
Yesha masuk ke dalam kamarnya, setelah kepergian Maya dan Dila. Dia lalu duduk di pinggir ranjang tempat suaminya sedang rebahan.
"Ada apa? " tanya Abhi yang melihat istrinya terdiam sejak masuk ke dalam kamar.
"Dilan ternyata mau menikah mas, dengan ayah bayi yang ada di kandungan nya. " Yesha akhirnya membuka mulutnya.
" Bagus dong. Pria itu bertanggung jawab kepada anaknya. "
"Iya mas, akhirnya Dila bisa bernafas lega sekarang. Oh iya mas, apa benar Mario mau menikah dengan Maya? " tanya Yesha yang masih belum percaya kalau asisten suaminya itu mau menikah dengan mantan kakak iparnya.
"Iya sayang... Tadi Mario sendiri yang meminta ijin padaku sehari untuk mengurus berkas-berkas pernikahannya. " kata Abhi.
"Kenapa? " tanya Abhi kemudian.
"Ya nggak nyangka aja kalau Mario akan menikahi Maya. "
"Mereka itu sepasang kekasih dimasa lalu. Dan Mario terikat janji dengan Maya. Untuk menikahinya saat dia selesai kuliah. Tapi saat Mario kembali ternyata Maya sudah menikah dengan Bagus sebagai penebus hutang. " Abhi menceritakan apa yang dia tau dari Mario.
"Benarkah? Aku baru tau sekarang lho mas. Memangnya mas Abhi tau dari siapa? "
"Mario menceritakan semuanya padaku saat kami kuliah di Jerman dulu. Aku nggak tau kalau Maya yang ada di masa lalu Mario adalah Maya yang ada disini. "
"Sudahlah, jangan ikut campur urusan mereka. Biarkan mereka bahagia dengan pilihan mereka sendiri. Dan kamu bahagia dengan pilihanmu. "
Yesha lalu berbaring di samping suaminya. dan memeluknya erat.
"Iya aku bahagia sangat bahagia dengan pilihanku. Aku bersyukur karena kamu sudah mau menerimaku sebagai istrimu mas. "
"Seharusnya aku yang bicara seperti itu, Yesha. Harusnya aku yang bersyukur karena mendapatkanmu sebagai istriku. Karena kamu adalah wanita luar biasa pernah aku kenal dan sekarang aku miliki, terima kasih. " Abhi membalas pelukan Yesha tak kalah eratnya.
Mereka saling berpelukan untuk menumpahkan segala rasa syukur satu sama lain.
*
*
Dila sudah berdandan cantik apa adanya dibantu Maya yang mendandani nya,Karena ia hanya akan melakukan akad nikah di kantor KUA. Hanya dengan mamakai gamis dan jilbab, saja dia sudah siap.
"Mbak, apa mbak Maya nggak mau ikut aku menyaksikan pernikahanku? " tanya Dila yang berharap mau menghadiri pernikahannya.
"Nggak usah, Dil. aku do'akan kamu dari sini saja, semoga kamu bjsa bahagia dengan pernikahanmu, dan dikaruniai anak-anak yang lucu nanti. "
"Aamiin.. "
Setelah menunggu beberapa saat Akhirnya mobil Agus datang untuk menjemputnya. Agus turun bersama ibunya, bu Maria yang langsung masuk ke tempat kost calon menantunya. Dia langsung memeluk Dila dengan perut buncit nya.
__ADS_1
"Anakku, " kata bu Maria saat memeluk Dila.
"Ayo kita berangkat, Aku tidak sabar membawamu pulang ke rumah. " ujar bu Maria kepada Dila.
Maya dan Agus yang melihat itu merasa bahagia. Karena ternyata Dila diterima keluarga Agus dengan baik terutama ibunya.
Sedangkan di rumah Dika.
Hari ini Dika meminta ijin tidak masuk sehari kepada atasannya, karena dia harus menjadi wali untuk adiknya Dila. Dia masih tidak mengatakan kepada Ibunya kalau Dila hari ini akan menikah. Dika hanya mengatakan kalau ibunya harus bersiap untuk ikut dengannya menghadiri pernikahan temannya.
Dan disinilah mereka berada saat ini. Dika sudah datang lebih dulu bersama dengan Ibunya. Bu Ayu yang sejak tadi mengomel tak karuan, karena dia hanya di ajak ke kantor KUA bukannya di tempat kondangan biasanya yang ada jamuan makanan dan minumannya.
"Tau gini ya, Dik. Aku nggak bakal dandan menor kayak gini. " kata Bu Ayu yang terus saja mengomel.
"Sabar lah bu. Sebentar lagi juga datang. "
"Ibu haus Dik, belum makan juga. Kirain di tempat kondangan nanti ibu bakal dapat makanan enak sama minuman segar. Eh, ini. Boro-boro makanan, minuman aja nggak ada. "
Dika memutar bola matanya malas, mendengar ucapan ibunya yang tidak ada habisnya itu.
"Memangnya siapa sih, temen kamu itu Dik. Ibu kok jadi penasaran, sampai-sampai kamu mengajak ibu segala. "
"Ini temen penting bu. Makanya Aku bela-belain ibu agar datang ke acara pernikahannya. "
Setelah berdebat dengan ibunya beberapa saat akhirnya, mobil yang dikendarai agus, Dila dan ibunya sampai di KUA tempat Agus dan Dila akan melakukan ijab qobul. Agus turun bersama ibunya,
Dengan langkah lebar, Bu Ayu segera mendekati Agus. Dika hanya mendengus kesal melihat ibunya yang bersikap seperti itu. Setelah ini pasti akan terjadi keributan. Dan Dika tidak mau ibunya itu membuat masalah dengan ibunya Agus. Jadi dia segera menghadang ibunya itu agar tidak berjalan terlalu jauh.
