Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Manipulasi Keadaan


__ADS_3

Dila pulang ke rumahnya dengan wajah di tekuk, sungguh tidak sedap dipandang mata. Ibu Ayu yang melihat anaknya seperti itupun jadi bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi. Tadi Dila berangkat dengan senyuman penuh di wajahnya, tapi sekarang kenapa pulang-pulang wajahnya jadi seperti itu?


"Kamu kenapa Dil?" tanya bu Ayu yang sedang nonton televisi dengan Maya dan Arum.


"Aku lagi kesel nih bu. "


"Kesel kenapa? "


"Tadi waktu aku ke mall bareng anak-anak aku ketemu Yesha. "


"Yesha? mantan istrinya Dika? "


Dila mengangguk. "Aku ketemu dia di toko berlian bu. "


"Apa... " pekik Bu Ayu dan Maya yang sedang mencuri dengar pembicaraan Dila dan ibunya.


"Bagaimana bisa? " tanya bu Ayu kemudian.


Dila menggedikkan bahunya.


"Dia kesana dengan seorang pria, tampan sekali. " Kata Dila dengan membayangkan wajah Abhi yang tampan.


"Apa kamu nggak salah liat, Dil. Mana ada pria mau sama wanita miskin dan dekil seperti Yesha." kata Bu Ayu yang masih mengeluarkan hinaan untuk Yesha.


"Ibu salah, Yesha sekarang berubah cantik. Wajahnya glowing beda sama Yesha yang dulu. "


"Cih, pasti dia udah jual diri dan dapat duit banyak. Bisa perawatan seperti itu, trus itu lakinya pasti yang membeli jasanya. " Kata Bu Ayu lagi tetap setia dengan Hinaannya.


"Taulah bu, Pokoknya aku kesel maunya bikin dia malu, tapi malah dia yang udah bikin aku malu. Mana sama anak-anak lagi. " Dila masuk ke kamarnya, dan menutup pintu nya dengan keras.


Bu Ayu sebenarnya masih penasaran dengan Yesha, sejak bertemu dengannya di toko perhiasan waktu itu, dan bertemu di mall. Memang ada seorang wanita paruh baya yang mengaku kalau yesha adalah calon menantunya.


Jadi, apa benar Yesha akan menikah dengan pria yang waktu itu.

__ADS_1


Bu Ayu seolah tak terima jika Yesha menikah dengan orang yang levelnya berada di atas Dika. Dia ingin Yesha selalu berada di bawahnya, sehingga dia bisa menghinanya terus. Entah kenapa tuh mulut kalau ketemu Yesha pengennya menghina terus.


************


Keesokan harinya Bu Ayu sudah bersiap ke rumah sakit. Hari ini dia di minta Dika untuk menjaga vio yang sudah melakukan operasi kemarin. Mungkin dua hari Lagi dia boleh pulang. Bu Ayu akan baik-baikin Vio karena dia ingin lihat tempat tinggal Vio yang selama ini disembunyikan darinya.


"Mau kemana, Bu. " tanya Maya yang ingin tau kemana mertuanya itu pergi pagi-pagi sekali.


"Mau ke rumah sakit jagain Vio. Kamu diem di rumah ya, bersihin rumah sampai kinclong." kata Bu Ayu tanpa rasa bersalah sedikitpun kepada menantunya itu.


Maya mendengus kesal melihat perlakuan ibu mertua kepadanya.


Setelah kepergian Yesha dan perceraian nya, kini yang harus melakukan pekerjaan rumah adalah Maya. Perlakuan bu Ayu kepada Maya sudah tak sebaik dulu, saat ada Yesha. Nasib Maya kini hampir sama dengan nasib Yesha dulu. Diperlakukan semena-mena oleh keluarga suaminya. Apalagi, suaminya Bagus sekarang jarang pulang ke rumah dan tidak memberikan uang sepeserpun kepada Maya dan anaknya. Sungguh dunia kini sudah berputar 180°.


Kini Maya bisa merasakan bagaimana menderitanya Yesha dulu. Kalau bisa bertemu Yesha, mungkin saat itu juga dia akan bersimpuh dan meminta maaf kepada Yesha, karena dulu pernah bersikap jahat kepadanya. Karena dia sadar hukum karma itu masih berlaku. Dan kini dialah yang menuai karma itu.


Bu Ayu kini sudah berada di rumah sakit tempat Vio di rawat setelah kemarin melakukan operasi pengangkatan kista dan janin yang tidak berkembang. Dia akan bergantian dengan Dika untuk merawat Vio. Maklumlah, Vio tidak memiliki siapa-siapa. Sebenarnya dia juga tidak mau di temani mertuanya yang seperti nenek sihir itu, dia lebih baik sendiri. Dari pada mendengar ocehan mertuanya yang memuakkan baginya.


