Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Keinginan Dua Bocah


__ADS_3

Abhi dan keluarga nya sudah berada di dalam mobil. Mereka semua terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Hari bahagianya harus dirusak dengan kehadiran seseorang yang tidak diinginkan.


"Maafkan aku, sayang atas kemarahan ku tadi." ujar Abhi yang merasa bersalah karena dia harus memperlihatkan kemarahannya kepada semua orang.


"Nggak apa-apa mas, itu wajar kau lakukan karena kamu ingin melindungi ku, dan tidak suka jika aku di hina. " Yesha menenangkan suaminya yang merasa bersalah karena kemarahannya tadi.


"Tidak apa-apa mas, kami semua baik-baik saja. Benarkan? " Yesha melemparkan pertanyaan kepada sumua orang yang berada di kursi penumpang belakang dan mendapat anggukan dari anak dsn adik-adiknya.


"Iya mas nggak apa-apa. Emang si kembang melati itu harus di beri pelajaran agar tidak seenaknya sendiri. " celetuk Jihan dari kursi belakang.


Dan itu sukses menerbitkan senyuman di bibir Abhi. Yesha yang melihat itupun merasa lega karena suaminya bisa tersenyum lagi.


'Sekarang kita lanjut makan kemana? ' Tanya Abbi pada akhirnya.


"Papa, bolehkah kita makan ayam kriuk saja? "


Semua orang memandang ke arah Aksa kecuali Abhi yang hanya melirik melalui spion mobil, Aksa yang dari tadi diam tiba-tiba angkat bicara saat ditawari Abhi mau makan kemana.


"Aksa mau makan, ayam krispy? " tanya Yesha kemudian.


"Iya ma. Apa boleh? "


"Bagaimana mas.?" tanya Yesha kepada suaminya.


"Ya nggak apa-apa, aku sih terserah. Asal kamu yang menyuapi aku semua makanana bisa masuk. Tanyakan sama Danu dan Jihan apa mereka juga mau makan di sana? " kata Abhi sambil tersenyum


"Bagaimana? " tanya Yesha kepada kedua adiknya.


"Boleh mbak, " jawab Jihan dan Danu bersamaan


"Lagian disana sekarang kan banyak pilih menu nggak cuma ayam sama saos aja. Ada ayam geprek, nasi goreng dan lainnya. " Terang Jihan sambil membayangkan menu apa yang nanti akan mereka pesan. Maklumlah, makanan tadi baru masuk separuhnya ke perut dan itu belum membuat perutnya kenyang, gara-gara ada pengganggu.


"Baiklah kalau begitu, kita kesana. "


Akhirnya mereka menuju resto tempat ayam krispy yang terkenal sesuai permintaan Aksa.


**********


Sudah dua bulan ini Dila tinggal di tempat kost milik Yesha. Dia merasa nyaman dan tenang tinggal di sana. Orang-orang nya baik dan tidak terlalu peduli dengan kehidupan pribadi disekitarnya. Yesha juga baik, dia benar-benar melakukan perannya seperti apa yang dia katakan di awal. Kalau mereka hanya orang asing dan jarang sekali berkomunikasi selain sebagai atasan dan bawahan. Dila juga tidak pernah masuk ke rumah Yesha, selain saat ia minta maaf dan minta pekerjaan. Benar kata Maya, kalau tidak sembarangan orang bisa masuk ke rumah Yesha, selain Lusi dan beberapa orang yang berkepentingan. Kalaupun ada yang diinginkan mereka akan berhubungan dengan Lusi, bukan Yesha.


Malam ini, Dila bermain di kamar Maya, karena dia melihat kalau Maya tidak ambil lembur malam ini.


"Mbak, " Sapanya sambil melongokkan kepalanya ke dalam kamar Maya yang tidak terkunci.

__ADS_1


"Eh, Dil. masuk. "


Dila masuk dengan membawa sekantung kresek gorengan yang rencananya akan dia makan bersama dengan Maya dan Arum.


"Nih, mbak gorengan. Kita makan bareng. " kata Dila sambil meletakkan gorengan di meja.


"Makasih." jawab Maya singkat.


"Lagi apa? "


"Ini ngajari Arum. Besok ada ulangan dia makanya mbak nggak ambil lembur hari ini. "


Dila hanya membulatkan bibirnya.


"Gimana kamu betah disini? " tanya Maya, sambil nyomot tempe goreng.


"Alhamdulillah betah mbak. Nggak ada yang ngomelin dan ngerecokin disini. "


"Iya sih. Kita merasa aman disini." Ujar Maya yang setuju dengan pendapat Dila.


"Ini perutmu udah besar lho, berapa bulan? "


"Tujuh mbak, InsyaAllah dua bulan lagi lahiran. " kata Dila dengan tersenyum.


" Untuk?"


