
"Bagaimana keadaan istri saya dokter. " tanya Abhi saat melihat seorang dokter keluar dari ruang tindakan.
"Maaf tuan, saya tidak bisa memastikan. Tapi jika dilihat dari gejalanya sepertinya istri anda sedang hamil. Sebaiknya anda memeriksakannya langsung ke dokter kandungan untuk memastikan. " dokter memberitahu hasil pemeriksaannya.
"Apa? Hamil? " Abhi merasakan sangat terkejut mendengar apa yang di katakan dokter barusan.
Dokter mengangguk untuk memastikan kabar yang ia sampaikan.
Keterkejutan Abhi berubah menjadi senyum bahagia yang terpancar di bibirnya.
"Dokter apa boleh saya menemui istri saya? "
"Silahkan, tuan. Setelah cairan infusnya habis anda bisa membawa istri anda memeriksakan diri ke dokter kandungan. " ujar dokter lali ia pergi meninggalkan Abhi yang akan menemui istrinya.
Abhi masuk ke ruangan dengan senyuman penuh dibibirnya. Ia menatap Yesha yang masih terbaring dengan penuh haru, Abhi langsung berhambur memeluk istri yang sangat dia cintai itu.
"Terima kasih, sayang." ucap Abhi sambil menciumi seluruh wajah Yesha, tak peduli ada beberapa orang yang melihat ke absurdan Abhi kepada istrinya.
"Mas, malu iiiihhh... "
"Kenapa mesti malu, kamu kan istri aku. " katanya sambil terus menciumi wajah Yesha.
Yesha merasa risih dengan perlakukan Abhi. "Mas udah dong. malu... "
Abhi menghentikan kelakuannya, dia lalu duduk di kursi yang berada di samping Yesha. Dan menggenggam tangannya erat.
"Terimakasih, karena kamu sudah mengandung anakku. "
"Jangan ambil kesimpulan dulu mas, kita harus pastikan ke dokter kandungan dulu. Apa benar aku hamil. Setelah semua sudah pasti kita baru bisa berbahagia. "
"Baiklah, setelah ini kita ke dokter kandungan. Apa kamu berani di sini sendiri? Aku akan buat janji dulu dengan dokter, agar setelah ini kita bisa langsung kesana. "
Yesha mengangguk. "Pergilah. Aku baik-baik saja."
Abhi lalu meminta seorang perawat untuk menjaga istrinya sebentar. Karena dia akan menemui dokter kandungan untuk buat janji.
Tak berapa lama Abhi sudah kembali. Dia memberikan uang tips buat perawat yang sudah menjaga Yesha selama kepergian nya.
"Tidak usah pak. " perawat itu menolak.
"Tidak apa-apa sus. ini sebagai tanda terimakasih ku karena sudah menjaga istriku. " Abhi memaksa.
"Terima saja sus, itu sudah rejeki suster. Anggap saja itu sebagai sedekah kami, karena telah mendengarkan kabar baik hari ini. "
Dan dengan terpaksa perawat itu menerimanya, karena tidak ingin membuat keributan.
Setelah kepergian perawat, Abhi kembali duduk di samping istri nya.
"Bagaimana keadaanmu, sayang? "
"Sudah lebih baik, mas. "
"Alhamdulillah, andai aku bisa menggantikanmu mengalami masa ngidam, aku terima. Aku nggak tega lihat kamu lemes seperti tadi. " ujar Abhi yang mendapat pelototan dari Yesha.
__ADS_1
"Mas jangan bicara seperti itu, nanti ada malaikat lewat dan mengamini ucapanmu. Bisa bahaya mas. " ucap Yesha dengan sedikit keras yang membuat Abhi langsung membungkam mulutnya.
Setelah cairan infus sudah habis, Abhi segera membawa Yesha ke poli dokter kandungan.Abhi jadi Ribet sendiri, dia tidak mau istrinya kecapean atau apalah. Yang mau digendong lah, yang pakai kursi roda lah.
"Pake kursi roda ya, sayang? "
"nggak usah, mas. Aku sudah baik-baik saja. Aku jalan aja. "
Abhi tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Yesha sudah berkehendak.
Mereka sampai di ruangan dokter, dan langsung melakukan pemeriksaan tanpa menunggu antrian.
"Selamat siang. " Sapa seorang dokter wanita paruh baya di depan mereka.
"Siang dok. "
"Apa ada keluhan, ibu Yesha? "
Yesha lalu mengatakan semua keluhannya pagi ini, yang menyebabkan dirinya berada di rumah sakit saat ini.
"Baiklah, kalau begitu, silahkan berbaring di sana" dokter dengan name tag Dwi itu menyuruh Yesha segera berbaring untuk diperiksa.
"Sepertinya anda benar hamil, Bu. ini ada satu kantong. " dokter itu terus berbicara sambil memeriksa perut Yesha.
"Kalau dilihat dari terakhir ibu haid dan perkembangan janinnya, ini sekitar delapan minggu. " jelas dokter Dwi.
"Baiklah, sudah selesai. Biar dibersihkan dulu. "
Dokter Dwi kembali ke mejanya dan menuliskan beberapa resep obat dan vitamin.
