
Di rumah Bu Ayu, malam ini Dika dan bu Ayu kedatangan seorang tamu yang tak di undang siapa lagi kalau bukan Agus. Dia datang lagi secara langsung kepada Dika dan Bu Ayu untuk menyampaikan kabar kalau dia sudah resmi bercerai dengan istrinya Susan.
"Mohon maaf sekali lagi mas, Bu. Saya datang ke sini untuk menyampaikan kalau saya sudah resmi bercerai dengan istri saya. Dan ini surat cerainya, yang baru saya dapatkan tadi dari pengadilan agama. " ujar Agus tanpa ada rasa gugp sedikitpun.
Dika mengambil surat dari pengadilan agama itu lalu membacanya.
"Bagaimana Dik? " tanya bu Ayu yang ingin tahu tentang surat itu.
"Benar -benar sudah cerai, bu." Ujar Dika dengan sedikit bedecih.
"Terus bagaimana jika Dila nggak ditemukan? Kita harus apa? kenapa harus seperti ini? " bu Ayu semakin semakin terpuruk mendengar hal ini.
Dika dan Agus menghembuskan nafas kasarnya dengan keadaan ini. Walau Agus tau, Dika hanya pura-pura terpuruk dengan keadaan. Karena beberapa hari terakhir berkomunikasi dengan Dika. Dika mewanti-wanti dirinya agar tidak bilang kepada ibunya kalau dia tau dimana Dila berada. Jika tidak ibunya itu akan membuat keributan disana.
"Saya, hanya ingin menyampaikan itu saja bu. Kalau-kalau Dila datang, saya sudah siap menikah dengannya. " ujar Agus memberikan penjelasan tentang kedatangannya.
'Baiklah, kalau begitu. Nanti kalau Dila datang aku akan menghubungi mu. " Dika yang membalas ucapan Agus.
Agus segera berpamitan dan diantar Dika keluar sampai teras depan. Sedangkan bu Ayu masih di dalam rumah merenungi apa yang terjadi di luar sana. Dia sedang berfikir, Kalau saja Dila pulang ke rumahnya setelah kabur dari rumah sakit, dia sekarang pasti sudah menikah dengan Agus.
Andai saja dia dulu tidak mengatakan kepada Dila bahwa dia tidak ingin dibuat malu oleh kelakuan Dila. Mungkin saja mereka sekarang bisa berkumpul seperti dulu. Sungguh, penyesalan itu baru bu Ayu rasakan sekarang.
"Mas, jangan lupa beritahu aku dimana Dila sekarang. "
"Iya, nanti aku kabari. "
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. "
"Iya."
Agus bergegas menancapkan gas mobilnya menjauh dari rumah Dila. Dia pulang dengan membawa harapan, semoga besok Dika akan memberi kabar baik untuknya.
Dika masuk ke dalam rumah, dia melihat ibunya sedang termenung dengan meneteskan air mata nya. Sungguh dia merasa kasihan melihat ibunya terpuruk seperti itu.
"Dik, apa kamu tidak tau dimana Dila saat ini berada? "
Dika tidak menjawab, tapi dia hanya menggelengkan kepalanya. Melihat respon Dika membuat bu Ayu menunduk.
"Andai saja dulu aku tidak mengedepankan gengsiku, mungkin sekarang Dila masih bersama kita. " ujar bu Ayu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Apa sekarang ibu menyesal? "
"tentu saja ibu menyesal, sangat menyesal. " kata bu ayu lagi dengan deraian air mata.
Mendengar itu hati Dika merasa lega.
__ADS_1
"Ya sudah bu, ini sudah malam. Sebaiknya ibu istirahat. Mungkin saja besok ada kabar baik untuk kita. "
"Kabar baik apa? "
"Mungkin Dila kembali, atau mas Bagas yang kembali. " goda Dika pada ibunya dengan membawa-bawa nama bagas.
"Cih, ngapain bawa-bawa nama Bagas. Anak itu benar-benar diluar batas. Ibu sudah tidak peduli lagi padanya. " kata bu Ayu sambil berdiri dan segera melenggang ke kamarnya.
Melihat itu Dika tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Lalu dia ikut menyusul masuk ke dalam kamarnya. Di ambilnya ponsel yang sudah dia carger dari tadi. Karena kehabisan daya, sampai ponsel itu mati. Saat ia sudah menghidupkan ponselnya, ternyata ada beberapa pesan masuk dari Maya yang menghiasi ponselnya.
Bibirnya tertarik ke atas, menggariskan sebuah senyuman saat dia mendapat pesan dari Maya. Yah, walaupun itu hanya pesan tentang adiknya.
"Okelah, aku akan mengantar Dila ke dokter, tapi untuk biaya periksa bukan tanggung jawabku, tapi tanggung jawab bapaknya." gumam Dika sebelum membalas pesannya.
"Baiklah mbak, besok aku kesana menjemput Dila. Aku harap mbak Maya ikut untuk menemani Dila nanti. "
Pesan yang di kirim Dika pun sudah terkirim di ponsel Maya. Tapi tak segera mendapat jawaban. Dika melihat jam di dinding, dan ternyata sudah jam sembilan malam. Mungkinsaja sudah tidur. batin Dika.
