
"Dila... " lirih Dika.
Dila yang berjalan menunduk tanpa melihat kedepan pun tidak tau kalau ada Dika di depannya.Hingga dia terus berjalan dan
Bruk...
Tubuh Dila menabrak tubuh seseorang didepannya.
"Maaf." ucap Dila, lalu dia mendongakkan kepala dan melihat sosok orang yang ditabraknya. Matanya membulat saat melihat siapa yang sudah dia tabrak.
"M... mas Dika. Kenapa ada disini? " Dila terkejut dengan adanya Dika di hadapannya.
"Dila... kamu juga kenapa disini?" tanya Dika pura-pura tidak tau.
"A.. A.. ku... "
Pintu pagar terbuka, dan Abhi keluar.
"Ada apa Dika? " Abhi memulai sandiwaranya.
"Tuan Abhi, saya mau menyerahkan berkas ini kepada anda. " ujar Dika dengan menyerahkan sebuah map kepada Abhi.
"Oh, ya... Terima Dika. Apa kau mau masuk? "
"Ti.. tidak usah tuan, saya harus bicara dengan adik saya. "
Kening Abhi mengernyit melihat Dila yang tertunduk. "Jadi dia adikmu? "
Dika mengangguk. "Sudah lama saya mencarinya, tuan. "
"Oh baiklah, selesaikan masalah kalian. Kalau begitu aku masuk dulu. "
Abhi masuk tanpa rasa bersalah setelah melakukan sandiwara nya.
Dika lalu mengajak adiknya ke rumah makan Yesha dan akan bicara dengannya disana.
"Dila... kemana saja kamu selama ini? " tanya Dika saat mereka sudah berada di rumah makan.
"A... Aku... " Dila tidak bisa melanjutkan kalimatnya, Dia langsung menangis dipelukan kakaknya. Mereka berdua menjadi pusat perhatian para pengunjung tapi Dika tak peduli. Dia langsung mengatakan kalau Dila adalah adiknya. Dan semua orang kembali kepada aktifitasnya.
"Kalau sudah tenang, katakanlah apa yang terjadi padamu. "
Dila menghentikan tangisnya saat dia sudah merasa tenang. Dia lalu menceritakan apa yang terjadi, mulai saat dia memutuskan pergi dari rumah hingga dia kabur dari rumah sakit dan bertemu Maya. Dan disinilah dia sekarang berada.
Mendengar semua itu, Dika merasa sesak di dadanya. Dia merasa tidak bisa menjaga adiknya dengan baik dan gagal me jadi seorang kakak.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang, Dila?" tanya Dika saat Dila selesai menceritakan kisahnya.
"Aku akan tinggal disini mas. " ujarnya.
__ADS_1
"Tapi, Dila... Apa tidak sebaiknya kamu tinggal dirumah mas saja? Mas selama ini tinggal dirumah ibu, untuk menemaninya karena ibu dirumah sendiri, dan rumahku kosong. "
Dila menggeleng.
"Aku akan merepotkan mas, Dika nanti. Kalau aku tinggaL disini, aku bisa mandiri mas. Aku bisa kerja ditoko mbak Yesha, uang gajinya akan aku buat bayar sewa kost dan makan sehari-hari. "
"Hanya dengan limaratus ribu, apa kau yakin kau bisa, Dil? "
"Dari mana mas Dika tau kalau cuma limaratus ribu. "
"Maya sudah menceritakan sistem kerja disini. Tidak ada yang salah, tapi untuk kamu yang akan memiliki anak, apa cukup? untuk membeli susu dan diapers anakmu, belum lagi biaya persalinannya. " Dika memberi tahukan apa yang dia tau.
Dila menunduk lalu menggeleng.
"Baiklah, jika kamu mau tinggal disini, mas akan bantu kamu. Sampai kamu melahirkan. Tapi setelah itu, kamu harus kembali ke rumah. " ujar Dika kemudian.
Dila mendongak dan tersenyum senang. " Terimakasih, mas. "
"Aku akan membantumu membayar uang kost, dan uang gajimu bisa kamu gunakan untuk kebutuhanmu dan anakmu. " kata Dika.
Lagi, Dila memeluk kakaknya itu dengan erat. Kali ini tidak dengan tangisan. Tapi dengan sebuah senyuman.
"Berapa uang kost disini? "
"Kata mbak Lusi tujuh ratus ribu mas. Tapi karena keadaanku sama seperti mbak Maya, jadi uang kost kami dipotong duaratus ribu. Jadi bayar limaratus ribu. " jelas Dila.
