
Maira dan Bu Ayu menunggu Dika pulang dari masjid dengan menonton televisi, sesekali mereka ngobrol untuk membahas acara yang sedang mereka tonton.
"Setelah ini aku akan bicara dengan Dika. Aku harap kamu bisa tinggal di sini lebih lama untuk menemani Ibu." kata Bu Ayu .
"Tapi Bu jika aku tinggal di sini bolehkah aku tetap bekerja membuat kue dan menjualnya? Aku juga ingin menghasilkan uang untuk membeli sesuatu yang aku inginkan . " kata Maira
"Kalau masalah itu bisa kita bahas nanti ,yang terpenting saat ini adalah kamu bisa tinggal di sini lebih dulu untuk menemani Ibu dan membantu ibu . "
Maira menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Tak lama bunyi salam pun terdengar dari luar, setelah menaruh peci dan sarungnya Dika gabung bersama ibu dan Maira .
"Katakan padaku apa yang ingin Ibu sampaikan." ujar Dika menunggu ibunya untuk berbicara.
"Dik, kamu kan tadi bicara sama ibu kalau Maira diusir dari kontrakannya karena menunggak uang sewa. Ibu mengusulkan Bagaimana kalau Maira tinggal di rumah kita saja." kata Bu Ayu pada akhirnya
Dika yang mendengar permintaan ibunya itu tidak habis pikir ,Kenapa Ibunya mau menampung Maira di rumahnya . Karena jelas-jelas Ibunya sudah tahu kalau Maira tidak akan mampu membayar uang kontrakan atau uang kos .
"Maksud ibu apa? Kenapa Ibu ingin Maira tinggal di sini ,padahal jelas-jelas Maira tidak mampu membayar uang kontrakannya . Maaf Maira bukan maksud aku menyudutkanmu ,aku hanya ingin tahu alasan ibu . " Kata Dika kemudian setelah mendengar permintaan ibunya .
"Ibu tidak akan meminta bayaran sepeserpun kepada Maira baik itu untuk uang kos atau uang kontrakan . Ibu meminta Maira tinggal di sini karena Ibu ingin memiliki teman yang bisa menemani ibu. Selama ini ibu kesepian , Dik. Jika kamu berangkat kerja dan ibu hanya di rumah sendiri . Biarkan Maira tetap di sini , sebagai gantinya Maira akan membantu ibu membersihkan rumah memasak dan membantu pekerjaan rumah lainnya . Maira setuju akan hal itu ,tapi dia tidak mau memutuskan sebelum kamu mengizinkannya tinggal di sini . Kata Bu Ayu dengan wajah berbinar
Dika benar-benar tidak habis pikir , dengan apa yang dipikirkan ibunya . Dari mana ibunya memiliki pemikiran seperti itu , ibunya membayar Maira dengan sebuah tempat tinggal dan Maira tinggal untuk membantu ibunya. wah, benar-benar luar biasa dua orang di hadapannya ini . Mereka sedang melakukan barter rupanya pikir Dika.
"Tapi Bu apa Maira mau bekerja tanpa dibayar ?karena Sungguh aku tidak memiliki cukup uang untuk membayar orang bekerja di Rumah Kita, untuk makan saja kita harus mengirit , karena gajiku tidak sebanyak dulu . " kata Dika sedikit kesal.
__ADS_1
"Kamu dengarkan Maira keadaan kami yang sebenarnya , anak ibu hanya kerja kantoran biasa. Jadi gajinya tidak terlalu tinggi ,hanya cukup untuk makan dan membayar keperluan rumah. " ujar bu Ayu.
Maira mengangguk mengerti dengan keadaan Bu Ayu dan anaknya . Dia lalu tersenyum dan mengatakan sesuatu yang luar biasa menurut Dika.
"Nggak apa-apa mas, Jika saya di ijinkan tinggal di sini saya akan membantu pekerjaan rumah ibu tanpa dibayar. Sungguh nggak apa-apa. Saya hanya membutuhkan tempat untuk berteduh. Nanti kalau diijinkan, saya juga akan berjualan kue di depan rumah untuk mendapatakan uang dan menemani ibu. " kata Maira dengan polosnya.
"Memangnya kamu punya uang untuk modal buat kue?" kata Dika sedikit mencibir.
"InsyaAllah ada mas, kan tadi mas Dika udah ngasih aku uang seratus ribu untuk mengganti daganganku yang berantakan. cukuplah, kalau untuk beli bahan jual gorengan, minyak dan gasnya. Saya hanya minta ijin tempat jualan di depan rumah buat jualannya. Jadi saya nggak usah keliling dan tetap bisa menemani ibu di rumah. "
Dika dan bu Ayu mendengarkan sebuah ide yang tidak pernah mereka pikirkan selama ini dari mulut gadis belia seperti Maira.
"Apa kamu tidak malu jual gorengan di depan rumah? " tanya Dika setelah mendengarkan ide dari Maira.
