
Saat ini Dila sudah berada di rumah Agus, rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya selama kehamilan hingga melahirkan. Bu Maria menempatkan Dila si sebuah kamar pembantu, yang terletak di belakang rumah, bersama satu pembantu lain yang berusia paruh baya bi Lilis namanya.
Bu Maria mengenalkan Dila kepada bi Lilis sebagai pembantu di rumahnya. Tapi dia minta ke pembantu lamanya itu untuk membatasi pekerjaan Dila karena dia sedang hamil. Bu Maria tidak ingin di sebut wanita kejam yang menyiksa wanita Hamil.
Setelah mengenalkan Dila pada bi Lilis, bu Maria segera meninggalkan mereka berdua di dapur.
"Suaminya kemana neng, kok lagi hamil malah kerja. " tanya Bi Lilis yang merasa penasaran.
Dila hanya menggeleng, dia bingung mau menjawab apa, karena dia memang tidak punya suami.
Bi Lilis mengernyit tak mengerti dengan respon Dila saat ditanya masalah suami. Akhirnya bi Lilis pun tidak bertanya lagi. Mungkin gadis ini punya masalah dengan keluarganya. Batin bi Lilis.
Dila mengerjakan pekerjaan sesuai kemampuannya, dan bi Lilis memberitahu kan apa saja perkerjaan yang akan dilakukan Dila selama dirumah itu. Sesuai perintah majikannya, bi Lilis hanya memberikan pekerjaan yang mudah dan tidak berat mengingat keadaan Dila saat ini.
Beberapa hari berlalu, kini Dila tidak memikirkan lagi kekhawatiran keluarganya. Dia mencoba menikmati hidupnya di rumah asing ini walau si pemilik rumah atau bu Maria sangat cerewet. Tapi dia tidak seperti ibu tiri yang menindas anak tirinya. Mungkin dia masih berharap kalau anak yang Dila kandung itu cucunya.
Dila mengalami ketenangan selama beberapa hari di rumah itu, namun tidak untuk hari ini. Saat bu Maria pergi arisan dan bi Lilis pergi ke pasar. Dila yang sedang sendirian di rumah, didatangi Agus dengan wajah yang tampak uring-uringan. Dia lalu menemui Dila dan menyeretnya ke kamarnya.
"Layani aku. " katanya sambil menghempaskan tubuh Dila di ranjang.
"Tapi, Om. Aku sedang hamil. "
"Tidak ada larangan bagi wanita hamil untuk melayani seorang pria. " kata Agus sambil melucuti pakaiannya satu persatu.
Dila tak kuasa memberontak karena kekuatan Agus yang sangat besar. Dia akhirnya pasrah dengan apa yang dia alami.
Setelah menuntaskan hasratnya, Agus terbaring di sisi Dila dan mengelus perutnya. Semoga saja bayi ini adalah milikku. Gumamnya dengan nafas tersengal.
Dila yang mendengar itu, tak mampu berkata-kata ternyata pria di sampingnya ini sangat menginginkan seorang anak. Dila langsung bangkit dan memakai pakaian nya yang berserakan di lantai dan segera memakainya.
"Dila selama kamu disini, dan saat aku datang. Kamu harus melayaniku. aku akan mentransfer uang kepadamu seperti biasa. " ujar Agus dengan nafas yang masih memburu.
__ADS_1
Dila tidak mendengarkan apa yang Agus katakan, dia langsung keluar dari kamar itu. Beruntungnya keadaan rumah masih sepi. Ternyata semua orang masih belum datang. Dila segera masuk ke kamarnya dan membersihkan dirinya. Dia menangis sejadi-jadinya di kamar mandi. Meratapi nasibnya yang seperti ini. Andai dia tidak salah jalan mungkin ini tidak pernah terjadi padanya.
Seketika ingatannya tertuju pada Yesha. Wanita itu, yang selalu ia hina sebagai wanita murahan ketika dia mengambil fotonya saat hampir terserempet Abhi. Bahkan dia berkali-kali mengatainya murahan walau dia tidak tau dimana letak kesalahannya hingga dia menyebut Yesha murahan. Kini kata murahan itu, bak sebuah boomeran yang berbalik tersemat pada dirinya.
*
Bu Ayu, Dika dan Bagus pun sudah putus asa mencari kemana Dila pergi. Mereka sudah mencari ke rumah beberapa temannya tapi tetap tidak di temukan. Akhirnya mereka menyerah, Jika Dila ingin pulang maka ia masih ingat jalan pulang, kan? Karena Dalam suratnya Dila mengatakan akan pergi selama hamil, dan akan kembali setelah melahirkan.
Dika kini sudah masuk kerja kembali, dan disini dia berada saat ini. Diruangan CEO behadapan dengan Abhi dan beberapa timnya.
