
Dika dan Maira sudah sampai di rumah , saat ini rumah Dika memang sangat ramai karena sedang melakukan renovasi rumahnya . Ada beberapa pekerja yang mulai membongkar teras rumah Dika yang sudah bobrok. Dika semacam meninggalkan para pekerja hari ini untuk bertemu dengan anaknya . Setelah memarkirkan motornya , Dia Lalu masuk ke dalam rumah menemui ibunya .
Dika langsung memeluk ibunya , yang sedang berada di depan televisi seperti biasa .
"Ada apa dik." tanya Bu Ayu yang melihat sikap tak biasa Dika.
"Aku senang sekali Bu , karena akhirnya Aksa mau bertemu denganku , berbicara denganku , dan memelukku . Kami juga bermain bola bersama tadi ." cerita Dika dengan penuh antusias kepada ibunya
"Benarkah jadi Aksa benar-benar , sudah memaafkanmu ? " tanya bu Ayu tak percaya.
"Iya Bu , Aksa sudah memaafkanku . Dan Dia ingin bertemu denganku lagi untuk bermain bersama . " kata Dika lagi yang merasa sangat bahagia.
"Syukurlah kalau begitu aku turut senang mendengarnya Dika. Akhirnya kamu bisa bersama dengan anakmu lagi. " kata Bu Ayu lalu memeluk Dika .
"Terima kasih juga kepadamu juga Maira , Berkat kamu Dika bisa bertemu dengan anaknya .Dan ada bersamanya disaat Dika merasa rapuh, . " Kata Bu Ayu dengan tulus. Dia juga tidak lupa berterima kasih kepada Maira yang sudah berjasa mempertemukan anak dan ayahnya .
Sudah Tugasku Bu Aku akan melakukan yang terbaik untuk suamikusuamiku, bu. Aku bahagia jika melihat Mas Dika bahagia . Kata Maira .
*
*
Satu bulan berlalu setelah pertemuan antara Dika dan Aksa . Dan selama sebulan ini , mereka belum bertemu lagi . Tapi tiap malam , Aksa selalu meminta kepada Papanya untuk bisa menghubungi ayahnya . Dan Abhi menuruti itu semua . Setiap malam dia akan menghubungi Dika untuk Akss sebelum tidur.
Sama seperti Malam ini , Aksa merengek kepada papanya kalau ingin menghubungi ayahnya. Dan Abhi pun mengijinkannya. Setiap kali menghubungi ayahnya, Aksa selalu masuk ke dalam kamar dan berbicara dengan ayahnya tanpa gangguan adiknya Adit.
"Assalamu'alaikum, ayah. "
"Wa'alaikum salam nak. Ada apa? "
"Nggak apa-apa yah, Aksa cuma kangen sama ayah. Maaf yah, Aksa belum bisa bertemu sama ayah, karena kata mama Aksa harus belajar dulu, minggu depan Aksa mau ujian kenaikan kelas. " Kata Aksa dengan wajah sendunya.
"Iya, nggak apa-apa. Aksa belajar aja yang rajin. nanti kalau sudah selesai ujian kita bertemu. " kata Dika yang mengerti perasaan anaknya.
"Yah tidak apa-apa kan? ayah tidak marah sama aksa? "
"Tentu tidak nak. Mama sudah benar, saat ini Aksa harus fokus belajar dulu setelah itu baru kita bisa bertemu. Pokoknya Aksa harus nurut sama ucapan mama dan papa ya. Karena pasti mereka ingin yang terbaik untuk Aksa. "
Aksa mengangguk.
Melihat anaknya yang merasa belum puas, akhirnya Dika mengalah.
"Ya sudah, minggu depan malam minggu. Ayah dan istri akan mengunjungi Aksa. Biar Aksa semangat belajarnya sebelum ujian. Bagaimana? Apa Aksa setuju? " tanya Dika yang menyampaikan solusi terbaiknya.
Mata Aksa berbinar. Dia langsung mengangguk dengan cepat mendengar kalau ayahnya akan mengunjungi nya.
"Baik ayah. Aku setuju. " ujar Aksa pada akhirnya, dengan senyuman lebarnya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, ini sudah malam. Aksa segera tidur ya. Jangan tidur malam-malam. Nggak baik anak kecil begadang. '
" Iya yah. Selamat malam. Assalamu'alaikum. "
Panggilan akhirnya berakhir. Dika menoleh kepada istri dan ibunya yang sedari tadi mendengarkan apa yang Aksa dan Dika bicarakan.
"Bagaimana. Minggu depan kita ke rumah Yesha, apa kau mau? Maaf tidak membicarakan ini denganmu, tadi kau melihat wajah sendu Aksa. jadi aku tidak tega. " kata Dika yang meminta pendapat istrinya.
"Nggak apa-apa mas, kita kesana untuk menemui Aksa kan? "
Dika mengangguk.
"Kalau begitu kita harus membelikannya sesuatu, mas. Seperti oleh-oleh, mainan misalnya untuk Aksa dan adiknya. " usul Maira yang sama sekali tidak keberatan kalau mereka pergi ke rumah Yesha.
"Sekali-kali boleh Dik. Tapi jangan sering-sering, karena nggak enak dengan omongan orang nanti." ujat bu Ayu menimpali obrolan mereka berdua.
"Iya Bu aku mengerti , aku tadi hanya tidak tega melihat wajah Aksa. "
Setelah mengobrol santai dengan ibunya Dika dan Maira masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Di dalam kamar
Dika dan Maira tidak langsung tidur , mereka masih berbincang tentang sesuatu . Ini mengenai usaha yang akan Maira lakukan selama di rumah .
