-teriak. Dia cukup membuktikan kepada mereka dengan cara elegan dan berkelas.


"Bisa melihat cincin itu, mbak. " tanya Yesha kepada pegawai toko.


Dengan sopan pegawai toko itu menunjukkan cincin yang di tunjuk Yesha. Karena mereka tau, siapa yang membawa Yesha kemari, dia adalah member VIP di toko mereka.


"Cantik sekali, berapa harganya mbak. " tanya Yesha kepada pegawai toko itu.


"Cincin itu adalah keluaran terbaru toko kami, anda pandai sekali memilihnya. Harganya dua ratus juta sepasang. "


"Cih, harga segitu mana bisa dia membelinya mbak. Buat makan aja susah. " Ledek Dila yang masih ingin menghina mantan kakak iparnya itu.


Yesha hanya menghela nafas berat, susah sekali menghadapi orang-orang berhati busuk seperti mereka. Padahal Yesha sudan tidak pernah mengganggu atau muncul di hidup mereka. Tapi kenapa mereka selalu menghina dan mengganggunya tiap kali bertemu.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya mbak, saya masih nunggu seseorang. " kata yesha kepada pegawai toko itu.


"Baiklah." pegawai itu mengerti, pasti yang ditunggunya adalah tuan muda dari Pradipta.


"Benarkan dugaanku, dia nggak mungkin mampu membeli cincin berlian itu. Dia itu mampunya cuma beli perhiasan imitasi." Ejek Dila lagi kepada Yesha kali ini di dukung tawa dari teman-temannya yang ikut mengejek. Mereka sepertinya senang sekali kalau melihat pembulian.


Abhi yang sejak tadi hanya memperhatikan dari luar, sudah tidak bisa menahan lagi. Dia langsung menghampiri Yesha dan merangkul perutnya.


"Apa kau sudah memilih cincin yang kau suka, sayang? " tanya Abhi dengan mesra kepada Yesha.


Yesha yang awalnya terkejut, langsung bisa mengontrol keterkejutan nya setelah mendengar suara yang sangat dia kenal.


"Sudah mas. " kata Yesha dengan senyum manis di bibirnya.


Dila dan teman-temannya yang melihat itu jadi tercengang. Bagaimana mungkin Yesha bisa mengenal pria tampan seperti itu.


"Tuan tidak salah memanggilnya sayang, apa anda belum minum obat? " tanya Dila yang merasa hatinya menjadi panas.


"Dia siapa? " tanay Abhi pura-pura tidak tau.


"Oh, tidak penting mas. Aku sudah memilihnya, lihat ini baguskan? " tanya Yesha memperlihatkan perhiasan pilihannya.


"Apa kau suka? "


Yesha mengangguk.


Dila yang diacuhkan pun merasa geram,


"Memangnya kamu siapa? Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi stop mengganggu hidupku. " Yesha melipat kedua tangannya di atas perut dan memutar bola matanya jengan.


Abhi yang melihar calon istrinya terus-terusan di hina dan di sudutkan pun mulai pasang badan. Dia menarik Yesha kebelakang tubuhnya.


"Maaf nona, sebaiknya anda jangan pernah mengganggu atau menghina calon istri saya lagi, atau saya akan melaporkan anda kepolisi. Atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. " kata Abhi yang menatap tajam ke arah Dila.


"A... apa kamu bilang. Ca.. calon istri. " tanya Dila tergagap.


"Ya, dia adalah calon istri saya. Sebentar lagi kami akan menikah. Dan kalian sudah tidak ada hubungan apa-apa,Jadi sebaiknya kamu tidak usah mengganggunya lagi, atau aku yang akan bertindak. " kata Abhi lagi menekankan kepada Dila bahwa Yesha adalah calon istrinya.


Dila keluar dari toko perhiasan itu, dengan menahan malunya. Diikuti kedua temannya.


