Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Keputusan Arum


__ADS_3

Pradipta dan istrinya akhirnya datang, setelah beberapa waktu berlalu. Ucapan selamat dan ciuman hangat Abhi dapatkan dari kedua orang tuanya adiknya dan anak sambungnya. Kalau dari Yesha jangan di tanya lagi berapa kali Abhi mendapatkan ucapan selamat. Berkali-kali sampai Abhi telinga Abhi rasanya dipenuhi ucapan itu.


Mereka memakan makan malam yang telah Abhi siapkan, dengan tenang. hanya terdengar bunyi dentingan sendok dan garpu yang beradu.


"Usia kandunganmu sudah berapa bulan Yesha? " tanya mama Erina setelah mereka selesai makan.


"Lima bulan ma, jalan enam bulan. " jawab Yesha sambil mengelus perutnya.


"Sehat-sehat ya cucu nenek. " ujar mama Erina di perut Yesha


Maklumlah, ini adalah cucu pertama dari keluarga Pradipta jadi mereka merasa sangat bahagia menyambut kelahiran cucu mereka.


Malam telah larut, dan akhirnya acara makan malam mereka pun usai. Mario berpamitan terlebih dahulu, karena dia adalah orang asing di sana dia tidak ingin mengganggu kebersamaan keluarga itu.


Sesampainya di apartemen, Mario segera menghubungi Maya. Dia ingin segera mendengar jawaban dari Arum anaknya. Karena dia merasa sangat penasaran dengan apa yang ingin di sampaikan Arum kepadanya.


Sebuah pesan akhirnya Mario kirimkan kepada Maya.


"Besok, aku tunggu di taman kota. jam tujuh malam. "


Maya yang hendak memejamkan mata pun segera membuka pesan yang ia terima.


"Mario. " lirihnya.


Ia lalu memandang kearah Arum. Sungguh dia tidak bisa membaca apa yang ingin Arum katakan kepada ayah biologisnya nanti. Karena berkali-kali Maya mencoba membaca pikiran Arum, namun pada akhirnya dia menyerah. Karena Arum tidak semudah itu dibujuk.


Pagi harinya, saat Maya menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, Arum yang baru saja keluar dari kamar mandi, menanyakan tentang Mario


"Bu... kapan Om Mario akan menemui Arum? " tanya Arum sambil memakai seragamnya.


"Nanti malam, sayang. Semalam om Mario mengirim pesan kepada ibu, kalau ia mengajak kita bertemu nanti malam di taman kota. Apa Arum sudah siap? " tanya Maya dengan hati hati.


Arum mengangguk dan tersenyum. "Arum siap bu."


Setelah selesai sarapan Arum berangkat ke sekolah diantar Maya menggunakan sepeda kayuh yang dulu dipakai Yesha dari bu Dian untuk mengantar Aksa sekolah. Yesha meminjamkannya karena dia merasa tidak tega jika melihat Maya yang mengantar Arum dengan jalan kaki seperti dia dulu. Sungguh, sebenarnya Yesha sangat tidak tega melihat keadaa Maya saat ini. tapi itulah kehidupan. Kita tidak bisa menebaknya, Yesha tidak terlalu memberi hati kepada Maya karena takut Maya akan ngelunjak dan berbuat semena-mena lagi kepadanya. Jadi Yesha hanya bersikap biasa saja kepadanya, dan membantunya seadanya saja tidak berlebihan. Toh Yesha sendiri sudah menganggap baik Maya ataupun Dila adalah orang asing, dan bukan siapa-siapa lagi.


Sepulang dari mengantar Arum, Maya langsung menuju ke toko seperti biasa untuk bekerja. Benar kata Yesha jika ingin makan ya bekerja, jangan menengadahkan tangan saja bisanya. Itulah yang selalu Maya dan Yesha dengar dari mantan ibu mertuanya dulu, bu Ayu.

__ADS_1


Malam harinya setelah menjalani ibadah sholat maghrib, Maya dan Arum telah bersiap untuk ke teman kota sesuai pesan yang dikirimkan Mario. Dengan mengendarai angkot akhirnya mereka sampai juga di taman kota itu. Taman yang tidak begitu ramai karena sekarang bukan akhir pekan. Tapi kalau akhir pekan jangan berharap mereka akan mendapatkan tempat duduk yang nyaman seperti ini.


Mata Maya menyusuri semua sudut taman, berharap menemukan sosok Mario. Tapi yang di cari belum ada juga. Maya lalu melihat ponselnya, dan waktu baru menunjukkan pukul 18.45. masih ada waktu.Mungkin saja Mario sedang diperjalanan. pikir Maya.


Maya menunggu sambil memperhatikan anaknya yang sedang bermain lari-larian. S ungguh hanya di ajak ke taman seperti ini sudan membuat Arum bahagia.


"Sudah lama menunggu. " Suara yang tak asing itu menyapa di telinga Maya.


"Mario... "


"Maaf baru datang, aku tadi pulang dulu ke apartemen, membersihkan diri sebelum kemari. "


"Iya, tidak apa-apa. Lebih baik begitu. Karena kamu akan terlihat lebih tampan jika habis mandi seperti ini." ujar Maya sambil tertawa dan tawa itu menular pada Mario.


