Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
#S2 Dika 34


__ADS_3

Sejak siang Dika dan Maira berada di rumah Yesha untuk menemani Aksa bermain. Bahkan mereka sampai makan siang di rumah Yesha karena Aksa tidak mau ditinggal Dika. Hingga waktu beranjak sore. Akhirnya Dika baru diizinkan pulang oleh Aksa. Dengan catatan saat libur sekolah, Ayahnya akan menjemput Aksa untuk membawanya ke rumah Dika.


Karena Aksa ingin membuktikan kalau neneknya sudah berubah. Rasa ingin tahu Aksa memang besar dan dia juga ingin memperbaiki hubungan dengan orang-orang yang sudah menyakitinya dan ibunya jika benar mereka sudah berubah. Karena dia ingin memiliki keluarga besar dan tidak ingin bermusuhan dengan siapapun. Sungguh mulia keinginan Aksa itu.


Dika keluar dari rumah Ayesha bertepatan dengan waktu maghrib. Maira meminta suaminya untuk berhenti di sebuah masjid untuk menjalankan ibadahnya terlebih dahulu. Setelah mengerjakan ibadah sholat magrib mereka pun segera kembali ke rumah. Tapi tiba-tiba Maira menginginkan sesuatu saat melewati sebuah rumah makan.


"Mas, aku boleh minta sesuatu? " Maira bertanya dengan ragu-ragu.


"Apa? " tanya Dika yang melihat keraguan di mata Maira


"Aku ingin makan masakan padang. Apa boleh? dengan daging rendang diatasnya. Pasti enak sekali. " kata Maira dengan air liur yang hampir menetes karena membayangkan enaknya nasi padang dengan daging rendang. "


Dika tersenyum mendengar keinginan istrinya itu. "Jadi anak ayah, apa bundanya yang ingin makan nasi padang? " tanya Dika menggoda istrinya sambil mengusap lembut perut maira yang masih rata itu.


Maira merasa tersipu mendengar godaan dari suaminya. "Entahlah mas, tiba-tiba aku menginginkan makanan itu setelah lewat depan rumah masakan padang tadi. "


Dika pun mengerti, mungkin istrinya sedang ngidam. Jadi dia tiba-tiba ingin memakan masakan padang. Akhirnya Dika menghentikan mobilnya di rumah makan padang lainnya yang satu arah dengan jalan pulang, agar dia tidak putar arah. Lagipula Maira juga tidak masalah kalau harus makan di rumah makan lainnya.


Mobil Dika berhenti di sebuah rumah makan padang, Maira segera memesan makanan yang dia inginkan. Yaitu daging rendang dan teh hangat untuk menghilangkan rasa hausnya.


Dika merasa senang karena Maira bisa makan dengan lahap. Hanya di pagi hari saja Maira yang susah untuk makan. Karena dia pasti merasakan mual dan muntah. Tapi beranjak siang sampai malam dia baik-baik saja. Dika bersyukur aka hal itu. Karena Maira masih bisa memasukkan makanan ke dalam perutnya, sehingga calon anak mereka akan mendapatkan nutrisi dari ibunya.


"Mas Kita bungkusin makanan buat ibu, ya. Kasihan ibu di rumah sendiri dari tadi. Pasti ibu sedang nungguin kita di rumah. " Kata Maira yang mengingatkan suaminya.


Dika mengangguk setuju dengan permintaan istrinya. Bagaimanapun juga ibunya pasti kesepian di rumah. Ia akhirnya meminta untuk membungkus satu porsi lauknya saja. Karena pasti nasi di rumah nasi masih banyak. Jadi daripada tidak di makan. mereka memesankan lauk masakan padang untuk ibunya.


Pukul tujuh malam, Dika dan Maira baru sampai di depan rumah mereka. Maira segera masuk ke dalam rumah, sedangkan Dika memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Dilihatnya ibu mertuanya sedang melayani pembeli. Maira lalu meletakkan masakan yang dibelinya tadi di meja dan menyiapkan nya untuk ibu mertuanya.


"Kalian sudah datang?" tanya bu Ayu saat melihat Maira berada di meja makan.


"Iya bu, Ibu sudah makan? " tanya Maira saat melihat meja makan kosong.


"Belum, soalnya dari tadi banyak pembeli. Ini ibu mau bikin telur dadar aja buat makan. "


Maira tersenyum mendengar ibu mertuanya belum makan.


"Ini bu, tadi kami beli masakan padang untuk makan malam. Nggak tau kenapa tadi pas di jalan tiba-tiba pengen makan makanan ini. Jadi aku minta mas Dika bungkusin buat ibu. " kata Maira yang sudah menyiapkan makanan untuk ibu mertuanya.


Mata Bu Ayu berbinar mendengar apa yang dikatakan Maira. Dia juga ingin makanan itu beberapa hari ini. Alhamdulillah akhirnya keturutan.


"Makasih ya Mai. Sebenarnya ibu juga pengen makan ini beberapa hari ini. Tapi kasihan Dika takut dia nggak punya uang. " kata Bu Ayu sambil memakan makanan yang sangat diinginkan nya.

__ADS_1


Maira tersenyum." Iya bu, sama-sama. Aku kira sesekali beli di luar nggak masalah sih bu. Asal nggak sering-sering aja. "


Bu Ayu mengangguk setuju dengan ucapan Maira.


"Aku masuk kamar dulu ya, bu. Mau mandi. Udah gerah ini. "


"Ya sudah sana bersihkan tubuhmu. " kata Bu Ayu cuek. Karena dia sedang menikmati makanannya.


