
Tanah merah itu masih basah. Walau tidak ada isak tangis di sana. Namun semua berharap ia yang tidur di dalam sana mendapat ketenangan, tidak merasakan kesakitan lagi dan di terima disisiNya.
Hari itu, setelah Vio dinyatakan meninggal Abhi dan Yesha membantu Dika untuk mengurusi pemakamannya. Siapa yang menyangka kurang lebih dua minggu lalu, wanita yang Abhi temui di rapat perusahaan dengan gaya perfectionist dan angkuh itu kini sudah terkapar di dalam keranda. Padahal Abhi akan memberinya pelajaran setelah ia menyelesaikan cuti pernikahan. Tapi ternyata Tuhan berkata lain, dan Dia yang lebih dulu memberikan hukuman kepada Vio.
Usia memang tidak ada yang tau kapan berakhirnya. Penyakit juga tidak ada yang tau kapan dia datang dan menggerogoti tubuh kita. Maka selalu bersyukur dengan usia dan kesehatan yang kita miliki.
Abhi dan Yesha ikut mengantarkan Vio ke pemakaman, setelah semua prosesi dilakukan di rumah sakit. Dika sendiri tidak menyangka kalau vio akan pergi secepat ini. Tidak ada tangis kesedihan yang mengantarkan nya karena Dika masih merasa kesal kepada Vio. Karena sebelum kematiannya, Vio mengungkapkan semua fakta perselingkuhannya kepada Yesha. Yang Sudah Dika tutup selama ini. Walauu maksud nya baik tapi tetap saja.
Bu Ayu ikut datang ke pemakaman bersama Dila yang terlihat pucat. Walau merasa tidak enak badan, tapi Bu Ayu tetap memaksa Dila untuk mengantarkannya ke pemakaman. Bu Ayu menatap sengit ke arah Yesha yang sedang di rangkul Abhi.
"Ngapain Yesha ke sini." Tanya bu Ayu kepada anaknya Dika.
"Tadi Vio minta bertemu dengan Yesha dan pak Abhi untuk bertemu. " jelas Dika kepada ibunya.
"Untuk apa? "
Dika hanya menggedikkan bahunya, dia tidak ingin ibunya membuat keributan di acara pemakaman Vio.
"Siapa pria disamping Yesha itu? "
"Itu pak Abhi, pimpinan perusahaanku dia juga suami Yesha. "
"Apa." pekik bu Ayu tak percaya.
Teriakannya membuat semua orang menghentikan aktifitas sejenak. Lalu mereka teruskan lagi.
Setelah proses pemakaman selesai, Yesha dan Abhi segera meninggalkan tempat itu, namun Dika segera mengejar Abhi.
"Pak, tunggu... "
Teriakan Dika menghentikan langkah Abhi dan Yesha.
"Ada apa? "
"Mengenai pesan Vio. Tentang semua asetnya. Saya akan mencarinya dulu. Nanti setelah ketemu, saya akan mengabari anda. "
"Baiklah. Jika kamu kesulitan mencarinya, tim ku yang akan mencarinya. " ujar Abhi dengan sorot mata tajamnya, membuat Dika bergidik ngeri.
"Kami pergi dulu. "
Abhi kemudian merangkul Yesha dan melanjutkan perjalanannya kembali ke rumah.
Bu Ayu mendekati anaknya itu, karena penasaran dengan pembicaraan mereka.
"Ada apa Dik? "
"Nggak apa-apa kok bu. Ayo kita pulang. " Dika mengajak ibu dan adiknya pulang ke rumah tempat tinggalnya bersama Vio.
Sesampainya mereka di depan rumah Dika bu Ayu merasa tak percaya kalau itu adalah rumah yang Dika tempati. Bu Ayu fikir selama ini mereka tinggal di sebuah perumahan Elit. Tapi ternyata mereka tinggal di sebuah perumahan sederhana.
"Aku kira kamu tinggal di perumahan mewah Dik. Ternyata rumahmu biasa aja. " cibir bu Ayu.
"Yah walau bagaimanapun aku bersyukur bu, aku dan Vio bisa tinggal di rumah sendiri, nggak ngontrak atau kumpul sama ibu. " jawab Dika sambil menegak air dalam gelas.
"Jadi kamu nggak suka tinggal sama ibu? " tanya Bu Ayu sewot.
__ADS_1
"Bukannya gitu, dulu ibu kan tinggal sama mas Bagus dan keluarganya, terus ada Dila juga. Kalau aku dan Vio tinggal di rumah ibu, malah tambah sempit rumah nya. " kilah Dika.
"Alah alasan kamu aja... "
Bruk..
Sebelum bu Ayu menyelesaikan kalimatnya terdengar bunyi seseorang jatuh di kamar Mandi
"Dila... " pekik Bu Ayu dan Dika saling berpandangan lalu mereka segera berlari ke kamar mandi.
Dilihatnya Dila yang tergolek lemah di dalam kamar mandi.
Abhi segera mengangkat tubuh Dila dan memasukkannya ke dalam mobil. Setelah mengunci semua pintu, mereka segera membawa Dila ke rumah sakit.
"Dila... kamu kenapa nak? " tangis bu Ayu di sepanjang perjalanan.