"Arum mana? " tanya Mario, saat tidak melihat Arum disekitar Maya


"Itu... " Maya menunjuk ke arah gadis cilik yang sedang bermain gelembung sabun dengan anak-anak yang lainnya.


"Sungguh, aku penasaran dengan apa yang akan Arum katakan kepadaku. Aku tidak bisa tidur semalam karena memikirkan nya. "


"Iya perasaanku seperti itu. Aku berdebar-debar menunggu jawaban dari Arum. " kata Mario jujur, dia lalu menggamit tangan Maya dan meletakkannya didada kirinya.


"Kamu bisa merasakannya kan? kalau jantungku ini berdetak kencang, bahkan tanganku sedingin es... "


Maya tersenyum melihat dan merasakan kegugupan Mario, pria yang dia cintai dulu dan sampai sekarang. Buktinya, saat bertemu Mario kemarin perasaan itu, debaran jantung itu masih bekerja cepat. Seperti ingin melompat dari tempatnya.


Karena keasikan ngobrol berdua, mereka tidak sadar kalau Arum berjalan mendekati mereka.


"Ibu, kenapa ibu tidak memanggil Arum kalau om Mario sudah datang? " kata Arum dengan bibir yang sudah mengerucut dan bibir di tekuk


Mendengar celetukan anaknya itu baik Maya atau Mario, langsung terdiam menyembunyikan senyumnya.


"Maaf sayang, tadi ibu lihat Arum sedang senang sekali bermain dengan anak lain. Maka dari itu, ibu dan om Mario membiarkan Arum main dulu sampai puas. " Maya memberikan alasan yang masuk akal. Jangan sampai dia berkata jujur kalau sebenarnya dia lupa memanggil anaknya itu karena keasikan ngobrol dengan cinta lamanya.


Arum mengangguk mengerti. Lalu dia segera duduk di tengah-tengah antara Mario dan Maya. Arum lalu menoleh memandang Mario beberapa saat, memperhatikan dengan seksama wajah Mario. Dia tidak menyangka, pria tampan di sampingnya ini adalah ayah biologisnya.


Mario yang merasa ditatap pun, kemudian menoleh kepada Arum, dan memberikan senyuman hangat kepada anak biologisnya itu.

__ADS_1


"Ada apa Arum? kenapa Arum memandangiku seperti itu. " tanya Mario yang merasa salah tingkah diperhatikan anaknya.


"Om... apa benar, Om Mario adalah ayah kandung Arum? " tanya Arum kemudian tanpa menjawab pertanyaan dari Mario.


Mario yang mendapat pertanyaan seperti itu dari Arum pun langsung mengangguk.


"Maafkan, ayah ya. Yang tidak pernah tau keberadaanmu selama ini, sampai kamu sebesar ini. " kata Mario yang tanpa terasa meneteskan air matanya.


"Nggak apa-apa om. Ini buka salah om, juga bukan salah ibu. Ini bukan salah siapa-siapa. Bahkan jika kita bertanya kepada Tuhan ini salah siapa, Tuhan pasti ngasih satu jawaban. " kata Arum menggantung.


"Apa? " tanya Mario dan Maya bersamaan karena penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Arum.


"Yang salah adalah perbuatan kalian yang tidak bisa mengontorl hawa nafsu. " jawab Arum dengan wajah datarnya.


Mendengar ucapan dari Arum yang sangat menohok itu membuat Maya dan Mario langsung terdiam. Bahkan anak sekecil Arum bisa memberikan jawaban tentang kesalahan mereka dimasa lalu.


Arum lalu mangambil tangan Mario dan Maya, lalu menyatukannya. Sedangkan Maya dan Mario sendiri masih terdiam melihat apa yang akan dilakukan anak mereka.


"Om, apa om masih sayang sama ibu? " tanya Arum pada Mario.


"Om masih mencintai ibu mu, Arum. Bahkan selama ini om masih mencarinya. Hingga akhirnya kami bertemu. " jawab Mario.


"Ibu, apa ibu masih mencintai om Mario? " sekarang Arum yang bertanya kepada ibunya.


Dan anggukan kepala diberikan Maya untuk menjawab pertanyaan Arum. Karena dia tidak bisa berkata-kata lagi.


"Kalau begitu, kalian harus menikah. Jangan sampai kejadian masa lalu terulang lagi. Om harus menikahi ibu dan bertanggung jawab atas semua perbuatan om kepada ibu dan aku. Jika om mau menikahi ibu maka aku akan memaafkan om dan akan memanggilmu dengan sebutan ayah. "


Mendengar ucapan Arum, baik Mario dan Maya langsung menatap kepada anaknya yang sedang menyatukan tangan kedua orang tuanya.


"Apakah kalian bersedia? menikah dan memperbaiki semuanya? "


"Arum." Maya dan Mario memanggil nama Arum bersamaan.


"Ya, aku Arum anak kalian berdua. "


Mario dan Maya langsung memeluk anak mereka. Anak kecil berusia sembilan tahun tapi sudah bisa bersikap dewasa, bahkan lebih dewasa dari orang tuanya. Keadaanlah yang membuatnya dewasa di usia yang masih dini.

__ADS_1


__ADS_2