Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
#S2 Dika 36


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Maira sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya , mual dan muntah tidak lagi dia rasakan , karena merasa cemas setelah semalam dia tidak bisa tidur dan hanya memejamkan mata selama berapa jam saja . Sehingga dia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan juga hati-hati . Dia juga sudah membuka tokonya , dan melayani beberapa pembeli yang datang . Semua dilakukan seperti biasa , agar tidak ada yang curiga kalau mereka sedang berkabung .


Tempat pukul 06.00 pagi , Dika dan Bu Ayu sudah sampai di rumah . Mereka berdua pulang dalam keadaan Sendu . Maira langsung menyambut kedatangan suami dan ibu mertuanya itu . Ya segera membuatkan teh , kalau orang yang sangat dia sayangi . Ketika langsung memeluk tubuh Maira , dan menangis di dalam dekapannya . Maira membiarkan saja suaminya itu meluapkan segala emosi di dalam dirinya . Bu Ayu yang juga sudah tidak tahan lagi , segera masuk kamar dan mengurung diri di kamar . Meratapi nasib anaknya Bagus yang harus berakhir mengenaskan .


Hari ini Dika tidak masuk kerja, semalam Dika sudah mengambil beberapa foto pemakaman Bagus di tengah malam lengkap dengan dia sendiri yang juga mengenakan APD bersama ibu Ayu dan para petugas Kepolisian juga tenaga medis yang bersangkutan . Dan mengirimkannya kepada Abhi langsung dan menceritakan apa yang terjadi pada kakaknya kepada Atasannya itu . Abhi mengerti dan memberikan Dika izin untuk tidak masuk kerja selama tiga hari . Dika sangat berterima kasih kepada Atasannya itu , yang juga Ayah sambung Aksa.


Setelah tenang , Dika lalu melepaskan pelukannya dari istrinya . Dia Lalu menceritakan apa yang terjadi pada Bagus , selama tiga tahun terakhir ini . Maira tidak percaya dengan apa yang dia dengar , kenapa salah satu anggota keluarga ini bisa melakukan hal buruk seperti itu .


Humaira langsung membawa Suaminya ke kamar , dan menyuruhnya segera mandi. Dia sendiri segera ,menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya . Setelah itu dia segera menyiapkan makanan untuk suami dan ibu mertuanya . Setelah melihat nasi pagi hari, tiba-tiba dia merasa mual , tapi Maira menahannya. Saat ini yang harus kuat adalah dia sendiri. Karena suami dan ibu mertuanya dalam keadaan bersedih.


"Mas, makan dulu aku sudah menyiapkan makanan untukmu dan ibu. " kata Maira menawarkan makanan kepadanya setelah melihat suaminya selesai berganti pakaian.


"Nggak nafsu makan, Mai. " keluh Dika.


Maira lalu mengambil nasi yang sudah berisi lauk dan sayur sudaj dia siapkan.


"Makan mas, biar kamu nggak sakit. Kalau kamu sakit siapa yang jagain aku dan anak kita. " kata Maira yang mencoba merayu suaminya itu, dan menyuapkan satu sendok nasi kedalam mulut Dika. Dan akhirnya Dika mau menerima suapan dari istrinya.


"Kamu nggak mual Mai , Biasanya kalau melihat nasi kamu mual . " tanya Dika yang melihat istrinya terlihat biasa saja tidak seperti biasanya.


"Enggak kok mas. Yang penting mas Dika selesaikan makannya dulu. " Maira tersenyum, Setengah mati dia menahan rasa mual di dalam perutnya. Hingga di suapan yang terakhir, dia sudah tidak bisa menahannya lagi dan segera lari ke kamar mandi untuk memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya.


"Mai.. kamu nggak apa-apa? " tanya Dika yang berubah panik.


"Nggak apa-apa mas. " Kata Maira yaang memaksakan senyumnya.


Dika langsung memeluk tubuh Maira yang lemas.


"Maafkan aku Mai. Aku tidak tau kalau kamu menahannya sejak tadi. " kata Dika penuh penyesalan.


"Aku tidak apa-apa mas. Di saat seperti ini aku harus kuat, karena saat ini mas Dika sama Ibu sedang berduka. Cuma masalah mual muntah aja aku bisa menahannya mas." Ujar Maira menguatkan dirinya.


Mendengar ucapan Maira, Dika merasa sangat bersalah. Seharusnya dia lebih kuat sebagai kepala keluarga di rumah ini. Dan memperhatikan istrinya yabg sedang hamil dan mengalami pagi yang menyiksa. Kenapa dia bisa melupakan itu?


Maira memang tidak bisa melihat nasi di pagi hari. Namun di siang sampai malam hari jangankan melihatnya, Maira bahkan bisa memakannya dengan lahap. Demi dia mau makan, Maira harus menahan rasa mualnya itu.

__ADS_1


Dika lalu mengajak istrinya itu duduk di sisi ranjang. "Maafkan aku ya, karena sudah lupa pada kondisi mu. " kata Dika lagi sambil menggenggam erat tangan Maira.


Maira mengangguk lalu berhambur memeluk Dika.


"Hari ini libur jualan dulu ya , kita tidur bareng. semalam katanya kamu nggak bisa tidur. "


'Iya mas. "


Dika lalu keluar dari kamarnya, dan menutup tokonya.


