Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
#S2 Dika 35


__ADS_3

"Kami dari kepolisian, Kalau bisa kami ingin bicara dengan tuan Dika. "


Mendengar kalau itu telepon dari kepolisian Maira langsung tertegun. Dan segera membangunkan suaminya.


"Mas... ini telepon dari kepolisian. Ingin bicara denganmu katanya."


Mendengar itu Dika langsung bangun dan mengambil ponselnya.


"Iya, saya Dika ada apa ya? " tanya Dika saat. Mengangkat teleponnya.


..................


"Apa? "


.................


"Baik saya akan kesana. "


.................


Dika langsung bergegas mengganti banjunya dengan celana panjang dan kaos, tak lupa jaket karena hari sudah terlalu malam. "


"Ada apa mas?" tanya Maira yang melihat kepanikan di wajah suaminya .


"Kamu di rumah aja ya sayang , aku akan ke kantor polisi bersama ibu kemudian ke rumah sakit."


"Iya Memangnya ada apa . "


"Mas Bagus kritis , saat ini dia sedang dalam pengawalan polisi dirumah sakit. Aku disuruh ke kantor polisi dulu, setelah itu baru ke rumah sakit." Dika menjelaskan.


Mendengar hal itu , Maira merasa lemas . Karena dia tidak menyangka , kakak iparnya yang tidak pernah pulang . Tiba-tiba muncul, dengan membawa kabar buruk .


"Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal sendiri di rumah ?" Tanya Dika yang sebenarnya tidak tega meninggalkan istrinya di rumah sendirian .


"Aku tidak apa-apa Mas , Pergilah bersama ibu . Aku akan menjaga rumah ." Kata Maira dengan suara sedikit tercekat . Karena dia sendiri sebenarnya tidak ingin ditinggalkan oleh Dika .


Tapi apa boleh buat , keluarga Dika Sedang dalam masalah saat ini . Dia harus makluminya . Lagi pula kalau dia ikut ke rumah sakit , itu tidak akan baik untuk kesehatannya dan juga janinnya.


Jika segera keluar dari kamarnya diikuti Maira di belakangnya , perlahan Dia mengetuk pintu kamar ibunya . Sedikit lama , karena mungkin ibunya itu sudah terlelap . Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam , jadi pantas saja kalau ibunya mungkin sudah berlayar kalau mimpi .


Setelah menunggu beberapa saat , akhirnya pintu kamar terbuka .


"Ada apa Dik, kenapa membangunkan ibu malam-malam ?" tanya bu Ayu sambil menguap.


Ibu Cepatlah ganti pakaian yang nyaman , dan gunakan masker serta jaket ." Dika segera menyampaikan maksudnya


"Memangnya ada apa , Kenapa Ibu harus ganti pakaian segala ?" Tanya Bu Ayu yang tidak mengerti maksud Dika.


"Barusan aku ditelepon dari pihak Kepolisian , katanya saat ini Mas Bagus kritis , dan sedang berada di rumah sakit . Kita harus ke kantor polisi Untuk menandatangani laporan . Setelah itu kita baru bisa ke rumah sakit untuk melihat keadaan Mas Bagus ." Kata Dika pada akhirnya.


Mendengar itu , Bu Ayu menutup mulutnya tidak percaya . Anaknya yang tidak pernah ada kabar berita , tiba-tiba dinyatakan kritis dan saat ini dalam pengawasan Kepolisian . Memangnya apa yang terjadi pada bagus ? batin Bu Ayu , tapi dia hanya diam dan segera melakukan perintah Dika untuk berganti pakaian yang lebih nyaman .

__ADS_1


"Sayang , kamu Beneran tidak apa-apa kan , aku tinggal sendiri di rumah ." Lagi-lagi Dika bertanya kepada istri nya itu.


"Iya Mas , aku baik-baik saja . Segera selesaikan urusanmu . Agar cepat kembali . " kata Maira menenangkan kecemasan suaminy.


"Baiklah , kunci pintu dan pagar rapat-rapat .Juga kunci pintu kamar . Jangan bukakan pintu kepada siapapun , yang ingin bertamu malam-malam tanpa ada ibu dan aku . " Dika memberikan peringatan kepada istrinya.


"Iya Mas, aku mengerti . " Maira membalas Diks dengan senyuman yang menenangkan hati suaminya.


Akhirnya, Dika dan Bu Ayu segera pergi dengan menggunakan mobilnya. Maira segera menutup semua pagar dan pintu rumahnya dengan teliti, hingga tidak terlewat satupun. Dia lalu masuk ke dalam kamar dan segera mengunci pintunya. Maira berdiam diri di dalam kamar mencoba memejamkan matanya, namun tidak bisa. Dia tetap memikirkan apa yang terjadi sebenarnya.


