
Perusahaan Pradipta
Abhi yang sudan berangkat sejak pagi, tengah melakukan rapat dadakan dengan tim audit di perusahaan. Semua laporan keuangan telah ia serahkan kepada tim, untuk mereka periksa. Abhi kepada timnya itu untuk menyelesaikan masalah ini kurang dari tiga hari. Dia harus mengantongi nama orang-orang yang melakukan korupsi di perusahaan nya. Dan segera mendepak mereka pergi dari perusahaan, agar saat dia bekerja sudah tidak ada lagi tikus nakal yang bermain-main dengannya.
"Jadi, saya minta kepada kalian semua. Lakukan sebaiknya kurang dari tiga hari.Aku ingin tau siapa saja yang sudah bermain-msin dengan perusahaan papa. Dan ingin menjamu mereka dengan baik di pesta pernikahanku, sebelum aku mendepak mereka. " kata Abhi kepada para tim nya
"Baik tuan. " jawab mereka serempak. Lalu mereka pergi meninggalkan ruangan.
Kini hanya tinggal Abhi dan Mario yang berada disana.
"Tuan, apa yang harus saya lakukan? "
"Kamu selidiki General Manager. Aku merasa curiga padanya. " perintah Abhi.
Mario menarik alisnya ke atas tidak mengerti dengan permintaan Abhi.
"Maksud anda? "
"Aku punya insting kuat kalau Violet terlibat korupsi di perusahaan ini. Kalau dia terlibat, laporkan dia ke polisi atau dia harus Mengembalikan semua kecurangan yang ia lakukan selama ini. " kata Abhi sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Apa anda yakin tuan? "
Abhi mengangguk pasti. "Aku yakin sekali, Mario. "
"Baiklah tuan, akan aku lakukan, sesuai perintahmu. "
Abhi dan Mario langsung keluar dari ruang rapat menuju ruangannya. Di sana sudah ada bekal makan siang yang di letakkan di meja. Abhi tersenyum melihat bekal makan siang nya telah sampai.
"Apa akan selalu ada bekal makan siang itu tuan. " tanya Mario yang tidak mengerti dengan jalan pikiran bosnya itu.
Kenapa harus membawa bekal makan siang dari rumah padahal uangnya banyak. Kan bisa buat makan di restoran. Pikir Mario yang tidak tau apa-apa tentang Abhi.
Abhi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Mario.
"Kamu tidak akan pernah tau selera makan ku, Mario. Hanya masakan Yesha yang mau masuk ke dalam mulutku. " cetus Abhi pada akhirnya, hingga membuat Mario bungkam.
Pantas saja tiap kali ketemu klien di luar Bosnya itu tidak pernah menyentuh makanan yang dihidangkan. Dia hanya minum saja, itupun hanya minum teh hangat atau sesuatu yang mengandung susu.
*
*
__ADS_1
Maya menjemput anaknya yang pulang sekolah dengan dua tas besarnya. Dia tidak punya tujuan saat ini, karena dia keluar tanpa persiapan sama sekali. Bahkan hanya ada uang dua puluh ribu di dompetnya.
"Bu, kita mau kemana? kok nggak pulang saja? " tanya Arum, anak Maya. Saat mereka beristirahat di sebuah pos ronda.
Maya menggeleng, dan tanpa terasa dia meneteskan air matanya.
"Kenapa ibu nangis. Apa Arum nakal? " kata Arum sambil menghapus air mata di pipi ibunya.
"Enggak, Arum nggak nakal. Arum anak baik, kok. Mulai hari ini, kita nggak akan pulang ke rumah nenek. Ibu sudah memutuskan pergi dari sana mulai hari ini. " Maya menjelaskan kepada anaknya itu alasan kenapa dia harus pergi.
"Terus kita akan kemana bu? ini sudah jam dua. Arum sudah lapar. " rengek Arum pada akhirnya, karena memang ini sudah waktunya makan siang.
Maya menghela napasnya. Di dompetnya hanya ada uang duapulu ribu, apakah akan dibelikan makan? Lalu dia ingat ucapan Bagus tadi yang mengatakan dimana tempat tinggal Yesha. Dia akan menemui Yesha, barangkali Yesha bisa meminjamkan uang atau mencarikan dia pekerjaan yang sama dengannya. Maya tau Yesha orang baik, mungkin saja dia mau menolongnya.
Maya segera berdiri dari duduknya dan mencari angkot atau becak yang mau mengantarnya ke tempat Yesha, karena jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada sekarang.
Akhirnya Maya sudah berada di tempat yang dia tuju. Sebuah rumah makan dengan pengunjung yang sangat ramai. Ia mencari-cari barangkali Yesha sedang melayani pelanggan. Namun setelah lama menunggu tapi Yesha tidak kunjung terlihat. Akhirnya Maya bertanya pada salah satu pelayan rumah makan itu.
"Maaf mbak, mau tanya. Apa kamu mengenal Yesha? "
"Oh, mbak Yesha. Tentu saja kami mengenalnya. Memangnya kenapa mbak? "
Pelayan tadi menelisik Maya dari atas sampai bawah, sepertinya tidak mencurigakan. Jadi dia menyuruh Maya langsung datang ke rumah Yesha.
