Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
#S2 Dika 11


__ADS_3

Dila sudah berada dirumah ibunya sejak pagi, dia kesana bersama suaminya yang akan berangkat kerja. Dila juga sudah mendapatkan izin dari mertuanya untuk menginap dirumah ibunya. Karena kebetulan hari ini ibu Agus akan pergi ke Jogja menjenguk saudaranya yang Sakit.


Ibu mertua Dila memberi wejangan kepada anak menantunya itu sebelum pergi, agar Dila tidak bekerja telalu keras. Dan meminta Agus untuk membantu mertuanya menyiapkan makanan dari restonya saja. Nggak perlu masak sendiri. Agar Dila juga tidak capek membantu di sana. Anggap saja sebagai hadiah pernikahan buat iparnya, juga ucapan Terimakasih karena telah menyatukan Agus dan Dila dulu. Sehingga sekarang hidup Agus jadi lebih berarti dengan kelahiran seorang anak dan cucu di keluarganya. Apalagi sekarang Dila hamil lagi.


Dan wejangan dari bu Maria tadi disampaikan kepada Bu Ayu dan Dika. Mereka bersyukur atas pengertian dari besannya karena mau membantu berpartisipasi dalam pernikahan Dika. Dan bu Ayu juga sangat bahagia karena Dila hamil lagi. Karena kehamilan Dila pasti membawa keberkahan untuk keluarganya.


"Jadi mana calon kakak iparku? " tanya Dila yang sejak tadi tidak melihat Maira.


Bu Ayu juga sudah menceritakan apa yang terjadi, pada Dika dan Maira, sehingga mereka terbawa arus pernikahan seperti ini.


"Dia sedang dibelakang menjemur baju kayaknya." kata bu Ayu dengan santainya.


Mendengar itu, Dila jadi merasa ketar-ketir sendiri. Dia takut kalau ibunya belum berubah dan sama seperti dulu. Sehingga pernikahan kakaknya harus hancur karena keegoisan ibunya.


"Ibu, jangan lakukan hal yang sama ya. Seperti kepada Yesha atau Maya. Aku takut bu. Takut kalau karma itu berbalik kepadaku. Ibu mertuaku yang baik hati berubah jahat. " bisik Dila kepada ibunya.


"Enggaklah Dil, tenang aja. InsyaAllah ibu sudah berubah. Ibu akan jadi ibu mertua yang baik, seperti ibu mertuamu. Tapi ibu tidak bisa melarangnya untuk membersihkan rumah. Karena ibu juga sudah tidak sanggup lagi untuk bekerja atau berdiri telalu lama. Kaki ibu sakit mungkin ini yang disebut penyakit tua. " keluhnya pada Dila.


"Ibu sudah ke dokter? " tanya Dila dan bu Ayu menggeleng sebagai jawaban.


"Ibu nggak mau merepotkan mas mu. " bisik Bu Ayu di telinga Dila.


Tiba-tiba muncul sesosok gadis belia dari belakang. Gadis manis yang sepertinya masih sangat muda.


"Lho, ada tamu. Kenapa ibu nggak panggil Maira? Tunggu sebentar, Maira buatkan teh. " kata Maira yang berbalik ke dapur.


Dila dan Agus tercengang melihat penampakan gadis belia yang baru saja dilihatnya.


"Siapa dia bu? Jangan bilang? "


"Ya, seperti yang kalian pikirkan. Dia Maira gadis yang aku ceritakan tadi. "

__ADS_1


"Ibu nggak salah kan? " Dila seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Bu Ayu menggeleng," tidak dialah calon istri Dika. "


"Berapa umurnya bu, sepertinya masih muda banget. "


"Kalau nggak salah delapan belas atau sembilan belasan lah. Ibu lupa. "


Dila dan Agus saling berpandangan. Agus dan Dika memiliki usia yang hampir sama, tiga puluhan lebih dikit.


"Gila mas Dika kalau menikah dengan dia, beneran dapet jackpot. Bener kan mas. " pekik Dila kepada suaminya.


"Kalian ngomongin apa sih? " celetuk Dika yang baru keluar dari kamarnya. Tadi dia sudah ngobrol sebentar dengan adik dan iparnya, lalu masuk lagi ke dalam kamar karena harus mandi.


Dila menunjuk Maira yang keluar dari dapur dengan beberapa gelas teh di nampannya, dan menyuguhkan kepada mereka semua.


" Mari silahkan diminum, saya permisi dulu. " ujar Maira yang hendak beranjak dari sana.


Mendengar permintaan Dika Maira akhirnya duduk di sebelah bu Ayu yang sedang memangku seorang anak kecil.


"Kenalkan ini Dila dan suaminya. Dila adalah adikku. dan ini adalah keponakan ku." Dika mengenalkan Dila dan suaminya kepada Maira.


"Oh, jadi ini mbak Dila. Kenalkan mbak, namaku Humaira, biasa dipanggil Maira. " Maira mengulur kan tangannya kepada Dila, tapi tidak kepada Agus. "Senang akhirnya bisa berkenalan dengan mbak Dila. Mohon maaf, karena kamarnya saya tempati selama tinggal di sini. " kata Maira dengan sungkan.


Dila meminta penjelasan kepada ibunya dengan alis yang terangkat sebelah.


