
Pak Pradipta yang baru ingat kalau anaknya ngekost disana pun langsung menghubungi Jihan agar dia datang ke rumah Yesha. Jihan yang tidak tau apapun langsung meluncur ke rumah Yesha yang jaraknya hanya beberapa langkah saja dari tempat kostnya untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Assalamu'alaikum " Jihan memberikan salam ketika akan masuk kerumah Yesha.
"Wa'alaikum salam. " balasan semua orang yang ada diruang tamu. Sekarang di ruang tamu sudah ada orang tua Yesha, Yesha sendiri dan juga pak Pradipta. Danu dan Aksa mereka sedang melihat-lihat sekeliling rumah dan tampat usaha milik kakaknya, dia sekarang punya teman ngobrol yaitu Aryo.
Jihan benar-benar terkejut, karena Papanya itu sudah akrab dengan keluarga Yesha.
"Papa... papa kok ada disini? " tanya Jihan yang penasaran dengan apa yang terjadi.
"Sini dong, papa kan juga kangen sama anaknya. " kata pak Pradipta saat Jihan menciun punggung tangannya. Lalu beralih ke kedua tangan orang tua Yesha.
"Hmm gini aja bilang kangen, kemarin-kemarin kemana aja. Sibuk terus. " gerutu Jihan kepada papanya itu.
Pak Pradipta tertawa renyah menanggapi gerutuan anaknya itu.
"Papa akrab baget sama orang tua mbak Yesha, emang papa kenal sama mereka. " bisik Jihan di telinga papanya.
"Iya dong, ternyata bapaknya Yesha ini, teman satu sekolah dulu sama papa, waktu papa masih SMP sama SMA. Trus setelah lulus sekolah, kakek dan nenek kamu ngajak ke kota untuk mengembangkan usahanya, dan kuliah papa. Sejak saat itu, papa tidak pernah lagi ketemu sama Prambudi. " Pak Pradipta menceritakan masa lalunya dengan Pak Pram kepada Jiha.
"Oh, pantes... " Jihan seolah berfikir.
"Ini anak kamu, Dip? " tanya pak Pram.
"Iya ini anak bungsu aku. Namanya Jihan, dia ngekost di tempat kostnya Yesha dan kuliah di depan sana. " kata Pak Pradipta.
"Wah kebetulan, anakku yang bungsu juga mau aku masukkan di kampus depan. Biar dekat sama mbaknya, dan bisa bantu-bantu Yesha di sini. "
"Baguslah."
"Pa, gimana kabar mas Abhi. Apa papa sudah ketemu sama dia? Jihan kangen sama mas Abhi. " rengek Jihan dengan manjanya.
"Belum, dia juga tidak masuk kerja. Dia mah gitu kalau mau ambil keputusan susah banget meyakinkan hatinya. " ujar pak Pradipta kepada anaknya itu.
"Terus gimana dong... "
"Papa cuma dapat info dia datang ke tempat kerjanya, kalau jam makan siang. Itupun cuma ngambil bekal yang dikirim Yesha, kata security di sana. "
__ADS_1
Mendengar hal itu, Jihan jadi punya ide. " Mbak, mulai besok mbak Yesha nggak perlu ngirim bekal makan siang untuk mas Abhi. Aku pengen tau gimana responnya. Apakah dia akan tetap menghilang atau bagaimana. "
"Tapi Jihan, mbak kan udah janji sama mas Abhi kalau akan mengirimkan dia makan siang terus. " kata Yesha yang merasa keberatan, karena dia sudah berjanji.
"Nggak apa-apa mbak, Jihan yang akan tanggung jawab. Mungkin mas Abhi masih bertahan dengan ke bungkamannya karena masih mendapatkan bekal makan siang dari mbak Yesha. Sekarang giliran mbak yesha yang juga harus menghilang, nggak usah ngasih dia makan. " ketus Jihan pada Yesha.
"Maaf nak Yesha, ini baru pertama kalinya kita bertemu kan. Saya sebagai papanya Abhi meminta maaf yang sebesar-besarnya jika anak-anak saya selalu merepotkan, nak Yesha." ujar pak Pradipta yang merasa sungkan karena anak-anaknya dirasa sudah memanfaatkan Yesha.
"Tidak sama sekali pak, baik Jihan maupun mas Abhi tidak merepotkan saya sama sekali. Saya sudah sangat berhutang banyak kepada mas Abhi karena sudah membantu saya menyelesaikan sidang perceraian saya dengan mantan suami, dan membantu saya membeli rumah sebelah, sehingga saya bisa membuka usaha disana. Jadi tidak ada yang di repotkan sama sekali, pak. " ujar Yesha menjelaskan semuanya kepada pak Pradipta.
Pak Pradipta mengehela napasnya.
"Nak Yesha, apakah saya boleh mengatakan sesuatu dan meminta sesuatu padamu? " Pak Pradipta mencoba memberanikan diri mengetakan sesuatu yang serius kepada Yesha.
"Apa itu pak? Jika saya bisa membantu maka akan saya bantu. " ucap Yesha dengan senyuman hangatnya.
"Ini tentang Abhi. Kamu tau kan saat ini Abhi tidak bisa dihubungi, bahkan dia keluar dari rumah setelah kami mengatakan sesuatu kepadanya. "
"Memang apa yang papa dan mama katakan kepada mas Abhi, kok sampai mas Abhi pergi dari rumah. " jihan yang bertanya.
