Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
#S2 Dika 24


__ADS_3

Pukul 16.30 Sebuah mobil pickup berhenti di depan rumah Dika. Dika yang tau kalau itu adalah barang pesanannya yang datang langsung keluar menemui orang yang mengantarkan Mesin cucinya . Maira dan Bu Ayu yang penasaran pun ikut keluar melihat Apa yang dilakukan Dika .


Bu Ayu merasa tak percaya , melihat apa yang diturunkan dari mobil pick up tersebut . Sebuah unit mesin cuci , diturunkan kemudian Dika menyuruh mereka untuk menaruh di tempat yang sudah disiapkan . Maira pun mendapatkan pelajaran kilat , cara mencuci pakaian menggunakan mesin cuci . Dan dia merasa senang , Karena pekerjaannya akan lebih mudah .


Setelah kepergian pegawai tadi , Maira langsung memeluk suaminya . Dan mengucapkan terima kasih berkali-kali . Bahkan dia juga tak sungkan menghadiahkan ciuman di pipi Dika. Dia tak peduli walau ada ibu mertuanya .


"Kamu juga beli mesin cuci , Dik. " tanya Bu Ayu , yang merasa penasaran , kenapa Dika membeli banyak barang hari ini.


"Iya Bu , aku kasihan kepada Maira . Kalau setiap pagi dia mencuci pakaian di belakang sendirian. Aku hanya memudahkannya dalam meneyelesaikan pekerjaan rumah. Iya, kan Mai?" kata Dika kepada ibunya.


"Apalagi kemarin saat malam pertama kami , dia memaksakan melakukan pekerjaan rumah. Walaupun dia sedang merasa tidak nyaman dengan keadaannya . Aku hanya ingin mempermudahkan pekerjaan istriku, bu." kata Dika lagi.


"Ya sudah terserah kamu saja , jika memang ini akan membantu Maira untuk mempermudah melakukan pekerjaannya ." ujar bu Ayu pada akhirnya.


Setelah masalah mesin cuci selesai, mereka kembali ke kamar masih-masing, kecuali Dika yang pergi ke masjid untuk berjamaah.


Kemudian mereka makan malam dengan menu yang sudah di siapkan Maira. Sepertinya Dika selalu menyukai makanan yang di masak istrinya itu , karena dia selalu nambah setiap kali makan makanan yang dimasak istrinya .


"Dik, kalau kamu makan terus seperti itu , kamu bisa gendut loh kalau nggak diimbangi dengan olahraga ." Ujar bu Ayu mengingatkan .


"Aku tiap hari olahraga kok Bu , sama Maira tiap pagi dan malam malahan, iya kan, Mai? "Kata Dika dengan kerlingan mesum kepada istrinya .


Maira langsung mencubit kaki Dika dari bawah , karena dia merasa kesal selalu digoda oleh suaminya itu .


"Aduhh, sakit sayang ." Kata Dika sambil mengusap kakinya.


"Biarin Siapa suruh Godain aku terus ." Kata Maira sambil mencebikkan bibirnya.


Lagi-lagi Bu Ayu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan menantunya itu . Dia melihat sisi berbeda pada diri Dikaa , setelah menikah dengan Maira . Gairah hidupnya seperti bangkit kembali . Dan Bu Ayu merasakan hal itu , dia juga merasa bahagia untuk kebahagiaan Dika .


Setelah makan malam, seperti biasa mereka berkumpul di ruang keluarga, dan menikmati kebersamaan. Maira menceritakan apa saja yang dia lakukan tadi pagi sampai siang kepada ibunya. Dia antusias menceritakan semua kejadian yang dia alami saat itu . Dan dia juga sangat bahagia karena pada akhirnya dia akan memiliki ponsel yang diberikan suaminya. Keadaan kembali hening saat Maira menyudahi ocehannya .


"Sekarang yang mau Ibu tanyakan adalah Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu Dika?" Tanya Bu Ayu Yang penasaran dengan uang yang dimiliki Dika , dia tidak ingin Dika berbuat yang aneh-aneh lagi seperti istrinya Vio dulu .


