Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
#S2 Dika 18


__ADS_3

Seperti hari-hari biasanya Maira melakukan kegiatan paginya dengan sangat bersemangat. Apalagi hari ini dia akan mulai berjualan di depan rumah, karena sudah mendapatkan izin dari suami dan mertuanya. Semalam karena tidak bisa tidur Dika dan Maira juga sudah menata tempatnya untuk berjualan.


Maira tambah bahagia saat Dika ingin mulai merajut kasih dengannya. Kini dia sudah memiliki tujuan hidup, yaitu melayani suaminya dengan baik dan sepenuh hati. Karena saat ini hanya dengan Dikalah dia bersandar, selain kepada Tuhan nya. Maira harus bisa menempatkan diri dengan baik sebagai seorang istri dan menantu di rumah ini.


"Mai, aku berangkat dulu ya. " pamit Dika kepada istrinya.


Dan seperti biasa Maira akan langsung mencium punggung tangan Dika.


"Mas, makasih yah? udah izinin aku kerja, doain dagangan ku laris. " ujar Maira kepada Dika.


"Iya, aku do'ain. semoga nanti jualannya laris. Jualan dikit aja dulu, untuk melihat minat pembeli sukanya apa. "


"Iya mas, ibu tadi juga bilang begitu. " kata Maira sambil mengantarkan Dika ke teras .


"Hati-hati ya Mas , "


"Iya, assalamualaikum ."


"Waalaikumsalam ."


Setelah menutup pagar rumah Maira kembali masuk ke dalam rumahnya , dia duduk di samping Ibu mertuanya yang sedang asyik nonton TV . Sambil menunggu pedagang sayuran yang lewat .


" Apa kamu sudah mencatat semua , bahan yang akan kamu jual Mai? " Tanya Bu Ayu saat melihat Maira sedang Menatap layar televisi .


"Sudah Bu , aku nanti hanya tinggal membelinya saja di warung sama di Mang Dadang . " jawab Maira dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya.


"Oh , ya sudah kalau begitu ."


"Alhamdulillah juga , Mas Dika ngasih aku uang untuk modal walau tidak banyak . Karena katanya dia belum Gajian bulan ini ." kata Maira lagi.


"Alhamdulillah kalau begitu , memang Dika tanggal segini masih belum gajian . Nanti tiap hari Rabu di minggu pertama baru dia akan mendapatkan gaji bulanannya ." Jelas Bu Ayu , dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari Maira. Karena Maira berhak tahu .


Maira hanya membulatkan mulutnya menanggapi ucapan ibu mertua .


"Emangnya kamu dikasih berapa untuk modal . " Tanya Bu Ayu Yang penasaran .


"Maira lalu mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu . Segini Bu , " kata Maira malu-malu.


"Apa itu cukup Mai ? Kalau nggak cukup biar ibu tambahi ." tawar bu Ayu.

__ADS_1


"Nggak usah Bu , aku akan membelanjakan ini sebentar lagi di warung untuk membeli tepung dan minyak , sekalian belanja sayuran di Mang Dadang." kata Maira yang tidak ingin merepotkan ibunya.


"Oh ya sudah kalau begitu , nanti kalau kurang kamu bilang Ibu aja . Kalau kamu nggak mau dikasih sama ibu , anggap aja hutang . Nanti kalau kamu sudah kembali modal kamu bisa mengembalikannya kepada ibu . Oke, jangan sungkan-sungkan. "


Maira mengangguk dan tersenyum bahagia mendengarkan ucapan Ibu mertuanya itu .Bahkan kini dia tidak percaya kalau ibu mertuanya dulu sangat jahat katanya. Karena yang dia tahu sekarang , Ibu mertuanya ini sangat baik . Ya mungkin memang benar , ada waktunya semua orang itu bisa berubah . Saat sesorang itu sudah mendapatkan Hidayah dari Allah.


Akhirnya penjual sayur yang ditunggu pun datang. Dengan sigap Maira segera membeli semua bahan yang dia butuhkan untuk jualannya nanti sore. Dan sedikit promosi dari bu Ayu kepada tetangga di sekitarnya. Kalau mulai nanti sore menantunya akan menjual gorengan di depan rumah.


"Apa nggak di kasih uang sama Dika , kok mau-maunya berjualan gorengan ." Lagi-lagi mulut ember Bu Retno yang membuat Bu Ayu naik darah .


Melihat ibu mertuanya yang akan menanggapi , Maira segera menahan tangan Ibu mertuanya agar tetap diam .


"Alhamdulillah , bu. Mas Dika memberi saya uang belanja cukup . Dan juga memberikan nafkah untuk diri saya pribadi di luar uang belanja . Tapi yang namanya orang , apa lagi kita seorang wanita, juga ingin usaha sendiri agar mendapatkan pendapatan sendiri . Dan tidak melulu bergantung kepada suami kita . Jika kita menginginkan sesuatu yang mendesak, kita tidak perlu menunggu tanggal muda untuk menengadahkan tangan kepada suami. Tapi kita bisa membelinya sendiri saat itu juga, dari uang hasil keringat kita sendiri. Benar nggak ibu-ibu. " Kata-kata panjang Maira cukup untuk menyumpal mulut bu Retno yang selalu julid dengan urusan tetangganya.


Dan ucapan Maira juga mendapatkan dukungan dari para ibu-ibu, yang setuju dengan pendapat Maira.


"Iya betul itu.. "


"Emang jadi wanita, kita juga harus bisa mandiri dan punya penghasilan sendiri. Jadi kalau pengen apa-apa nggak perlu nunggu gaji suami ." Jawab ibu-ibu yang lainnya .


