
"Ayo masuk Arum. "
Yesha mengajak Arum masuk saat Mario dan Maya sudah pergi meninggalkan halaman rumah Yesha. Arum mungkin merasa sungkan untuk masuk ke dalam rumah besar itu, karena tidak ada orang tuanya.
Arum pun masuk, dan duduk di ruang keluarga bersama Yesha. Saat ini hanya ada Yesha dan Abhi, sedangkan Aksa di ajak Jihan keluar membeli sesuatu untuk camilan mereka, karena sekarang ada Arum mungkin Jihan akan menyetok lebih banyak cemilan untuk mereka semua. Sedangkan Danu sedang pulang kampung mumpung liburan.
Yesha ingin menanyakan sesuatu kepada Arum tentang kedekatannya dengan Mario, kenapa merek bisa sedekat itu. Dan Mario merasa sangat bahagia saat Arum memanggilnya Ayah.
"Arum, tante mau nanya. Apa Arum bahagia ibu Arum menikah dengan Om Mario? " tanya Yesha hati-hati.
"Arum senang tante, karena sekarang keluarga Arum sudah lengkap. Arum punya ayah yang tampan dan punya uang banyak." kata Arum dengan polosnya.
Abhi dan Yesha saling berpandangan setelah mendengarkan celotehan Arum.
"Arum suka karena om Mario punya uang banyak? Arum Matre dong. " Yesha mencoba memancing Arum
Arum menggeleng.
"Arum cuma kasihan sama ibu, tante. Selama ini Arum tidak pernah melihat ibu bahagia. Selama bersama ayah Bagus, ibu juga nggak pernah di kasih uang. Kami makan sesuai yang tante masak waktu itu. Ayah Bagus cuma ngasih Arum uang saku pas-pasan nggak pernah lebih. Bahkan Arum malu karena uang sekolah Arum sering nunggak. " Arum mulai sesi curhatnya .
"Setelah tante pergi dari rumah waktu itu, ibulah yang menggantikan semua pekerjaan tante di rumah nenek. Mulai dari mencuci baju, nyapu, ngepel, masak pokoknya semuanya. Kalau ibu tidak melakukannya, ibu dan Arum tidak di kasih makan sama nenek. Sedangkan Ayah Bagus sendiri sudah tidak pernah pulang lagi. Entah kemana. "
Mendengar cerita Arum, Yesha jadi memikirkan apa yang terjadi kepada mereka. Bahkan untuk makan saja mereka harus melakukan pekerjaan rumah dulu. Yesha sedikit beruntung, meskipun dia harus melakukan semua pekerjaan rumah dan mendapatkan hinaan dari mereka, setidaknya Yesha masih diberi uang walau hanya sisa gaji suaminya dulu.
"Jadi karena itu, Arum senang Ibu Arum menikah dengan om Mario. Karena om Mario punya banyak uang. '
" Iya, Arum yakin setelah ini kehidupan kami akan lebih baik, tante. Karena aku akan tinggal bersama dengan ayah kandungku. Ups. " Arum langsung menutup mulutnya karena tanpa sengaja telah membongkar rahasia kedua orang tuanya kepada orang lain.
Abhi dan Yesha kembali berpandangan setelah mendengar ucapan Arum barusan.
__ADS_1
"Arum bisa jelaskan maksud dari perkataan Arum barusan? " tanya Yesha yang merasa penasaran.
"Nggak kok tante. Arum cuma salah ngomong aja." ujar Arum tergagap.
Yesha mandang suaminya, dan Abhi menggeleng. Pertanda jangan diteruskan. Nanti dia sendiri yang akan mencari tau kepada Mario. Yesha yang mengerti pun langsung mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu. Nggak apa-apa kalau Arum ngvak mau cerita. Ini waktunya tante istirahat. Kamu nonton televisi saja ya, sambil nunggu Aksa dan Jihan pulang. Bajumu-bajumu , sudah tante masukkan ke kamar mbak Jihan. Jangan keluar, tetap di dalam rumah ya. Sama bi sumi. Tante mau tidur siang dulu. " Yesha memberi pesan kepada Arum, sebelum dia istirahat.
"Baik tante. Arum akan tetap di rumah, karena Arum sudah janji akan menunggu ayah dan ibu pulang. "
"Baguslah.Tante ke kamar dulu ya? "
Arum mengangguk kecil, dan kembali menonton televisi. Yesha memanggil bi Sumi agar menemani Arum yang sendirian diruang keluarga.
