
Tanpa terasa hari ini sudah akhir pekan, dan itu artinya Dika harus memenuhi janjinya kepada anaknya Aksa. Kalau pada akhir pekan ini Dika akan berkunjung ke rumahnya. Namun, sebelumnya, Dika berbicara lagi kepada Maira apakah dia boleh berkunjung ke rumah Yesha? Dan ternyata Maira mengijinkan asalkan dia juga ikut, karena tidak pantas rasanya jika seorang pria beristri mengunjungi anaknya di rumah mantan istrinya, yah walaupun Yesha sendiri sudah menikah. Tapi tetap saja Maira merasa tidak nyaman kalau suaminya itu datang sendiri ke tempat mantan istrinya.
Apakah Maira Cemburu?
Entahlah, kalian bisa mendeskripsikan nya sendiri. Jika suami kita bertemu dengan mantan istrinya bagaimana perasaan kita.
Dika dan Maira berpamitan kepada Bu Ayu untuk mengunjungi Aksa. Dan Bu Ayu mengijinkannya juga. Dia berharap suatu hari nanti Aksa akan datang ke rumah ini dan memanggilnya nenek. Siang ini Bu Ayu akan menjaga toko sendirian karena Dika sudah mengisinya dengan banyak barang kebutuhan rumah tangga. Sayang saja kalau hanya karena Maira pergi toko itu tidak buka. Dia akan menunggu sambil nonton televisi.
Akhirnya Dika dan Maira pergi ke rumah Yesha menggunakan mobil mereka. Ternyata keputusannya untuk membeli mobil tepat. Karena saat ini Maira juga hamil jadi dia bisa tetap membawa istrinya pergi dengan nyaman.
Lima belas menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Yesha dan Abhi. Sebelumnya Dika sudah menghubungi Abhi kalau hari ini dia dan istrinya akan mengunjungi Aksa. Karena dia sudah berjanji akan mengunjungi Aksa dirumah mereka. Dan Abhi mengijinkannya itupun sudah mendapat ijin dari Yesha.
Mobil Dika masuk ke dalam halaman rumah Yesha. Dika segera keluar dan membukakan pintu untuk istrinya. Dari dalam rumah, Dika mmendengar Aksa berlari memanggil namanya.
"Ayaaaahhh.... "
Aksa langsung berhambur memeluk pinggang ayahnya.
"Akhirnya ayah datang menepati janji, ayah. " kata Aksa kemudian.
"Tentu saja seorang pria itu yang dipegang adalah Kata-katanya. " ujar Dika.
"Ayo masuk ayah." Aksa langsung menarik tangannya agar segera mengikutinya.
"Tunggu sebentar Aksa. Ayah kan datang sama tante Maira. " kata Dika yang tidak akan melupakan Maira kali ini.
Aksa terdiam dia lalu melihat Maira yang sedang tersenyum padanya. Maira lalu mendekat dan memberikan mainan yang dia bawa kepada Aksa.
"Ini, tante dan ayah bawakan mainan untuk Aksa. Maaf buka mainan mahal. Tapi semoga bermanfaat untuk Aksa. " ujar Maira yang merasa kikuk, karena sepertinya Aksa tidak menyukainya.
"Makasih. " Jawab Aksa singkat.
"Ayo ayah, sekarang kita masuk. " Aksa menarik tangan Dika lagi. Dan tangan Dika yang satunya segera menggandeng tangan Maira agar ikut masuk bersamanya.
Mereka akhirnya sampai di ruang tamu, Aksa langsung melepaskan tangan Ayahnya saat mereka sudah berada di dalam rumah. Dilihatnya tangan ayahnya yang satunya sedang menggenggam erat tangan istrinya. Aksa mendengus melihat itu. Padahal sejak awal bertemu, Semua orang sudah menjelaskan kepada aksa kalau Maira adalah wanita baik-baik tidak seperti istri Dika sebelumnya.
Yesha dan Abhi datang menemui Dika dan Maira.
Yesha melihat wajah anaknya yang di tekuk. Dia melihat kemana Arah pandangan Aksa , yang ternyata sedang memperhatian tangan Dika yang menggenggam tangan istrinya. Kini Yesha mengerti.
"Mas Dika, sepertinya Aksa ingin bermain bersama mas Dika deh di kamarnya. " Ucap Yesha pada akhirnya.
Mendengar ucapan Yesha semua orang menatap kearahnya. Dan Yesha menganggunkkan kepalanya, sambil mengedipkan kedua matanya kepada semua orang.
"Benar kan Aksa? "
" Benar ma. "
"Ya sudah sekarang tunjukkan dimana kamar Aksa kepada Ayah. " ucap Yesha lagi.