"aku juga berjualan online , untuk mendapatkan penghasilan tambahan di keluarga kami . Jadi kita bisa , melakukan apapun yang kita mau dengan wanita sendiri ." Kata ibu yang lainnya lagi


Dan akhirnya , Bu Retno pulang dengan wajah yang sudah ditekuk . Karena merasa kalah bicara dengan Maira .


"Iya , memang apa yang kamu katakan itu benar May , Jadi kami ikut membenarkannya ."


"Emang dasar Bu Retno aja yang suka sirik . Dia nggak suka kalau lihat tetangganya itu sukses ."


"Ya sudah kamu jualan aja nanti , soalnya di sini juga nggak ada yang jualan gorengan untuk cemilan pas kumpul bareng keluarga . Atau Pas ada tamu, kita itu bingung mau cari makanan untuk suguhan tamu . Kalau ada gorengan nanti kita bisa membelinya untuk disuguhkan kepada tamu . "


"Iya, kamu jualan aja . Nggak usah dengerin omongan satu orang . Laku nggak laku itu rezeki Allah yang ngatur . Yang penting kita sudah berusaha ."


Maira dan Bu Ayu , yang mendengar ucapan para Tetangga yang mendukungnya untuk berjualan . Merasa bahagia , karena mereka tidak akan mendengarkan omongan julid lagi dari satu orang.


Maira dan Bu Ayu kembali ke rumahnya untuk segera mengolah makanan yang akan mereka masak hari ini . Seperti request Dika tadi malam yang menginginkan soto ayam . Setelah mengolah soto ayamnya nanti , Maira akan mulai mengolah bahan-bahan yang akan menjadi dagangannya .


Dia tersenyum puas saat melihat ,semua bahan sudah siap hanya tinggal menggorengnya saja nanti jika waktunya berjualan, biar masih hangat.


Maira dan Bu Ayu memutuskan untuk istirahat , sebelum melakukan rutinitas awal mereka untuk berjualan .

__ADS_1


"Bismillah , dengan menyebut nama-Mu . Aku berjualan hari ini untuk mencari rezeki yang halal dan barokah bagiku dan keluargaku . " Doa Maira sebelum dia , mulai berjualan .


Maira mulai berjualan di sore hari , karena sore hari adalah waktu yang tepat untuk mencari rezeki di lingkungan ini . Orang-orang sudah pulang dari kerjanya , anak-anak juga sudah mulai bermain di luar rumah . Jadi dengan begitu mungkin pembeli akan banyak yang datang . Itulah yang dilakukan Maira saat ini , Mencari waktu yang tepat .


Satu persatu anak-anak kecil , datang ke lapak Maira untuk melihat Apa yang dilakukan istri baru Dika itu . Maira yang dikerubuni anak-anak , hanya bisa tersenyum . Karena mungkin mereka heran , rumah yang pagarnya selalu tertutup kini terbuka lebar dan ada lapak dagangannya di sana .


"Kakak, kakak jualan apa sih ? " Tanya seorang anak perempuan kepada Maira.


"Kakak jualan gorengan Dek ? Adik mau beli ."Jawab Maira dan langsung memberikan pertanyaan balik kepada anak itu .


"Aku tidak bawa uang , Emangnya berapaan harga gorengannya kakak ?" tanyanya lagi.


"Kalau yang kecil seribu lima ratus kalau yang besar 2000-an ." Jawab Maira .


"Ya sudah kalau begitu , aku pulang dulu Mau minta uang kepada mamaku ."


Anak itu lalu berlari pulang ke rumahnya , mungkin untuk merengek kepada ibunya untuk membeli gorengan yang Maira jual .


Maira hanya tersenyum melihat tingkah anak-anak kecil tadi .


Dan tak lama setelahnya beberapa ibu-ibu , diseret keluar oleh anak-anak mereka ke lapak dagangan Maira.


"Lho Mbak Maira sekarang jualan ?" Tanya seorang ibu kepada Maira yang tengah menggoreng pisang goreng .


"Ah iya Bu , hanya untuk mengisi waktu luang saja . Daripada saya hanya berdiam diri dirumah." Jawab Mira malu-malu .


"Wah, rajin dong mbak Maira ini. "


"Tidak juga bu , saya sebelum menikah dengan mas Dika juga dulu berjualan seperti ini . Jadi dari pada cuma berdiam, Saya meminta ixin kepada mas Dika dan ibu mertua untuk berjualan di sini. Dan Alhamdulillah mereka mengijinkannya. " jawab Maira panjang lebar.


"Wah asik dong kalau gitu , ada yang jualan gorengan di kompleks kita . Jadi kita nggak perlu repot , keluar untuk membeli cemilan ." Kata yang lainnya .


Dan akhirnya mereka pun membeli apa yang dijual Maira , seperti bakwan sayur, bakwan jagung ,pisang goreng ,dan tahu isi .


Ada yang mencobanya di tempat , dan mereka mengatakan kalau gorengan Maira itu enak sekali . Banyak sayur dan sedikit tepung , itu adalah nilai plus yang mereka dapatkan dari makanan yang dijual Maira .


"Perhatikan kualitas ini mbk Mai, ini sangat bagus. jarang banget yang jual bakwan banyak sayurnya, yang ada banyak tepung nya. " Ujar salah seorang ibu yang sudah mencicipi makanan yang Maira jual.


"Terimakasih ibu-ibu, atas sarannya. " jawab Maira sambil tersenyum.

__ADS_1


Bu Ayu yang melihat interaksi Maira dan para tetangga kompleksnya merasa bahagia. Melihat menantunya itu tidak malu atau canggung sama sekali melayani, para pembeli yang kebanyakan tetangga kanan kirinya.


Mungkin ini sudah passion di bekerja seperti ini.


__ADS_2