Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Permintaan Vio


__ADS_3

Sepasang pengantin baru itu masih bergelung dibawah selimut walau matahari sudah meninggi. Tapi tak mengganggu tidur mereka sama sekali. Mereka juga melewatkan sarapannya, karena terlalu lelah walau hanya sekedar membuka mata.


Abhi mengernyitkan matanya yang masih terpejam, karena merasa terganggu dengan sinar matahari yang masuk mmelalui celah jendela kamarnya. Dibukanya matanya perlahan, dan terlihat keadaan kamar yang Sudah terang benderang. Abhi menggerayangi atas nakas untuk mengambil ponselnya, dan dlihatnya waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


"Pantas saja udah terang banget gini. Laper lagi. " gumamnya.


Iya menoleh ke samping kanannya, dan dilihatnya sang istri masih terlelap. Ingin membangunkan tapi tidak tega. Tapi perut sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi karena lapar.


Abhi segera menghubungi pihak hotel untuk mengantarkan makan siang ke kamarnya, sebelum membangunkan istrinya.


"Sayang.... bangun. Udah siang ini... "


Yesha tak bergeming, dia masih anteng dengan tidur nya. Membuat Abhi jadi gemas sendiri. Akhirnya Abhi menciumi wajah Yesha bertubi-tubi untuk membangunkannya. Yesha yang merasa terganggu pun segera membuka matanya. Dan dilihatnya suaminya itu sedang menaik turunkan alisnya untuk menggodanya.


"Apa sih, mas. Masih ngantuk, nih. " Yesha berkata dengan malas dan menarik selimutnya lagi.


"Ini sudah siang lho, apa kamu nggak laper? Mas laper nih. "


Mendengar suaminya lapar, Yesha langsung membulatkan matanya. Ia sepertinya lupa dengan tugasnya memasak makanan untuk suaminya. Dia segera bangun dan langsung menuju toilet untuk membersihkan wajahnya.


"Mau kemana sayang? " Abhi memperhatikan gerak-gerik istrinya itu setelah keluar dari kamar mandi dan langsung mencari sesuatu.


"Cari apa sih? " tanya Abhi yang mendekati Yesha yang tengah kebingungan.


"Alat-alat masak mana, mas? tanyanya kemudian setelah tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.


" Sayang, lihat aku" Abhi mengarahkan istrinya yang panik itu agar menghadap ke arahnya.


"Kamu mau apa? " tanya Abhi kemudian.


"Aku mau masak buat kamu mas. " jelas Yesha.


Abhi menghembuskan nafasnya kasar.


"Sayang, sekarang kamu perhatikan, sekarang kita ada di mana? "


Yesha memindai setiap ruangan, dan ia langsung terkekeh mengingat kebodohannya barusan


"Maaf mas, aku lupa. '


"Tidak apa-apa. Aku sudah pesan makanan dari hotel. "


Abhi lalu masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan dirinya. Yesha menunggu di atas tempar tidur, sambil memainkan ponselnya.


Terdengar suara pintu kamar di ketuk. Yesha segera membukakan pintu, dan masuklah, dua petugas hotel satu membawa troli makanan dan satunya membawa alat kebersihan. Mereka melakukan tugas masing-masing, dan setelah selesai mereka segera keluar dari kamar Yesha.


Setelah kepergian para petugas hotel, Abhi keluar dari kamar mandi dan segera menghampiri istrinya.


"Makanan sudan datang? "


Yesha hanya mengangguk. Mereka lalu duduk bersama dan segera memakan makanannya, dengan Abhi yang menerima suapan dari istrinya.

__ADS_1


Jika Abhi dan Yesha sedang berbahagia menghabiskan dua hari di hotel untuk berbulan madu, maka berbeda dengan Dika yang sudah dua hari berada di rumah sakit menjaga istrinya yang masih kritis di ruang ICU.


