Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Dewasa dan Kekanakan


__ADS_3

Makan malam pun usai, mereka kembali berbincang hangat di ruangan itu. Keakraban semakin terjalin saat dua sahabat lama itu akan berbesanan. Yang akan mempererat hubungan kekeluargaan mereka.


"Aku nggak nyangka Pram, kita akan jadi besan. " Pak Pradipta tertawa renyah.


"Kau benar, aku juga tidak menyangka. Persahabatan kita akan berlanjut . " kata pak Pram juga.


Para orang tua sedang membicarakan masalah pernikahan kedua anak mereka, menentukan hari dan tempat penyelenggaraan pesta pernikahan Meski status anak mereka janda dan duda , tapi mereka patut merayakannya kerena pernikahan saat ini melibatkan hati dan dua sahabat lama.Mereka akan mengambil kesempatan ini, untuk mengadakan reuni bersama teman-teman lainnya nanti.


Abhi sedang berbicara berdua dengan Jihan dia butuh sebuah penjelasan tentang kejadian tadi. Apakah ini ulah Jihan semata atau ada campur tangan pihak lain.


"Katakan pada, mas. Tentang tadi, mas butuh penjelasan, Jihan. " todong Abhi pada adiknya itu.


Jihan menghembuskan napas beratnya dan dia menatap wajah kakaknya.


"Mas Abhi sadar nggak, kalau sikap mas Abhi itu kekanak-kanakan. " ucap Jihan pada akhirnya.


"Apa maksudmu," Abhi merasa tak Terima dengan apa yang dikatakan adiknya itu.


"Kalau punya masalah itu diselesaikan, bukan main kabur-kaburan. " ejek Jihan. "Dulu waktu punya masalah sama Jasmin, kakak kabur ke luar negeri sampai lima tahun. Nah ini, cuma memastikan perasaan aja harus kabur, sampai seminggu lebih. Terus kapan selesainya. "


Abhi mendengarkan ucapan Jihan dengan seksama, dan membenarkan apa yang dikatakan Jihan. Sekarang bisa terlihat siapa yang berfikir dewasa dan bersikap kekanakan.


"Mas Abhi tau, bahkan papa sampai menyelidiki siapa mbak Yesha, wanita yang mas Abhi cintai tanpa mas Abhi sadari. Papa nggak mau salah langkah lagi, mengambil keputusan untuk masa depan mas Abhi. Dan beruntung nya, ternyata bapaknya mbak Yesha itu teman sekolah nya papa. Jadi semua makin di permudahkan. " Jihan menceritakan apa yang terjadi selama kepergian Abhi.


"Dan, papa juga cerita pada mbak Yesha kalau saat itu mas Abhi lagi butuh waktu untuk menyadari perasaan mas Abhi pada mbak Yesha. Dan papa meminta agar mbak Yesha mempertimbangkan perasaan mas Abhi. Karena semua orang sudah tau bagaimana perasaan mas Abhi pada mbak Yesha. Hanya mas Abhi aja yang nggak peka. Jadi mikirnya terlalu lama. Dan mas Abhi tau apa jawaban mbak, Yesha. "


"Apa? " tanya Abhi penasaran.


"Mbak Yesha, jawabnya 'Saya akan meminta petunjuk kepada Allah dulu. ' hmmm, keren nggak tuh. Nggak kayak mas Abhi, untuk menyadari perasaan aja sampai kabur seminggu. Mbak Yesha dengan berdoa dua malam aja sudah dikasih petunjuk. Makanya, mbak Yesha langsung jawab iya tadi. " Jihan menjelaskan apa yang dilakukan Yesha untuk menjawab permintaan pak Pradipta.


Abhi mengusap dagunya seolah berpikir.


"Kalau orang berfikir tuh mas, minta langsung minta jalan sama Allah, nggak usah kabur-kaburan. Allah tuh pasti langsung ngasih jawaban,seperti apa yang di lakukan mbak Yesha." lanjut Jihan


"Iya sih, kenapa aku nggak kepikir sampai sana yah? "

__ADS_1


"Karena mas Abhi terlalu mempersulit masalah. Dan aku ngelakuin ini semua agar mas Abhi itu, nggak terlalu lama berpikir. Dan harusnya, aku dapat bonus atas kerja kerasku ngeprank mas Abhi. " kata Jihan sambil menengadahkan tangannya meminta uang.


"Iya, nanti mas transfer deh. Makasiih ya, adik mas yang pinter ini. " Abhi mengacak grmas rambut adiknya.


Mereka berdua kembali ke dalam rumah Yesha setelah Abhi mendapat penjelasan dari adiknya itu. Disana Yesha sudah terlihat duduk bersama kedua orang tuanya.


"Jadi Abhi, Yesha bapak sama papanya Abhi sudah memutuskan akan melangsungkan pernikahan kalian, bulan depan. "


Abhi dan Yesha langsung menatap ke dua orang tua mereka masing-masing.


"Apa nggak terlalu cepat, pa? " tanya Abhi pada papanya.


"Enggak, biar kamu nggak bolak-balik ke sini tiap hari cuma buat makan malam. Papa pengen kamu cepet nikahin Yesha, agar kamu ada yang ngurus. " ucap Pak Pradipta.


