
Hari itu, Aksa dam Abhi bersenang-senang menikmati permainan. Walau tidak semua lomba bisa mereka menangkan, tapi Aksa bahagia. Dia bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ayah. Mereka berdua bekerja sebagai tim yang kompak. Hingga waktu lomba selesai dan sekarang waktunya mereka istirahat.
Yesha memanggil Aksa dan Abhi untuk duduk di tempat yang sudah dipilih Yesha agar mereka bisa menikmati waktu istirahat nya.
"Apa kalian sudah lapar? " tanya Yesha sambil menyeka keringat di kening Aksa.
"Aku belum lapar, bu. Mungkin om Abhi yang lapar." Aksa yang menjawab.
"Mas Abhi lapar? " Tanya Yesha menoleh ke arah Abhi yang sedang mengipasi wajahnya.
"Bentar, Yesh. panas banget. "
Yesha menyodorkan botol air mineral pada Abhi, dan langsung di minum Abhi sampai habis. Melihat itu Yesha menggeleng kan kepalanya.
"Haus banget ya, mas? "
Abhi mengangguk. "Panas Yesh. "
"Maaf, ya mas udah ngerepotin mas Abhi. Biasanya jam segini mas Abhi kan di kantor yang ber-AC sekaranga malah di tengah lapangan nemenin Aksa panas-panasan. " kata Yesha yang merasa tak enak kepada Abhi.
"Sudahlah, jangan sungkan. Aku ingin membuat Aksa bahagia. " matanya melirik ke Aksa yang sedang memperhatikan teman-temannya.
Yesha pun mengikuti arah mata Abhi memandang Aksa, lalu fokus ke satu titik. Dimana teman Aksa yang sedang bermain dengan ayah dan ibunya.
"Aksa, makan ya. Mama Suapin sama Om Abhi juga. Biar om Abhi makan juga. Sekarang lomba cepet-cepetan siapa yang makannya paling banyak. Ibu yang suapi. Gimana. "
Mendengar itu, pandangan Aksa teralihkan menatap ibunya. "Beneran bu, Aksa lomba makan sama om Abhi di suapi ibu. "
Yesha mengangguk mantaap.
"Baiklah Aksa ikut. Makannya disuapin ibu kan? " tanya Aksa antusias.
Yesha mengangguk, lalu beralih menatap Abhi.
"Maaf ya mas, Bukan maksudku... Aku hanya ingin mengalihkan perhatian Aksa." Kata Yesha kemudian meminta maaf karena akan melakukan sesuatu tanpa menanyakan dulu pada Abhi.
"Its Oke. Nggak apa-apa kok. " balas Abhi santai. sambil tersenyum.
Awalnya dia juga terkejut mendengar kata-kata Yesha yang ingin menyuapi nya. Tapi pandangan lain ia dapatkan saat melihat raut wajah Yesha yang terluka saat melihat anaknya memperhatikan temannya sedang bermain dengan ayah nya. Yehsa hanya ingin mengalihkan perhatian anaknya itu.
Lalu Yesha membuka bekal makan siangnya, dan segera menyuapi anaknya dan Abhi. Tawa renyah terdengar dari mereka bertiga. Jika di perhatikan mereka bertiga sudah seperti keluarga bahagia yang sedang menikmati harinya. Namun siapa sangka salah satu dari mereka hanyalah orang asing.
Acara pun selesai, perut mereka juga sudah kenyang. Mereka bertigapun segera kembali ke rumah untuk membersihkan diri dan istirahat. Sungguh hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan bagi Aksa dan Abhi.
*
*
__ADS_1
Malam harinya, Abhi yang merasa sekujur tubuhnya sakit semua meminta tolong kepada ibunya untuk memijit tangan dan punggungnya.
"Memangnya tadi kamu lomba apa aja sampai badanmu sakit semua kayak gini. " omelan mama Erina terdengar di telinga Abhi, tapi tetap saja tangan lembutnya memijiti tubuh Abhi.
