Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
#S2 Dika 40


__ADS_3

Hari berganti bulan berlalu tanpa mereka sadari, hampir satu tahun kehidupan rumah tangga yang mereka berdua jalani. Kehidupan rumah tangga Dika dan Maira berjalan harmonis. Walau dengan perbedaan usia yang cukup jauh, tapi Dika bisa mengimbangi Maira begitu juga dengan Maira yang bisa mengimbangi Dika yang dewasa. Sehingga jarang sekali terjadi pertengkaran antara mereka berdua. Karena mereka bisa saling melengkapi dan mengisi kekurangan masing-masing.


Usia kandungan Maira juga sudah memasuki usia sembilan bulan dan itu artinya , Maira dan Dika sedang menunggu kelahiran buah hati mereka. Sejak malam hari Maira tidur dengan tidak tenang karena dia merasa gerakan di dalam perutnya semakin cepat . Dika yang merasa tidak nyaman pun segera bangun dan menanyakan kepada Maira apa yang terjadi padanya , karena sejak tadi dia merasa Maira gelisah dan tidak bisa tidur .


"Kamu kenapa Mai ? Kenapa kamu terlihat gelisah ." Tanya Dika sambil mendudukkan badannya


Melihat suaminya duduk , Maira juga ikut Duduk . Dan mengusap-usap perutnya yang sudah membesar .


"Aku nggak tahu Mas , gerakan si dedek di dalam perut sangat kuat . Sehingga membuatku kesakitan , dan aku tidak bisa tidur. Maafkan Aku karena sudah mengganggu tidurmu ." ujar merah dengan penuh penyesalan .


Dika lalu mengusap-usap perut Maira , berharap anaknya yang berada di dalam perut bisa tenang dan tidak membuat bundanya kesakitan .


"Adik kenapa ? Apa Adik mau lahir ? Adik mau keluar ya dari perut Bunda ." Tanya Dika seolah-olah mengajak anaknya berbicara .


Sebuah tendangan yang kuat , dirasakan Dika saat mengusap perut Maira . Dan itu membuat Maira meringis kesakitan , tanpa sengaja dia mencengkram tangan suaminya dengan kuat.


"Sakit mas ," rintih Maira yang benar-benar merasa kesakitan .


"Apa ini sudah waktunya Mai ? Sebaiknya kita ke rumah sakit untuk memastikannya ."


"Tapi ini sudah malam Mas ."


"Meskipun malam kalau Rumah Sakit pasti ada tenaga medis yang berjaga Mai , setidaknya kita tahu apa yang terjadi pada anak kita di dalam perutmu . Kenapa dia bergerak sangat aktif ."


"Baiklah Mas , aku menurut saja karena aku juga tidak tahan sakit sekali rasanya ." Maira mulai merengek kesakitan karena ulah bayi yang ada di dalam perutnya .


"Ya sudah ayo kita sekarang bersiap , kamu bawa perlengkapan bayi yang sudah disiapkan seandainya memang benar kamu akan bersalin . Aku akan membangunkan ibu , agar ikut dengan kita sehingga kamu ada yang menemani nanti ." ujar Dika yangs beranjal dari tempat tidurnya.


Maira menganggukkan kepala , sambil menahan rasa sakit di perutnya .


Bu Ayu yang terkejut karena pintu kamarnya diketuk , langsung keluar dari kamarnya dan melihat Dika dalam keadaan cemas .


"Ada apa Dika ? Kenapa kamu cemas seperti itu ? Apa ada yang terjadi ?" tanya Bu Ayu bertubi-tubi.


"Sejak tadi Maira tidak bisa tidur Bu dia mengeluh perutnya bergerak aktif dan ditendang dengan kuat oleh anak kami . Sampai dia kesakitan dan tidak bisa tidur dengan nyaman ." Dika bercerita kepada ibunya.


"Apakah sudah waktunya ? bulan ini kan Maira memasuki bulan ke sembilan . Sebaiknya kita bawa Maira ke rumah sakit saja . Daripada harus menerka-nerka ." usul bu Ayu.

__ADS_1


"Maksudku juga begitu Bu , aku sudah menyuruh Maira untuk bersiap . Sekarang ibu bersiaplah , aku akan mengeluarkan mobil dulu ."


Bu Ayu langsung berganti pakaian , dan Membawa Apapun yang akan diperlukannya nanti di rumah sakit . Dia Lalu menemui Maira di kamarnya terlihat Maira sedang meringis kesakitan , sedang duduk di pinggir tempat tidurnya . Bu Ayu langsung mendekat dan memegangi perut Maira . Dan benar saja di dalam sana , gerakan bayinya sangat aktif .


"Apa sakit nak ?" Katanya Bu Ayu setelah melihat Maira mendesis kesakitan .


"Sakit sekali Bu ."


"Tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan perlahan , itu akan membuatmu nyaman dan tenang ."


Maira mengangguk , dan menuruti permintaan


Ibu mertuanya .


"Ayo kita ke depan , Dika mungkin sudah siap." ajak bu Ayu.