"Jadi begini pak Dika selah kami hitung semua uang korupsi Violet, kami menemukan jumlah besar yang ia ambil dari perusahaan. " kata ketua tim mewakili semuanya.
"Jadi semua Aset jika diuangkan tidak tersisa sedikitpun , Tapi karena pak Abhi berbaik hati memenuhi permintaan almarhumah nona Vio, maka kami mengembalikan satu unit rumah yang sedang anda tempati saat ini kepada anda. Dan ini surat-suratnya. ' ujar sang ketua tim lagi sambil menyodorkan sertifikat rumah milik Vio
Dika sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Abhi dan para tim.
"Dan untuk anda, kami menemukan beberapa kesalahan anda di perusahaan ini,walau bukan korupsi tapi kesalahan pencatatan operasional dan komunikasi, maka kami memutuskan untuk menurunkan anda dari manager, menjadi staf biasa jika anda masih mau bekerja disini. " ujar salah seorang dewan direksi,yang membuat Dika lemas.
"Anda perlu memperbaiki cara komunikasi anda pak Dika. " katanya lagi
Abhi dari tadi terlihat tenang, dan tak mengucapkan sepatah katapun. Dia hanya memerhatikan raut wajah Dika saat menerima semua yang terjadi padanya.
Dika berfikir jika dia keluar dari perusahaan ini, maka masih akan menunggu waktu untuk mendapat pekerjaan yang layak. Sedangkan dia masih harus membayar cicilan mobilnya.
"Baiklah pak, saya akan tetap bekerja disini karena saya masih sangat membutuhkan pekerjaan. " ujarnya setelah lama berfikir.
"Baguslah kalau begitu. "
Dika segera keluar dari ruangan CEO dan menuju tempatnya bekerja, dia memindahkan barang-barang di ruangnya ke ruangan staf biasa. Banyak yang bertanya namun tak satupun yang Dika jawab.
Malu... tentu saja. Tapi dia harus tetap bertahan untuk kelangsungan hidupnya, dan melanjutkan hidupnya sebagai seorang duda dua kali.
__ADS_1
Untuk sementara Dika akan tinggal bersama ibunya, menemani ibunya yang tinggal sendiri setelah di tinggal Dila. Dan tiap hari minggu dia akan kerumahnya sendiri untuk bersih-bersih.
"Bu, setelah ini ibu jangan boros-boros ya. Aku nggak bisa ngasih ibu uang banyak. " kata Dika saat dia sedang menonton televisi bersama ibunya.
"Lho, kenapa? "
"Aku turun jabatan bu. "
"Kok bisa? pasti suaminya Yesha itu yang melakukannya. "
"Itu keputusan rapat bu. Aku dulu naik jabatan jadi manager karena Vio. Padahal kemampuanku belum sampai disitu. Dan sekarang, tidak ada yang mendukung ku lagi. " ujarnya dengan wajah tertunduk lesu.
Bu Ayu lemas mendengar semua ucapan Dika.
"Kita harus ngirit. karena gajiku tak sebesar dulu. Dan mungkin aku akan menjual mobilku, Karena cicilannya terlalu besar. Dulu aku mencicil mobil itu patungan sama Vio. "
"Apa Vio nggak ninggalin apa-apa sama kamu. Dia kan kaya, nggak mungkin nggak punya peninggalan. "
"Banyak. Ada apartemen, beberapa rumah dan mobil. Tapi semua sudah disita perusahaan. Hanya tersisa rumah yang kami tinggali, itupun diberikan atas belas kasihan suaminya Yesha. "
Mendengar suaminya Yesha bibir bu Ayu mencebik kesal.
"Beruntung sekali dia, bisa dapetin mangsa yang luar biasa. Apa jangan-jangan dia jual diri ke atasanmu ya? "
"Udah bu, jangan menghina Yesha lagi. Dia itu wanita baik-baik. Aku aja menyesal udah cerai sama dia. "
"Cih... Apa yang kamu banggain dari dia sih. "
"Ibu nggak tau aja, sekarang Yesha udah jadi wanita sukses. Dia punya kost-kostan, toko baju, toko sembako belum lagi rumah makan. Trus sekarang suaminya juga orang sukses, seorang pengacara sekaligus CEO tempat aku kerja. kalau ibu sekali aja salah ngomong ke Yesha, dan suaminya nggak trima. Ibu bisa aja dilaporin ke polisi karena perbuatan tidak menyenangkan. "
Mendengar itu semua, Bu Ayu bergidik ngeri membayangkan tidur di balik jerusi besi.
__ADS_1
"Jangan ngomong gitu, Dik. ngeri dengernya. " kata bu Ayu sambil bergidik.
"Ya emang kenyataannya begitu. Dibelakang Yesha sekarang ada orang yang berkuasa. Jadi sebaiknya ibu harus jaga ucapan dan sikap ibu kalau ketemu Yesha kalau nggak mau kena masalah. " ujar Dika mengingatkan.