"Pagi bu. " Dika menyuruh ibunya masuk ke dalam. Dia sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Karena Dika dan Vio sudah sepakat kalau salah satu dari mereka harus terap berkerja.


"Ini, sarapan untuk ibu, dan itu beberapa cemilannya aku taruh di sana. " kata Dika menunjuk nakas di samping ranjang Vio.


"Baiklah, terimakasih, nak. Kamu berangkat kerja sana. " kaya bu Ayu sok perhatian kepada anaknya itu.


Dika segera menyalami tangan ibunya, lalu mencium kening Vio lama.Sambil berpesan. "Kau jaga diri ya, kalau ada apa-apa segera hubungi aku oke. "


Vio mengangguk mengerti. Dika lalu keluar dari ruang rawat Vio untuk berangkat ke kantornya.


"Bagiamana keadaanmu Vio." Tanya Bu Ayu dengan nada tak suka.


"Aku baik. " jawab Vio acuh dengan memainkan ponselnya.


"Jadi kamu nggak jadi punya anak ini ceritanya, bagus deh Jadi tidak ada istilah anak haram di keluarga kami. Karena hubungan kalian yang diluar nikah. " Ejek Bu Ayu kepada menantunya itu.

__ADS_1


Seolah dia lupa tujuannya datang kemari adalah untuk berbaik hati kepada Vio, agar dia di ajak Vio dan Dika pergi ke rumah mereka saat mereka sudah pulang nanti.


Vio menatap tajam kearah ibu mertuanya itu. Aura. Kebencian menyeruak di dalam hatinya. Tak sudi dia dijaga oleh ibu mertua jahat seperti bu Ayu. Tak ambil pusing Vio segera memanggil keamanan rumah sakit itu dan menyuruh petugas keamanan itu untuk menyeret Bu Ayu untuk keluar dari ruang rawatnya. Dan meminta tolong kepada mereka agar jangan membiarkan wanita itu masuk ke ruang perawatannya.


Bu ayu yang di seret keluar seolah tak terima dia meronta ronta dari pegangan dua security untuk dilepaskan. Tapi karena kekuatan nya tak sebanding dengan kedua security itu, akhirnya dia pun menyerah pasrah saat di seret keluar.


"Dasar menantu sialan. " umpatnya dalam hati saat ia sudah berada di luar rumah sakit.


Bu Ayu langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi Dika. Panggilan Dika ternyata sibuk, beberapa kali dia menghubungi tapi tidak bisa.


Dika yang berada di panggilan lain, ternyata sedang di telpon istrinya yang lebih dulu melaporkan kelakukan ibunya itu kepadanya.


"Maaf mas, aku mengusir ibumu pergi. "


"Kenapa? " tanya Dika, walau mungkin dia tau alasannya, karena mulut pedas sang ibu.


"Masa dia bilang anak yang aku kandung itu anak haram. Ya, nggak terimalah aku mas. Aku langsung menghubungi security untuk membawa ibu pergi dan melarangnya untuk datang lagi kemari. " jelas Vio.


"Lagian kamu kenapa sih, nyuruh ibumu buat jagain aku. Aku lebih baik sendiri, daripada ibumu yang jagain aku. Terbukti, belum satu jam dia disini, dia sudah bikin aku kesal setengah mati. Besok-besok, kamu nggak perlu nyuruh siapapun untuk jagain aku, karena aku lebih baik sendiri di rumah sakit ini, daripada harus berdua dengan ibumu, atau saudaramu yang lain." Omel Vio dan langsung menutup ponselnya tanpa mendengarkan balasan dari Dika.


Dika menghembuskannya nafasnya kasar. Dia tidak tahu kalau akan begini jadinya. Ternyata salah meminta ibunya untuk datang menemani istrinya itu.


Tak lama, terdengar bunyi ponselnya lagi. Kali ini ibunya yang menelpon.


"Kamu dimana sih, dari tadi telpon ibu nggak nyambung. " omel bu Ayu


"Ada apa, bu. " tanya Dika tanpa menjawab pertanyaan ibunya itu.


Lalu bu Ayu menceritakan semuanya, kalau vio sudah mengusirnya dari ruangannya. tanpa memberitahu alasan kenapa Vio sampai mengusirnya.


Dika menghembuskan nafas kasar. Dia sudah tau, sekarang kalau ternyata ibunya itu tidak pernah terus terang, dan selalu memanipulasi nya untuk menyalahkan istrinya walau dia tidak bersalah sama sekali.


"Andai dulu aku lebih mempercayai Yesha, mungkin semua ini tidak akan terjadi. " batinnya.

__ADS_1


__ADS_2