
Dika menghubungi Vio saat makan siang, mereka berjanji untuk makan siang di kafe depan perusahaan. Karena mereka ingin membicarakan masalah yang serius, apalagi kalau bukan tentang CEO baru mereka.
Sekitar lima belas menit Dika menunggu, akhirnya Vio datang juga dengan wajah panik dan pucat.
"Akhirnya kamu datang juga, sayang. " kata Dika menarik kursi untuk Vio.
"Tau nggak, aku rasanya sesak banget di dalam tadi. "
"Aku juga... Aku tidak menyangka ternyata dia adalah putra pak Pradipta. " ucap Dika dengan raut wajah masih tidak percaya.
"Benar, aku juga tidak percaya kalau dia adalah anak pak Pradipta. Dan sekarang menjadi CEO baru kita. Apa yang harus kita lakukan sekarang? " tanya Vio setelah bicara panjang lebar.
"Memangnya apa yang bisa kita lakukan. Kita hanya bisa menerim kenyataan kalau dia adalah atasan kita sekarang, pemimpin tertinggi di perusahaan tempat kita bekerja. " ujar Dika dengan nada penuh emosi.
Mereka terdiam, saat pelayan mengantarkan makanan ke meja mereka. Dan mulai bicara lagi saat pelayang itu pergi.
"Dan apa kau tau apa yang membuatku semakin kesal? " Dika mengajukan pertanyaan aneh kepada Vio.
"Mana aku tau, apa yang membuatmu kesal. " Vio juga ikut kesal dibuatnya.
"Dia mengatakan kepada seluruh karyawan tadi kalau dia mengundang kami di acara pernikahannya minggu depan. Kau tau apa artinya? " Dika meminum segelas air dengan kasar, lalu menaruhnya diatas meja dengan kasar pula.
"Apa? "
"Dia akan menikah dengan Yesha, mantan istriku. " kesal Dika.
"Terus apa Hubungannya dengan kekesalanmu itu. Jangan bilang kamu cemburu dengan pernikahan mereka. " tuduh Vio dengan nada curiga.
Dika jadi gelagapan sendiri dibuatnya. "Bukan begitu Vi, Aku kesal karena Yesha menikah dengan orang yang levelnya ada di atasku. Bisa-bisa dia malah menginjak-injak harga diriku nanti ketika kami bertemu. " Elak Dika mencari alasan.
Vio jadi berfikir, apa yang dikatakan Dika ada benarnya. Yesha membuang Dika dan mendapatkan seseorang yang kedudukannya ada diatasnya. Beruntung sekali dia. Batinnya.
Andai sejak awal dia tau kalau bosnya itu punya anak yang tampan dan mapan, maka dia tidak akan menjadi seorang pelakor demi merebut hati Dika yang memiliki wajah pas-pasan dan pekerjaan yang masih berada di bawahnya. Dika hanya memiliki satu kelebihan, yaitu memuaskannya di ranjang.
__ADS_1
"Vi... Vio..." Dika menggoyang-goyangkan tangan Violet untuk menyadarkannya dari lamunannya.
"Apa yang kamu pikirkan. " tanya Dika curiga.
"Enggak kok mas, aku cuma berfikir. Yesha beruntung banget ya. " kilahnya.
Dika menghembuskan nafasnya kasar. Dari awal dia tau, Kalau kemanapun Yesha melangkah pasti hanya keberuntungan yang ia dapatkan. Dulu ia pernah merasakannya, Dan sekarang sebuah bukti sudah terpampang nyata di depannya. Dika mengggaruk kepalanya kasar sambil menggeram kesal.
"Siaaaall.... " umpatnya.
"Apa-apaan sih kamu. Udah, buruan makan nanti keburu dingin. " Vio semakin kesal melihat Dika yang frustasi. Sepertinya suaminya itu masih belum bisa move on sepenuhnya dari mantan istrinya itu.
*************
"Bhi, mama sama papa pulang dulu. Kamu mau pulang apa tetap disini? " tanya mama Erina kepada putranya itu.
"Aku boleh ke rumah Yesha nggak ma. " rayu Abhi kepada mamanya.
"Yaelah ma, lima hari itu lama banget tau ma. " kata Abhi sambil mengerucutkan bibirnya.
"Dih... Pah, tu liat anak kita udah kenal jatuh cinta rupanya. Nggak sabar pengen ketemu calon istrinya. " sindir mama Erina kepada anak sulungnya itu.
"Biasa ma, nggak pernah jatuh cinta. Sekalinya jatuh cinta bucin dia. " Pak Pradipta ikut mengejek Abhi
Papa dan mama Abhi tertawa renyah mengejek Abhi yang sedang jatuh cinta itu. Sedangkan Abhi, dia makin mencebikkan bibirnya.