"Kenapa kamu menghentikan ibu, Dika. Ibu nggak terima ya, kalau Agus menikah dengan wanita lain. " kata bu Ayu dengan penuh Emosi.
"Bu, ibu bisa tenang sedikit nggak. Bisa nggak sih nggak bikin keributan dan bikin malu. Bisa nggak sih ibu, jaga image di depan banyak orang. Malu bu, malu... " kata Dika dengan penekanan di setiap ucapannya.
"Nggak, ibu nggak terima pokoknya. "
"Sabar, kenapa sih bu. Kita lihat dulu siapa calonnya Agus. Jangan asal marah-marah nggak jelas kayak gini. Bikin malu aja. " Dika sudah tidak bisa mengontrol emosi dan kata-katanya melihat sikap ibunya yang seperi ini.
Tak lama, mempelai Agus pun turun Dan Bu Ayu sekarang bisa tau, siapa pengantin Agus.
"Di... Dila... Dik, itu Dila kan? " tanya Bu Ayu dengan mata berbinar melihat anaknya.
"Nah, makanya. Jangan keburu berburuk sangka sama seseorang. " kata Dika yang masih kesal dengan ibunya.
Dila, Agus dan Bu Maria mendekati Dika dan Ibunya. Dila sudah tidak bisa membendung air matanya saat bertemu dengan ibunya. Bagaimanapun Bu Ayu, dia tetaplah ibunya. Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya.
Dila langsung memeluk ibunya itu dan menangis di pelukannya.
__ADS_1
"Bu, maafin Dila... " tangisnya dalam pelukan sang ibu.
"Kamu kemana aja nak? Ibu selalu menunggumu pulang. Maafin ibu dengan semua ucapan ibu yang keterlaluan waktu itu. Maafin ibu ya? " kata bu Ayu yang juga menangis di pelukan Anaknya.
Dila mengangguk, lalu mereka mengurai pelukannya.
"Bu ini mas Agus. "
"Iya ibu sudah tau, dia adalah ayah dari anakmu kan? "
Dila mengangguk lagi.
"Dan ini ibu Maria, ibunya mas agus. " ujar Dila.
Bu Ayu lalu bersalaman dengan bu Maria. Ada sesuatu yang berbeda saat bu Ayu menjabat tangan bu Maria. Nyalinya seolah menciut saat berhadapan dengan ibu nya Agus itu.
Setelah bersalaman Mereka duduk di ruang tunggu untuk menunggu giliran. Bu Maria tidak banyak bicara setelah melihat Bu Ayu, sepertinya Bu Maria tau sesuatu tentang besannya itu. Orang yang suka menindas orang lain. pikir bu Maria. Jadi dia bersikap lebih tenang dan anggun untuk menghadapi manusia seperti itu.
Kini giliran Agus dan Dila yang masuk ke dalam ruangan. Dengan Dika sebagai wali Dila, Dika mengucapkan kalimat ijab, dan dibalas dengan kalimat Qobul dari Dika. Hingga suara
"Sah... "
Menggema di ruangan itu.
Penghulu sebelumnya juga memberi nasehat kepada Agus untuk tidak menyentuh atau menggauli istrinya yang sedang hamil hingga ia melahirkan dan menyelesaikan masa nifasnya. Itulah resiko yang harus diterima suami yang sudah membayar DP duluan sebelum menikah.
Setelah selesai Ijab Qobul , dan menerima surat nikah mereka, Agus dan semua orang disana segera keluar dari ruangan.
"Dila setelah ini kamu tinggal di rumah ibu apa suamimu? " tanya Bu Ayu berharap kepada Dila.
"Tentu saja Dila akan tinggal di rumah saya bu, dia sudah menjadi istri Agus, itu artinya dia juga sudah menjadi menantu saya. Yang artinya seorang istri harus ikut kemana suaminya pergi. Benar kan Dila? " Bu Maria langsung mematahkan semua keinginan Bu Ayu yang menginginkan Dila untuk kembali ke rumahnya.
"Tapi... "
"Ibu benar, bu. Aku sudah menjadi istrinya mas Agus. Jadi aku akan ikut mas agus kemanapun dia pergi dan tinggal walau pun di gubuk reot sekalipun. " ujar Dila yang juga mematahkan keinginan ibunya.
Bu Ayu hanya tertunduk sedih setelah mendengar ucapan Dila dan besannya.
"Sudah... sudah jangan bersedih hati. Ayo sekarang kita makan. Aku sudaj menyiapkan jamuan makan untuk kita semua. Agus akhirnya bersuara setelah melihat ketegangan di wajah semua orang.
"Ibu bisa ikut mobilku, mas Dika nggak apa kan naik motor sendiri? " tanya Agus yang merasa tidak enak kepada Dika.
"Nggak apa, Gus. Kamu bawa mereka ikut mobil kamu biar aman. " ujar Dika yang menangkap perasaan tak enak di wajah adik iparnya itu.
Mereka akhirnya pergi ke tempat yang sudah Agus siapkan.
__ADS_1
Note : Hari ini crazy up ya... kasih dukungan buat othor, yah