Di dalm Mobil.


Suasana tampak hening, tak ada satupun dari mereka berdua yang berbicara. Mereka seolah hanyut dalam pikiramnya masing-masing.


Karena jalanan yang lengang akhirnya Dika dan bu Ayu sampai di kantor polisi dengan cepat. Dika segera memarkirkan mobilnya, setelah itu menemui petugas polisi yang berjaga.


"Maaf Pak, Saya Dika. Tadi saya di telpon dari pihak kepolisian untuk datang kemari. Karena menyangkut kakak saya Bagus." kata saat bertemu dengan salah seorang petugas jaga.


"Oh, Bagus ya. Mari silahkan duduk." kata polisi itu dengan sopan.


Dika dan bu Ayu segera duduk berhadapan dengan petugas polisi di depannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada kakak saya, pak. Tiga tahun lebih dia tidak pernah pulang ke rumah, tiba-tiba kami mendapatkan telpon dari kepolisian." Tanya Dika yang sudah sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada kakaknya.


"Begini Pak Dika. Sebelumnya jangan terkejut dengan apa yang akan saya sampaikan. " polisi itu lalu menyerahkan sebuah berkas laporan, dimana ada sebuah foto Bagus disana.


"Perhatikan secara seksama apakah dia Bagus kaakak anda? "


"IYa Dika, ini Bagus. Bagus anakku. ' kata bu Ayu sambil menangis.


" Apa yang terjadi pada anakku pak polisi? " tanya Bu Ayu dengan deraian air matanya.


"Maaf bu, sesuai laporan di sana, anak ibu adalah tawanan kami disini. Dia ditangkap karena penyalahgunaan obat-obatan terlarang, dan dia juga seorang pengedar. Kami sudah menangkapnya sekitar dua setengah tahun yang lalu. Bagus sendiri tidak pernah mengatakan kepada kami siapa keluarganya. Karena dia tidak ingin membuat malu keluarganya. Hingga dua tahun lalu dia di vonis HIV oleh dokter, karena sering sakit-sakitan dan timbul gejala penyakit menular itu. " Polisi menceritakan apa yang terjadi pada Bagus selama ini.


Bu Ayu yang mendengar itupun terkejut. Hingga menangis histeris. Sedangkan Dika jauh lebih tenang. Dia berusaha menahan dirinys dari keterkejutan nya.


"Hingga dia harus kami tempatkan di ruangan isolasi agar tidak menularkan ke tahanan lainnya. Sampai tadi pagi tiba-tiba dia kambuh dan kami membawanya ke rumah sakit, dan malam ini dia dinyatakan kritis. " kata petugas polisi itu lagi, sambil mencari sesuatu di kaci meja kerjanya.


"Ini surat dari Bagus yang ingin dia berikan kepads ibu dan keluarganya. " Kata polisi iti sambil memberikan secarik kertas kepada Dika.


Dika segera menerimanya dan membuka isi dari pesan yang ditulis Bagus untuk mereka.


Ibu, maafkan Bagus karena tidak bisa menjadi anak kebanggaan ibu selama ini.


Dika, maafkan mas. Karena tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu dan Dila. Maafkan aku yang sudah menjadi beban kalian. Maafkan aku Yang sudah menjadi benalu di keluarga kita selama ini.


Dik, Hutangku padamu terlalu banyak, Jika boleh aku memohon padamu ikhlaskan hutang-hutangku padamu, agar aku tidak mendapatkan siksaan yang lebih mengerikan di sana.


Maafkan aku, karena telah menjadi Aib untuk kalian semua. Harapanku, setelah aku mati. Jangan bawa aku ke rumah. Langsung makamkan saja aku. Agar kalian tidak mendapatkan hinaan dari masyarakat. Biarlah aku yang menanggung aib ini sendirian.


Wassalam

__ADS_1


Bagus.


Dika dan Bu Ayu membaca surat dari Bagus langsung berpelukan. Mereka seperti membaca isyarat kematian Bagus.


"Pak bolehkan kami menemui mas Bagus?


" Boleh saja anda melihat Bagus. Tapi anda tidak boleh mendekat. Karena dia berada di ruang isolasi. Yang artinya penyakit Bagus itu sangat berbahaya, dan dapat menular. Dan saya tekankan kepada kalian berdua, apa yang Bagus sampaikan dalam surat itu sudah benar. Jika terjadi sesuatu kepadanya, maka janganlah membawanya pulang ke rumah. " kata polisi itu.