"Mai , rumah ini sudah selesai direnovasi , dan toko sudah selesai dibuat . Kamu ingin berjualan apa di toko itu . Berjualan kue, toko baju atau sembako, seperti toko kelontong gitu. Soalnya Aku lihat di komplek ini belum ada toko sembako , Adapun jaraknya lumayan jauh . jadi aku pikir tidak apa-apa jika kamu ingin membuka tokoh yang menjual kebutuhan rumah tangga ." tawar Dika
"Kalau aku yang menawarimu , itu artinya aku yang akan memodalimu Mai. Kamu tidak perlu khawatir tentang modal . Aku sudah menyiapkannya untukmu berjualan . Kalau kamu sudah putuskan besok malam kita akan jalan-jalan mencari etalase untuk tokomu .dua etalase aku rasa sudah cukup karena tokonya tidak terlalu besar ." kata Dika yang membayangkan tampakan toko mereka.
Mendengar hal itu membuat Maira sangat bahagia
"Tapi sebelumnya , Aku ingin membeli mobil dulu Mai. Seperti ucapanku dulu , kalau aku akan membeli mobil kecil saja agar tidak memakan banyak tempat garasi . Bagaimana menurut pendapatmu ." Dika meminta pendapat istrinya.
"Kalau aku sih terserah Mas Dika , Karena Mas Dikalah yang memiliki uang itu . Jadi apapun yang mas Dika inginkan silakan saja . Asalkan itu bermanfaat untuk keluarga kita nanti ." Kata Maira yang tidak bisa menutupi kebahagiaannya.
"Baiklah kalau begitu Mai, sudah diputuskan besok kita ke showroom dulu. Setelah itu, kita ke tempat penjual Etalase kalau waktunya mencukupi. "
Maira mengangguk. Entah kenapa dia merasa sangat bahagia akhir-akhir ini.
"Tapi sebelum itu terjadi, kita bermain dulu Mai. "
Mendengar itu, Maira tetap saja tersipu walau mereka sudah menikah Lebih dari dua bulan.
Akhirnya malam itu sepasang suami istri melakukan ritual menyenangkan bagi mereka berdua.
Pagi harinya, Maira merasa perutnya tidak nyaman, dan akhirnya dia terbangun dari tidurnya. Dan langsung menuju kamar mandi, karena perutnya seperti diaduk-aduk.
Maira membuang semua isi perutnya, yang belum terisi apapun. Sehingga yang keluar hanyalah cairan kuning yang terasa asam dan pahit bersamaaan.
__ADS_1
Dika yang tidak mendapati istrinya ada di sampingnya , dan mendengar suara istrinya di kamar mandi . Dia segera bangun dan segera melihat keadaan istrinya .
Dilihatnya Maira bersandar pada tembok sambil meneteskan air matanya .
"Kamu kenapa May ?" tanya Dika saat melihat keadaan istrinya yang sepertinya tidak baik-baik saja .
"Aku tidak apa-apa Mas , mungkin aku masuk angin . Sehingga Perutku terasa mual dan muntah . Aku tidak tahu apa yang harus aku keluarkan dari mulutku , karena aku masih belum makan apapun."
"Ya sudah Ayo kembali ke kamar . Aku akan membuatkanmu teh hangat ."
Maira hanya mengangguk merespon suaminya .
Dika lalu memapah Maira untuk kembali berbaring di dalam kamarnya . Lalu dia keluar , untuk membuatkan teh hangat istrinya .
"Kamu sedang apa Dik ?" Tanya Bu Ayu saat keluar dari kamarnya ,dan melihat Dika sedang berada di dapur .
"Membuatkan Maira teh hangat Bu , tadi dia muntah-muntah . Sepertinya masuk angin ."
'Oh ya sudah , kalau Maira tidak enak badan biar Ibu saja yang memasak tapi Ibu masak yang biasa saja ya untuk sarapan . "
"Iya Bu, terima kasih . "
"Sama-sama Dika ."
Akhirnya teh yang dibuatkan Dika sudah jadi lalu dia membawanya ke kamar agar Maira bisa merasa lebih baik .
"Bagaimana keadaanmu Mai? apa sudah lebih baik? "
Maira menggeleng.
Dika lalu menyodorkan teh hangat kepadanya.
"Minumlah mungkin dengan minum yang hangat-hangat perutmu akan lebih nyaman. " kata Dika menyodorkan tehnya kepada istrinya.
Dengan patuh, Maira segera meminum teh buatan suaminya. Rasa hangat dan nyaman Maira rasakan memenuhi seluruh tubuhnya. Dan perutnya terasa hangat.
"Sudah lebih baik mas, Terimakasih. Harusnya aku yang melayani mas Dika untuk membuat teh. dipagi hari. "
"Sudah tidak apa-apa Mai. istirahatlah. Pagi ini ibu yang memasak katanya. "
Mendengar hal itu, Maira langsung berdiri. Karena merasa tidak nyaman kalau ibunya yang harus masak.
"Sudah Mai.. menurutlah. Kamu sedang tidak enak badan. Istirahat lah dulu.. Ibu tadi juga bilang seperti itu kepadaku. Dia menyuruhmu untuk istirahat. "
"Apa tidak apa-apa mas? "
"Tidak apa-apa. Istirahat lah. " putus Dika apda akhirnya.
__ADS_1
Maira langsung berbaring dan tidur meringkuk untuk mencari posisi yang nyaman untuk dirinya.