
Palu hakim telah di ketuk menandakan bahwa gugatan perceraian antara Yesha dan Dika telah di kabulkan. Dan sekarang Yesha sudah menyandang status barunya sebagai seorang janda dan Dika sebagai seorang duda. Hak asuh Aksa pun Yesha dapatkan. Karena selama ini Dika juga tidak pernah menyayangi Aksa. Jadi untuk apa Aksa hidup bersama dengan ayahnya.
Tidak ada kesempatan bagi Dika untuk meminta rujuk kepada Yesha, karena Yesha sudah menutup pintu rujuk itu. Yesha mengancam Dika, jika dia tidak mau bercerai, maka Yesha akan mengeluarkan semua bukti perselingkuhannya dan kekerasan yang di lakukan Dika padanya. Kalau sudah begitu, bukan hanya berurusan dengan pengadilan agama, Dika juga akan berurusan dengan polisi. Dan Dika tidak mau itu terjadi. Akhirnya dia yang mengalah dan menyetujui bercerai dengan Yesha, walau berat.
Entah apa yang membuat Dika merasa berat berpisah dari Yesha. Sampai saat ini Dika juga belum tau.
"Selamat Yesh, kamu berhasil keluar dari hidupku." Dika ingin bersalaman sengan Yesha, namun Yesha tidak menerima uluran tangan Dika. Yesha hanya menangkup kan kedua tangannya di depan dada.
"Maaf mas, mulai hari ini kita bukan mahram lagi. dan haram bagiku untuk menyentuhmu. Dan Terimakasih karena sudah melepaskanku. " ujar Yesha.
"Aku memang belum menjadi wanita yang taat, tapi aku masih belajar memperbaiki diri. " kata Yesha lagi.
"Cih... sok alim " kata vio dengan nada ejekan kepada Yesha.
Vio selalu mendampingi Dika di setiap proses persidangan nya. Agar Dika tidak macam-macam.
Begitu juga dengan ibu Ayu yang selalu datang di sidang perceraian anaknya itu, tapi tidak untuk hari ini. Karena dia merasa tidak enak badan.
"Sebaiknya mas Dika segera menikahi wanita ini, agar tidak terus berbuat dosa. Permisi. " Yesha memberikan kata-kata menohok kepada Vio dan Dika sebelum meninggalkan mereka berdua.
Yesha pergi bersama Abhi sebagai teman sekaligus pengacaranya selama ini, meninggalkan dua pasangan itu. Dika juga sudah tau siapa pria yang bersama Yesha dan Aksa malam itu, yang ternyata pengacara Yesha.
Kini Yesha dan Dika akan berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada lagi hubungan antara mereka berdua. Yesha meneteskan air mata saat berada di mobil Abhi. Abhi yang bisa merasakan kesedihan Yesha hanya bisa diam, menunggu apa yang akan di katakan Yesha.
"Meskipun aku yang menginginkan perceraian ini. Ternyata rasanya masih sakit ya, mas. " kata Yesha setelah bisa mengontrol kesedihannya.
Abhi melihat sekilas ke arah Yesha, lalu fokus lagi menghadap jalanan.
"Wajar saja Yesh, kamu dan Dika sudah bersama selama tujuh tahun. Pasti ada suka dan duka di dalam pernikahan kalian. Aku juga pernah merasakannya sebelum kamu, Yesh" Abhi mencoba menghibur Yesha, meski dirinya sendiri pernah berada di posisi Yesha.
Yesha menoleh ke arah Abhi yang sedang fokus menyetir. "Maaf mas, aku lupa kalau mas Abhi juga pernah berada di posisiku. "
__ADS_1
"Its okey. Ppernikahan ku dulu bersama mantan istriku hanya berlangsung dua tahun. Beruntungnya kami saat itu belum di karuniai anak. Jadi, anak tidak menjadi korban perceraian kami. " Abhi mulai terbuka tentang masa lalunya kepada Yesha.
"Kenapa mas Abhi bisa bercerai dengan istri. Karena setahuku mas Abhi adalah orang yang baik. " kata Yesha yang tanpa sengaja memuji Abhi.
Abhi tersenyum mendengar pujian Yesha walau tanpa sengaja.
"Dia berselingkuh dengan temanku Yesh. Aku memergokinya bercinta dengan temanku saat aku sedang tidak ada di rumah. Mereka tidak menyadari kalau ada CCTV di apartemen kami. Melalui Cctv itu aku bisa tau ternyata istriku main serong di belakang ku. " kata Abhi dengan tersenyum miris.
