
Abhi sudah berada di rumah makan milik Yesha, Dia juga sudah membuat janji dengan Jihan kalau akan datang ke rumah makan Yesha untuk makan malam. Sudah menjadi acara rutin bagi Abhi tiap malam Abhi makan di tempat Yesha, karena kalau siang dia sudah mendapat kiriman makan siang dari Yesha.
"Gimana mas. " tanya Jihan saat sudah berhadapan dengan Abhi.
"Gimana apanya. " Abhi seolah tak mengerti maksud Jihan.
Jihan langsung bersedekap dada dan cemberut. Abhi yang melihat itu, merasa gemas sendiri kepada adiknya.
"Nggak semudah itu dek. " Abhi masih menyangkal perasaanya pada Yesha.
"Terserah mas Abhi deh, aku nggak mau ikut campur lagi. Tapi awas ya, kalau sampai mbak Yesha di tikung orang. "
Abhi tersenyum menanggapi omongan adiknya itu. Rupanya tidak hanya mamanya yang menginginkamnYesha untuk jadi menantunya, ternyata Jihan juga menginginkan Yesha untuk jadi kakak iparnya. Tapi Abhi sendiri masih ragu dengan perasaannya.
Yesha masuk ke tempat makannya bersama Aksa, terlihat Aksa sedang merengek kepada ibunya sepertinya dia sedang meminta sesuatu.
"Mas Abhi sudah datang, tunggu sebentar aku siapkan makan untuk mas Abhi. " Yesha lalu menuju dapur meninggalkan Abhi dan Jihan diikuti Aksa.
"Aksa, sini. " panggil Abhi kepada Aksa yang terus mengikuti ibunya.
Mendengar panggilan Abhi, Aksa lalu mendekat ke Abhi dan tidak mengikuti ibunya.
"Kenapa kamu merengek pada, ibumu? " tanya Abhi langsung.
"Besok, aku ada lomba bersama orang tua di sekolah om. Aku mau bolos sekolah aja. " keluh Aksa pada Abhi ssmbil bersedekap dada lucu, persis reaksi Jihan tadi
"Kenapa harus bolos, jagoan. " tanya Abhi lagi.
"Karena Aksa nggak punya Ayah, Om. Aksa malu jika cuma datang sama ibu aja. Jadi lebih baik aku bolos. Tapi sama ibu nggak boleh. " kata Aksa sambil menunduk.
Mendengar itu Abhi dan Jihan saling berpandangan.
Yesha datang ke meja Abhi dengan membawakan nampan berisi makanan dan teh hangat untuk Abhi.
"Ini mas, menu makanan hari ini. " yesha lalu menata makanan itu di meja.
"Aksa kenapa, Yes. Kok kayaknya sedih amat. " Abhi mencoba bertanya kepada Yesha.
"Dia pengen bolos mas, karena nggak mau ikut lomba di sekolah. Lombanya bersama orangtua katanya. " kata Yesha mendudukkan bokongnya di kursi berhadapan dengan Abhi dan Jihan.
Abhi terlihat lahap memakan makan malamnya sambil mendengarkan Yesha bicara.
__ADS_1
Terlihat Aksa terdiam sambil memandangi Abhi yang sedang makan. Tiba-tiba Sebuah ide muncul di kepala Aksa.
"Bu, Aku mau datang ke sekolah besok, asalkan ibu datang bersama Om Abhi. " celetuk Aksa tiba-tiba.
Abhi dan Yesha terbatuk mendengar celetukan Aksa.
"Aksa, " Yesha melotot mendengar celetukan anaknya itu.
"Kenapa bu, bukannya om Abhi pernah bilang padaku kalau aku disuruh menganggap om Abhi sebagai ayah sementara sebelum ibu menikah lagi. " Protes Aksa yang tidak Terima kalau dipelototi ibunya.
Abhi kembali tersedak mendengar omongan Aksa. Sedangkan Jihan hanya tertawa mendengar ocehan Aksa.