"Itu, berikan kepada Yesha tujuh ratus ribu. Jangan sampai pembayaran uang kostnya kurang karena rasa kasihan. Bayar full aja. Mulai bulan ini, mas yang akan bayar. Dan sisanya bisa buat kamu makan sebulankan? Maaf mas nggak bisa ngasih uang lebih sekarang. Karena gaji mas nggak seperti dulu. "
"Iya mas, aku mengerti. "
"Ya udah, kalau begitu mas pulang dulu. Kamu jaga diri baik-baik dan anakmu juga. Ayo mas antar sampai depan kost. " Dika berdiri dan beranjak dari sana diikuti Dila.
"Maya nggak lembur hari ini? "
"Enggak dia capek kayaknya. tadi bantuin aku belanja perlengkapan kost. "
"Bisa minta tolong panggilkan mbak maya? aku mau ngomong sama dia. "
Dika masuk ke area kost setelah mendapat ijin dari security. Dila mengatakan kalau Dika adalah kakaknya. Mereka awalnya curiga kalau Dika adalah suami Dila. Tapi setelah di jelaskan akhirnya mereka memgerti. Jika Dila ditanya mana suminya, maka Dila akan menjawab kalau suaminya sedang keluar negeri,dan tidak mau tau keadaannya disini. Dengan begitu, semua orang tidak akan bertanya lagi.
Kini mereka bertiga sudah duduk di kursi untuk Terima tamu.
"Ada apa Dik, kok nyariin aku. Dan darimana kaku tau kalau Dila disini? "
"Tadi aku lagi nganter berkas ke Pak Abhi. Dan tanpa sengaja melihat Dila. " jelas Dika kepada Maya.
"Oohhhh.... terus ada apa pengen ketemu sama aku? "
"Aku mau minta tolong mbak, jagain Dila selama disini. Karena dia lagi hamil. Kalau ada apa-apa, tolong segera kabari aku. Dila sangat keras kepala, dia tidak mau pulang kerumah. Walau itu kerumahku. "
__ADS_1
"Kan aku udah bilang mas aku nggak mau ngerepotin mas abhi. "
"Iya... iya.... deh... Jadi aku minta tolong, pada mbak Maya ya, buat jagain Dila. Mau minta tolong Yesha juga nggak mungkin, dia jutek banget sama kita " ujar Dika sedikit kesal mengingat sikap Yesha yang sekarang.
"Oke... tapi aku minta nomor ponsel mu dong, kan aku nggak tau nomor ponselmu. Ya, wajar lah Dik, Yesha bersikap seperti itu. Kalau mengingat perlakuan kita kepadanya dulu. Aku sih, apsti ngelakuin hal yang sama jkka berada diposisi Yesha. Tapi aku salut sama dia,karena masih mau menampung kami berdua yang pernah melukai hatinya dulu. "
Dika terdia mendengar ucapan Maya. LaluMaya dan Dika akhirnya bertukar nomor ponsel, untuk memberi kabar tentang Dila disini.
Di rumah Yesha.
"Bagaimana mas? " tanya Yesha yang ingin tau keadaan diluar.
"Dika sudah bertemu Dila. Jadi kita tunggu hasilnya. " kata Abhi.
"Kalau Dila nggak mau pergi dari sini? "
"Ya, nggak apa-apalah sayang, mungkin dia merasa aman tinggal disini. "
Yesha menghembuskan nafasnya. "Aku takut rumah kita jadi tempat persinggahan mereka. "
"Ya, nggak mungkinlah sayang. Ikhlas menerima aja. Hitung- hitung sodaqoh mu, membantu orang yang susah. "
"Iya deh, terserah mas Abji aja. "
Mereka lalu berpelukan sambil nonton televisi Karena keadaan sudah sepi. Semua penghuni rumah sudah pada tidur.
*********
Dika pulang larut malam setelah bertemu dengan Dila dan Maya. Merek asik ngobrol hingga waktu sampai larut. Dengan hati-hati Dika membuka handle pintu, berharap ibunya tidak mendengar kalau dia kemalaman.
"Kenapa baru pulang Dik. " sapa ibu Ayu yang ternyata sedang menunggu kedatangan Dika dari tadi.
"I... ibu... Aku kjra ibu sudah tidur. ' kata Dika dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Ibu sengaja nunggu kamu, kenapa baru datang? "
"Baru selesai lembur bu. Kerjaanku numpuk. aku bukan manager lagi yang bisa memerintahkan seseorang sesuka hati sekarang. Jadi aku harap ibu mengerti sekarang." ujar Dika dnegan wajah dibuat kes karena ibunya selalu bertanya kapa, dimana kemana dll. membuatnya semakin pusing.
"Iya... iya... maafin ibu. " ucap bu Ayu dengan nada penyesalan.
"Kamu sudah makan? '
"Sudah tadi, sama.... " kalimatnya terpotong karena dia akan menyebutkan nama Dila.
"sama siapa?"
"Sama temen bu, duh kepo banget sih ibu ini. Aku mandi dulu, udah gerah ini. " kata Dika sambil membuka bajunya dan menuju kamar mandi.
Melihat Itu bu Ayu hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepala.
__ADS_1