
Dila memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam tas dan beberapa benda yang ingin dia bawa. Saat ini keadaan rumah cukup sepi. Dika yang sudah keluar dari rumah setelah sarapan tadi, Bagus yang masih tidur dan ibunya yang sedang ke pasar untuk belanja. Dengan berjalan mengendap, Dila keluar dari rumah ibunya setelah menulis pesan untuk orang rumah.
Dila segera naik taksi online yang sudah dia pesan. Dan menuju tempat dimana dia akan bertemu dengan pria yang akan menolongnya. Sesampainya di kafe, Dila segera masuk dan mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol dengan Agus nama pria yang akan membantunya
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Agus datang dengan seorang wanita paruh baya. Dila berdiri dan segera menyalami wanita paruh baya itu dan Agus.
"Dila, kenalkan. Ini ibuku. " kata Agus dengan santai.
Tubuh Dila menegang saat mendengar siapa wanita di hadapannya itu.
"Bu, ini wanita yang aku bicarakan dengan ibu tadi."
"Jadi, kamu sekarang hamil? " ujar bu Maria nama ibu Agus.
"I... iya... " jawab Dila dengan tergagap.
"Dan kamu tidak tau siapa ayah dari bayi itu? Lalu kenapa kamu menghubungi anakku? "
Dila menoleh kepada Agus meminta bantuannya. Agus yang mengerti pandangan Dila pun segera menenangkan Ibunya.
"Tenang bu, Aku hanya ingin membantunya. Jika anak itu adalah anakku, maka aku akan mengambilnya sebagai keturunan keluarga kita. Tapi jika bukan, dia akan pergi dengan anak itu. " ujar Agus memberi pengertian kepada ibunya.
"Cih... "
"Ibu tau sendiri kan, Susan tidak pernah mau memeriksa kan kesehatan nya, Jadi kita nggak tau, siapa yang bermasalaha diantara kita berdua, Susan atau aku. Jika aku berhasil menghamili gadis ini, itu artinya aku tidak bermasalah Susanlah yang bermasalah. " lagi Agus memberikan penjelasan kepada ibunya.
"Jadi kamu meminta ibu mengurus wanita ini, gitu." dengus bu Maria yang kesal dengan ulah anaknya.
Agus mengangguk, "Hanya sampai anak ini lahir, dan kita melakukan tes DNA untuk memastikan anak siapa itu. " ujar Agus lagi.
"Baiklah, tapi kamu tidak gratis tinggal di rumahku. Kamu harus membantu membersihkan rumah, walau sudah ada pembantu dirumahku. "
Tanpa pikir panjang lagi, Dila langsung menganggukan kepalanya. Dia rela jadi pembantu sekalipun asalkan dapat tempat tinggal dan jauh dari keluarganya, agar tidak mempermalukan mereka.
"Tapi bu, jangan memberinya pekerjaan yang terlalu berat, karena dia sedang hamil. " ujar Agus mengingatkan.
"Iya ibu tau. Sekarang ayo kita segera pergi dari sini. " Ajak bu Maria. Karena dia tidak mau, ada orang yang mengenalnya.
Mereka bertiga pergi menuju rumah ibu Maria orangtua Agus. Sedangkan Agus sendiri dia kembali ke rumah istrinya.
*
Dika sampai di apartemen mewah milik Vio dia akan mencari beberapa aset Vio yang harus dikembalikan kepada perusahaan. Karena dia sendiri tidak tau apa saja aset yang vio miliki selama ini, selain apartemen dan rumah yang ia tempati saat ini.
Dika segera mencari dokumen-dokumen berharga yang dimiliki Vio, didalam lemari dan tempat-tempat yang sekiranya bisa untuk menyimpan dokumen-dokumen berharga. Hingga dia menemukan sebuah tas yang mencurigakan. Dika segera mengambilnya dan melihat isinya.
Mata Dika membulat saat melihat ada beberapa sertifikat tanah dan beberapa surat berharga lainnya. Dika segera menutup tas itu dan segera pergi dari apartemen Vio. Tujuan Dika saat ini adalah rumah Yesha, karena dia tau Abhi pasti ada di sana saat ini.