"Wah gila, cowoknya cakep banget. "


"Iya, cakep banget. Tapi kayaknya aku pernah liat wajahnya deh. "


"Di mana? "


Salah satu teman Dila pun membuka Ponselnya dan melihat beberapa berita di sana.

__ADS_1


"Benar, ini kan dia? namanya Abhiseva, seorang pengacara muda yang pernah memenangkan kasus korupsi beberapa bulan lalu. Gila keren banget." puji teman Dila.


Mereka malah sibuk membicarakan Abhi tanpa memikirkan Dila yang sangat kesal gara-gara Yesha.


Di toko, Abhi dan Yesha akhirnya merasa lega karena berhasil mengusir para pengganggu itu.


"Bagaimana apa kamu suka yang ini? " tanya Abhi menunjukkan cincin yang tadi di tunjukkan Yesha.


"Suka sih mas, tapi harganya mahal banget. "


"Nggak apa-apa Yesha, asalkan kamu suka. Lagi pula cincin ini akan kamu pakai seumur hidup. Jadi nggak masalah buat aku."


Akhirnya abhi melakukan pembayaran untuk sepasang cincin itu. Kemudian keluar dari toko.


"Setelah ini kita kemana? " tanya Abhi.


"Terserah mas Abhi aja. "


"Kemana ya, kalau makan aku sudah makan. Tapi percuma juga makan, karena aku tidak akan bisa makan kalau bukan masakanmu. " ucap Abhi sambil berjalan menyusuri mall itu.


Yesha terkekeh mendengar omongan Abhi barusan. "Bukankah mas Abhi bahkan bisa makan ayam krispi kesukaan Aksa waktu itu. "


Abhi mengernyit mengingat, kejadian waktu itu, lalu seutas senyum terbit di bibirnya.


"Aaahhh, aku ingat sepertinya aku bisa makan diluar jika kau menyuapi ku, Yesh. " kata Abhi sambil menaik turunkan alisnya menggoda Yesha.


Semburat merah muncul di kedua pipi Yesha, dan itu membuat Abhi gemas sekali.


"Ayo kita belikan Aksa mainan, dan membelikan Jihan boneka. Sudah lama aku tidak membelikan hadiah untuk adikku itu. " kata Abhi yang langsung menggamit tangan Yesha. Awalnya Yesha menolak, tapi Abhi tidak mau melepaskannya.


Yesha merasa malu dan canggung sekali, karena selama ini dia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Bahkan dengan Dika dulu.


Setelah selesai membeli mainan dan Boneka untuk Jihan, mereka hendak pergi, tapi Abhi teringat Danu adik Yesha yang belum dibelikan apa-apa.


"kita belum membelikan Danu apa-apa Yesha. "


"Nggak perlu mas. " tolak Yesha yang masih saja merasa tidak enak kepada calon suaminya itu.


"Nggak apa-apa, Yesh. Setelah ini Danu juga menjadi adikku. Jadi nggak perlu sungkan. " Kata Abhi yang menangkap perasaan Yesha.


Akhirnya Yesha pasrah saja, Abhi mau membelikan apa untuk adiknya itu. Pilihannya tertuju pada sebuah kaos casual untuk cowok. Abhi pun segera melakukan pembayaran agar mereka bisa segera pulang, karena waktu sudah larut malam.


"Apa kau senang jalan-jalan denganku malam ini?" tanya Abhi saat mereka sudah berada di mobil.


"Senang mas. Alhamdulillah semua di jajanin sama mas Abhi. Terimakasih ya. " kata Yesha dengan tulus.


"Its oke, itu bukan apa-apa Yesha. Aku hanya ingin jalan berdua dengan mu. lain kali kita ke taman bersama Aksa, Jihan dan Danu. "

__ADS_1


"Baiklah. Terimakasih, mas. "


Yesha bahagia sekali hari ini dia bisa merasakan kenyamanan dan ketulusan dari Abhi. Terpanjat harapan semoga Abhi kelak akan menjadi imam yang baik baginya, Aksa dan anak-anak nya kelak.


__ADS_2