
Abhi mengikuti saran dari papanya, dia harus meyakinkan dirinya dan harus membuka diri jika memang ia menyukai Yesha. Selama beberapa hari ini Abhi tidak menghubungi Yesha atau mengirimkan pesan kepadanya sama sekali. Ia juga mematikan ponselnya agar tidak mendapat kabar dari Yesha. Semua orang juga tidak bisa menghubunginya, baik itu Jihan ataupun orang tuanya. Abhi benar-benar menghilang setelah hari itu dan malam itu. Dia memutuskan keluar dari rumah orang tuanya dan menyewa sebuah apartemen selama sebulan.
Abhi benar-benar mendalami peran nya saat ini, dia tidak ingin diganggu siapapun untuk mengambil sebuah keputusan penting dalam hidupnya. Dan apa yang sudah dia dapatkan selama beberapa hari setelah tidak berkomunikasi dengan Yesha adalah, dia merindukannya. Rindu akan kelembutannya dalam bertutur kata, rindu akan pelayanannya saat menghidangkan makan malam untuknya, rindu dengan kata maafnya yang selalu takut berbuat salah. Satu-satunya yang bisa mengobati kerinduan Abhi pada Yesha adalah makanannya.
Karena Abhi masih mendapatkan bekal maka siang yang dikirim kan Yesha ketika makan siang tiba. Itupun Abhi harus datang ke kantornya pada jam makan siang setelah kepergian Aryo. Abhi sendiri juga tidak masuk kerja selama beberapa hari, hanya untuk menyendiri. Dia hanya ke kantor untuk mengambil makan siang dari Yesha.
"KONYOL." Hanya satu kata itu yang bisa menggambarkan kelakuan Abhi saat ini.
Yesha awalnya juga bingung kenapa Abhi tidak bisa dihubungi, apakah dia marah karena kejadian waktu itu. Saat dia menyuapinya setelah acara lomba. Kalau dia keberatan harusnya dia bisa menolak. Yesha jadi merasa bingung dan serba salah.
Bertanya pada Jihanpun dia tidak tau karena memang Abhi tidak bisa dihubungi. Bahkan dia tidak masuk kerja selama beberapa hari.
"Apa yang terjadi pada Abhi? " itulah pertanyaan yang ada dibenak Orang-orang yang dekat dengan Abhi.
Hingga Yesha pun memutuskan untuk tidak memikirkannya. Dia berusaha positif thinking kalau Abhi sedang sibuk berada di luar kota.
Hari ini Yesha sedang disibukkan memasak beberapa makanan di rumahnya. Kalau di rumah makan Yesha sudah ada yang membantu. Yesha akan kedatangan tamu, yaitu Bapak ibu dan adiknya Danu yang akan berkunjung. Karena beberapa hari lalu Danu mengabarkan kalau hari ini dia akan datang bersama orang tuanya.
Dan yang ditunggupun akhirnya tiba. Kedua orang tua Yesha dan adiknya datang. Yesha menyuruh mereka masuk dan menaruh barang bawaan mereka di kamar tamu. Yesha sangat bahagia bisa dikunjungi kedua orang tuanya karena mereka memang jarang sekali bertemu.
"Piye kabarmu nduk? " tanya Bu Hasna sambil mengusap punggung anaknya yang sekarang terlihat sedikit berisi dan semakin cantik. (Gimana kabarmu, nak?)
"Alhamdulillah, baik bu. "
"Syukulah... kalau kamu baik-baik saja. Dan alhamdulillah juga kalau usahamu semakin meningkat. " ujar pak Pram.
"Alhamdulillah pak, ini semua berkat bapak. Kalau Yesha nggak dapat uang dari bapak, Yesha nggak akan bisa berkembang seperti ini. "
"Sudah rejekimu, nduk. Mungkin perpisahan itu membuka jalan rejekmu. " kata lak Pram lagi.
"Bapak sama ibu kesini mau ngrepoti kamu, nduk." lanjut pak Pram.