Aksa langsung berlari ke kamarnya,
"Ayo ayah. "
Dika yang tak mengerti pun menatap istrinya.
__ADS_1
"Pergilah mas. " kata Maira dengan memberikan senyuman untuk suaminya. Dia lalu melihat ke arah Yesha dan Abhi.
"Jelaskan pada Aksa tentang keberadaan Maira disisi mu, mas. Karena sepertinya dia belum bisa menerima kehadiran Maira sebagai istrimu. " ujar Yesha pada akhirnya. Kini Dika mengerti maksud dari Yesha yang menyuruhnya untuk bermain di kamar Aksa berdua.
"Baiklah kalau begitu. "
Sebelum Dika melangkah, tangannya sudah di tarik oleh tangan kecil Aksa.
"Ayo, Ayah... kenapa lama sekali. "
Akhirnya Dika mengikuti kemana Aksa membawanya.
"Maafkan sikap Aksa ya, Mai." ujar Yesha pada akhirnya saat mereka sudah duduk berdua. Sedangkan Abhi kembali ke ruang kerjanya.
"Biasa mbak, anak-anak. " Maira mencoba menerima apa yang terjadi.
Melihat sikap Aksa kepadanya, sepertinya dia belum bisa menerima kehadirannya sebagai istri Dika.
"Maklumlah, Mai. Sudah sepuluh tahun berlalu, Baru kali ini, Aksa mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Dia hanya belum bisa menerimamu, karena mungkin trauma dengan istri mas Dika sebelumnya. Dan aku tau, mas Dika pasti sudah menceritakan siapa istri keduanya itu. "
Maira mengangguk.
" Trauma nya tentang hubungan pernikahan kami yang tidak sehat itulah yang membuat Aksa menjadi keras sepeti ini. Bersabarlah, Dia pasti akan menerimamu, seperti dia yang menerima mas Abhi menjadi papanya. Aku yakin Aksa pasti akan menerimamu sebagai istri Dika. "
"Aamiin."
"Apa kamu sudah isi Mai, kok kelihatannya kurusan sejak pertama ketemu. " tanya Yesha yang melihat perubahan pada tubuh Maira.
"Alhamdulillah mbak. Kemarin periksa masih enam minggu, mungkin sekarang udah tujuh minggu. "
Mereka terus saja mengobrol tentang apa saja yang terjadi selama ini. Mereka berdua saling bertukar cerita. Dan tertawa bersama.
Sedangkan di dalam kamar. Terlihat Dika dan Aksa sedang menyusun puzzle yang Aksa punya. Dengan cekatan dia menjukkan keahliannya itu kepada ayahnya.
"Gimana yah, aku pinter kan? " tanua Aksa pada ayahnya itu.
"Iya anak ayah memang pinter. Ayah masih menyimpan gambar Aksa yang tertinggal waktu dirumah kontrakan kita. Ternyata Aksa pandai menggambar ya? " Dika memuji anak nya itu.
"Gambar yang mana ya, yah? " tanya Aksa, karena mungkin dia sudah lupa dengan gambar nya waktu Tk dulu.
"Nanti kalau Aksa berkunjung ke rumah ayah, ayah akan tunjukkan gambar milik Aksa. "
"Tapi Aksa takut sama nenek Ayu, yah. Nenek ayu jahat. " Kata Aksa dengan wajah ketakutan.
Dika langsung memeluk Aksa.
"Nak, sekarang nenek Ayu sudah berubah. Nenek Ayu sekarang sudah menjadi nenek yang baik seperti nenek Hasna dan nenek Erina. Nenek Ayu juga ingin bertemu dengan Aksa." Kata Dika sambil memeluk Aksa agar tenang. Lalu melepaskan pelukannya.
"Semua orang bisa berubah seiring waktu, Aksa. Ada orang jahat yang berubah baik, dan ada orang baik yang berubah Jahat. Semua itu tergantung bagaimana niat mereka untuk berubah. " Dika mencoba menasehati anaknya itu.
"Begitu juga dengan tante Maira. " kata Dika kemudian.
Mendengar nama Maira disebut Dika, membuat Aksa tidak senang.
"Ayah ingin tau, kenapa Aksa tidak menyukai Maira. " tanya Dika langsung kepada anaknya itu.
__ADS_1
"Karena Aksa takut, dia merebut semua perhatian Ayah dari Aksa. seperti tante Vio. tante Vio itu jahat. Aksa tidak suka. " Kata Aksa sedikit berteriak.
Dika memejamkan matanya, mendengarkan teriakan Aksa.
"Kemarilah." Dika meminta Aksa duduk dipangkuannya.