Vio masih belum sadar dari masa kritisnya. Dika dengan sabar menungguinya diluar ruangan, saat malam hari dan harus bekerja di siang hari. Dika sama sekali tidak menghubungi ibunya untuk meminta tolong kepadanya menjaga Vio. Karena dia yakin, itu hanya akan menambah bebannya saja.


Saat Dika sedang bekerja, dia mendapat telpon dari rumah sakit yang mengabarkan kalau Vio sadar, dan sedang mencarinya. Setelah meminta ijin dari atasannya, Dika segera menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Vio.


"Mas." sapa Vio dengan wajah pucatnya.


"Iya, aku disini. Maafkan aku tidak ada di dekatmu saat kamu sadar, karena aku harus bekerja. "


Vio tersenyum dan mengangguk.


"Tidak apa-apa. Mas, apa boleh kamu pertemukan aku dengan Yesha dan pak Abhi. " lirih Vio mengatakan permintaannya.


Dika mengernyit karena tidak mengerti dengan permintaan Vio. "Untuk apa? "


"Ada yang ingin aku katakan kepada mereka, tolong penuhi permintaanku. " Sekali lagi Vio meminta hal itu kepada Dika.


"Baiklah, besok aku akan menemui Yesha dan Pak Abhi. " ujar Dika pada akhirnya.


Vio tersenyum dan memejamkan matanya lagi.


Awal dari sakit Vio dia rasakan pada dua bulan terakhir, sebelum melakukan operasi.Tapi dia tidak mengataksnnya pads Dika. Vio sering merasa mual dan muntah. Vio pikir, dia sedang mengalami morning sickness, yang biasa dialami ibu hamil. Ternyata itu juga awal sakit yang ia rasakan saat ini. Tubuhnya merasa lemah dan sering merasa tidak nyaman diperut. Hingga akhir-akhir ini tubuhnya membengkak di beberapa bagian. Dan Dika segera membawanya ke rumah sakit.


*


Keesokan harinya setelah pulang kerja, Dika segera bergegas ke tempat kerja Yesha. Melalui alamat yang pernah ia dapatkan dari kakaknya. Mungkin saja ia bisa mendapatkan informasi tentang Yesha. Karena tadi saat di kantor, Dika masih belum melihat atasannya itu masuk kerja. Jadi ia memutuskan untuk mencari Yesha.


"Sepertinya mbak Yesha baru pulang tadi sore dengan suaminya. " kata si pelayan.


Tanpa banyak bicara lagi, Dika segera menuju tempat yang ditunjukkan pelayan tadi. Iya melihat Aksa yang sedang bermain ditemani Danu.


"Aksa... " lirihnya.


Namun lamunannya segera buyar saat mengingat wajah pucat Vio. Dia lalumemencet bel yang berada di balik pagar. Aksa yang mendengar bunyi bel pun langsung melihat ke arah luar pagar. Dilihatnya wajah yang tak asing lagi baginya.


"Ayah.. " lirih Aksa. Namun dia tidak membukakan pagar untuk ayahnya, melainkan masuk ke dalam. Dan di sambut Abhi yang mendengar bunyi bel tadi.


Sakit yang Dika rasakan melihat anaknya sendiri menghindarinya.


"Ada apa Aksa? " tanya Abhi, yang melihat Aksa berlari ketakutan.


"Di luar ada ayah Dika. " ucap Aksa dengan takut.


Abhi mengernyitkan keningnya, dan bertanya kepada Danu yang berjalan malas di belakang Aksa.


"Siapa Dan. "


"Ada mas Dika diluar, mas. " ucap Danu dengan malas.


"Ya sudah biar, mas yang nemuin. Kamu bawa Aksa masuk. Dan Bilang juga sama mbak mu, kalau ada Dika di luar. " perintah Abhi kepada adik iparnya itu.

__ADS_1


Abhi keluar dan segera membukakan pagar rumah untuk Dika, dan menanyakan maksud kedatangam Dika ke rumah istrinya.


