Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
#S2 Dika 15


__ADS_3

Seperti kata Maira tadi , hari ini dia akan berkutat dengan semua pakaiannya . Dan membersihkan kamar Dika yang juga akan menjadi kamarnya . Langkah awal yang dia lakukan , adalah mengeluarkan semua pakaian Dila dari lemari . Lalu mendorong lemarinya secara perlahan keluar dari kamar Dila dan mendorong masuk ke kamar Dika . Maira memilih lemari yang lebih kecil agar lebih ringan.


Bu Ayu merekam semua yang dilakukan Maira hari ini lalu mengirimkannya kepada Dika . Dengan sebuah kalimat .


"Istrimu sangat cerdas . Dia bisa mengeluarkan lemari dengan caranya sendiri ."


Dika yang membaca pesan dari ibunya , dan melihat Apa yang dilakukan istrinya jadi tersenyum sendiri . Ternyata selain tangguh Dia adalah wanita yang mandiri . Batin Dika


"Eh Bro ngapain senyum-senyum sendiri, kesambet ya. " kata seorang rekan kantor Dika saat melihatnya tersenyum sendiri sambil melihat ponselnya.


"Ini lagi lihat istri aku yang sedang bersihkan lemari pakaian ." Kata Dika tanpa sadar dan mengulum senyumnya .


"Apa? kamu sudah menikah? Kenapa nggak undang-undang ? " tanya rekan kerjanya tadi. Sontak saja mendengar itu, semua rekan kerja Dika jadi kasak kusuk.


Dika jadi gelagapan sendiri setelah mendengar ocehan dari rekan kerjanya . Dia merutuki dirinya sendiri , Kenapa juga dia tidak bisa menjaga mulutnya yang asal aja ngomong kalau dia sudah menikah . Sedangkan selama ini , tidak ada yang tahu kalau dia sudah jadi Duda dua kali . Dan mantan istri pertamanya sekarang menjadi istri bosnya .


"Maaf bukannya nggak mau ngundang , tapi memang tidak ada acara pernikahan yang meriah . Kami hanya menikah di bawah tangan . Dan surat-surat pernikahan kami belum jadi ."


"Kenapa menikah seperti itu ? Apakah istrimu hamil duluan ? " celetuk Rekan yang lain.


"Hush, jangan ngomong seperti itu , Dika nggak mungkin melakukan hal seperti itu ." Kata salah satu rekan wanita yang membela Dika.


"Benar kan Dik ." Katanya lagi . Dan mendapat anggukan kepala dari Dika .


Dika lalu menceritakan , asal muasal dia menikahi istrinya yang sekarang . Dari sebuah kecelakaan yang tidak terduga , dan keinginannya untuk menolong . Eh malah disuruh kawin sama Warga .


Semua rekan DK yang mendengarnya langsung meledakkan tawanya karena ternyata benar ada kejadian seperti itu di dunia nyata tidak hanya di novel-novel tapi itu juga dialami oleh rekan kerja mereka sendiri .


"Terus-terus... apakah kalian udah MP?" kata rekannya tadi yang penasaran.


"Boro-boro MP, dia masih bocor. Terus aku nggak mau terburu-buru, karena kami baru kenal. Aku ingin dia merasa nyaman dulu dengan hubungan kami. Karena dia masih sangat polos." kata Dika sambil membayangkan wajah Maira yang malu-malu dan memerah tadi pagi.


"Eh, malah bayangin bininya dia. Emang berapa umur istrimu. Kok kamu bilang masih polos." tanya rekannya yang lain.

__ADS_1


"Masih delapan belas tahun jalan sembilan belas."


"Apa? " pekik semua orang yang merasa terkejut dengan pernyataan terakhir Dika.


"Beneran masih delapan belas tahun. " tanya mereka tak percaya. Dan di angguki oleh Dika.


"Gila, beruntung banget kamu, bisa dapat daun muda ."


"Ya disyukuri aja , mungkin ini jodoh pemberian Allah . Karena aku sudah sabar dan lama menduda ." Kata Dika dengan wajah yang dibuat pura-pura Sendu .


Mendengar itu , sontak semua rekan-rekannya berdecih sambil memutar bola mata malas kepada Dika . Mereka kemudian kembali ke tempat kerja mereka masing-masing, setelah mendengarkan kisah pernikahan Dika yang mendadak. Mereka tidak menghiraukan Dika yang sedang cengengesan menanggapi teman-temannya.


Di rumah.


Tempat pukul sebelas siang , Maira sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia sudah merapikan pakaian miliknya di kamar Dika, begitu juga pakaian yang diberikan Dila kepadanya semua sudah tersusun rapi di lemari yang tadi dia masukkan ke kamar Dika.


Maira merasa puas dengan hasil kerja kerasnya hari ini , kamar Dika juga terlihat lebih rapi dari sebelumnya . Karena Maira sudah membersihkannya , ia menyimpan sesuatu yang tidak perlu di dalam gudang. Mungkin saja nanti Dika membutuhkannya,dia hanya tinggal mengambilnya di gudang. Tampak suasana baru di kamar Dika yang lebih menyejukkan dan menenangkan .