Semua orang kini mengerti kenapa Abhi pergi. dan tidak bisa dihubungi.
"Saya ingin bertanya padamu, Yesha. Jika Abhi meyakinkan dirinya, dan dia mau membuka hatinya untukmu. Apakah kamu juga bisa membuka hatimu untuknya? Aku bertanya seperti ini sebagai seorang ayah yang pernah bersalah kepada anaknya. Karena menjodohkan nya dengan wanita yang tidak tepat. Aku tidak ingin anakku gagal untuk kedua kalinya. Aku sudah melihat luka di matanya selama lima tahun terakhir ini. Sekarang aku ingin melihat dia bahagia, bersama wanita pilihannya. " ujar pak Pradipta kepada Yesha.
"Bagaimana Yesh? " tanya pak Pram kepada Yesha dengan lembut.
"Aku tidak tau pak, selama ini aku hanya menganggap mas Abhi orang yang baik. Yang mau membantuku disaat aku kesulitan dan selalu menghibur Aksa saat dia bersedih. Untuk perasaanku kepada mas Abhi, aku tidak tau. Aku masih baru saja bercerai, rasa trauma itu masih ada. Aku takut terluka. "Ujar Yesha yang mengungkapkan ketakutannya.
" Saya paham dengan trauma itu, nak Yesha. Bahkan Abhi juga mengalami trauma itu selama lima tahun. Dan dia belum membuka hatinya sampai saat ini. Hingga dia bertemu dengan mu. Aku saksinya, dia bisa mengeluarkan senyumnya sejak pertama kali bertemu denganmu. " Sebuah suara dari luar rumah membuyarkan keseriusan yang ada di ruang tamu itu.
"Mama.... " Pak Pradipta dan Jihan terkejut melihat kedatangan mama Erinaa yang tiba-tiba.
"Kenapa mama ada di sini? " tanya Pak Pradipta kepada istrinya.
"Kenapa papa kemari tidak mengajakku? " ketus mam Erina tanpa memperdulikan semua orang.
Pak Pradipta menghembuskan napasnya.
__ADS_1
"Mama kan yang menyuruh ku untuk melihat seperti apa Yesha itu. Ya aku kemari, eh ternyata Yesha anaknya sahabatku sendiri. Dia anaknya Prambudi yangs sering papa ceritakan pada mama. " jelas pak Pradipta.
"Benarkah? " mama Erina tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Ternyata Yesha anak dari sahabat suaminya sendiri. Dunia benar-benar tak selebar daun kelor.
Mama Erina lalu menyalami kedua orang tua Yesha. Saat berada di hadapan Yesha, mama Erina langsung memeluknya.
"Yesha, mama mohon padamu. Jika Abhi membuka hatinya untukmu, tolong terima dia. Sebenarnya dia sudah menyukaimu, tapi dia belum bisa menyadari perasaannya sampai saat ini. Karena itu kami mendesaknya untuk segera meyakinkan hatinya., sebelum kamu dipinang pria lain. " ujar mama Erina masih memeluk Yesha.
Semuan orang disana pun mengerti keadaan yang dialami Abhi dan Yesha.
"Baiklah bu, tapi ijinkan saya juga memikirkannya. terlebih dahulu. Saya sama mas Abhi pernah sama-sama terluka karena hal yang sama. Jadi kami perlu memikirkannya matang-matang, agar masa lalu tidak terulang kembali. " Ujar Yesha sambil melepaskan pelukan mama Erina.
"Terima kasih, nak. Semoga kamu bisa memberikann jawaban yang kami inginkan. " kata mama Erina lagi.
Semua orang berbincang hangat setelah melakukan pembicaraan alot tentang perasaan kedua anak mereka. Hingga waktu menuju larut malam, sehingga membuat pak Pradipta dan istrinya pamit undur diri dari rumah Yesha.
"Ma, pa. Jihan punya rencana bagus, agar mas Abhi mau keluar dari persembunyian nya dan mau menyatakan perasaan nya kepada mbak Yesha.
" Apa itu? " Tanya mama Erina yang tidak sabaran.
"Kita tunggu dua sampai tiga hari, apakah mas Abhi akan bertahan saat mbak Yesha sudah tidak memberikan makan siangnya kepada mas Abhi. Jika dia tetap bersikukuh, maka Aku yang akan menyeretnya kembali pulang. " kata Jihan dengan senyum devilnya.
Pak Pradipta menggeleng kepalanya mendengar ocehan anaknya itu.
"Kamu nggak pulang, Jihan. " tanya oak Pradipta kemudian.
"Enggak pa, Besok Jihan ada kuliah pagi sampai siang. Jihan juga mau bantuin cari informasi buat adiknya mbak Yesha yang mau kuliah disana. "
"Baiklah, kalau begitu. Kamu cepat kembali dan tidurlah. Ini sudah malam. Jangan sampai begadang. " nasehar pak Pradipta kepada anak gadisnya itu.
"Siap papa. "
Pak Pradipta dan mama Erina akhirnya kembali ke rumah.
Senyuman jahat tak lekang dari bibir Jihan.
"Kali ini, aku akan mengerjaimu habis-habisan mas. Salah sendiri pergi nggak bilang-bilang. " Jihan berlari kecil menuju kamar kostnya untuk beristirahat.
__ADS_1