Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Drama Tiga Wanita


__ADS_3

Maya dan Mario merasa lega karena ternyata jawaban dari Arum adalah jawaban yang sangat mereka inginkan. Walau tersisip banyak kata-kata pedas didalam nya. Tapi tidak apa-apa karena memang itu kebenaran yang Arum katakan kepada kedua orang tuanya.


Setelah puas berpelukan akhirnya mereka mengurai pelukannya. Dan saling tersenyum satu sama lain. Mereka memutuskan untuk saling bergandengan tangan mengitari taman kota malam itu, dan membeli makanan dipedagang kaki lima. Seperti sebuah keluarga betulan. Mario melihat jam ditangannya, yang menunjukan hampir jam sembilan malam. Sebenarnya dia enggan untuk berpisah dari dua orang yang sangat dia sayangi ini. Tapi apa boleh buat, mereka masih belum bisa tinggal dalam satu atap.


"May, ini sudah hampir jam sembilan malam. Apa kalian berdua sudah ingin pulang? "


Maya kemudian melihat jam di ponselnya, dan benar sudah hampir jam sembilan malam. Ia tidak akan merasa enak jika terlambat pulang ke tempat kost. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang dengan di antar Mario menggunakan mobilnya.


"Ayo masuk, aku antar pulang. "


Maya dan Arum pun saling berpandangan lalu masuk ke dalam mobil mewah itu.


"Hei, kenapa kalian berdua duduk dibelakang, aku bukan sopir ya. " kata Mario dengan memasang wajah kesalnya.


Maya dan Arum lagi-lagi tertawa melihat kekesalan diwajah Mario.


"Ibu aja yang duduk di depan, aku di belakang. " kata Arum.


Mereka akhirnya sudah berada di dalam mobil dan Mario segera menjalankan mobilnya menuju tempat kost Maya dan Arum. Arum melihat sekeliling interior mobil milik Mario ini yang terlihat sangat mewah.


"Om, apa ini mobil Om Mario sendiri? " tanya Arum karena dia merasa penasaran.


"Tentu saja, apa Arum suka? '


Arum mengangguk kan kepalanya.


" Om, om Mario tinggal di mana? " tany Arum lagi.


Mario mendesah karena dia terus saja di panggil om oleh anaknya itu.


"Arum, bisa nggak panggil ayah saja, jangan panggil om. " pinta Mario.


"Nggak, aku nggak mau. Aku akan panggil ayah kalau om sudah menikahi ibu. " putus Arum tak dapat dibantah.


Akhirnya Mario pasrah dengan apapun yang dikatakan Arum.


"May aku pinjam surat-suratmu, KTP sama Kartu keluarga. " pinta Mario pada akhirnya.


"Untuk apa? " tanya Mario yang tidak tau untuk apa Mario meminta KTP-nya.


"Untuk mengurus berkas pernikahan kita. "


"Secepat itu? " tanya MAya tak percaya.


"Iya, agar aku bisa secepatnya dipanggil ayah oleh anakku dan kita bisa tinggal bersama. "


"Aku punya KTP, tapi aku nggak punya kartu keluarga. karena orangtuaku sudah meninggal dan aku nggak tau dimana kartu keluarga itu. " kata Maya.


"Apa kamu nggak dimasukin ke kartu keluarga suamimu? "


Maya menggeleng, "bahkan selama ini aku menikah hanya menikah siri tanpa kekuatan hukum. " jujur Maya.

__ADS_1


Mario mengepalkan tangannya kuat, dia tidak tau kalau Maya mengalami keadaan yang miris seperti ini.


"Baiklah, KTP saja. aku kan mengurusnya. Nanti setelah menikah aku akan memasukkan namamu dan Arum ke dalam kartu keluarga kita. " ujar Mario dengan Yakin.


Dari belakang Arum merasa sangat bahagia karena akhirnya ibunya akan mendapatkan kebahagiaan.


Mobil yang mereka naiki telah berhenti di depan tempat kost. Sebelum keluar Mario menghentikan gerakan tangan Maya yang akan ke luar.


"Ada apa Mario?"tanya Maya yang pergerakannya di hentikan Maya


Mario lalu mengambil dompet di saku celananya. Lalu mengambil beberapa uang ratusan ribu dan diberikan kepada Maya.


" Ini apa Mario. " tanya Maya tak mengerti.


"Ambillah untuk keperluanmu selama beberapa hari, sebelum aku membawamu ke KUA. "


'Tapi..."


"Aku tidak mau di bantah May. "


Akhirnya Maya menerima pemberian Mario. Setelah itu mereka keluar dari mobil. Sedangkan Arum sudah keluar dari tadi karena dia bilang kebelet.


"Oh ya, Mana KTPmu, biar segera aku urus berkas pernikahan kita." Kata Mario sebelum Maya masuk ke dalam tempat kostnya.


Maya langsung mengambil KTP di dalam dompetnya dan memberikan nya kepada Mario.


"Baiklah, aku bawa dulu. Kamu boleh masuk sekarang. "


*


*


Keesokan harinya, Dila meminta bantuan Maya untuk menemaninya menemui Yesha dan menceritakan apa yang terjadi padanya. Selama beberapa minggu terakhir.


"Ada apa, ya? " tanya Yesha saat mereka bertiga sudah duduk di ruang tamu.


"Aku mau berterimakasih kepada mbak Yesha karena sudah mau menampung aku disini. " kata Dila.