Dika menghembuskan nafasnya kasar , sebelum memulai ceritanya . Bu Ayu dan Maira pun memasang telinga baik-baik , untuk mendengarkan cerita Dika .


"Ibu Ingat rumah yang Vio berikan kepadaku ? " Tanya Dika kepada ibunya .


"Iya Memangnya kenapa ? "

__ADS_1


"Aku menjualnya Bu . Dan rumah itu sudah terjual ." Ujar Dika pada akhirnya


"Kenapa kamu jual ? Kenapa tidak kamu kontrakan saja . " Tanya Bu Ayu yang tidak mengerti dengan jalan pikiran anaknya .


"Tidak , bu. Setelah menikah dengan Maira . Aku putuskan untuk menjualnya , dan alhamdulillah . Rumah itu laku dengan cepat . Mungkin ini jalan yang diberikan Maira. " kata Dika sambil menggenggam erat tangan Maira.


"Kenapa kamu menjualnya ?" Tanya Bu Ayu lagi .


"Karena aku ingin memperbaiki rumah ini Bu , Lihatlah bagian depan rumah kita , bobrok dan perlu diperbaiki di beberapa bagian. Kalau hujan juga bocor di beberapa tempat. " kata Dika yang mengatakan rencananya kepada Ibunya.


Bu Ayu mengangguk mengerti .


"Rumah itu terjual dengan harga lima ratus juta, bu." Kata Dika jujur kepada ibu dan istrinya .


"Wah banyak uang dong kamu , Dik. "


"Alhamdulillah bu , mungkin ini sudah rezekinya Maira dan aku . Uangnya sudah aku Sumbangkan ke panti asuhan untuk shodaqoh , sebesar 2,5% . Sisanya aku masukkan ke dalam bank ." Kata Dika lagi.


"Terus Rencanaku adalah , Aku ingin membeli mobil kecil untuk kita, walau mobil bekas. Agar kita bisa pergi bertiga. Aku juga ingin memperbaiki rumah dan sekalian membuatkan toko untuk istriku berjualan di depan rumah. Entah itu mau jualan apapun , yang penting tempatnya sudah ada ,nyaman dan mapan . Itulah keinginanku ." Ujar Dika yang mengatakan rencananya.


"Baguslah kalau begitu , Ibu jadi tidak kepikiran rumah ini kalau musim hujan . Segera perbaiki saja mumpung masih musim kemarau . Dan untuk membeli mobil , sebaiknya nanti saja kalau rumahnya sudah jadi ." Kata bu Ayu yang ikut senang dengan apa yang Dika rencanakan.


Mendengar itu membuat Bu Ayu dan Maira saling berpandangan.


"Apakah kamu sudah siap memiliki anak lagi Dik?" tanyaa Bu Ayu yang merasa takut, kalau Dika akan menelantarkan anaknya lagi.


"Aku siap bu. Aku ingin menjadi seorang ayah yang sebenarnya. Menjaga anakku nanti, dan bermain dengannya. " kata Dika lagi.


"Aku tidak akan menyia-nyiakan anakku, bu. Aku janji. " Janji Dika.


"Syukurlah kalau begitu. " kata bu Ayu yang merasa lega mendengar jawaban dari Dika.


Kini terungkap sudah, dari mana Dika mendapatkan uang sebanyak itu. Dan rasa penasaran itu dibayar dengan rasa lega.


Mereka kembali ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh mereka. Dika dan Maira masih berbincang sebelum tidur. Maira yang sejak tadi diam, mulai bersuara.


"Jadi selama ini mas Dika punya rumah? " tanya Maira yang masih penasaran dengan rumah yang dimiliki Dika.


Dika mengangguk. ”Iya. itu adalah rumah pemberian Vio, istri keduaku. "

__ADS_1


"Mas Dika selama ini hanya menceritakan mbak Yesha, tapi kenapa tidak menceritakan tentang mbak Vio? " tanya Maira yang juga ingin tau.