"Kenapa tutup, mas? " tanya tetangga sebelah rumah.


"Maira sedang nggak enak badan, bu. Jadi saya suruh istirahat dulu. Nanti kalau sudah mendingan saya suruh buka. " Jawab Dika yang langsung menutup tokonya. Pagar rumah dan pintu. Mereka ingin istirahat hari ini, karena semalaman tenaga dan pikiran mereka telah terkuras karena kejadian yang tak terduga.


Dia lalu kekamar ibunya, dilihatnya sang ibu tengah bersedih. Dika mengatakan kepada ibunya, kalau dia harus makan. Kalau tidak Maira akan sedih dan memaksa ibu makan seperti tadi saat dia memaksanya makan, dengan menahan rasa mual di perutnya.


Mendengar hal itu bu Ayu segera makan apa yang sudah Dika siapkan. Walau hanya kemasukan sedikit makanan tapi itu cukup untuk mengisi tenaganya yang terkuras karena menangis dan bersedih. Dia juga tidak ingin Maira kepikiran tentang dirinya dan Dika. Semua harus baik-baik saja.


Setelah melihat ibunya mau makan, Dika segera kembali ke kamarnya, dilihatnya istrinya itu sudah tertidur lelap. Dia lalu membaringkan tubuhnya di samping Maira, lalu segera memeluknya.


"Maafkan aku, Mai. Dan terima kasih karena kamu sudah hadir di dalam hidupku. Aku akan menjagamu dan anak kita nanti. " Dika lalu mengecup kening Maira dalam dan lembut.


Tengah hari, Maira terjaga dari tidur nya dia melihat jam dinding kamarnya ternyata sudah jam satu siang. Dilihatnya ke samping kanannya suaminya juga masih tertidur pulas. Maira kemudian membalikkan tubuhnya untuk menghadap sang suami. Di belainya wajah suaminya yang sedang lelap. Wajah lelah dan sendu tampak di sana.


Dika yang merasa terganggu dengan sentuhan Maira mulai mengerjapkan matanya, Dan mencekal tangan Maira yang sudah mengganggu tidurnya.


"Maaf, mas. Kalau aku mengganggu tidurmu. "


"Tidak, sayang. Memang sudah waktunya bangun." Ujar Dika yang tidak mau istrinya merasa bersalah.


"Apa kamu sudah bangun sejak tadi? " tanya Dika.


"Tidak, aku juga baru bangun, karena perutku sudah merasa lapar. "


Mendengar Maira lapar, Dika langsung bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Ayo makan kalau lapar. Apa kau ingin sesuatu untuk makan siang. "


"Sepertinya makan bakso enak mas." ucap Mairs spontan setelah mendapat tawaran dari Dika.


"Baiklah... kita sholat dulu ya, setelah itu kita cari bakso di luar. "


Maira langsung bangkit dari tidurnya dan dengan langkah cerianya dia segera masuk ke kamar mandi, untuk segera melakukan kewajibannya. Begitu pula dengan Dika yang juga menyusul Maira.


Dika dan Maira keluar dari kamar , setelah mereka siap. Bu Ayu juga sudah bangun dari tidurnya, dan melihat Dika dan Maira sudah bersiap ingin keluar.


"Mau kemana kalian? "


"Pengen ngebakso, bu. Lagi pula Maira tidak masak tadi. Ibu mau ikut apa dibungkus aja,atau ibu pengen makan lainnya? " tanya Dika kepada ibunya.


"Kalian pergi saja, berdua. Ibu dirumah saja. Bungkusin bakso saja buat ibu. " kata Bu Ayu.


"Ya sudah, bu. Kalau begitu kami berangkat dulu, bu. Assalamu'alaikum. " Dika dan Maira pamitan kepada bu Ayu.


"Waalaikumsalam."


Dika lalu menggandeng Maira keluar dari rumah.


"Kita naik motor apa mobil, Mai? "


"Motor aja mas, cari yang deket-deket aja. " Kata Maira.


"Baiklah," Dika segera mengeluarkan motornya.


Mereka berdua segera melaju mencari warung bakso yang enak.


"Mas, apa aku nggak apa-apa kalau selalu minta-minta makanan seperti ini. " Tanya Maira sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Dika.


"Nggak Apa-apa Mai, Selama aku masih mampu untuk membahagiakanmu. Lagi pula yang kamu minta hanya sebatas makanan dan itupun harganya masih terjangkau. " ucap Dika sambil memegang tangan Maira .


"Kata orang , jika kita membahagiakan istri . Maka Rizki kita akan mengalir dari tempat yang tidak kita duga . Dan aku percaya akan hal itu ." kata Dika lagi .

__ADS_1


Maira semakin mengeratkan pelukannya di pinggang di , dan menyandarkan kepalanya di punggung suaminya. Merasakan sebuah kenyamanan , yang diciptakan oleh mereka berdua .


Walaupun hatinya masih berduka , tapi Dika berusaha menutupinya dengan senyuman . Agar istrinya , tidak merasakan kekhawatiran yang berlebihan . Karena itu tidak baik untuk kesehatannya dan juga bayinya . Dika akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga mereka berdua .


__ADS_2