"Gimana mas, anakmu pengen di antar tuh. " Jihan menggoda kakaknya itu, sambil tertawa terbahak-bahak.
Abhi dan Yesha memandang ke arah Jihan dengan pandangan aneh.
"Gimana, om. " Aksa memandang Abhi dengan penuh harapan.
Abhi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Om, nggak mau ya. Ya udah deh, aku nggak usah sekolah besok bu. Aku nggak mau, ibu nanti melawan bapak- bapak. Lebih baik Aksa dirumah nonton tv aja. " Mode merajuk Aksa.
"Iyain, aja kenapa sih mas. Toh kamu sendiri dulu yang bilang kalau Aksa boleh menganggapmu Ayah. " Jihan masih menggoda kakaknya yang tiba-tiba jadi salah tingkah.
"Mbak, jangan pelototi Jihan. Jihan takut.... " kata Jihan seolah bergidik ngeri.
"Baiklah Aksa, besok Om temani Aksa ke sekolah. Tapi jangan bolos dan merengek lagi sama ibu, ya." putus Abhi pada akhirnya.
Abhi jadi tidak tega melihat Aksa yang tidak memiliki orang tua lengkap. Memang perceraian pasti akan membuat anak jadi korbannya. Kali ini biarlah, Abhi mengalah dan mau menemani Aksa ke sekolah.
"Ye... ye...Asik." Aksa langsung bersorak gembira.
"Besok om pakai baju olah raga ya sama sepatu. Jangan pakai jas. " celetuk Aksa kemudian.
"Oke jagoan. " Abhi mengarahkan jari jempolnya ke arah Aksa.
Aku juga ikut, aku pengen lihat mas Abhi lomba sama anaknya. " Celetukan Jihan membuat Yesha dan Abhi salah tingkah.
"Apaan sih, Jihan. Mas Abhi, apa mas Abhi tidak kerja besok. Kita jadwal lombanya jam delapan lho. Aku takut merepotkan mas Abhi. " yesha merasa tak enak hati kepada Abhi karena sudah sering merepotkan nya.
"Nggak apa-apa Yesha. Kita akan melakukannya demi Aksa kali ini. Aku nggak mau lihat dia sedih karena tidak punya sosok seorang ayah. " Abhi memberikan pengertian kepada Yesha.
__ADS_1
"Terimakasih, mas. Ayahnya saja tidak pernah seperhatian ini kepada Aksa. Tapi mas Abhi terlalu banyak memberikan perhatian kepada kami. Entah aku bisa membalas semua kebaikan. Mas Abhi atau tidak. " ujar Yesha dengan menundukkan kepalanya.
"Its oke, aku ikhlas melakukannya kok. " balas Abhi. "Sekarang aku pulang dulu, karena harus istirahat. Besok Om akan kesini pagi-pagi, oke. " kata Abhi kepada Yesha dan Aksa.
"Oke om, Aksa akan tunggu Om Abhi. "
*
Dua bulan juga sudah berlalu, sejak Dika dan Vio menikah. Mereka tinggal dii apartemen Vio. Malam ini Dika jadi uring-uringan karena ibunya selalu meminta uang kepadanya padahal dia sudah memberikan uang bulanan untuk ibunya itu, tapi selalu kurang, dan kurang terus. Sehingga membuat Dika menjadi Jengkel. Dia juga meminta kepada Vio untuk memberikan jatah bulanan kepada ibunya, tapi Vio menolak. Karena bukan kewajiban nya memberikan uang kepada ibu mertuanya itu
"Kamu kenapa mas. " Tanya Vio saat melihat suaminya itu gusar.
"Ibu minta uang lagi. Pusing aku. Padahal dulu dia tidak seperti ini saat aku menikah dengan Yesha. Dia selalu menerima uang yang kuberikan. " kata Dika yang akhirnya mengeluarkan keluh kesahnya kepada istrinya.