"Maaf mas, kalau aku membuka luka masa lalu mas Abhi. " kata Yesha yang merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa, santai aja. Itu semua sudah berlalu. Ngomong-ngomong, bagaimana kalau kita makan dulu? Aku sudah lapar ini. " Abhi mencoba mancairkan ketegangan di antara mereka.
"Boleh mas, aku yang traktir. Sekalian ngomongin biaya jasa mas Abhi yang sudah membantuku. " Yesha merasa tidak enak karena sudah merepotkan Abhi sejauh ini.
Abhi hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Yesha yang merasa sungkan. Dia lalu membelokkan mobilnya ke salah satu rumah makan terdekat.
Abhi memilih tempat duduk yang nyaman untuk ngobrol Agar Yesha juga tidak canggung lagi padanya. Setelah memesan beberapa makanan mereka kembali ngobrol.
"Setelah ini apa rencanamu, Yesh?" tanya Abhi yang memulai obrolan.
"Baguslah. Kamu juga harus segera move on dan membuka hatimu untuk pria lain. Kamu masih muda, masih banyak pria diluar sana yang mau dengan kamu. " kata Abhi berkata sok bijak.
Yesha terkekeh pelan mendengar kalimat oanjang Abhi yang berisi nasehat.
"Aku baru aja cerai mas, massa iddahku masih tiga bulan. Untuk membuka hati aku pasrah kan kepada yang di atas. Aku nggak mau muluk-muluk yang penting buatku sekarang aku akan membesarkan Aksa dengan baik, agar menjadi pribadi yang baik kelak. "
"Oh, iya, untuk biaya jasa pengacara mas Abhi berapa ya kira-kira. " Lagi-lagi Yesha mengubgkit pembayaran jasa pengacara.
Abhi menghembuskan nafasnya kasar.
"Sebenarnya aku ikhlas bantuin kamu Yesh, karena aku juga merasa bersalah dengan masalahmu ini. Tapi jika kamu memaksa mau bayar, kalau aku minta bayaran lain boleh nggak? ' Tanya Abhi meminta persetujuan.
__ADS_1
" Apa mas. " tanya Yesha dengan sarngat penasaran.
"Kirimi aku bekal makan siang tiap hari kerja selama empat bulan di mulai dari besok. " akta Abhi dengan santai.
Yesha yang mendengar hal itupun merasa tak percaya, tapi itulah yang dikatakan Abhi Barusan.
"Mas Abhi serius? " tanya Yesha yang masih tak percaya.
"Ya serius lah, Yesh. Aku minta bayaran dengan makan siang, hasil masakanmu sendiri, jangan Bi sumi atau lusi. " Kata Abhi ngelunjak.
Percakapan mereka berhenti saat pelayan mengantarkan makanan kepada mereka berdua.
Abhi dan Yesha pun menyantap makan sjang mereka dengan suasana hening. Seperti biasa, Abhi tidak akan menghabiskan makanannya. Karena sebenarnya dia tidak suka makan di luar. hanya karena ingin ngobrol dengan Yesah, Abhi harus pura-pura. Dan akhirnya makanan itulah yang jadi korban, mereka sama sekali tak tersentuh tangan Abhi.
"Kenapa nggak di makan mas, ini masih banyak lho, mubadzir kalau nggak di habiskan. ' Yesha makin mengerutkan keningnya melihat tingkah Abhi.
" Maaf Yesh, bukan maksudku nggak mau memakannya, tapi lidahku menolaknnya. " kats Dika yang tak mau Yesha salah sangka.
"Jadi,Jihan dan bi Erina yang bilang kamu nggak suka makanan rumahan itu bener? " kat Yesha meyakinkan.
Abhi hanya mengangguk sebagai jawaban.
Yesha mulai berfikir serius, apa yang akan dilakukan nya untuk Abhi.
"Baiklah, aku terima tawaran mas Abhi, tentang bekal masmkan siang. Aku akan mengirim bekall makan siang kepada mas Abhi tiap hari selama empat bulan. " kata Yesha dengan yakin
"Kamu seriuskan? ' ukar Abhi tak percaya.
Yesha mengangguk yakin.
"Terimakasih Yesh, " ingin rasanya Abhi memeluk wanita di hadapannya ini, namun dia ingat bahkan tadi mantan suaminya meminta salaman pun Yesha tidak mau. Apa lagi Abhi yang bukan apa-apanya
__ADS_1
Sungguh wanita di hadapannya ini, sudah mengacaukan harinya.
Yesha sendiri menerima permintaan Abhi, karena merasa kasihan kepada Abhi yang sangat menyukai maskannua namjntidak bisa makan makanan lain diluar sana selain masakannya. Aneh memang. Itulah yang dipikirkan Yesha.