"Kalau aku menceritakan Vio, aku takut kamu akan meragukanku Mai. "


" Kenapa aku meragukan mas Dika? "


"Karena Vio adalah masa kelamku,Vio adalah sebuah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. " kata Dika sambil membaringkan tubuhnya. "Apa kamu juga ingin aku menceritakan masa kelamku bersama Vio? tapi aku harap kamu tidak menyesal setelah mendengarnya, dan tidak meragukan diriku yang sekarang. Karena InsyaAllah aku sudah berubah. "


Maira ikut membaringkan tubuhnya dan tidur di dada Dika , lalu memeluknya. "Aku percaya kalau mas Dika saat ini jauh lebih baik dari masa lalu. Ceritakan saja mas, InsyaAllah aku akan menahannya. Aku hanya tidak ingin mas Dika kelak melakukan kesalahan yang sama lagi. "


"Baiklah, semoga kamu tidak menyesal memintaku menceritakan semua ini. " kata Dika yang sedikit ragu akan menceritakan aibnya dengan masa lalu nya.


Maira menggeleng.


Dika lalu menceritakan siapa Vio dan awal mula dia mengenal Vio, hingga perceraian dengan dengan Yesha dan pernikahan kilat dengan dengan Vio. Gaya hidup bebas yang pernah dia jalani selama dengan Vio dan sebab dia mengabaikan anak istrinya adalah Vio. Ya seperti yang dikatakan Dika di awal. Vio adalah sebuah kasalahan.


Mendengar cerita Dika tentang Vio, Maira semakin mengeratkan pelukannya kepada Dika, dengan jantung yang berdetak tak beraturan. Kini dia tau penyebab kenapa Dika bercerai dengan Yesha, yaitu adanya pihak ke tiga.


"Mai... " panggil Dika kepada Maira karena dia merasa sesak dipeluk seperti itu oleh Maira.


Dika mengerti perasaan Maira sebagai seorang wanita. Dia pasti membayangkan saat dirinya berada di posisi Yesha saat ini. Perlahan Dika membelai rambut Maira dengan lembut.


"InsyaAllah aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama, Mai. Masa lalu adalah sebuah pembelajaran bagi hidup kita agar bisa menapaki masa depan dengan lebih baik. Dan saat ini masa depanku adalah bersamamu. Aku harap kau bisa menjadi penerang jalanku dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang. " Kata Dika untuk menenangkan istrinya.


Maira mendongak dan menatap Dika dengan wajah sendunya.


"Kenapa mas Dika dan ibu jahat sekali kepada mbak Yesha dulu. " kata Maira dengan mata berkaca-kaca.


"Aku akui itu, tapi aku juga tidak bisa mengubah masa lalu. Aku akan memperbaiki nya di masa depan dengan pasanganku yang sekarang yaitu kamu. Ibu juga sudah berubah menjadi lebih baik sekarang. Kau tau, kenapa aku mengatakan kepada ibu dan kamu berapa nominal uang yang aku terima setelah menjual rumah Vio? "


Maira menggeleng, tidak mengerti maksud suaminya.


"Jika dulu , aku memiliki uang sebanyak itu, ibu pasti sudah bingung meminta jatah untuknya. Tapi kau lihat tadi bagaimana respon ibu. Dia bahkan tidak peduli aku memiliki uang sebanyak itu. Itulah bedanya ibu yang sekarang dan ibu yang dulu Mai."


Dika masih mengusap rambut Maira dengan lembut. "Saat ini masa depanku bersama dengan mu Mai, Aku akan melimpahkan cinta yang banyak untuk mu dan anak kita nanti. " ujar Dika pada akhirnya, lalu dia memberikan kecupan dalam kepada Maira.


"Apa mas Dika mencintaiku? " tanya Maira saat Dika melepaska kecupan nya dengam mata penuh binar.


Dika tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Iya mungkin aku sudah mencintaimu, perasaan ini tidak pernah aku rasakan pada dua mantan istriku dulu."


__ADS_2