"Memang dulu ibu kamu kasih berapa? "
"Semua gajiku aku berikan kepada Ibu. "
Vio mengernyitkan keningnya. "Lalu Yesha? "
"Dia diberi jatah dari sisa gajiku oleh ibu. "
Mendengar itu, Vio geleng-geleng kepala. Kini dia mengerti kenapa Yesha tidak ingin kembali kepada suaminya itu.
"Pantas, Yesha meninggalkanmu mas, dan aku salut sama dia udah bisa bertahan selam tujuh tahun menikah denganmu. " sinis Vio.
"Maksud kamu apa? " Dika menjadi emosi mendengar kata-kata Vio.
"Bayangkan, seorang istri mendapat sisa gaji dari suaminya, setelah dipakai memenuhi kebutuhan rumah ibunya. Istrimu dulu hanya tinggal berdua dengan anaknya. sedangkan dirumah ibumu ada lima orang yang harus diberi makan. Aku yakin pasti ibumu hanya memberi uang lima ratus ribu atau oaling banyak satu juta. " tebak vio dengan tepat.
Dika mengernyitkan keningnya mendengar perkatasn Vio. Tepat sesuai dugaan, semua yang dikatakannya.
"Mantan istrimu itu adalah wanita baik yang mau menerima keadaanmu yang tidak bisa menolak permintaan keluargamu. Tapi maaf, kalau aku... Aku tak sebaik mantan istrimu itu. Aku akan meminta hak ku sebagai istrimu. Dan ibumu hanya perlu kamu beri uang sewajarnya saja. lagipula untuk apa kamu juga membiayai mas Bagus dan keluarganua. Bukannya mereka adalah tanggung jawab mas Bagus bukan tanggung jawabmu. Makan nggak makan itu urusan mas Bagus, bukan urusanmu mas. "Tegas Vio kepada Dika.
Lagi-lagi Dika merasa tertampar oleh ucapan Vio. Karena selama ini tidak hanya ibunya yang harus dia biayai tapi juga keluarga kakaknya dan biaya kuliah adiknya.
" Untuk adikmu, dia sudah besar, dia bisa cari kerja sendiri. Kamu hanya perlu membiayai biaya kuliahnya saja. " putus Vio, lalu meninggalkan Fika yang sedang termenung. Dia mungkin sedang memikirkan ucapan Vio yang semuanya ada benar nya.
Yesha dulu memang wanita yang mau menerima semua keadaan yang menimpanya. Tapi Vio, di lebih tegas dan berpendidikan. Dika tidak akan semudah itu membodohi Vio atau mencuranginya. Lagipula semua ucapan yang Vio katakan barusan membuka matanya yang telah lama tertutup. Semua perkataan Vio ada benarnya, mungkin selama ini dia hanya dimanfaatkan oleh keluarganya dan dijadikan sapi perah untuk menghasilkan uang.
Mungkin Dika akan berfikir ulang, untuk rencananya menikahi Vio. Jika awalnya dia menikah hanya untuk menguasai kekayaam Vio, dia akan berfikir ulang untuk menjalani pernikahan seutuhnya dengan Vio, jika Vio bisa bersikap baik kepadanya. Sepertinya dia juga sudah lelah, untuk menghidupi keluarganya. Karena mereka tidak pernah berterima kasih dan bersyukur. Hanya uang... uang... saja yang mereka pikirkan tanpa mengerti perasaan Dika.
__ADS_1
Dibalik pintu, Vio tersenyum senang, karena pada akhirnya dialah yang akan memenangkan pertarungan ini. Dia yang akan balik mengendalikan Dika. Bukan Dika yang mengendalikannya. Dia akan bersikap baik, layaknya seorang istri yang kuat. Karena memang itulah dia. Vio akan sedikit demi sedikit menguasai Dika agar melupakan keluarganya yang serakah itu. Dan menjalani pernikahan normal seperti orang lain, tanpa campur tangan dati keluarganya.