"Mbak temui saja mbak Yesha di rumahnya. Setelah toko baju, dan toko sembako itu adalah rumah mbak Yesha. Rumah dengan cat pagar warna putih. "
Maya mengangguk mengerti, dia dan Arum segera menuju rumah yang di tunjukkan oleh pelayan toko tadi. "Mungkin saja itu rumah kontrakan Yesha. " pikir Maya.
Setelah sampai di rumah yang dituju, Maya jadi melongo karena dia pikir rumah kontrakan Yesha itu rumah kecil atau sederhana seperti rumah kontrakannya dulu. Tapi ternyata, rumahnya lumayan besar dsn luar untuk ukuran rumah kontrakan. Dilihatnya Aksa sedang bermain lari-larian dengan seorang anak gadis. Siapa lagi kalau bukan Jihan. Walau sudah besar, tapi tingkahnya masih saja seperti bocah.
"Aksa.... " panggil Maya dari luar pagar.
Aksa yang merasa di panggil pun berhenti bermain, begitu juga dengan Jihan. Mereka berdua menoleh ke luar pagar. Dilihatnya seorang wanita dan seorang anak perempuan yang masih memakai seragam sekolah SD.
"Kamu kenal mereka Aksa? " tanya Jihan pada Aksa.
Aksa mengangguk. "Dia bude Maya sama Arum. " Aksa langsung masuk ke dalam rumah, lalu memanggil ibunya yang sedang santai menonton televisi.
"Mama.... di luar ada bude Maya sama Arum. " Aksa memberi tahukan kedatangan Maya kepada ibunya. Sejak Abhi menyuruh Aksa memanggilnya Papa kini Aksa juga membiasakan diri memanggil ibunya dengan panggilan mama. Dan Yesha tidak keberatan akan hal itu.
Yesha langsung bangun dari duduknya, dan berjalan keluar. Kenapa juga kakak iparnya itu datang menemuinya dan darimana mereka tau kalau Yesha tinggal di sana. Yesha tertegun melihat keadaan Maya yang terlihat kurus tidak terawat seperti dulu. Dia lalu membukakan pagar rumahnya dan mempersilahkan Maya masuk.
__ADS_1
"Masuk mbak. "
Maya dan Arum pun masuk ke dalam rumah Yesha. Mereka memindai semua ruangan yang tampak rapi dan bersih. Lalu duduk di kursi tamu.
"Ada apa ya mbak. " tanya Yesha to the point.
"Tunggu, " Jihan ikut nimbrung di ruang tamu
"Siapa mereka mbak. " tanya Jihan.
"Dia kakak ipar mantan suamiku. Istrinya mas Bagas dan ini anaknya. " Yesha menjelaskan siapa mereka kepada Jihan. Yesha pikir Jihan berhak tau karena dia akan menjadi adik iparnya.
"Ohhhh... orang dari masa lalu toh. " Jihan lalu melakukan panggilan telpon kepada kakaknya. tanpa suara. Dan mendengarkan apa yang akan dikatakan Maya kepada Yesha.
"Katakan ada apa mbak. "
"Yesh, mbak minta maaf atas segala kesalahan yang telah mbak lakukan padamu di masa lalu. Mbak menyesal dan minta maaf. " Maya mengungkapkan penyesalan nya kepada Yesha.
"Udah, aku maafkan mbak. Nggak ada yang perlu di maafkan lagi. "
"Terimakasih, Yesh. Kedatangan mbak kemari ingin minta tolong sama kamu. " kata Maya lagi
"Minta tolong apa ya mbak. " tanya Yesha dengan memicingkan matanya.
"Mbak mau pinjam uang padamu. Atau mungkin kamu bisa ngasih mbak pekerjaan di tempat kamu bekerja. "
Yesha dan Jihan saling berpandangan, tak mengerti maksud Maya.
"Maksud mbak, apa ya? "
Maya menghembuskan nafas nya, lalu menceritakan apa yang terjadi padanya sejak kepergian Yesha, dan Dika tidak memberikan uang bulanan kepada keluarganya. Bagus yang tidak pernah pulang dan memberikan uang nafkah kepadanya. Dan Maya yang harus menjadi pembantu dirumah ibu mertuanya demi sesuap nasi.
"Hingga tadi, aku minta kejelasan hubungan kami, dan aku minta cerai darinya, Yesh. Dan dia sudah menceraikan aku. Aku langsung keluar dari rumah ibu, dan pergi tanpa membawa apa-apa, hanya baju dan uang dua puluh ribu. Itupun sudah aku pakai buat naik angkot kemari. " Maya menyelesaikan ceritanya dengan lelehan air mata.
Yesha mendekat dan langsung memeluknya. "Sabar ya mbak. Aku sudah pernah merasakan berada di posisi mbak, Maya. Jadi aku nggak terlalu kaget dengan apa yang terjadi pada mbak Maya. "
"Mantan mertua dan suami kita memang orang-orang yang nggak bisa kita beri respect. "
Maya mengangguk setuju. Lalu Yesha menanyakan dari mana Maya tau kalau Yesha berada di sini. Dan Maya pun memberitahu kan dari mana dia mendapat informasi dimana Yesha berada.
"Jadi, Berhati-hatilah Yesh. Mungkin nanti atau suatu hari nanti Dika kemari untuk mencarimu. "
__ADS_1