"Ada apa ya? " tanyaa Abhi ketus.


"Maaf pak, saya ingin bicara sesuatu kepada anda, dan Yesha. ini penting. "


Abhi yang menangkap keseriusan Dika pun mengijinkan Dika masuk, tapi tidak di dalam rumah, melainkan di teras rumah. Di sana juga disediakan sofa untuk bersantai.


"Ada apa? " tanya Abhi lagi saat mereka tengah duduk berdua.


"Saya ingin menyampaikan pesan istri saya kepada kalian berdua. " kata Dika menyampaikan maksud kedatangannya.


Sebelum Abhi menjawab, Yesha keluar dengan anggunnya dan duduk di samping Abhi.


"Ada apa mas? " tanya Yesha kepada suaminya.


"Dia kesini katanya mau menyampaikan pesan dari istrinya. " jawab Abhi.


Yesha mengernyit kan keningnya tidak mengerti apa maksud Dika.


"Yesh, maaf sebelumnya. Bukan maksudku ingin mengganggu rumah tanggamu. Tapi aku datang kemari, atas permintaan istriku yang ingin bertemu dengan kalian berdua. " jelas Dika kepada sepasang pengantin baru itu.


"Untuk apa? " tanga Yesha ketus.


"Sayang... " panggil abhi dengan lembut, yang melarang istrinya untuk bersikap ketus.


Mendengar panggilan sayang yang Abhi berikan kepada Yesha, membuat hati Dika tercubit.


"Vio saat ini sedang berada di rumah sakit. Dia kritis sejak hari pernikahan kalian. Dan baru sadar kemarin. Saat sadar, yang dia sampaikan padaku adalah dia ingin bertemu dengan kalian berdua. Karena ada yang ingin dia katakan pada kalian. " ujar Dika menjelaskan maksud kedatangannya.


Abhi dan Yesha saling berpandangan. Mereka tidak pernah menyangka akan mendengar sesuatu yang mengejutkan dari Abhi.


"Vio sakit? sakit apa? " tanya Yesha yang penasaran.


"Sirosis hati stadium lanjut. Aku tidak tau, apakah dia bisa disembuhkan atau tidak.Karena penyakitnya sudah menyebar ke ginjal.Selama ini Vio tidak pernah mengeluh sakit, Tapi sekalinya tumbang langsung parah." ucap Dika dengan tertunduk.


Mendengar apa yang di katakan Dika, Yesha langsung menutup mulutnya karena terkejut. Dia tidak pernah menyangka, wanita angkuh, sombong dan anggun itu bisa tumbang karena penyakit yang dia derita.


"Baiklah, pak Dika. Nanti akan kami pikirkan dulu apakah istri saya mau menemui istri anda atau tidak. Karena bagaimanapun saya harus menjaga perasaan nya. " ujar Abhi yang sudah mengerti dengan maksud kedatangan Dika.


"Terimakasih pak Abhi, saya berharap kalian mau meluangkan waktu untuk menemui istri saya. " kata Dika, ia lalu berdiri dan berpamitan kepada Abhi dan Yesha.


Setelah kepergian Dika. Abhi dan Yesha duduk di ruang tamu berdua.


"Bagaimana, Sayang. apa kamu mau datang melihat keadaan Vio dan memenuhi permintaannya untuk bertemu dengan kita? " tanya Abhi kepada istrinya itu.


"Aku bingung mas, Sisi egoisku melarang, tapi sisi kemanusiaanku meminta ku untuk melihat keadaan Vio. "


"Kalau begitu, pikirkan baik-baik. Apakah sisi egoismu atau sisi kemanusiaanmu yang lebih mendominasi. " Saran Abhi. Abhi tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada istrinya. Karena dia tidak ingin istrinya itu merasa tidak nyaman.


"Baiklah, akan aku pikirkan, mas. "

__ADS_1


__ADS_2