
Di kantor, Abhi yang sejak tadi mendapat telpon dari Jihan pun mulai merasa gelisah dan tak tenang. Rasa khawatir menyapanya, setelah mendengar informasi dari Maya. Ingin rasanya segera mempersunting Yesha menjadi istrinya, tapi itu tidak mungkin. Undangan sudah disebar, jika sampai berubah jadwal akan mendatangkan gosip miring tentang hubungan mereka. Jadi, apa yang harus dia lakukan.
Abhi segera pulang ke rumahnya, dia ingin berkonsultasi dengan papa dan mamanya mengenai hal ini. Karena Abhi tidak ingin mantan suami Yesha mengganggu hidup Yesha lagi.
Mobil mewah Abhi sudah terparkir rapi di garasinya. Papa dan mamanya merasa aneh, karena tidak biasanya Abhi pulang kerja diwaktu se sore ini. Abhi masuk ke dalam rumahnya dengan wajah di tekuk masam.
"Kenapa Bhi, pulang-pulang wajahnya masam gitu." Sapa mama Erina ketika melihat Abhi masuk ke dalam rumah. Sedangkan papa nya sedang asik menikmati cemilan sore.
Abhi tidak langsung membalas sapaan mamanya tapi mendudukkan dirinya di sebelan sang mama lalu merebahkan dirinya di pangkuan sang mama. Mama Erina langsung membelai lembut rambut sang anak. Dia merasa anaknya itu sedang mengalami masalah yang cukup berat, kalau sedang bermanja gini.
"Ada apa sih? " tanya mama Erina dengan lembut dan menanyakan kembali masalah anaknya itu.
"Ma pernikahan ku dengan Yesha bisa dimajuin ga? "
"Kenapa sih, kok nggak sabaran amat. Cuma tinggal empat hari lho. Kok nggak sabaran. "
Abhi lalu duduk, dan mendengus. "Bukan seperti itu, ma... "
Abhi lalu menceritakan apa yang baru saja dia dengar. Mama Erina dan pak Pradipta mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan Abhi.
"Jadi itu masalah nya. " tanya mama Erina lagi.
Abhi hanya mengangguk.
"Bhi... percaya pada Yesha, dia pasti bisa menjaga dirinya. Kamu tidak perlu khawatir. Yesha pasti akan berpikir ulang kalau mengenai keluarga mantan suaminya. "
"Tapi ma, aku nggak suka kalau Yesha bertemu mantannya. "
Pak Pradipta menggelengkan kepalanya mendengarkan keluhan Abhi.
"Lihatlah ma, anakmu ini sudah punya rasa cemburu." kata papa Abhi kepada istrinya
" Tenanglah, nanti aku akan telpon Pram, agar segera datang kemari dan bisa mencegah hal yang tidak kau inginkan. " Akhirnya Pak Pradipta mengeluarkan suaranya.
"Iya sebaiknya begitu, pa. Agar Yesha ada yang membantu disini kalau benar mantannya itu akan datang. " rencana pak Pradipta di setujui mama Erina.
__ADS_1
Abhi juga merasa puas mendengar rencana papanya. Karena dengan adanya bapak mertuanya di rumah Yesha, maka Abhi akan merasa tenang.
"Syukurlah kalau papa akan menghubungi bapak. Dengan begitu aku akan merasa tenang. Karena aku kan masih belum bisa menemui Yesha karena proses ini. "
"Iya... iya. Nanti papa akan menghubungi Pram. "
Akhirnya Abhi bisa merasa tenang sekarang.
*
Dika sendiri yang sudah sampai rumah merasa uring-uringan sendiri. Karena Vio tidak mau ditinggal sendiri di rumah. Entahlah tumben sekali Vio tidak mau di tinggal sendiri sekarang. Dan itu membuat Dika merasa sangat kesal. Rencananya malam ini untuk menemui Yesha gagal total. Dia harus bersabar sampai Vio mau di tinggal.
"Kamu kenapa sih, Vio. Tumben banget kok nggak mau di tinggal. Aku ada perlu penting lho ini. " Akhirnya Dika mengungkapkan rasa kesalnya.
"Nggak usah pergi kalau sendiri, kalau sama aku boleh pergi. Aku mau sama kamu terus mas. " Kata Vio bergelayut manja kepada suaminya.
"Kenapa manja banget sih, sekarang. Aku risih tau." Lagi lagi Dika menunjukkan kekesalannya kepada Vio.