Dika segera membunyikan bel rumah Yesha saat dia sudah sampai di sana. Ini kedua kalinya Dika datang ke rumah itu. Dia tidak pernah berfikir itu rumah siapa, rumah Yesha sendiri atau rumah Abhi. Dia tidak mau ambil pusing. Yang dia inginkan saat ini adalah sebuah ketenangan.
"Lho, Dik. Kamu disini? ngapain? " sapa Maya, mantan kakak ipar nya yang baru saja menjemput Arum.
"Lho mbak Maya ngapain disini? "
__ADS_1
"Aku kerja di sini, ikut Yesha? " kata Maya sambil tersenyum
"Ikut Yesha?" lirih Dika.
"Iya, emang kamu nggak tahu, mulai sini sampai rumah makan itu, adalah milik Yesha. " Kata Maya lagi sambil menunjukkan aset milik Yesha.
"Benarkah? Jadi ini bukan rumah Pak Abhi? "
Maya menggeleng. "Yesha mau diajak kerumah pak Abhi dia nggak mau, karena sayang dengan rumah ini dan segala usahanya. Jadi Pak Abhi yang ngalah, dia yang ikut Yesha tinggal di sini. " Maya secara tidak langsung menceritakan tentang kehidupan Yesha dan rumah tangganua kepada Dika.
"Sekarang mbak Maya tinggal di mana? "
Sebelum maya menjawab, Bi Sumi membuka pagar dan menyuruh Dika masuk.
"Aku masuk dulu ya mbak. nanti kita ngobrol lagi. "
"Ya sudah, aku kerja di toko sembako itu kok Dik. "
Dika mengangguk dan langsung masuk ke rumah Yesha dengan membawa tas yang berisi dokumen-dokumen penting.
Abhi menyambut Dika di teras, sama seperti saat pertama kali Dika datang ke rumah itu.
"Ada perlu apa Pak Dika? "
"Saya sudah menemukan dokumen-dokumen milik Vio, tuan. '
Mendengar nama dokumen, Abhi lalu mempersilahkan Dika masuk ke dalam rumahnya. Mereka duduk di ruang tamu. Di sana Dika melihat beberapa foto yang terpajang, dan yang oaking besar adalah foto pernikahan Abhi dan Yesha dengan Aksa ditengah-tengah mereka. Makin miris hati Dika rasakan.
"Siapa mas? " Yesha keluar dengan wajah segar serelah melakukan sholat dhuhur.
"Hai, Yesh. " sapa Dika dan dibalas dengan senyuman simpul dari Yesha. Yesha masuk lagi ke dalam rumah, dan menyuruh bi sumi untuk membuatkan minuman untuk suami dan mantan suami nya.
Abhi meneliti satu persatu surat-surat yang dibawa Dika. Disana ada beberapa sertifikat rumah dan satu apartemen mewah yang selama ini dia tempati.
"Aku akan bawa, semua ini. Nanti aku akan periksa bersama tim Audit. Berapa jumlah korupsi yang dilakukan Vio. Setelah itu aku akan menyita beberapa aset miliknya. Jika tersisa maka akan aku kembalikan padamu, tapi jika tak tersisa, maka aku akan tetap memberikan rumah yang kamu tinggali itu kepadamu. Bagaimanapun Aku akan mengabulkan permintaan terakhir almarhumah. " ucap Abhi kepada Dika.
"Terimakasih tuan Abhi. "
"Minumlah. " Abhi menyuruh Dika meminum minuman yang sudah disiapkan bi Sumi.
Dari luar terdengar suara motor matik yang berhenti dan suara anak kecil yang berlari masuk ke dalam rumah.
"Papa.... Mama... Aksa dapat.... "
Kata-kata Aksa terhenti saat melihat sosok Dika disana.
"Aksa, ayo sini. " Abhi yang mengerti perasaan Aksapun menyuruhnya mendekat kepadanya.
Dibelakang Aksa Danu juga tekejut melihat Dika disana. Raut wajah yang tadinya ceria berubah kesal setelah melihat Dika.
"Ayo Aksa masuk. " ajak Danu kepada keponakannya itu.
