
Tidak ada jalan yang mulus dalam hidup jika kita terus menoleh ke masa lalu. Karena yang akan kita jalani adalah masa depan bukan masa lalu. Masa lalu biarlah menjadi kenangan dan pelajaran. Masa depan adalah tempat kita meraih mimpi dan cita-cita.
Begitulah yang dirasakan DiaDika saat ini. Saat semua orang menjauhinya, dia sedikit demi sedikit mulai berubah. Dia ingin menata masa depannya agar lebih bermakna. Di saat mantan istri dan anaknya membencinya karena kelakuan masa lalunya, dan dia ingjn menjalin hubungan baru dengan orang terdekatnya tapi tetap saja penolakan yang ia dapatkan.
Sejak saat itu, Dika berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dan memperbaiki dirinya sedikit demi sedikit. Dia selalu mengikuti jamaah sholat lima waktu di masjid dan mushola saat bekerja. Dari sana Dika mulai mendapatkan pelajaran berharga dari para penceramah. Apalagi saat bahasam mereka mengenai rumah tangg.
Dika berjanji pada dirinya sendiri, jika dia masih diberi jodoh. Dia akan menjadi seorang suami yang bertanggung jawab untuk keluarganya kelak.
Kini dia menetap di rumah ibunya, karena kasihan dengan ibunya yang sudah tua itu hidup sendiri. Dila sudah menikah dan hidup bahagia bersama dengan keluarga kecilnya. Beruntungnya mertua Dila orang yang baik dan mau menerim Dila dengan segala kekurangannya di masa lalu. Mereka juga sering mengunjungi bu Ayu di akhir pekan, agar ibunya itu tidak kesepian di hari tuanya.
Dika masih bekerja di perusahaan Abhi, yah, walaupun gaji yang dia terima tak sebanding dengan gajinya dulu, tapi itu lebih baik daripada dia harus menganggur. Walaupun dia sering merasakan beban mental. Bagaimana tidak, Atasannya adalah suami mantan istrinya. Dan suami orang yang pernah menolaknya adalah asisten CEO. Kalau dia memikirkan rasa malunya, mungkin Dika sudaj keluar dsri perusahaan itu sejak lama. Tapi dia membuang semua rasa malu dan gengsinya untuk menghidupi dirinya dan ibunya.
"Dik, sarapan dulu. "
Bu Ayu selalu menyiapkan sarapan pagi untuk anak keduanya itu sejak dirumah tidak ada pembantu gratisan, bu Ayu melakukan semua pekerjaan sendiri. Dibantu Dika. Mereka kini bisa merasakan bagaiman sulitnya membersihkan rumah sendiri. Apalagi keadaan bu Ayu yang sudah tua dan tidak bisa bekerja dengan cepat.
"Bentar bu, ini lagi masang dasi. " teriak Dika dari kamarnya.
Tak lama Dika keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi.
"Gantengnya anak ibu. Kapan kamu nikah lagi, Dik iar ada yng ngurusi kamu dan rumah ini. Ibu sudah tua, sudah nggak bisa ngurusi kamu. " ujar bu Ayu saat mereka sedang menyantap sarapannya.
"Nanti lah bu, belum ada jodohnya juga. Nanti kalau Allah sudah ngasih jodoh, pasti juga dipertemukan. Tapi ibu janji, jangan pernah berharap yang muluk-muluk. Cukup yang bisa menerima Dika dan ibu apa adanya. " Dika selalu memperingatkan hal itu kepada ibunya.
"Iya... iya... Dik. ibu mengerti maksudmu. Ibu nggak akan pilih-pilih mantu lagi, Pokoknya cari istri yang bsa merawat dan menjaga kamu dan merawat ibu. Ibu sudan tua, ibu nggak butuh menantu kaya tapi nggak bisa diandalkan. Lebih baik menantu yang biasa aja asal dia bisa merawatmu nanti, nak. "
"Maafkan ibu, yang telah berbuat jahat kepadamu dan sehingga membuatnya jadi seperti ini. "
"Sudahlah bu? Yang lalu biar berlalu, dan jadikan ini semua sebagai pelajaran untuk kita.
Bu Ayu mengangguk dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Jika dia mengingat masa lalu maka yang ada hanyalah penyesalan. Dia tidak pernah merasakan tenang setiap hari, karena selalu dihantui rasa bersalah kepada anak dam mantan menantunya.
"Bu aku berangkat dulu ya... assalamu'alaikum. "
"Wa'alaikum salam. "
Dika pergi ke kantor dengam motor kesayangannya. Walaupun itu motor lawas tapi dia suka memakai motor itu, dan tidak merasa malu sedikitpun.
Saat di perjalanan tanpa sengaja Dika menabrak seorang gadis belia yang menenteng kue ditangannya, hingga membuat kue yang dibawa wanita tadi terjatuh berantakan.