Dika langsung mengirimkan pesan ke Agus, untuk bertemu besok. Dika berencana akan menggantikan kendaraannya dengan Agus. Dia akan menjemput Dila dan Maya menggunakan mobil agus, sedangkan Agus langsung ke tempat dokter praktek tempat Dila akan periksa. Dan nanti yang menemani Dila periksa ke dokter adalah Agus, calon suaminya dan bapak darii anak di perut Dila.
Setelah mengirim pesan itu, Dika segera mengarungi alam mimpinya.
**********
Keesokan harinya, Maya sudah membaca pesan yang Dika kirim. Dia sebenarnya ingin menolak, kalau harus ikut mereka ke dokter, Maya ingin lembur hari ini, karena kemarin dia sudah tidak lembur jadi dia takut kalau nggak lembur lagi, dia nggak dapet uang. Sedangkan uang yang ada di kantongnya sudah menipis. Tapi karena bujuk rayu Dika, akhirnya dia mau, dengan jamina Dika yang akan membayar gajinya malam ini. Lumayan walau dikitt buat memenuhi kebutuhannya.
"Dil, nanti sore temani mbak jalan-jalan yuk. "
"Kemana mbak, "
"Ada deh nanti. Sekali-kali kita keluar biar nggak bosen di kamar terus. "
"Boleh, deh mbak. Arum ikut? "
"Nggak tau, nanti deh biar aku tanyain dia ikut apa enggak. "
"Ya, udah deh mbak. Yuk, sekarang kita kerja dulu. Semangat. " kata Dila memberi semangat pada dirinya sendiri dan Maya.
Mereka keluar dari kost-kostan dan menuju toko tempat mereka kerja masing-masing.
"Gimana, tokomu. Rame? "
"Alhamdulillah, mbak. Tiap hari lebih dari dua puluh baju yang di packing, sebelum dikirim. Belum lagi yang langsung datang ke toko. "
"Alhamdulillah. " ujar Maya.
__ADS_1
"Kalau mbak Maya, sendiri. "
"Sama, rame juga. Apalagi kalau pagi sampai siang nggak bisa duduk rasanya, melayani pembeli. "
"Alhamdulillah, ya mbak. Sukses ternyata mbak Yesha, belum lagi hasil dari rumah makannya dan kost. "
"Karena itu, ini akan jadi pelajaran buat kita kedepannya, jangan terlalu meremehkan seseorang. '
" Mbak Maya bener. "
Mereka akhirnya berpisah dan segera masuk ke toko masing-masing untuk mulai bekerja.
*********
Di rumah Yesha.
Yesha sedang memasang dasi suaminya yang akan berangkat kerja dengan telaten. Abhi yang melihat istrinya dari dekat seperti ini merasa gemas sendiri. Karena sekarang pipi Yesha yang sedikit berisi alias cubby.
"Mas, apa sudah nyari tukang untuk membuat kamar Aksa? "ta ya Yesha setelah setesai memasangkan dasi dileher suaminya.
" Sudah kemarin aku sudah ngobrol sama Aryo, aku suruh nyari tukang yang kerjaannya cepet dan bagus. Soalnya kamu kan hamil, sayang. Jadi nggak boleh terlalu banyak kena debu. "
"Ya sudah kalau gitu ayo sarapan, aku sudah masakin yang enak buat kamu. "
Mereka berdua menuju meja makan. Disana juga sudan ada Jihan dan Danu yang menunggu kedatangan sepasang calon ayah dan ibu itu.
"Nanti siang kamu bisa ke kantorku nggak. " Tanya Abhi saat mereka sudah duduk di kursi mejaa makan.
"Kenapa mas? "
Abhi mendesah kasar karena sesuatu yang tidak dia inginkan akan menghampiri dirinya.
"Hari ini akan ada pertemuan dengan wakil dari perusahaan Samantha. "
"Terus? apa hubungannya dengan aku ke sana. "
"Wakil dari perusahaan itu adalah Jasmin. Aku sudah menyuruh Mario menyelidiki perusahaan itu kemarin. " ujar Abhi dengan ekspresi tak bersemangat.
Mendengar nama Jasmin disebut membuat Danu dan Jihan berpandangan. Jihan sudah menceritakan kepada Danu siapa itu Jasmin. Jadi sekarang dia tau
Yesha melakukan hal yang sama, dia menghembuskan nafasnya perlahan untuk mengontrol emosinya.
'Ya sudah mas, bilang sama aku kapan pertemuannya di adakan nanti aku akan datang. " putus Yesha pada akhirnya.
"Jangan datang sendiri, nanti aku akan menyuruh sopir kantor untuk menjemput mu. Aku tidak ingin sesuatu terjadi denganmu di jalan. "
__ADS_1
"Ya sudah terserah mas Abhi aja. " kata Yesha dengan pasrah .
Mereka lalu melanjutkan sarapannya yang tertunda, gara-gara membahas Jasmin tadi. Setelah itu mereka pergi untuk melakukan aktifitas seperti biasa.