"Kamarmu kan kosong Dil, jadi ibu meminta dia menempatinya selama disini. Kalau tidur di tempat Bagus, ibu takut Bagus tiba-tiba datang. Bisa berabe urusannya nanti. Besok Dila juga sudah tidur sekamar dengan Dika kalau sudah menikah." Jelas Bu Ayu.


"Ya sudah nggak apa-apa. Nanti kita tidur di kamarnya mas Bagus aja. " kata Dila.


'Iya kamar bagus juga tiap hari ibu bersihkan, sudah rapi dan wangi kok. " kata Bu Ayu.

__ADS_1


Mereka berbincang hangat pagi itu. Dika dan Agus ngobrol di ruang tamu. Agus bertanya kepada Dika, berapa tamu yang datang. dan membutuhkan berapa kotak nasi untuk dibagikan kepada tetangga. Agar nanti Agus bisa menyiapkan di restonya.


Dila yang sedang hamilpun sudah merasa lapar, karena dia juga belum sarapan. Akhirnya mereka berkumpul di meja makan, untuk menyantap makanan yang disiapkan Maira sejak pagi.


"Maaf mbak Dila , cuma ada ini buat sarapan . Seadanya saja , karena kami belum belanja tadi . " Kata Maira yang merasa tidak enak


"Nggak apa-apa Mai , jangan terlalu sungkan kepadaku . Juga aku juga sudah biasa makan makanan seperti ini . Benar kan Mas ? "


Pertanyaan Dila diangguki oleh suaminya .


"Lumayan enak loh masakannya. " Agusyang berkomentar


"Iya masakan Maira memang enak , Dika aja sekarang kalau makan habis banyak . Nggak seperti dulu waktu ibu yang masak . " Kata Bu Ayu dengan tersenyum garing .


Dika hanya tersenyum mendengar candaan ibunya ,karena apa yang dikatakan ibunya memang benar dia lebih berselera makan kalau yang memasak Maira . Sama seperti saat dulu saat Yesha menjadi istrinya . Walau masakannya sederhana , tapi sangat memanjakan perut . Karena itu rumah makan Yesha sangat ramai , tidak diragukan lagi karena makanan disana memang sangat enak .


Setelah selesai sarapan , Agus berpamitan kepada semua orang untuk pergi bekerja . Sedangkan Dika saat ini sedang berada di rumah . Karena kantornya setiap hari Sabtu dan Minggu libur . Sebenarnya hari ini Dika ingin mengantarkan ibu ke pasar , tapi karena agus sudah menyarankan untuk tidak usah memasak dan semua makanan di handle oleh adik iparnya itu , maka Dika bisa sedikit santai .


"Memang tidak ada dekorasi-dekorasi gitu ya Bu ?" Celetuk Dila ketika melihat rumahnya tetap sama sepi dan tidak ada keramaian meskipun besok ada pernikahan .


"Tidak Dil , karena Dika dan Maira sepakat akan menikah secara agama dan hukum saja . Kemarin Maira juga Ibu tawarkan untuk menyewa dekorasi setidaknya ada kenang-kenangan untuk pernikahan mereka , tapi Maira menolak. Katanya lebih baik uangnya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari , daripada untuk sesuatu yang tidak berguna . Begitu katanya ." Curhat Bu Ayu kepada anaknya itu .


"Sepertinya, Maira anaknya sangat teliti dan perhitungan dalam mengeluarkan uang bu. " lirih Dila kepada Ibunya. Kalau seperti ini, Mas Dika pasti cepat kaya. " Dila terkekeh.


"Nggak begitu juga mbak, maaf kalau aku sela obrolannya. " kata Maira yang tiba-tiba datang membawa sepiring bimuah mangga kupas. "Bukannya saya perhitungan. Tapi semua memang harus di hitung, Aku dipercaya mas Dika untuk mengelola uang setiap bulannya. Jadi amanah itu harus kita jaga. Kita hanya akan memakai nya sesuai kebutuhan saja. Jangan karena menuruti gengsi sehingga membuat kita lupa diri. Dan akhirnya yang kasihan disini suami kita. Karena dia kerja keras banting tulang. Jadi kita harus menghargai kerja kerasnya. Dengan bersikap sederhana dan tidak berlebihan. " kata Maira panjang lebar, karena dia tidak ingin dituduh macam-macam nanti oleh keluarga Dika.


"Aku sudah terbiasa hidup susah selama ini. Kadang makan , kadang juga tidak. Tapi itulah pelajaran hidup yang harus aku jalani. Aku sangat beruntung akhirnya bertemu dengan keluarga ini, yang sudah menolongku. Dan sekarang meluarga ini akan mengangkat derajat ku dengan menjadikanku salah satu keluarga disini, setelah menikah dengan mas Dika besok. "


Mendengar semua ucapan dari Maira, memunculkan decak kagum semua orang di sana. terutama Dika. "Usianya memang kecil. Tapi sikapnya dewasa banget. Ternyata benar usia tidak bisa menjdi tolak ukur seseorang untuk bersikap dewasa.


Sepertinya Dika akan beruntung jika menikah dengan Maira. Karena dia akan menjaga amanahnya sebagai manager keungan dirumah ini.

__ADS_1


__ADS_2