Tak lama mereka pun sampai di rumah sakit terdekat, dan segera memeriksakan keadaan Dila.
Wajah bu Ayu dan Dika menegang setelah mendengar penjelasan dari dokter, tentang penyebab Dila pingsan. Mereka berdua menunggu Dila sadar dengan wajah yang suram dan tak enak di pandang.
Dila sadar dari pingsan nya dan mendapati tangannya yang di pakaikan jarum infus. Rupanya dia berada di rumah sakit. Dia lalu menoleh ke sisi kanannya ternyata ada ibu dan kakaknya yang sedang menunggunya. Tapi apa ini? kenapa wajah mereka lebih ke arah menakutkan dari pada Khawatir.
Bu Ayu ingin bicara, namun segera di cegah oleh Dika.
"Nanti saja kalau di rumah bu. Nggak enak di sini, didengerin banyak orang. "
Bu Ayu pun menurut, dan menahan emosinya. Dia juga tidak mau hilang kendali di sini.
Tak ada satu pun yang berbicara, mereka bertiga terdiam. Dila yang bingung dengan segala perubahan ibu dan kakaknya. Dan dia yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya.
"Dila. Katakan pada Ibu, anak siapa yang ada di dalam perutmu itu, hah. "
Dila langsung mengangkat wajahnya menghadap ke arah ibunya.
"Maksud ibu apa? "
"Kamu hamil anak siapa? "
"AA..ku... ha...hamil? " kata Dila tergagap.
"Iya... anak siapa yang ada di perutmu itu. jawab. "
Dila langsung menundukkan wajahnya, dia bingung mengatakannya, pasalnya tidak hanya dengan satu orang dia berhubungan.
"Jawab... " Bu Ayu sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
Dila menggeleng.
"Apa maksud mu Dila? " Kini Dika yang bertanya karena dia juga merasa kesal dengan ulah adiknya itu.
"Aku nggak tau ini anak siapa? "
"Apa? " pekik bu Ayu dan Dika bersamaan.
"Apa yang sudah kamu lakukan selama ini diluar sana, Dila? " tanya Dika kini dengan intonasi rendah.
__ADS_1
Dila hanya menggeleng dan terus menangis.
Dika dan Bu Ayu saling berpandangan. Mereka tidak tau harus menanyakan apa lagi. Gelengan Dila sudah menjawab semuanya.
Bu Ayu terduduk di kursi nya dengan tergugu, dia tidak menyangka kalau nasib keluarganya dan anak-anaknya akan berakhir seperti ini. Hancur semua. Bahkan Dila anak gadisnya yang ia banggakan dan di sekolahkan tinggi-tinggi kini ikut mencoreng nama keluarganya.
"Padahal kemarin ibu ikut gosipin anak Bu Endang yang hamil sebelum nikah. Tapi sekarang, anakku sendiri yang hamil bahkan tidak tau siapa bapaknya. " Bu Ayu menangis tergugu, tidak habis pikir kenapa keluarganya yang bisa berantakan seperti ini.
Bagus yang main gila dengan janda, Dika yang ditinggal mati istrinya dan sekarang Dila yang hamil tanpa tau siapa bapaknya.
"Kenapa semua ini terjadi pada keluargaku? " Tangis bu Ayu meraung-raung tanpa bisa di cegah Dika dan Dila.
*
Di kediaman Yesha.
Abhi dan Yesha sudah sampai di rumah saat waktu menjelang sore. Dia tau, suaminya belum makan siang, karena tidak sempat makan siang tadi. Jadi Yesha putuskan segera memasak untuk Abhi.
Abhi yang melihat istrinya menuju dapur segera mencegahnya.
"Mau kemana? " tanya Abhi.
"Mau masak buat mas. Tadi kan belum sempet makan. "
"Nggak usah, makan yang di masak bi Sumi aja."
"Tapi mas... "
"Kamu suapi aku aja. Kamu juga pasti capek kan?"
Yesha mengangguk dan mengambil nasi sedikit banyak untuk makan berdua.
"Ciehh makin romantis aja. " ledek Jihan yang masuk ke dalam rumah bersama Aksa.
"Apa sih, dek? Kami belum sempet makan siang karena habis ikut ke pemakaman tadi. " ujar Abhi hang tidak ingin adiknya itu meledek istrinya.
"Siapa yang meninggal mas. " tanya Jihan penasaran
"Vio, istrinya Dika. ayahnya Aksa. " jawab Abhi.
"kok bisa kalian datang ke pemakamannya? "
Abhi kemudian menceritakan apa yang terjadi tadi di rumah sakit, hingga di pemakaman.
"Wah, kasian juga ya. Tapi dia beruntung meninggal dalam keadaan meminta maaf kepada orang yang pernah dia dzolimi. "
Abhi dan Yesha mengangguk menyetujui ucapan Jihan.
Yesha kemudian melihat ke arah Aksa yang sedang bermain mobil-mobilan. Tanpa memperdulikan pembicaraan mereka, walau itu menyangkut ayahnya. Abhi yang mengerti maksud tatapan Yesha pun menggenggam tangannya.
"Biar nanti aku yang bicara dengan Aksa. Tenanglah. "
Yesha mengangguk mengerti maksud Abhi.
"Aku serahkan padamu mas. "
__ADS_1