"Baik Pak, kami mengerti. Sekarang katakan kepada kami dimana mas Bagus di rawat. "


"Di rumah sakit DX. ruang isolasi. Disana ada dua petugas kami yang menjaganya. Tapi sebelumny tanda tangani ini dulu, pak Dika. "


Dika lalu membaca dengan seksama tentang apa yang diberikan polisi itu kepadanya. Setelah dirasa tidak ada yang aneh , Dika lalu menandatangani surat laporan tersebut .


Dia dan Bu Ayu , kemudian sekarang pergi menuju ke rumah sakit DX . Sesampainya di sana , Dika langsung menuju ke bagian informasi untuk mencari tempat Bagus dirawat . Hingga pada akhirnya , mereka sampai di ruang isolasi tempat Bagus di rawat .


Bu Ayu ingin masuk ke dalam ruangan , namun segera dicegah oleh para petugas medis ,dan petugas dari kepolisian .karena mereka tidak ingin mengambil resiko keluarga tersangka akan tertular penyakit yang diderita oleh Bagus . Dengan terpaksa , Dika dan Bu Ayu hanya bisa melihat dari balik kaca ruang isolasi . Di sana bagus sudah dipasang berbagai alat bantu nafas dan detak jantung .


Terlihat bagus menoleh ke arah jendela kaca , dan Melambaikan tangannya kepada Dika dan Bu Ayu . Melihat itu tangis bu Ayu kembali pecah , karena melihat keadaan Bagus yang tidak berdaya . Dan lambaian tangan itu , seperti sebuah salam perpisahan yang diberikan Bagus kepada mereka berdua .


Benar saja , setelah 15 menit berlalu . terdengar suara monitor pendeteksi detak jantung di ruangan isolasi itu terdengar flat , yang menandakan kalau kondisi pasien tidak baik-baik saja . Beberapa tenaga medis segera memasuki ruangan isolasi dengan menggunakan APD lengkap untuk melihat kondisi Bagus . Mereka semua menggelengkan kepala , yang artinya Bagus sudah tidak bisa tertolong lagi .


Melihat itu , tangisan Bu Ayu pecah lagi . Dan dia sudah tidak bisa menahan diri lagi hingga akhirnya dia pingsan . Beberapa perawat yang sedang lewat , segera membantu Bu Ayu dan dibawa ke ruang rawat lainnya .


Jika tidak tahu apa yang harus dia lakukan ,ingin menghubungi istrinya , tapi dia takut kalau Maira sedang tidur . Karena istrinya juga butuh istirahat untuk kesehatannya dan kesehatan bayi yang sedang dia kandung . Lahirnya Dika membuka ponselnya , dan dilihatnya sebuah pesan masuk yang dikirimkan oleh Mayra .


"Lima menit lalu. apa Maira belum tidur ? Gumam Dika dalam hati .


Dia mencoba menghubungi Maira , berharap Maira mengangkat teleponnya . Dan benar saja di panggilan pertama Maira sudah mengangkat teleponnya .


"Ada apa mas , Apa yang terjadi ? " Tanya Mahira yang langsung pada intinya .


"Kamu belum tidur Mai ?" Tanya Dika yang mendengar suara Maira masih terdengar nyaring


"Aku nggak bisa tidur Mas , kepikiran kamu ."


"Aku baik-baik saja Mai . Sekarang aku ada di rumah sakit. Mas Bagus meninggal Mai , baru saja meninggal . Dan sekarang ibu pingsan . Aku tidak tahu harus bagaimana . Jadi aku menghubungimu ." Kata Dika dengan suara tercepat


Mendengar hal itu , Maira tak percaya . Karena dia juga belum pernah melihat sosok Bagus di keluarga ini . Dan tiba-tiba mendapatkan kabar Kalau Bagus sudah meninggal .


"Terus aku harus bagaimana Mas ? Apakah aku harus ke rumah sakit ."


"Jangan Mai , ini sudah tengah malam kamu beristirahatlah . Kami juga akan segera melakukan pemakaman untuk Mas Bagus . Karena jenazah tidak boleh dibawa pulang , dan harus segera dimakamkan . Nanti sampai di rumah aku akan menjelaskannya kepadamu .Jangan katakan kepada siapapun tentang hal ini Mai. "


"Baiklah Mas kalau begitu , aku akan jaga rahasia ini. Mas Dika hati-hati di sana ya ."


I"ya , setelah menyelesaikan semua administrasi dan pemakaman mas agus . Kami akan segera pulang ."


"Baik Mas aku akan menunggumu ."


Dika merasa sedikit tenang setelah mendengakan suara istrinya. Kina dia hanya tinggal menunggu proses yang akan dilakukan pihak medis dan kepolisian tentang jenazah Bagus.

__ADS_1


__ADS_2