Setelah mengatakan itu , ternyata Dika sudah ada di depan kamarnya . Dia bermaksud untuk memanggil Maira dan membantunya untuk berjalan menuju mobil .


"Ibu tolong bawakan perlengkapan yang sudah Maira siapkan. "


Tak lama mobil Dika berhenti di sebuah rumah sakit , di sana beberapa petugas medis dengan cekatan membawa Maira ke ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama ditemani Bu Ayu . Sedangkan Dika pergi memarkirkan Mobilnya di tempat parkir . Setelah itu dia berlari dengan tergopoh-gopoh , menemui istrinya yang sedang mendapatkan penanganan .


"Suami Ibu Maira ?" Tanya dokter jaga yang baru saja keluar dari tempat penanganan pasien.


"Iya saya dokter, Ada apa dengan istri saya ?" Tanya Dika yang merasa ketakutan .


"Tenang saja Pak , istri anda baik-baik saja sepertinya Ibu Maira akan segera melahirkan . Dan kami akan membawanya ke tempat bersalin . Di sana para bidan dan perawat akan membantu persalinan Ibu Maira . Karena untuk dokter kandungan saat ini tidak ada yang berjaga ."


"Baiklah dokter , segera tangani istri saya ."


Maira segera dibawa ke tempat bersalin , agar segera ditangani karena pembukaan Jalan lahir sudah hampir sempurna . Dika mengikuti para petugas medis yang mendorong brankar Maira. Maira tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari Dika.


Setelah sampai di ruang bersalin , Maira langsung ditangani oleh para bidan dan perawat yang jaga . Maira tetap tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari suaminya . Sedangkan bu Ayu menunggu di luar dan terus berdoa untuk keselamatan Maira dan anaknya.


"Apakah saya boleh menemani istri saya selama persalinan bu bidan ?" tanya Dika kepada salah seorang bidan yang berjaga di sana.


"Tentu Saja boleh, pak. Silahkan didampingi istrinya. " ujar bidan itu dengan sabar.

__ADS_1


Bidan tadi langsung memeriksa jalan lahir bayi, yang ternyata sudah pembukaan sempurna.


"Sudah pembukaan sempurna. Ikuti instruksi saya ya, bunda. Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan lalu mengejan sekuat tenaga. Ayo, kita coba. Adiknya sudah mau keluar ini. " kata Bidan yang memberikan pengarahan.


Maira mendengarkan arahan dari bidan tersebut. dengan mencengkram tangan suaminya. Dia tidak tau kalau suaminya sedang menahan sakit karena cakaran yang disebabkan olehnya.


Hingga pada akhirny pada percobaan kedua bayi mereka dilahirkan dengan tangisan yang sangat kencang. Bu bidan lalu memeriksa keadaan sang bayi, apakah ada kekurangan atau tidak.


"Alhamdulillah... bayinya perempuan ya, bunda. Dalam keadaan lengkap. Biar dibersihkan dulu sama kakak perawat." ujar bidan itu kemudian.


Dika dan Maira merasa sangat bahagia karena anak mereka telah di lahirkan. Dika mencium seluruh wajah Maira, sangking bahagianya tanpa memprdulikan sekitarnya.


"Terima kasih, Mai...Kau sudah mau melahirkan putri kecil untukku. "


"Iya mas, dia anak kita, buah hati kita. "


Dika lalu dipanggil perawat untuk mengadzani anak mereka. Setelah di Adzani , bayi kecil itu di tengkurap kan di dada sang ibu, agar mencari sumber kehidupannya. Maira dan Dika sangat bahagia melihat bayi mereka yang ada di hadapan nya.


"Dia lucu sekali mas... " ujar Maira sambil membelai punggung anaknya yang masih rapuh.


"Iya, dia kecil sekali. " gumam Dika.


Setelah semua proses selesai Maira segera dipindahkan ke ruang perawatan. Kali ini Dika meminta ruang VIP untuk anak dan istrinya agar tidak bercampur dengan orang lain. Bu Ayu yang sudah tidak sabar , segera mmemberondong Dika dengan pertanyaan saat Dika keluar dari ruang bersalin .


"Bagaimana dik ?" tanya bu Ayu.


"Alhamdulillah , anak kami sudah lahir perempuan . Dalam keadaan sehat. "


"Alhamdulillah , Lalu bagaimana dengan Maira ." tanya bu Ayu lagi.


"Maira juga baik-baik saja kok , dia akan dipindahkan ke ruang VIP sebentar lagi . "


"Ya sudah kalau begitu , "


Dika dan Bu Ayu benar-benar bahagia menyambut kelahiran bayi perempuan yang dilahirkan Maira . Entah kenapa mereka sangat antusias . Mungkin karena saat ini Dika sudah siap memiliki seorang anak ,sedangkan dulu masih tidak menginginkan kehadiran seorang anak . Jadi dia tidak peduli dengan kelahiran anak pertamanya .


Sungguh , Tuhan itu maha membolak balikan hati manusia .

__ADS_1


__ADS_2