"Mau ngrepoti apa to, pak? Nggak ada yang direpoti. "
"Itu, adikmu Danu. Dia sudah lulus sekolah. Katanya pengen lanjut kuliah. Ya, bapak saranin kuliah disini saja dekat dengan rumahmu cuma tinggal nyeberang jalan saja sudah sampai. Terus dia juga bisa bantu-bantu kamu disini. " Pak Pram menjelaskan maksud kedatangannya ke kota.
"Oalaahhh, ya udah. Nggak apa-apa, pak. Yesha jadi punya temen. Aksa pasti juga seneng kalau ada omnya. "
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu, dengerin mbakmu Dan, kamu harus nurut sama mbakmu, bantu-bantu disini. Jangan diam saja, mbak mu banyak usahanya jadi kamu bisa bantu. " Pesan pak Pram kepada anak bungsunya itu.
"Iya, pak. " jawab Danu singkat.
"Ya, sudah. Kalian bisa istirahat dulu. Nanti kalau sudah istirhat bapak sama ibu bisa melihat atau ngecek kerjaan Yesha. Bentar lagi Aksa juga sudah pulang dari sekolah. " Yesha menyuruh adik dan kedua orang tuanya istirahat, karena pasti lelah setelah melakukan perjalanan panjang.
Sore harinya Pak Pram berjalan-jalan memeriksa usaha anak perempuannya itu, mulai dari kost-kostan, toko baju, toko sembako dan rumah makan. Dia tidak menyangka kalau anaknya bisa berkembang dengan pemikiran yang matang untuk usaha jangka panjangnya. Dia sudah mengelola uang yang diberikannya untuk bekal masa tuanya nanti. Maklumlah, orang seperti mereka tidak bisa mengandalkna uang pensiun seperti pegawai negeri. Jadi harus usaha sendiri untuk memenuhi kebutuhannya.
Saat berada dirumah makan anaknya, mata pak Pram memicing melihat sosok yang sepertinya tidak asing baginya masuk ke dalam rumah makan anaknya.
Orang itu masuk sendiri dan mencari tempat duduk yang kosong. Maklumlah, meski kecil rumah makan Yesha itu sangat digemari. karena selain makanannya yang enak harganya juga terjangkau di kantong para mahasiswa. Jadi rumah makan Yesha ini sudah mendapatkan langganan dari anak-anak kampus yang berkantong tipis.
Pak Pram mendekati pria paruh baya yang duduk sendiri itu untuk menyapanya dan memastikan apakah benar dia orang yang dikenal pak Pram.
"Dip... Dipta... Pradipta kan? " pak Pram memanggil nama orang itu.
Pak Pradipta yang dipanggil pun menoleh ke asal suara yang memanggilnya. Dia sangat terkejut melihat sosok yang bertahun-tahun tidak ditemuinya itu sekarang ada di hadapannya.
"Pram... Prambudi kan? " tanya Pak Pradipta juga meyakinkan dirinya.
Pak Pram pun mengangguk, dan akhirnya kedua pria paruh baya itupun saling berpelukan melepas kerinduan karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Mereka berdua menjadi pusat perhatian para anak muda disana. Karena disana saat ini banyak sekali anak muda yang sedang makan ataupun nongkrong.
"Ayo, kita kerumah anakku. Biar enak ngobrolnya. " ajak pak Pram kepada sahabatnya itu.
"Kamu ada anak di sini.Bukannya kamu tinggal di kampung? " tanya pak Pradipta heran.
"Aku memang tinggal di kampung, disini rumah anakku. Rumah makan ini milik anakku yang pertama Yesha. " terang pak Pram.
Bagai tersambar petir, pak Pradipta mendengar itu. Ternyata wanita yang disukai istri dan anaknya adalah anak dari sahabatnya. Pak Pradipta langsung tersenyum lebar mendengar hal itu. Dengan semangat dia segera mengikuti langkah sahabatnya itu menuju rumah Yesha. Rupanya dunia tak selebar daun kelor.