Maira masuk ke dalam kamarnya dan melihat suaminya sedang membuka bajunya.


"Lho Mai, aku kira kamu sudah masuk tadi. "


"Belum mas, aku baru nyiapin makanan buat ibu. Ternyata ibu belum makan. Dan kalau mas Dika lihat tadi, ibu bener-benar seneng kita beliin masakan padang. Katanya sejak beberapa hari ini, beliau ingin makan makanan itu. Mau minta takut mas Dika nggak ada uang katanya. " Maira mengatakan apa yang disampaikan ibunya tadi.


"Benarkah." tanya Dika tak percaya segitunya ibunya memikirkan dirinya. Sampai kepingin sesuatu nggak mau bilang. Hanya karena takut dia nggak punya uang.


Maira mengangguk, lalu dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang sudah lengket dari tadi. Dika dan Maira sudah terlihat segar, mereka keluar dari kamar dan duduk bersama ibunya diruang keluarga.


"Kenapa pulang sampai malam, Dik. Apa yang terjadi? "


"Tadi Aksa tidak mau di tinggal bu. Baru sore tadi Aksa mau di tinggal. Itupun dengan satu syarat. " ujar Dika yang menceritakan kejadian dirumah Yesha tadi.


"Syarat... syarat apa? " tanya bu Ayu penasaran.


"Waktu liburan sekolah nanti Aksa minta di jemput dan ingin datang ke rumah ini, bu. Dia ingin menjenguk neneknya, katanya. " kata Dika dengan tersenyum. Karena ini pasti kabar bahagia untuk ibunya.


" Benarkah? cucuku Aksa akan kemari, menemuiku ? " Bu Ayu seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.


Maira dan Dika mengangguk bersamaan mereka berdua tau kalau ini adalah kabar membahagiaan untuk ibunya.


"Kapan? "


"Saat ini Aksa akan menghadapi ujian bu, jadi mungkin setelah penerimaan raport Aksa akan kemari. Nanti aku dan Maira yang akan menjemput Aksa. " Ujar Dika.


Mendengar hal itu membuat Bu Ayu meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka kalau cucunya Aksa akan mau bertemu dengannya. Doa yang yang ia panjatkan setiap malam akhirnya akan terkabul dan itu sangat membahagiaan untuk bu Ayu.


Dika dan Maira yang melihat kebahagiaan dimata ibunya pun bisa merasakan kebahagiaan yang sama. Mereka sendiri tidak menyangka kalau anaknya Aksa mau berkunjung ke rumah mereka.


"Gimana tadi toko, bu. Ramai? " tanya Dika untuk memecah keharuan di hati ibunya.


"Iya, alhamdulillah Dik, tadi toko ramai. Banyak yang menanyakan gorengannya Maira. Ya, ibu bilang hari ini Maira libur, karena diajak keluar sama kamu. " Kata Bu Ayu yang mulai bisa mengendalikan emosinya.

__ADS_1


"Syukurlah... Gorenganmu banyak di cari, Mai. " Kata Dika sambil menyenggol lengan istrinya.


"Iya, alhamdulillah mas. sedikit-sedikit kita ada pemasukan. Iya kan bu? "


"Iya Mai. benar itu. Untunglah, kamu membukakan usaha untuk Maira Dik. Jadi bisa nambah penghasilan di rumah ini. " Kata Bu Ayu yang sangat bahagia, kini rumah tangga anaknya sudah baik-baik saja dan hubungan dengan mantan istrinya dan anaknya juga sudah membaik tidak ada dendam dan sakit hati lagi diantara mereka. Semua berjalan sebagaimana mestinya.


"Ya sudah kalau begitu beristirahatlah, istrimu pasti capek, karena seharian tadi tidak beristirahat. " Ujar bu Ayu.


"Iya bu. Mai kamu kekamar dulu, aku mau ngunci pagar sama toko dulu. " Dika lalu beranjak untuk mengunci semua pintu. Setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya dan berbaring di samping istrinya.


"Maafkan sikap Aksa tadi siang ya? " Ucap Dika sambil memeluk istrinya.


"Nggak apa-apa, mas. Namanya juga anak kecil, tadi mbak Yesha sudah cerita semuanya, mas. Mungkin Aksa cemburu sama aku, mas. "


"Iya aku rasa juga begitu. "


Saat mereka berdua hendak mengarungi mimpi, tiba-tiba ponsel Dika berbunyi. Dika tidak langsung mengangkat ponselnya, karena dia sangat mengantuk. Maira yang merasa terganggupun segera mengangkat telpon Dika, karena suaminya tidak mau mengangkatnya.


"Hallo... "


"Iya Hallo. siapa ya? "


"Apakah ini nomor ponsel tuan Dika? "


"Iya benar, saya istrinya. Ada apa, ya? "


"Kami dari kepolisian, Kalau bisa kami ingin bicara tuan Dika. "


Mendengar kalau itu telepon dari kepolisian Maira langsung tertegun. Dan segera membangunkan suaminya.


"Mas... ini telepon dari kepolisian. Ingin bicara denganmu katanya."


Mendengar itu Dika langsung bangun dan mengambil ponselnya.


"Iya, saya Dika ada apa ya? " tanya Dika saat. Mengangkat teleponnya.


..................


"Apa? "


.................

__ADS_1


"Baik saya akan kesana. "


.................


__ADS_2