"Aksa, tidak semua orang seperti Vio. masih banyak orang baik seperti mama Yesha. Dan ayah sudah menemukannya. Dia adalah Maira. Dia adalah wanita baik-baik yang tak sengaja ayah tabrak.... " Akhirnya Dika menceritakan tentang Maira kepada anaknya.
Aksa tertegun mendengar cerita ayahnya. Dia tidak menyangka, kehidupan Maira jauh dari kata layak dulu.
"Karena itu nak, ayah membantunya dan mengangkat derajat nya dengan menjadikannya istri ayah. Dia wanita baik, yang sudah menjaga dan merawat ayah dan nenek. Sekarang Maira sudah punya rumah lagi, sejak ayah menikahinya."
"Apa ayah mencintai tante Maira? "
"Duku belum, tapi seiring berjalannya waktu, ayah kini mencintainya. Bahkan saat ini, Maira tengah mengandung anak ayah, yang juga adikmu. " ujar Dika menjelaskan secara pelan-pelan kepada anaknya itu.
"Apa? tante Maira hamil? seperti mama? " tanya Aksa memastikan.
"Iya... Dan itu juga adik Aksa nanti. Aksa jangan membenci Maira ya? karena Maira adalah istri ayah. Ayah mencintainya sekarang. "
"Apakah ayah tidak akan mengurangi kadar kasih sayang ayah kepada Aksa.? "
"Tentu saja tidak nak , ayah akan membagi kadar kasih sayang aksa dengan semuanya secara rata. kecuali kepada mama Yesha. Karena sudah ada papa Abhi yang menyayanginya. " kata Dika sambil tersenyum kini dia mengerti kenapa sikap Aksa seperti itu kepada Maira.
"Aksa, seperti mama Yesha yang bahagia dengan papa Abhi. Maka biarkan ayah juga hidup bahagia bersama dengan Maira, istri ayah. " Ujar Dika pada akhirnya.
Aksa kini mengerti, kehidupan kedua orsng tua mereka tidak akan bisa disatukan kembali. mamanya Sudah punya keluarga sendiri. Begitu juga dengan ayahnya yang sudah punya keluarga sendiri. Memiliki seorang istri dan mungkin juga akan memiliki anak sebentar Lagi. Aksa hanyalah anak korban dari perceraian kedua orang tuanya. Tapi dia bahagia karena kedua orang tuanya menyayanginya walaupun hidup mereka sudah memiliki keluarga masing-masing.
Lama berfikir, akhirnya Aksa memutuskan sesuatu.
"Baiklah ayah, aku akan menerima tante Maira sebagai isteri ayah. Asalkan dia orang baik. Tapi kalau dia jahat seperti tante Vio aku tidak akan memaafkannya. "
Dika langsung berhambur memeluk anaknya. Dia tidak menyangka kalau anaknya akan memiliki sifat keras kepala seperti ini. Dan dia tau, dari mana sifat keras kepala Aksa ini muncul. Kalau bukan dari trauma masa lalu yabg sudah membentuk karakter Aksa menjadi keras kepala dan egois seperti ini.
"Terimakasih, nak. Dan maafkan ayah atas semua yang terjadi pada dirimu. Ayah benar-benar minta maaf kepada aksa. "
Kata Dika penuh penyesalan.
"Sudahlah ayah, yang lalu biarlah berlalu. saat ini kita harus menapaki masa depan. Dan akan terus bergandengan tangan bersama. "
"Iya sayang. "
Setelah puas berbicara dengan anaknya. Aksa dan Dika keluar dari kamar. Aksa lalu mendekati Maira.
"Tante maafkan atas sikap Aksa tadi, ya? " kata Aksa sambil menunduk.
"Tidak apa-apa Aksa, tante mengerti. Tante tidsk akan merebut kasih sayang ayah Dika kepada Aksa. Kita semua disini menyayangi Aksa. Jangan ragukan itu. Okey. " ujar Maira meyakinkan Aksa.
Aksa mengangguk. Ternyata benar kata Ayahnya, Maira orang baik, dan berhati tulus. Aksa tidak melihat kepura-puraan di mata Maira.
"Ma... kapan-kapan Aku ingin menginap di rumah ayah Dika boleh apa nggak? Aksa ingin melihat, apakah nenek Ayu sudah berubah. Soalnya kata Ayah, nenek Ayu sudah berubah jauh lebih baik. Aku ingin melihatnya. " kata Aksa yang meminta persetujuan dari ibunya.
Yesha memandang suaminya, lalu Dika. Dan mereka berdua menganggukan kepala nya.
"Baiklah, tapi setelah aksa libur sekolah ya "
__ADS_1
Aksa mengangguk senang mendapat ijin dari mamanya.