Di Kamar
"Kenapa? " tanya Yesha saat mereka sudah berada di atas tempat tidur.
"Aku hanya merindukanmu. " kata Abhi, karena dia sendiri tidak tau apa yang sedang ia pikirkan.
Mendengar ucapan Abhi membuat Yesha mengernyitkan keningnya.
"Aku tidak salah dengar kan? Dari tadi kita bersama lho. " ujar Yesha.
"Aku hanya tak habis pikir kenapa ada pria yang tak bertanggung jawan seperti Bagus. Yang menelantarkan anaknya. "
Kini Yesha mengerti kenaap suaminya bersikap seperti itu.
"Karena tak semua pria memiliki sikap bertanggung jawab seperti suamiku. " ujar Yesha sambil tersenyum dan memeluk suaminya. "Mas Bagus yang menelantarkan istri dan anaknya. Mas Dika yang lebih mendahulukan rasa baktinya kepada orang tuanya dari pada kepada anak dan istrinya.. Yah begitulah manusia mas, mereka hidup dengan pandangan hidup yang berbeda-beda sesuai apa yang mereka anggap benar. " ujar Yesha.
__ADS_1
Abhi kembali memeluk istrinya dengan erat. "Kenapa aku tidak menemukanmu lebih dulu ya, Yesh. Sehingga kamu tidak perlu mengalami penderitaan seperti itu dan aku tidak mengalami penghianatan seperti itu. "
"Itulah takdir mas, kita tidak pernah tau. Rahasia Illahi. Mungkin kita diberi ujian dan cobaan terlebih dahulu sebagai jalan kita menemukan kebahagiaan. Udah ah, kita ini bicara apa sih? Ayo tidur aku ngantuk banget ini. " ujar Yesha panjang lebar lalu menguap di akhir ucapannya
"Nggak main dulu? " goda Abhi.
"Enggak, nanti malam aja. Nanti kita saingan sama pengantin baru. " ucap Yesha tanpa sadar. " By the way mereka lagi ngapain yah? " kata Yesha dengan wajah, yang dibuat kepo.
Mendengar ucapan Yesha, Abhi langsung mengungkung tubuh istrinya, dengan menahan tubuhnya agar tidak menyakiti istri dan anak dalam perutnya.
"Yuk... " ajak Abhi dengan kerlingan mata nakalnya.
Saat melihat itu, Yesha tidak akan bisa menolak pesona suaminya itu. Dan dimulailah siang yang panas antara suami istri lawas tersebut.
Di hotel.
Maya dan Mario yang sudah berada di dalam hotel pun merasa kikuk berada di dalam satu ruangan yang sama dengan status suami istri.
"Apa kau mau mandi dulu. " sebuah pertanyaan bodoh yang keluar dari Mario, karena sebelum mereka pergi ke hotel tadi mereka sudah membersihkan tubuh mereka terlebih dahulu.
Maya yang ditanya pun hanya menggeleng. "Tidak, kau saja yang mandi. Aku mau tidur saja. " ujar Maya sambil membaringkan tubuhnya.
Melihat Maya yang membaringkan tubuhnya, membuat Mario mendekat dan ikut berbaring di samping Maya.
"Katanya mau mandi dulu. " ujar Maya yang terkejut karena Mario tiba-tiba sudah berada dibelakangnya.
Mario tidak mengindahkan pertanyaan Maya, dia langsung memeluk tubuh Maya di depannya dan menghirup aroma rambut Maya yang sangat wangi dan mengecupnya berkali-kali. Mario lalu menarik tubuh Maya agar menghadap kearahnya. Maya yang merasa malu pun langsung menundukkan kepalanya saat mereka berhadapan. Melihat Maya yang menunduk, Mario langsung menggamit dagu Maya agar menghadap kearahnya. Mata mereka saling bersitatap dengan lekat, dan entah siapa yang memulainya mereka mulai saling menyesap satu sama lain.
Sebuah pemanasan mereka lakukan sebelum masuk ke ritual inti siang itu. Dan akhirnya sepasang pengantin baru dan pengantin lawas melakukan olah raga panas di siang yang panas itu, di dua tempat yang berbeda.
__ADS_1