Pak Pram pun menceritakan dan membanggakan anak perempuannya itu, yang memiliki tanah dari sana sampai sana. Tidak tau saja kalau yang membebaskan tanah Yesha adalah anak sahabatnya.
Pak Pradipta terkagum-kagum melihat rumah Yesha, walau tidak terlalu besar tapi cukup nyaman. Pak Pram pun menyuruh istrinya untuk membuatkan kopi untuk mereka berdua. Kedua pria itu asik ngobrol di ruang tamu menceritakan masa lalu mereka yang pernah satu sekolah bersama saat SMP dan SMA. Lalu harus terpisah saat Pradipta harus ikut kedua orang tuanya ke kota.
"Jadi, kamu kesini tadi lagi apa? Sengaja mampir karena lapar atau ada sesuatu? " tanya pak Pram tiba-tiba kepada sahabatnya yang dari tadi seperti celingukan.
"Aku sendang menyelidiki seorang wanita yang disukai anakku. " jawab pak Pradipta.
__ADS_1
"Apa salah satu dari pegawai anakku pacar anakmu? " tanya pak Pram tak percaya.
Pak Pradipta menggeleng.
"Kalau anakmu namanya Yesha, berarti anakmu yang disukai anakku, Pram. "
"Apa? " pak Pram pun terkejut mendengar hal itu.
"Jangan bercanda, anakku itu janda lho." pak Pram memastikan
" Aku nggak bercanda, lagipula anakku juga duda Pram. "
"Apa... "
Akhirnya mereka berdua bercerita tentang masa lalu anak-anak Mereka. yang penuh luka dan kesakitan.
"Sepertinya kalau kita menyatukan mereka tidak ada salahnya. Seseorang yang pernah terluka karena pernikahan terdahulu sepertinya bisa untuk mengobati satu sama lain. Dan mereka akan berjanji untuk setia karena mereka tidak ingin pasangannya merasakan kesakitan seperti yang di rasakan dulu. "Pak Pram
"Kau benar, sepertinya kita harus bertindak Aku nggak mau juga kalau sampai pernikahan kedua anakku gagal dan Kami gagal mendapatkan Yesha yang sudah disukai istriku dan anak perempuanku. Tapi justu yang akan menjalani ini, malah kabur entah kemana. " Pak Pradipta.
"Maksudmu? "
"Abhi keluar dari rumah setelah aku suruh meyakinkan dirinya dan perasaannya untuk Yesha. Eh tapi malaah dia kabur keesokan harinya, sampai sekarang kita nggak tau dia dimana bahkan dia tidak masuk kantor. Dia hanya akan datang ke kantor saat makan siang untuk mengambil bekal makan siang yang dikirm Yesha untuknya. Itupun aku tau dsri resepsionis yang jaga di kantor anakku. " jelas pak Pradipta kepada sahabatnya.
Tanpa mereka sadari, percakapan mereka sejak tadi didengarkan oleh Yesha yang sedang berada di balik tembok. Dia tidak sengaja mencuri dengar karena sebenernya dia ingin menemui teman bapaknya yang ternyata ayahnya Abhi.
Jantungnya berdebar saat mendengar kalau saat ini Abhi tengah menyendiri untuk meyakinkan dirinya. Entahlah kenapa juga jantungnya harus berdebar seperti ini.
Seolah tak mendengar apapun, Yesha keluar dari persembunyian dan menyapa tamu bapaknya itu.
"Nah ini, Dip. Anak perempuan ku Yesha. "
Pak Pradipta tak berkedip melihat Yesha, yang ternyata sangat cantik dan berhijab pula. Pantas saja semua orang di rumahnya menyukai janda satu anak ini.
"Saya Yesha Om. " sapa Yesha pada Teman bapaknya itu.
"Saya temannya Bapak mu, nak. "
__ADS_1
Mereka berdua bersalaman. Lalu Yesha kembali masuk kedalam setelah menyapa pak Pradipta.
"Pantas, tak hanya cantik. Tutur katanya juga lembut. " gumam pak Pradipta dalam hati.