"Jadi selamat ya, bapak, ibu. kalian akan segera menjadi orang tua. Jaga baik-baik kandungannya. Dan untuk bapak, diharapkan tetap siaga dan bisa mengimbangi mood ibu hamil yang kadang berubah ubah. Kadang tiba-tiba sedih, marah, dan sebagai nya. Bapak harus sabar karena itu adalah pengaruh hormon ibu hamil. Jika ibu susah makan sebaiknya bapak siapkan susu khusus ibu hamil untuk memenuhi nutrisinya. " Dokter Dwi memberikan penjelasan kepada calon orang tua di depannya ini.
"Baik dokter. Tapi Maaf dok, boleh saya tanya sesuatu? " kata Abhi dengan penuh keraguan
"Silahkan."
"Apakah saat istri saya hamil, saya boleh melakukan hubungan suami istri? "
Blush... memerahlah wajah Yesha seperti kepiting rebus.
"Mas...Kenapa harus di tanyakan, sih. Bikin malu aja. " lirih Yesha sambil tertunduk.
Dokter Dwi hanya tersenyum menanggapinya.
"Tidak apa-apa, ibu. Hal ini sering ditanyakan para suami yang baru akan menjadi orang tua, jadi wajar. Tugas saya juga menjelaskan agar tidak tejadi masalah dengan kandungan anda. " Dokter mengetahui rasa malu dan sungkan yang menyelimuti Yesha.
"Jadi pak Abhi, Anda boleh melakukannya. Tapi tidak boleh sering-sering, ya. Dikurangi porsinya. Misalnya satu minggu dua atau tiga kali saja. Itupun durasinya dibatasi. jangan sampai membuat istri anda kelelahan yang akan membuat janinnya kontraksi atau bermasalah. Apa anda sudah paham? "
"Paham dokter. Terimakasih atas penjelasannya. "
Dokter lalu memberikan resep obat yang harus di tebus di apotek. Ada vitamin dan pereda mual juga disana.
Setelah semuanya selesai mereka kembali ke rumah. Namun Yesha tiba-tiba menginginkan sesuatu.
__ADS_1
"Mas, makan rujak enak kayaknya. " celetuk Yesha saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Dedek apa mamanya ini yang pengen rujak? "
"Dedek sama mamanya, pa. " ucap Yesha sambil tersenyum.
"Baiklah, kita beli rujak dulu. Rujak buah apa rujak cingur ini. " tanya Abhi yang bingung rujak apa yang diinginkan istrinya.
"Rujak buah mas, seger kayaknya. "
"Oke... "
Mereka berkeliling mencari penjual rujak, Hingga akhirnya menemukannya. Abhi segera memesan dua porsi rujak buah, yang nggak pedes buat Yesha dan yang pedes buat dia.
Sesampainya di rumah, Abhi dan Yesha segera diberondonh Jihan dengan berbagai pertanyaan.
"Dari mana aja mas? kata Danu kalian ke rumah sakit, mriksain mbak Yesha, emang mbak Yesha kenapa. Kenapa baru pulang? "
pertanyaan Jihan membuat Abhi dan Yesha pusing.
"Jihan bisa diem dulu nggak, kita baru nyampe ini. Setannya masih nempel. " ujar Abhi tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sehingga mendapat cubitan manis dari Yesha.
"Ngomongin apa sih mas, dari tadi ngomongnya kok nggak bener. " kata Yesha dengan kesal.
"maaf."
Yesha segera membuka rujak miliknya, begitu juga dengan Abhi. Mata Jihan berbinar melihat dua porsi rujak di depannya..
"Wah, rujak. Boleh aku minta. "
Yesha mengangguk, tapi langsung dilarang Abhi.
"Jangan minta punya mbakmu. Minta punya mas aja, nanti mbamu kurang, kan sekarang dia makan sama bayi yang ada didalam perutnya. "
Maya Jihan membulat tak percaya mendengar ocehan kakaknya, dia langsung memandang Yesha.
"Beneran mbak. "
Yesha mengangguk sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Jihan langsung memeluk Yesha dengan erat.
"Alhamdulillah, bentar lagi aku akan punya keponakan. " pekik Jihan dengan penuh kebahagiaan sambil mengelus perut rata kakak iparnya.
"Brisik Jihan. " ketus Abhi.
Mendengar kakanya bicara ketus Jihan langsung mencebikkan bibirnya lalu duduk didekat kakanya.
"Ya udah, itu mbak Yesha habisin, aku minta punya nya mas Abhi aja. " Sekali suapan Jihan langsung melepeh buah yang masuk ke dalam mulutnya.
"Mas, nggak salah makan rujak sepedes ini. Ini bukan rujak mas, tapi racun. Biasanya juga nggak doyan makanan aneh-aneh." gerutu Jihan yang merasa di kerjai kakaknya, Dan itu membuat Abhi tertawa terbahak-bahak.
Semua orang sudah mendengar kabar kehamilan Jihan, bahkan orang tuan Abhi dan orang tua Yesha semua sudah mendengarnya. Mereka sangat bahagia mendengar itu, karena itu artinya cucu pertama keluarga Pradipta akan lahir ke dunia.
__ADS_1
Aksa juga bahagia mendengar kalau dia akan punya adik dan akan menjadi seorang kakak.
"Apa papa dan mama akan tetap menyayangi Aksa kalau kalian punya adik bayi. "