"Ya sudah, papa sama mama pulang dulu. Sekarang perusahaan ini sudah ada di tanganmu. Kelola dengan baik. Papa sesekali akan datang untuk memeriksa kinerjamu. " ujar pak Pradipta sambil menepuk bahu kokoh Abhi.
"Iya, pa. Abhi akan kerja dengan baik. " kata Abhi dengan senyum di bibirnya.
Setelah kepergian papa dan mamanya Abhi memanggil Mario untuk datang ke ruangannya.
tok... tok..
__ADS_1
"Masuk."
Mario masuk setelah dipersilahkan oleh Abhi.
"Ada apa anda memanggil saya, tuan?"
"Kumpulkan semua manager di tiap devisi. Aku akan mengadakan rapat dengan mereka semua satu jam lagi. Suruh mereka membawa laporan selama satu tahun terakhir. "
"Baik, tuan. "
Mario segera keluar dari ruangan CEO dan segera melakukan pemberitahuan kepada manager setiap divisi di perusahaan itu.
Semua orang yang menjabat sebagai manager dibuat kelimpungan dengan rapat dadakan yang akan di adakan oleh CEO baru mereka. Mereka sama sekali tidak ada persiapan. Tapi kata asisten CEO tadi, mereka hanya perlu membawa laporan keuangan selama satu tahun terakhir. Hanya itu saja.
Satu jam telah berlalu, semua orang kini telah berkumpul di ruang rapat. Abhi masuk dengan langkah tegas dan wajah penuh karismanya. Dia duduk di kursi pimpinan, dan segera memulai rapat siang itu. Abhi meminta Mario untuk mengambil semua laporan keuangan di setiap divisi. Lalu memeriksa satu persatu. Sambil mendengarkan penjelasan para manager.
Setelah mereka menjelaskan semuanya termasuk Dika. Abhi segera mengakhiri rapat, dengan membawa semua laporan yang telah ada di tangannya.
"Saya akan bawa semua berkas laporan ini dan memeriksa semua data keuangan ini dengan seksama bersama tim audit. Jika terjadi kecurangan, maka bersiaplah untuk segera angkat kaki dari perusahaan ini. Karena saya tidak ingin memelihara tikus di perusahaan yang telah papa saya bangun dengan keringatnya. Rapat ini selesai sampai di sini. Terimakasih atas kerja samanya. " Abhi segera meninggalkan ruangan di ikuti Mario beserta beberapa tim yang dia bawa.
Setelah kepergian Abhi ruangan rapat menjadi ricuh. Mereka saling kasak kusuk membicarakan CEO baru mereka, yang ternyata lebih tegas dari papanya. Ada yang kagum, tapi ada juga yang langsung menciut nyalinya. Mereka takut kalau perbuatan curang mereka diketahui oleh tim audit. Maka tamatlah riwayat mereka di perusahaan itu.
Dika hanya bersikap datar mendengar semua ocehan para koleganya, dia tidak berminat sama sekali, karena dia yakin dia bukan salah salah satu tikus yang dimaksud Abhi, jadi untuk apa dia takut. Beda Dika maka berbeda pula dengan Vio, yang mengikuti rapat dadakan saat itu. Dia adalah atasan para manager yang selalu menyetorkan uang kepadanya demi memperlancar usaha mereka. Tanpa tanda tangan Vio, maka semua proyek tidak akan berjalan. Jadi dia selalu meminta jatah kepada para bawahannya.
Dari uang panas itulah, Vio bisa membeli beberapa properti yang ia miliki saat ini. Tapi sekarang, haruskah semua usaha dan transaksinya akan berakhir. Dia tidak ingin itu terjadi, akan sangat memalukan jika dia di tendang dari perusahaan dengan tidak hormat.
Abhi sudah kembali ke ruangannya. Dia tadi sengaja memberikan ancaman kepada orang-orang itu untuk mencari tahu respon mereka. Ada beberapa memang yang terlihat langsung memucat. Tapi dia tidak melihat wajah pucat Dika yang ia harapkan. Dika bersikap biasa saja. Tapi malah melihat sikap Vio yang salah tingkah.
"Apakah Vio melakukan kesalahan di perusahaan mereka? kenapa sikapnya seperti itu? Sedangkan Dika, dia biasa saja. " Batinnya, sambil memutar kursinya.
"Aku harus menyelesaikan semua ini sebelum pernikahan ku. Dan memberikan mereka kejutan setelah acara bulan madu kami. Aku akan membuat tikus-tikus itu segera pergi dari perusahaan ini. " putus Abhi pada akhirnya.
"Yesha, aku merindukanmu. Kenapa masih harus menunggu lima hari lagi sih. " gerutu Abhi dalam hatinya.
__ADS_1