"Kamu nggak suka ya, kalau aku manja gini sama kamu. " Vio balik marah sama Dika karena dia merasa suaminya itu tidak suka dengan hal-hal romantis
Dika yang mendengar istrinya balik memarahi dan menanyai kepergiannya jadi gelagapan sendiri. Karena jika Vio tau Dika mau kemana pasti Vio akan sangat marah kepadanya.
"Enggak kok, nggak jadi deh. Ya udah, kita bermanja lagi. " Dika akhirnya yang harus mengalah demi kelangsungan hidupnya.
Tapi Vio semakin curiga dengan sikap Dika yang sangat mencurigakan.
"Ada yang kamu sembunyikan dari aku ya mas. "
"Enggak kok. Jangan mulai deh. Sini.. " Dika mengelak dan menepuk kursi di samping nya agar Vio mau bermanja lagi dengannya.
Vio menurut, tapi dia tidak akan tinggal diam. Karena sudah mulai curiga dengan tingkah laku Dika.
"Jangan harap aku akan melepaskanmu begitu saja mas. Aku bukan mantan istrimu yang mudah kamu bodohi dan selingkuhi. Lihat saja nanti. " gumam Vio dalam hati.
**********
__ADS_1
Dirumah Yesha,
Yesha yang merasa tak tenang sejak mendapat informasi dari Maya merasa gelisah malam ini. Dia takut kalau tiba-tiba Dika datang dan membuat keributan. Akhirnya Yesha memutuskan untuk melihat keadaan rumah makannya, yang sangat ramai malam itu. Dia juga melihat Maya yang dengan cekatan melakukan pekerjaannya. Membantu melayani pembeli yang datang, dan segera mencuci piring bila sudah menumpuk.
Yesha sudah mengenalkan Maya kepada para pegawainya yang lain tadi sore. Jadi dia tidak merasa canggung lagi untuk berinteraksi dengan pegawai lainnya, karena dia masih harus banyak belajar.
Kini Yesha tidak perlu lagi turun tangan untuk membantu di rumah makannya, karena sudah ada Maya yang ia pekerjakan sebagai pegawai paruh waktu.
Yesha kembali ke rumahnya, dan melihat Aksa yang sedang belajar dengan Danu. Syukurlah sekarang juga ada Danu, yang membantunya mengantar jemput Aksa sekolah. Dan membantunya belajar, dulu memang Jihan yang membantu Aksa belajar tapi karena sekarang ada Danu. Jihan yang mundur.
"Ma, papa Abhi kok nggak kesini sekarang. Apa papa Abhi sama mama sedang bertengkar? " tanya Aksa mendekati ibunya yang sedang bersantai.
Yesha tersenyum mendengar ucapan Aksa.
"Papa Abhi sedang kerja Aksa. Empat hari lagi, papa sama mama menikah. Apa Aksa senang? "
Aksa mengangguk pasti. " Aksa seneng banget ma. Itu artinya papa Abhi akan menjadi papa Aksa betulan.? " tanya Aksa kemudian.
"Iya papa Abhi akan menjadi papa Aksa betulan, bukan sementara lagi. "
Aksa bersorak gembira karena pada akhirnya dia akan memiliki papa betulan yang akan menemani nya sepanjang waktu.
"Aksa berdoa semoga papa Abhi bisa menjadi papa yang baik buat mama dan Aksa. Tidak menyiksa mama dan membuat mama nangis lagi. Aamiin. " Aksa berdoa tulus dari hatinya.
"Aamiin."
Doa Aksa tadi di amini oleh Yesha dan Danu. Juga Jihan yang baru saja masuk ke rumah Yesha
Jihan memang sudah menganggap rumah Yesha seperti rumahnya sendiri, dia bebas keluar masuk rumah itu tanpa beban atau malu. Karena Yesha sudah menganggap Jihan seperti Danu adiknya sendiri. Toh sebentar lagi Jihan akan menjadi adik iparnya.
"Aksa senang ya, mau punya papa. " tanya Jihan sambil menggelitiki perut Aksa.
"Iya seneng kak Jihan. Karena papa Abhi baik banget sama Aksa dan sayang sama Aksa. Tidak seperti ayah Dika. "
Semua orang tertegun mendengar ucapan Aksa.
__ADS_1
Mereka tidak bertanya apapun lagi pada Aksa, karena mereka tau Aksa, Seorang anak kecil yang kurang kasih sayang dari ayahnya kini sudah mengerti tentang ketulusan dan kasih sayang orang terdekat nya.