"Ralat Dil, aku tidak menampung mu. Aku menerimamu kost di tempatku, dan kau juga membayar uang sewa kepadaku. Jadi kamu tidak aku tampung. " kata Yesha yang meralat perkataan Dila.


"Tetap saja mbak. Jika mbak Yesha nggak menerimaku di tempat kost mbak yesha, aku nggak tau harus pergi kemana lagi saat itu. "


"Iya... iya.. aku terima ucapan terima kasih mu itu. Sekarang ada apa? katakan padaku, pasti kamu kemari nggak cuma mengatakan terima kasih saja kan? " tanya Yesha yang ingin tau maksud kedatangan Dila.


Dila mengangguk. "Mungkin besok atau lusa aku akan keluar dari tempat kost mbak, karena aku akan menikah dengan ayah dari calon anakku. " kata Dila sambil mengusap perutnya yang sudah membuncit.


"Wah, benarkah? Alhamdulillah kalau begitu. Aku turut bahagia untukmu Dila. " ujar Yesha yang ikut senang mendengar kabar dari Dila.


Maya sendiri juga terkejut mendengar kabar yang disampaikan Dila. Dia tidak menyangka kalau Dila akan segera menikah.


"Saat ini, calon suamiku masih mengurus berkas-berkas pernikahan kami, yang mungkin akan jadi hari ini. "

__ADS_1


Apapun itu, aku ikut bahagia untukmu, Dila. semoga kau bahagia dengan pernikahan mu nanti. " Harap Yesha.


"Iya, Dila. Aku juga berharap kamu segera mendapat kebahagiaan setelah ini. Dan anakmu bisa lahir dan memiliki seorang ayah. "


"Aamiinn." semua doa dan harapan dari Yesha dan Maya diamini Dila dari dalam hati.


"Kalau mbak Maya, kapan? " tanya Yesha yang menggoda mantan kakak iparnya itu.


"Mbak Maya kemarin nolak mas Dika lho mbak. " celetuk Dila saat ditanya kapan Maya nikah.


"Benarkah? Mas Dika melamar mbak Maya gitu maksudnya. " tanya Yesha tak percaya.


Dan diangguki mereka berdua.


"Benarkah, tapi kenapa di tolak. Aku rasa mas Dika sudah berubah lho. " Yesha mencoba memancing Maya. Karena dia sudah tau dari suaminya kalau saat ini Mario sedang mengurus pernikahannya dengan Maya.


"Arum nggak mau, Yesh. Dia sepertinya trauma masuk ke dalam keluarga itu lagi. " ujar Maya jujur. "Maaf ya Dila, bukannya aku menjelekkan keluargamu. " kata Maya kepada Dila karena dia tidak mau Dila salah paham.


"Nggak apa mbak, aku juga mengerti. Semua yang dikatakan Arum benar. Keluarga kami memang buruk seperti yang Arum pikirkan dan mbak Yesha dan mbak Maya rasakan. Aku mewakili diriku sendiri dan ibu serta kakak-kakaku meminta maaf kepada kalian berdua. Atas semua perlakuan buruk kami kepada kalian berdua selama ini. " ujar Dila sambil berdiri dan membungkuk kepada Maya dan Yesha.


"Sudahlah Dila, tidak apa-apa. Kami sudah baik-baik, benarkan mbak, May. " kata Yesha kepada Maya.


"Iya Dila. Sudah saat nya kita mendapatkan kebahagiaan kita masing-masing. Sekarang Yesha sudah bahagia, selanjutnya kamu, dan mungkin saja aku akan segera menyusul kalian. "


"Aamiin... "


ucapan Maya itu diamini oleh Yesha dan Dila.


"Kalau begitu, aku permisi dulu mbak. Aku sudah harus packing. Karena besok aku dijemput calon suamiku untuk datang ke kantor KUA.


" Ya sudah, semoga kamu bisa mendapatkan kebahagiaan sesuai keinginanmu ya Dil. Oh Iya, tunggu sebentar. "


Yesha kemudian masuk ke kamarnya, dan mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu, dan memasukkannya ke dalam amplop. Abhi yang sedang rebahan di kamar pun merasa aneh melihat istrinya memasukkan uang ke dalam amplop.


"Untuk apa, sayang. " tanya Abhi penasaran.


"Nanti aku ceritain. " jawab yesha sambil berlalu keluar kamar.


"Ini Dil, sebagai ucapan selamat dari ku. " Yesha memberikan amplop itu ketangan Dila.


"Mbak, nggak usah repot-repot... "


"Nggak Apa-apa, Dil. Jika kamu nggak menerimanya, anggap ini untuk adik bayi. Pokoknya kamu harus terima. " ucap Yesha tak mau dibantah.


Akhirnya dengan terpaksa Dila menerima pemberian Yesha.


"Terima kasih mbak. Mbak Yesha memang orang baik. Maafkan semua perbuatan ku padamu di masa lalu. "


"Sudahlah tak perlu dipikirkan lagi. Yang lalu biarlah berlalu, iya kan mbak, May. " Yesha melemparkan pernyataannya itu kepada Maya.


"Iya Dila, biarlah yang lalu biar berlalu. Sebagai pelajaran buat kita di masa depan agar tidak pernah merendahkan orang lain lagi. Karena roda kehidupan itu berputar. " Maya menjawab pernyataan Yesha.

__ADS_1


Drama tiga wanita itu pun berakhir, dan Mereka bertiga pun akhirnya berpelukan. Saling memaafkan dan menerima apa yang telah terjadi pada mereka selama ini.


__ADS_2