Dika yang melihat mantan adik ipar dan anaknya yang bersikap cuek kepadanya pun hanya bisa menundukkan kepala menahan rasa sesak di dadanya.
__ADS_1
"Sabar, pak Dika. Saya sedang mencoba pendekatan dengan Aksa. Semoga saja dia mau membuka hatinya untuk anda. "
Dika yang mendengar ucapan Abhi pun langsung mendongak menatap Abhi. Dia seolah mendapat secercah harapan untuk bisa dekat dengan anaknya. Dan memulainya dari awal.
"Terimakasih tuan. Saya berharap banyak kepada anda. "
"InsyaAllah pak Dika. saya akan mencobanya. "
Dika lalu berpamitan setelah urusannya dengan Abhi selesai. Sebelum kembali pulang, Dika menemui Maya di toko sembako tempat dia berjaga, yang kebetulan toko itu sepi saat ini.
"Mbak... " panggil Maya yang sedang mengobrol dengan temannya.
Maya menoleh dan tersenyum saat melihat Dika yang memanggilnya. Setelah berpamitan dengan temannya, Maya lalu menemui Dika.
"Sudah selesai? "
"Sudah mbak. "
Mereka berdua duduk di sebuah kursi plastik, untuk ngobrol.
"Mbak sama Arum sekarang tinggal dimana ?" tanya Dika.
"Aku tinggal di kos milik Yesha Dik. Lumayan bisa buat berteduh. " kata Maya sambil menunjukkan tempat kost milik Yesha.
"Aku kerja di sini, dengan gaji satu juta, terus langsung dipotong uang kost lima ratus sisa lima ratus untuk kebutuhan sehari-hari. " Maya mulai menceritakan kehidupannya setelah berpisah dengan suami nya.
"Cukup mbak? " tanya Dika penasaran.
"Ya cukup nggak cukup Dik. untung ada lemburan di rumah makan, kalau nggak capek aku ikut lembur, tapi kalau capek ya enggak. Kalau gini., aku jadi ingat Yesha dulu. "
"Kenapa? "
"Dulu ibu selalu memberinya uang bulanan dari gajimu hanya lima ratus ribu. Sekarang aku bisa merasakan kehidupan dengan uang lima ratus ribu untuk satu bulan. " kata Maya tersenyum miris.
Hati Dika tertusuk ribuan duri rasanya setelah mendengar perkataan Maya. Dia baru sadar kalau selama dia menikah dengan Yesha dia terlalu dalam menyakiti nya.
"Tapi dibalik semua itu aku bersyukur, kini Yesha bisa hidup bahagia bersama dengan suami pilihannya. Dan aku berharap kelak aku juga bisa mendapatkan kebahagiaanku sendiri, sama seperti Yesha dan Aksa. " Harap Maya dengan linangan air mata.
Mendengar doa dan harapan Maya untuk Yesha dan dirinya sendiri membuat Dika bungkam. Entah apa yang dirasakannya saat ini.
*
Dikediaman Bu Ayu, terjadi kehebohan. Dimana Bu Ayu menemukan sebuah surat yang menyatakan kalau Dila pergi dari rumah karena tidak ingin menjadi aib untuk keluarganya. Bu Ayu mencoba menghubungi Dika dan Dila berkali-kali namun tidak ada yang terhubung. Dia jadi stress sendiri, sedangkan Bagus sudah tidak bisa diandalkan. Padahal dia ada dirumah tapi tidak tau kemana Dila pergi. Bu ayu benar-benar merasa bingung karena anak perempuan Satu-satunya itu pergi dari rumah tanpa memberitahu dimana dia berada
Terdengar mobil Dika terparkir di depan rumahnya. Dika segera masuk ke dalam rumah dan melihat ibunya terlihat berantakan.
"Ada apa ini bu? "
"Kamu dari mana saja, ibu telpon kok nggak bisa. " kesal bu pada anaknya itu.
Dika lalu melihat ponselnya dan benar saja tidak ada panggilan masuk, Karena ponselnya mati.
"Mati bu ponselku. " kata Dika sambil menunjukkan ponselnya.
__ADS_1
"Memang ada apa sih bu? " tanya Dika penasaran.
"Dila Kabur. "