__ADS_1
"Yah, kueku. " teriak gadis itu sambil menangis. Apalagi kue itu baru dia buat dan baru saja ingin dia jajakan.
"Maaf mbak, aku nggak sengaja, rem motorku sepertinya agak bermasalah, maafkan aku. "
"Kue ku gimana mas... ini aku baru mau keliling lho jualan kue. " Kata gadis itu dengan isam tangis nya.
"Aku ganti ya, berapa? "
"Seratus ribu aja mas. "
Dika langsung memberikan uang kepada gadis itu, namun saat gadis itu akan berdiri dia merasa kesusahan, karena mungkin kakinya keseleo.
"Aduh.. " katanya sampai tak sengaja memegang tangan Dika
"Kamu nggak apa-apa? "
"Nggak apa-apa mas,mungkin sedikit keseleo. Nanti juga akan sembuh. Makasih ya mas. " gadis itu lalu pergi meninggalkan Dika dan kuenya yang berserakan karena sudah tidak layak dimakan
Dika yang tidak tega melihatnya jalan terseok-seok pun mengejarnya.
"Tunggu, biar aku antar sampai rumahmu. Ayo. " Dika menyerahkan lengannya agar bisa dibuat sebagai pegangan.
"Sudahlah, jangan menolak. Ku yang sudaj menabrakmu dan membuat kakimu seperti ini. ayo... " Dika memaksa gadis itu untuk ikut bersamanya. Dan akhirnya gadis itu pun menurut dan mau di antar Dika dengan motor bebeknya.
"Apa mas nanti nggak telat ngantor nya? "
"Udah nggak apa-apa nanti aku ijin ke atasanku. Sekarnag katakan padaku dimana rumahmu? " tanya Dika kepada gadis itu.
"Itu, mas. masuk gang itu. Aku nggak punya rumah, cuma ngontrak disana. "
Dika mengangguk mengerti.
Sesampainya di depan rumah yang dimaksud gadis itu, pemandangan mencengangkan yang dia lihat. Pemilik kontrakan mengeluafka semua barang-barangnya dari rumah.
"Ya Ampun bu... apa yang ibu lakukan? "
"Aku mau kamu keluar dari rumahku sekarang juga. kamu udah berapa bulan nggak bayar kontrakan hah? "
"Maaf bu. Tapi saya masih tidak punya uang buat bayar kontrakan. " ucap gadis itu dengan cara memelas.
"Ya sudah, karena itu lebih baik kamu pergi dari rumah saya. Dan barang-barangmu ini, biarkan saja disini, buat ganti rugi karen kamu nggak mau
__ADS_1
kontrakan. " ujar pemilik kontrakan dengan sadisnya.
"Tapi bu, itu tempat saya mencari rejeki. " ujar gadis itu tidak bisa lagi membendung tangisnya.
Dika yang melihatnya hanya tertegun, tidak tidak disangka pagi-pagi begini dia di suguhkan dengan pemandangan yang memilukan. Ingin membantu pun dia tidak mampu. karena uang kontrakannya pasti banyak, karena yang dia denger gadis itu nunggak beberapa bulan di sana.
Dika akhirnya mendekat mensejajarkan diri dari gadis itu.
"Ayo kita pergi dari sini. " ajak Dika
"Pergi kemana mas? aku nggak punya siapa-siapa lag idan nggak punya tempat tujuan. " ucap gadis itu.
"Kalau begitu ikutlah denganku dulu, nanti kita pikirkan jalan keluarnya. "
"Tapi... "
"Sudahlah jangan banyak tapi. Ayo ikut aku. Bawa saja yang perlu kamu bawa. Karena aku hanya bawa sepeda motor. "
Gadis itu pun menurut dan mengikuti Dika dengan kaki yang masih pincang.
"Nama kamu siapa? " tanya Dika saat mereka dalam perjalanan ke rumah bu Ayu.
"Humaira, biasa dipanggil Maira. " jawab Maira.
"Aku Dika, salam kenal ya. "
"Iya mas. "
Sesampainya di rumah Dika, bu Ayu terkejut karena Dika kembali, Dan langsung masuk ke dalam ruang tamu bersama Maira.
"Bukannya tadi kamu berangkat kerja. ya? " tanya bu Ayu penasaran.
"aku tadi nabrak orang bu." kata Dika sambil menunjuk Maira dengan dagunya.
"Wanita ini yang kamu tabrak Dika? "
Dika mengangguk.
"Kamu nggak apa-apa nak? " tanya bu Ayu yang ikut merasa khawatir.
"Dia baik-baik saja bu. Hanya kakinya yang keseleo, dan kuenya tadi berantakan. " Ujar Dika dengan santai.
__ADS_1