
Hari ini, Dila kembali menemui Yesha di rumahnya. Dia ingin membicarakan masalah tempat tinggalnya. Meski ragu, takut dan malu tapi dia harus melakukannya. Karena bagaimanapun dia membutuhkan tempat tinggal saat ini. Untuknya dan untuk anak didalam kandungnya.
Setelah melihat mobil Abhi keluar dari pekarangan rumahnya, Dila segera memanggil Yesha yang masih berada di depan rumahnya.
"Mbak."
Yesha yang merasa dipanggil pun segera menoleh, dan dilihatnya Dila yang berdiri di depan pagar. Ada rasa iba dihatinya saat melihat keadaan Dila. Andai saja dulu Dila tidak jahat padanya, mungkin saja Yesha tidak akan bersikap tega seperti ini.
"Ada apa? masuklah. " Yesha mengatakannya dengan nada dingin. Dia tidak ingin terlalu memberi hati kepada orang-orang yang sudah menyakitinya dulu.
Dila masuk dengan wajah tertunduk malu. dan menghampiri Yesha. lalu duduk berhadapan dengannya.
"Ada apa, ?" tanya Yesha dengan nada datar.
"Tentang semalam, apakah aku beneran boleh menyewa kamar kost di sini? " tanya Dila dengan ragu.
Yesha melipat tangannya di depan dada, bersikap angkuh. Tapi pada dasarnya dia sangat kasihan melihat mantan iparnya itu.
"Kamu mau ngekos disini? "
Dila mengangguk.
"Boleh aja, tapi jika ada yang tanya siapa ayah bayimu dan menanyakan masalahmu kepadaku atau kepadamu. Maka kamu yang harus memberi alasan. Aku tidak mau berbohong, hanya demi melindungimu."
Yesha mengangguk mengerti.
"Dan jika ditanya hubungan kita, katakan kalau kau tidak pernah mengenalku. Kita adalah dua orang asing. "
deg....
Perkataan Yesha benar-benar ngena di hati Dila.
"Karena benar kan? sekarang kita hanya orang asing sekarang, tidak ada hubungan darah atau pertemanan. Kita tidak sedekat itu. Bersikaplah seperti mbak Maya, itu lebih baik." ujar Yesha dengan santainya.
"Jadi, sekarang kamu mau apa lagi. " tanya Yesha yang melihat dila hanya menunduk
"Apa aku boleh minta kerja seperti mbak Maya juga mbak. " tanyanya kemudian setelah lama terdiam.
"Ini nih... yang dibilang dikasih hati malah minta jantung. Dan lihatlah sekarang, siapa yang benalu." batin Yesha pada dirinya sendiri.
" Memangnya kamu mau kerja apa. " Walau sedang kesal tapi dia juga tak tega.
"Apa aja mbak asal halal. Aku ingin memberi makan anakku dengan sesuatu yang halal. Bukan sesuatu yang haram. Meskipun aku punya banyak uang tapi itu semua hasil dari maksiat. Aku tidak mau memasukkan makanan kedalam mulutku untuk anakku dengan sesuatu yang haram. "
Mendengar itu semua, Yesha jadi terharu. Mungkin saja mantan adik iparnya ini benar-benar sudah berubah dan tidak ingin terjerumus lagi kelembah dosa demi anaknya.
__ADS_1
Yesha segera menelpon Lusi, dan menyuruhnya untuk datang ke rumahnya. Tak lama Lusi datang menghadap.
"Ada apa mbak. " tanya Lusi saat sudah berada di hadapan Yesha.
"Ini ada orang nyari kerja, apa ada kerjaan. '
Lusi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sambil nyengir kuda.
" Mbak, kalau di taruh di toko baju boleh nggak. "
Yesha mengangkat alisnya. "Kenapa emangnya. " tanyanya kemudian.
"Aku kualahan mbak di toko baju sama Santi, apalagi kalau akhir pekan mbak Yesha keluar bersaman keluarga. Dan di toko banyak orderan. Aku harus ngurus ini... itu... belum paking, ah pokonya banyak deh. " Keluh Lusi pada akhirnya.
"Jadi, ngeluh nih, ceritanya. " sindir Yesha pada anak buahnya yang pertama kali ikut dengannya dan sekarang sudah diangkat jadi kaki tangan Yesha.
Lusi nyengir mendengar sindiran dari majikannya itu. "Ya gitu lah mbak. Aku mau bilang dari kemarin-kemarin, tapi mbak Yesha kan lagi sibuk tasyakuran si baby." kata Lusi sambil mengelus perut Yesha.
"Baiklah, tempatkan dia di toko pakaian agar bisa bantuin kalian berdua. "
"Oke mbak, ayo mbak.... " Lusi tidak melanjutkan kalimat nya karena tidak tau nama orang di depannya
"Dila... "
"Maaf, bisakah aku bekerjanya mulai besok? Aku harus beres-beres tempat kost dulu dan membeli beberapa barang untuk perlngkapan disana. Karena semalam aku tidak membawa apapun, bahkan baju ini aku pinjam dari mbak Maya. "
Lusi melepas pegangan tangannya dari Dila, dan memandang kearah Yesha dan Dila bergantian.