Pak Pradipta yang ada di antara mereka pun hanya menggeleng kan kepalanya melihat tingkah anaknya yang seperti anak kecil. Padahal usianya sudah masuk kepala tiga.
Setelah agak membaik Abhi segera menegakkan tubuhnya dan meregangkan otot keplanya.
"Abhi, ada yang ingin papa bicarakan denganmu. " kata Pak Pradipta saat melihat Abhi sudah membaik.
"Apa pa, jika masalah pekerjaan aku sudah memikirkannya. Aku akan masuk ke perusahaan bulan depan, karena aku harus berbicara dengan timku lebih dulu. Tapi kalau masalah pernikahan, maaf pa, aku belum siap. " kata Abhi sambil menyomot kacang goreng di hadapannya.
"Bukan kedua masalah itu, tapi ini tentang Yesha. " kata Pak Pradipta dengan serius.
Mendengar itu Abhi rasanya tersedak kacang, dan langsung diambilkan minum oleh mamanya. Setelah sedikit membaik, Abhi menoleh ke arah mamanya. Tapi mamanya hanya menggedikkan bahu.
"Maksud papa? " pandangannya kembali kepada papanya yang terlihat serius.
"Apa kamu punya perasaan lain pada Yesha? " tanya Pak Pradipta.
"Entahlah Aku tidak tau. " kata Abhi cuek.
"Jika kamu masih belum tau perasaanmu pada Yesha, sebaiknya kamu jauhi dia. " kata Pak Pradipta tegas.
"Apa maksud papa. " Suara Abhi mengeras, seolah tak terima jika dia disuruh menjauhi Yesha.
Lalu dia melanjutkan kalimatnya. "Yesha adalah seorang janda dengan satu anak. Dia juga sudah menyelesaikan masa iddahnya, jadi kemungkinan dia juga ingin membuka hati untuk pria yang mau serius dengannya. Tapi jika kamu terus berada di sekitar Yesha, maka itu sama saja kamu menutup jodoh yang akan datang pada Yesha. "
Pak Pradipta menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Sekuat apapun wanita, sesukses apapun wanita dia pasti menginginkan sesosok pria yang bisa di jadikan sandaran hidupnya. Apalagi anaknya yang masih kecil, dia butuh sosok seorang ayah yang bisa dia andalkan. " ujar Pak Pradipta kemudian.
"Jadi, jika kamu belum bisa meyakinkan perasaanmu. Jangan temui dia dulu. Beri waktu pada hati dan pikiranmu untuk berpikir, apa yang baik untuk dirimu. Dan ingat, tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan yang sedekat itu. Jika Yesha sudah menikah dan memiliki pasangan kamu tidak akan bisa berteman sedekat itu dengan Yesha. Jadi pikirkan baik-baik. " Pak Pradipta bangkit dari duduknya dan menepuk bahu anaknya yang sejak tadi tertegun mendengar perkataan dari papanya lalu meninggalkan Abhi yang mungkin sedang memikirkan ucapannya.
Begitu juga mama Erina, di juga berdiri dari duduknya dan meninggalkan Abhi setelah memberi tepukan lembut di bahu Abhi.
Abhi ditinggal sendirian di ruang keluarga dengan televisi yang masih menyala. Dia sedang memikirkan semua perkataan yang diucapkan papanya kepadanya.
"Jauhi Yesha... Yakinkan dirimu... Masa idah Yesha sudah selesai... kamu menutup jalan jodohnya jika terus berada di sekitar Yesha...Yesha butuh seseorang untuk bersandar... Aksa butuh sosok ayah yang bisa di andalkan... Jika Yesha menikah, kamu tidak akan bisa sedekat itu dengan Yesha... "
Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepala Abhi. Hingga membuatnya pusing. Dan akhirnya Abhi memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya, dan segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ingin segera memejamkam mata, namun setiap kata yang diucapkan papanya masih terus berputar di atas kepalanya. Hingga dia menutup kepalanya dengan bantal.
"Oke... oke... aku akan meyakinkan perasaanku pada Yesha. Sekarang kalian enyahlah dari pikiranku. " Teriak Abhi dari bawah bantal.