"Maaf sebelumnya nak Yesha, bukan maksud papa mau memanfaatkan kamu. Kamu tau sendiri kan kalau Abhi susah makannya. Tapi lihat sendiri tadi kalau makan masakan Yesha dia sampai nambah berkali-kali, kayak orang nggak pernah makan. " Pak Pradipta menjelaskan masalah anaknya itu.


"Emang Abhi nggak makan, pa. Selama tiga hari ini, karena Yesha nggak ngirim makanan buat aku. Cuma kemasukan susu doang nih tubuh. " ungkap Abhi.


"Nah, kalian denger sendiri kan? Dan papa tau, nak Yesha pasti sudah tau masalah Abhi yang satu itu."


"Karena itu, Papa ingin kamu segera menikah dengan Yesha agar kamu ada yang ngurus. Lihatlah beberapa hari nggak ketemu Yesha badanmu udah kurus gitu. " gerutu pak Pradipta lagi.


Abhi cuma nyengir kuda. Dan semua orang di sana tertawa, melihat kebodohan Abhi.


Terdengar sebuah mobil box berhenti di depan rumah Yesha.


"Sepertinya pesanan ku sudah datang. " mama Erina berdiri dan mengajak Jihan, Aksa dan Danu untuk keluar. Abhi pun ikut keluar walau tidak diminta. Sementara orang tua Yesha dan Yesha sendiri merasa kebingungan, memangnya apa yang datang.


Jihan, Danu , Aksa masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa barang seserahan. mereka bolak-balik sampai beberapa kali. Mama Erina tersenyum senang dengan apa yang dia lakukan.


"Apa yang mama Lakukan? " Tanya pak Pradipta kepada istrinya itu.


"Maaf ya Bu Hasna, pak Pram, kami terlambat membawa seserahan lamarannya, karena tadi saya harus memastikan dulu, Abhi melamar Yesha apa tidak. Saya bilang kalau lamaran diterima, seserahan bisa di antar. kalau enggak, maka seserahan nya batal. Jadi saya mohon maaf atas ketidak nyamanannya. " jelas Mama Erina tanpa menjawab pertanyaan suaminya.


"Jadi mama sudah nyiapin semua ini? " tanya Abhi yang tak percaya.

__ADS_1


"Iya dong, kalau lamaran sudah pasti harus ada seserahan nya. Bukan begitu bu Hasna? "


Bu Hasna hanya mengangguk setuju.


"Wah, rupanya wanita di keluarga kita ini penuh kejutan ya, Abhi? ' ejek pak Pradipta pada istri dan anak perempuannya.


" Mereka luar biasa pa. "


Semua orang disana tertawa mendengar ocehan ayah dan anak itu.


*


*


Sementara di kediaman Vio, saat ini Vio dan Dika sudah memutuskan untuk tinggal di sebuah perumahan sederhana yang juga milik Vio. Biarlah apartemen ini mereka kosongkan dan akan mereka kunjungi sesekali saja. Mereka ingin menikmati rumah tangga berdua di rumah sederhana. Ini juga buat bejaga-jaga kalau ibu mertuanya yang mata duitan itu maksa pengen datang ke rumah mereka.


Sebenarnya baik Vio dan Dika sudah jengah kalau tiap kali di telpon ibunya itu merengek pengen mengunjungi rumah mereka. Akhirnya Vio putuskan untuk pindah ke perumahan sederhana miliknya. Vio memang punya beberapa aset mulai dari apartemen sampai beberapa rumah, maksudnya untuk investasi di masa tuanya nanti kalau dia sudah berhenti bekerja.


Hasil kerja kerasnya selama ini, dia belikan beberapa unit rumah sederhana untuk dikontrak kan. Dan kini mereka berdua memutuskan untuk menempati salah satu rumah itu.


"Mas, kenapa semakin hari perutku semakin sakit ya? " keluh Vio yang merasakan perutnya semakin sakit.


"Bersabarlah, tinggal dua hari lagi kamu operasi. Kamu sudah dapat ijin cuti kan? " tanya Dika.


"Iya, sudah. Direktur sudah memberikan cuti dua minggu padaku untuk pemulihan juga. "


"Baguslah... Tapi aku akan tetap bekerja, tidak apa-apa kan? Nanti pulang kerja aku akan langsung ke rumah sakit. " kata Dika sambil merapikan anak rambut istrinya itu.


Vio mengangguk. "Iya, salah satu dari kita memang harus tetap bekerja, agar pendapatan kita tetap ada. "


Dika memang bersikap baik saat ini kepada istrinya itu. Dia tidak ingin melakukan kesalahan kedua lagi. Memang pernikahan mereka diawali dengan sebuah kesalahan, dan niat terselubung. Tapi pada akhirnya dia memutuskan tidak ingin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Cukup Yesha saja yang dia sakiti, dia masih sangat menyesal sampai saat ini.


"Bersiaplah mas, Bulan depan kita akan mendapatkan pemimpin baru perusahaan. Direktur kita akan memberikan jabatannya kepada anaknya. Mungkin perusahaan kita akan mengadakan jamuan makan untuk menyambut CEO baru nanti. "


"Benarkah? Aku penasaran seperti apa CEO baru kita nanti, apakah dia tegas dan berwibawa seperti ayahnya? "

__ADS_1


__ADS_2