Setelah selesai membersihkan kamar dan pakaiannya , Maira mulai mengerjakan tugasnya sebagai seorang menantu , yaitu memasak makan siang untuk ibu mertuanya .


"Alhamdulillah sudah Bu . Sekarang aku hanya tinggal memasak untuk makan siang kita. " kata Maira dengan senyuman tulusnya.


"Baguslah kalau sudah selesai , Ibu bantu Menyiapkan makan siangnya ."


Bu Ayu lalu membantu Maira , untuk memotong sayur dan beberapa bahan makanan yang akan Maira olah .


"Mai lain kali , kalau bisa masaknya jadi satu aja . Biar kamu nggak bolak-balik ke dapur untuk membuat makanan ." Kata bu Ayu yang ingin mengatakan hal ini sejak tadi. Karena dia melihat Maira kelelahan hari ini tapi dia selalu menyembunyikan rasa lelahnya dibalik senyumannya.


"Maksud Ibu gimana ? Bisa kasih contoh kepada ku ?" kata Maira antusias.


Bu Ayu lalu memberikan contoh makanan yang bisa dimakan dalam sekali masak dan bisa dimakan untuk pagi sampai malam atau bahkan keesokan harinya.


'Misalnya begini , pagi kamu masak soto ayam atau daging . Nah soto itu bisa dimakan dari pagi sampai malam kan ? Jadi kamu nggak bolak-balik ke dapur , kita hanya perlu menghangatkannya saja saat kita akan makan . Terus Kita juga bisa masak sayur lodeh atau sayuran lainnya . Kamu mengerti kan maksud ibu ? Itu lebih irit untuk pengeluaran belanja kamu nanti. Bagimana?"

__ADS_1


Mendengar ide dari ibunya, Maira tersenyum lebar. Dia langsung menganggukkan kepalanya.


"Ide bagus, bu.. Tapi aku nggak bisa masak seperti itu, Nnati ibu ajarin ya cara masaknya. "


"Iya... " jawab bu Ayu singkat sambil tersenyum.


"Atau kamu bisa tanyakan kepada Dika saat malam , besok kamu pengen makan apa ? Begitu . Jadi setelah menjadi suami istri kalian harus sering berkomunikasi , agar keharmonisan bisa terjadi di rumah tangga kalian. " Kata Bu Ayu dengan kata-kata bijaknya .


Maira tertunduk malu saat mendengarkan kalimat suami istri .


"Kenapa responmu seperti itu ?" Kata Bu Ayu yang melihat Maira hanya tersenyum simpul sambil menunduk .


"Jangan bilang kamu masih malu dengan Dika . " Tebak Bu Ayu yang seratus persen benar .


Dan Maira menggangguk.


"Kalian sudah suami istri , sudah sepantasnya kalian itu saling berkomunikasi saling berbicara satu sama lain untuk menjaga Keharmonisan rumah tangga kalian." Kata Bu Ayu dengan nada rendahnya .


Dia jadi ingat masa lalunya. Andai dia dulu sebaik ini kepada menantunya, mungkin saat ini mereka semua akan hidup bahagia dengan para cucu dan menantunya. Tapi apa mau dikata. Masa lalu biarlah berlalu, Dia akan menjadi kenangan dan pelajaran untuk masa depannya. Bu Ayu berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi di masa depan.


"Ibu kenapa? " tanya Maira menyadarkan ibu mertuanya yang tiba-tiba melamun.


"Eh , nggak apa-apa kok, ini ibu sudah selesai. Kamu teruskan masaknya. Ibu masuk kamar dulu ya, "


"Iya bu nanti kalau sudah siap, Ibu aku panggil ."


"Baiklah . " Jawab Bu Ayu singkat .


Tanpa semua orang ketahui Dan sadari , selama ini Bu Ayu selalu termenung dan menangis jika mengingat semua masa lalunya . Semua perbuatannya ,yang sangat tidak berperikemanusiaan kepada menantunya dulu membuatnya merasa bersalah sampai saat ini.


Bahkan Yesha sampai saat ini tidak pernah mau bertemu dengannya, setelah permintaan maafnya waktu itu. Apalagi Aksa, cucunya. Dia bahkan tidak mau menganggapnya sebagai nenek dan ayahnya sendiri sebagai orangtuanya. Dia lebih menganggap orang lain sebagai ayahnya sendiri.


Maya juga sudah bahagia dengan suaminya. dan keluarga kecilnya. Dia yang tidak mempunyai mertua, merasa bahagia dengan hidupnya saat ini. Sedangkan anak pertamanya Bagus, entah dimana dia saat ini. Dia tidak pernah mendengar kabar dari Bagus sampai saat ini. Entahlah dimana dia berada.

__ADS_1


Semua mantan menantunya sudah hidup bahagia dengan keluarganya masing-masing, dia berharap anak-anaknya juga bisa mendapatkan kebahagiaan yang sama. Terutama Dika yang selama ini hidup dalam penyesalan dan rasa sakit. Karena terlambat menyadari perasaannya pada Yesha. Sampai dia harus kehilangan semuanya begitu cepat.


Bu Ayu berharap, Maira bisa mengobati luka hati anaknya Dika. Dan mengisi hati-harinya dengan kebahagiaan.


__ADS_2