*
*
Di rumah Bu Ayu kini sudah berkumpul semua anggota keluarganya, sesuai permintaan Dika tadi siang. Begitu juga Vio dan Dika yang sudah datang. Mereka duduk dalam satu meja.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku katakan kepada kalian semua." ucap Dika pada akhirnya memecah keheningan.
"Mulai bulan depan aku akan mengatur pengeluaran keuanganku untuk keluarga ini. " katanya kemudian.
"Apa maksudmu Dika. " pekik bu Ayu tak terima.
"Dengarkan aku dulu bu. " tegas Dika tak ingin di bantah.
Bu Ayu pun kembali duduk dengan tenang.
"Mulai bulan depan aku hanya akan memberikan uang bulanan kepada ibu, sesuai kemampuanku. Dan aku hanya akan membiayai kuliah Dila saja. tidak ada jatah uang saku. "
Mendengar itu Dila mendelik ingin protes, namun tangan Dika menghentikan nya.
"Dan untuk mas Bagus. Silahkan biayai kebutuhan rumah tangga mas Bagus dengan hasil keringat mas Bagus sendiri. "
"Hanya itu yang ingin aku sampaikan. " kata Dika kemudian dia menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Apa-apaan ini Dika, nggak bisa begitu dong. " protes bu Ayu. "Kamu harus tetap memberikan gajimu kepada ibu seperti biasanya. Dila juga masih butuh banyak biaya. "
"Benar mas, mas Dika kok jadi perhitungan gitu sih sama aku. " protes Dila yang seketika memandang ke arah Vio.
"Apa ini hasutan dari mbak Vio? " tanyanya sambil menoleh ke arah Vio.
Semua mata akhirnya mengarah ke Vio yang sejak tadi diam, namun Vio hanya cuek saja. sambil menggedikkan bahunya.
"Bukan, ini semua keputusan ku. Aku sudah memutuskan untuk menjalani pernikahan yang sesungguhnya dengan Vio. Dan aku tidak mau pernikahan keduaku berakhir sama dengan sebelumnya karena ketamakan kalian. " Dika berkata sambil menatap tajam kepada senua keluarganya.
"Tapi, Dik. "
"Tapi, mas. "
ucap Bu Ayu dan Dila bersamaan.
"Cukup. Aku hanya akan memberikan uang bulanan untuk ibu, itupun hanya untuk kebutuhan pribadi ibu saja. Untuk kamu Dila, kamu bisa mencari kerja paruh waktu untuk mendapat uang saku. Lagi pula kuliah macam apa sampai enam tahun nggak lulus-lulus. Kalau tahun ini kamu nggak lulus juga, aku nggak akan membiayai kuliahmu. Dan untuk mas Bagus, seharusnya mas Bagus sudah bisa membiayai keluarganya sendiri. Nggak usah bergantung pada uang bulanan yang kukirim. Dan aku kira, sekarang uang mas Bagus sudah banyak. Karena sudah bertahun-tahun numpang hidup dari gajiku. " sindir Dika pada kakaknya itu.
Bagus yang tidak terima langsung berdiri dan menarik kerah baju Dika.
"Apa maksudmu Dika. " Teriak Bagus dengan wajah yang sudah mengeras dan kepalan tinju yang siap menghantam wajah Dika.
"Apa.... " tantang Dika balik.
Bu Ayu yang melihat kedua anaknya akan berkelahi pun segera melerai. Tarikan tangan Bagus terlepas, Dika langsung merapikan bajunya.
"Aku rasa apa yang ingin aku sampaikan sudah aku katakan semuanya. Kalau begitu aku dan Vio pulang dulu. " pamit Dika pada semua orang. Lalu mereka berdua meninggalkan rumah ibunya.
Bu Ayu, Dila dan Bagus pun mendudukkan bokongnya dengan kasar diatas kursi. Mereka memijit keningnya masing-masing, tidak percaya kalau Dika akan berbuat seperti ini pada mereka.
__ADS_1