"Jadi dia ngekost juga di sini mbak? " tanya Lusi yang baru tahu akan hal itu.
"Iya, dia kenalanannya Maya. Kamu jelaskan dulu bagaiman cara kerja disini, dan bayar kostnya. "
"Apa dipotong atau tidak mbak kostnya. "
Yesha menghembuskan nafasnya.
"Samakan dengan Maya, deh. Tapi kamu jangan bilang ke yang lain. "
"Iya mbak, aman. "
"Ya sudah kamu boleh masuk kerja besok. Lusi, kamu urus dia, aku masuk dulu. "
"Oke."
Dila memandang kepergian Yesha dengan penuh haru. Orang yang dulu ditindas nya, sekarang malah dialah yang membantunya.
__ADS_1
*********
Perusahaan Pradipta.
"Mario, panggil kan Dika agar ke ruanganku. aku ada perlu sama dia. "
"Baik, tuan. "
Abhi yang baru saja mendapat telpon dari istrinya yang menceritakan keadaan Dila dan keingininannya untuk bekerja dengannya. Abhi memutuskan untuk memberitahu Dika, bagaimanapun Dika adalah keluarganya yang harus tau keadaan adiknya.
"Selamat siang, tuan. Ada perlu apa anda memanggil saya. " tanya Dika saat mereka saling berhadapan.
"Apa kamu kehilangan salah satu keluarga mu? "
Mendengar pertanyaan Abhi, sontak membuat Dika mendongak kan kepalanya melihat Abhi.
"Dari mana anda tau, tuan. "
"Semalam Maya membawa adikmu menghadap Yesha, dan kau tau apa yang dia lakukan? Fia bersimpuh dan meminta maaf kepada Yesha. Karena dia yakin apa yang menimpanya saat ini, sua karena karm yang ia terima karena menyakiti Yesha dulu. " Jelas Abhi
"Be... benarkah tuan? Adik saya ada di tempat anda? " Dika mengalihkan perhatian Abhi.
"Iya, dia bahkan ingin menyewa kamar kost istriku, dan tinggal seperti Maya. "
Abhi lalu menceritakan apa yang dialami Dila selama ini sesuai yang ia dengar semalam. Dia menceritakan kalau Dila kehilangan satu anaknya dan baru saja menjalani operasi.
"Aku harap, kamu temui dia dirumahku. Buat pertemuan kalian seolah tak disengaja. Jangan katakan aku yang memberitahumu, agar dia tidak salah paham kepada kami. Aku hanya ingin membantunya, dan hanya ini caraku membantunya. Yaitu menceritakan semua ini kepadamu. Bagaimanapun dia adalah adikmu, kamu harus melindunginya sebagai kakak. "
"Terimakasih, tuan. Atas informasinya. Saya akan ke rumah anda nanti dengan alasan mengirimkan berkas yang tertinggal. "
"Baiklah. Oh, ya. Satu lagi. Jangan katakan apapun pada ibumu tentang adikmu yang berada di tempat kami pada ibumu. Aku tidak ingin ibumu mengatakan hal-hal kejam kepada istriku yang sedang hamil. Aku tidak ingin, istriku mendengar apapun dari mulut pedas ibumu. " pesan Abhi yang terakhir sungguh menohok dihati Dika.
"Ba... baik. Tuan. Kalau begitu, saya permisi. "
Dika undur diri dari ruangan atasannya. Dia merasa senang sekali karena atasannya itu, sudah memberikan informasi kepadanya tentang keberadaan Dila. bagaimana pun Dika selama beberapa bulan terakhir ini merasa tidak tenang dan khawatir dengan keadaan adik perempuan satu-satunya diluar sana, sedang hamil pula.
Dika lalu mengirim pesan kepada ibunya kalau dia akan pulang terlambat, untuk lembur. Dengan semangat, dia bekerja hari ini. Karena satu beban di pundaknya telah terangkat. Dia akan bertemu adiknya nanti. Dika bahkan sudah tidak mendapatkan celaan lagi di kantor dari teman-teman nya, karena posisinya yang turun. Dia berfikir, biarkan gosip itu menyebar, kalaupun lelah nanti juga hilang dengan sendirinya.
Waktu menjelang malam, Abhi juga sudan berada dirumah. Dia menceritakan semuanya kepada istrinya, agar Istrinya itu tidak merasa terkejut nanti ketika melihat Dika datang ke rumah ini. Dan Yesha menyetujui semua yang dilakukan suaminya itu.
Ting, tong.
Suara bel rumah berbunyi, mereka sepakat akan melakukan drama ini. Lama pintu tak kunjung di buka. Hingga Mata Dika melihat sosok wanita hamil berjalan dengan memegangi perutnya dengan tubuh yang sedikit kurus.
"Dila.....? "
__ADS_1