"Untuk apa aku harus malu, mas. Selama rejeki yang kita cari itu halal, kita tidak perlu malu. Selama ini aku sudah berjuang untuk bertahan hidup. Berdagang kue keliling dan sering di usir dari satu tempat kost ke tempat kost lainnya karena tidak bisa bayar uang kost saat jatuh tempo. Aku juga pernah jadi buruh cuci setrika. Tapi aku bersyukur masih bisa bertahan hidup sampai saat ini, dan bisa lulus sekolah dengan keringatku sendiri. " kata Maira dengan polosnya, yang tanpa sadar kata-katanya sudah menampar dua orang di depannya.
"Baiklah kalau begitu, kamu boleh tinggal di sini, untuk menemani dan membantu ibuku. Kalau masalah jualan, itu terserah ibu karena rumah ini adalah rumah ibu, jadi yang berhak mengijinkanmu berjualan adalah ibu. Cuma satu pesanku. Jika ibu mengijinkanmu berjualan, aku harap kamu menjaga kebersihannya, jangan sampai ada noda minyak yang berceceran di lantai sehingga bisa membuat ibuku terpeleset atau jatuh. " ucap Dika panjang lebar setelah semua terdiam.
"Iya mas, aku akan langsung ngepel lantainya nanti biar nggak licin. " kata Maira dengan semangat
"Ya sudah sekarang kamu bisa ngobrol sama ibu. aku mau ke kamar. Mau istirahat dulu. "
"Iya, mas. "
Setelah kepergian Dika, Maira kembali menghadap bu Ayu. Dilihatnya bu Ayu yang tengah melamun, entah apa yang sedang dia pikirkan.
__ADS_1
"Bu... ibu... " panggil Maira menepuk-nepuk punggung tangan bu Ayu agar tersadar.
"Ah, iya Maira. Maaf ibu melamun tadi. Ada apa? "
"Alhamdulillah, mas Dika sudah mengijinkanku tinggal di sini untuk menemani ibu dan membantu pekerjaan ibu. "
"Alhamdulillah, lalu masalah kamu jualan gimana?" tanya bu Ayu kemudian
"Kata mas Dika kalau soal itu aku disuruh tanya ke ibu, soalnya rumah ini milik ibu. Jadi yang boleh mengijinkan aku jualan atau tidak dirumah ini hanya ibu. "
"Oohhh, ya sudah kalau masalah jualan itu, kita bahas besok saja. Ini sudah malam, Ibu mau istirahat ngantuk banget. Kamu juga istirahat dulu." Kata bu Ayu mengalihkan perhatian.
"Baiklah kalau begitu, bu. " Dengan lesu Maira masuk ke dalam kamar nya.
"Maira, nggak usah lesu kayak gitu. Kita bahas besok masalah jualanmu. Karena ibu mau memikirkan sesuatu dulu." kata Bu Ayu yang melihat wajah kecewa Maira.
"Iya, bu. " Maira lalu masuk ke dalam kamarnya dan segera merebahkan dirinya di atas kasur.
Dia memikirkan tentang semua yang terjadi hari ini. Sebuah kebetulan atau takdir dari Allah yang membawanya ke rumah ini. Selama ini Maira selalu berpasrah kepada Allah tentang hidupnya yang terlunta-lunta. Hidup seorang diri di kota besar, tanpa ada seseorang untuk bersandar.
Terkadang dia harus menahan lapar jika memang tidak memiliki uang sama sekali. Sampai harus meminta belas kasihan orang. Hidupnya sungguh miris, tapi dia tetap bersyukur karena Tuhan masih memberinya hidup. Dia percaya mungkin suatu hari nanti, Tuhan akan memberikannya sesuatu yang indah.
Di kamar,
Dika tidak langsung tertidur dia masih termenung mendengat semua ucapan dari Maira. Mungkinkah selama ini dia kurang bersyukur sehingga dia ditimpakan masalah bertubi-tubi dalam hidupnya.
__ADS_1
Maira seorang gadis yang ia tabrak tadi pagi telah menyadarkannya bagaimana caranya bersyukur. Walau keadaanya serba kekurangan. Benar-benar sangat miris. Dia yang selama ini menjunjung pendidikan dan dasi yang dipakainya selama ini, telah membuat nya lupa untuk bersyukur atau bahkan selalu meremehkan orang lain yang berada di bawahnya. Sehingga Tuhan memberikannya pelajaran yang sangat berharga kepadanya.
Begitu juga Bu Ayu yang sempat tertampar oleh omongan Maira yang mengatakan, kerja apa saja nggak perlu malu, asalkan halal. Dia sudah banyak melakuan ke salahan di masa lalu yang membanggakan pendidikan anaknya dan pekerjaan anaknya, sehingga dia lupa caranya bersyukur. Yang dia pikirkan hanya uang-uang dan uang. Tak peduli datangnya dari mana, yang penting di tangannya ada uang. Sampai akhirnya Tuhan menimpakan kepadanya masalah keluarga yang tidak ada habis-habisnya.