"Merawat anak tanpa suami. "


"InsyaAllah, siap nggak siap harus aku lalui mbk. Mungkin ini karma kita ya, karena dulu meremehkan Yesha, dan karena mas Dika yang nelantarin anak istrinya, sekarang aku yang menerima semua balasan ini. ' kata Dila dengan wajah sendunya.


Selama beberapa hari ini Dila memang merasa kalau apa yang menimpanya adalah balasan atas perbuatannya dan kakaknya kepada mantan kakak iparnya Yesha. Ingin marah pada keadaan pun dia tak sanggup, karena memang ini adalah salah mereka berdua. Andai mereka dulu tidak pernah menyakiti Yesha, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi padanya.


"Sudah tidak perlu kamu pikirkan itu. Karma atau balasan kita nggak ada yang tau. Sekarang saatnya kita memperbaiki diri dan menjadi peribadi yang baik. Lihatlah kehidupan Yesha sekarang. Wanita baik akan mendapatkan pria baik. Dulu Yesha yang selalu kita sakiti dan kita rendahkan, kini sudah memiliki kehidupan yang sempurna dengan limpahan kasih sayang. Tuhan itu maha adil. Jika kita baik, maka Dia akan membalasnya dengan kebaikan, tapi jika kita jahat, maka Dia akan membalasnya dengan keburukan. "


"Mbak Maya, benar. " ujar Dila yang membenarkan semua ucapan Maya.


"Jadi kita harus bersikap baik ya, bu. Agar di sayaangg Allah. " celetuk Arum yang secara tidak langsung juga mendengarkan obrolan mereka berdua.


"Iya... Jika kita baik, Allah akan sayang, tapi jika kita Jahat, maka Allah akan benci sama kita. " Maya memberikan nasehat kepada anaknya agar perbuatannya dulu tidak pernah di contoh Arum kelak.


Arum mengangguk mengerti.


"Kapan kamu akan periksa ke dokter kandungan. Dika sering tanya sama mbak. Mungkin dia ingin mengantarmu ke dokter kandungan. Bagaimanapun kandungan mu harus di periksa Dila dan dilihat perkembangannya melalui USG, Karena sudah masuk bulan ke tujuh apalagi kamu pernah kehilangan satu anakmu. " Maya memberikan nasehat kepada Dila.

__ADS_1


"Biaya USG mahal mbak, aku takut membebani mas Dika. Aku sudah dibayari kontrakan. Kalau aku harus memeriksakan kandungan, itu artinya aku harus merelakan gaji sebulanku untuk ke dokter. " kata Dila sambil tertunduk lemas.


Maya mengerti akan keadaan Dila sekarang. Gaji mereka di sini memang pas-pasan, dan Dila Berkeinginan memberikan makanan halal yang masuk ke perutnya untuk anaknya nanti.


"Aku ngerti, tapi sebaiknya kamu tetap memeriksakan kandunganmu Dil. "


Dila hanya mengangguk mendengar permintaan Maya. Entah akan dilakukan atau tidak, dia masih tidak yakin.


"Udah malem mbak, aku kembali ke kamar ya? " pamit Dila


"Iya, istirahatlah. "


"Arum, mau tidur sama tante nggak? ' tawar Dila pada keponakannya itu sebelum keluar dari kamar Maya.


" Enggak deh tan, besok aku ada ujian. kapan-kapan aja aku tidur sama tante. " jawab Arum sambil masih fokus sama bukunya.


"Ya sudah. " Dila melenggang pergi dari kamar Maya.


Setelah kepergian Dila, Maya segera mengunci pintu kamarnya dan mengambil ponselnya. Dia akan menghubungi Dika dengan apa yang terjadi pada adiknya itu.


"Malem, Dik. "


"Aku mau ngasih kabar tentang Dila. "


"Sepertinya sudah waktunya dia ke dokter untuk USG. Tapi aku suruh periksa dia nggak mau atau ragu kayaknya. Karena biaya USG mahal. Dan kalau diambil dari uang gajinya dia takut uangnya tidak cukup untuk makan bulan depan. "


"Yang dia takutkan mungkin masalah biaya, dia tidak mau meminta padamu karena kamu sudah membantunya membayar uang kostnya. "


"Sepertinya itu yang ku tangkap setelah pembicaraan kami barusan. "


Pesan panjang itu Maya kirimkan kepada Dika malam itu. Masih centang satu, mungkin saja Dika sudah tidur pikir Maya.


"Arum, ayo tidur. Udah malem ini. Besok subuh ibu bangunin lagi, buat belajar. Enak itu, otak masih fresh. " ajak Maya kepada anaknya. Dan mendapat anggukan dari Arum.


Tak lama, terdengar mobil yang masuk halaman rumah Yesha, mungkin saja Yesha dan keluarganya juga baru pulang dari acara jalan-jalannya


"Bu, Aksa beruntung banget ya? punya ayah yang baik kaya lagi. Arum juga pengen punya ayah baik seperti ayahnya Aksa yang sekarang. " celetuk Arum sambil berbaring dengan ibunya.


Maya merapikan rambut anaknya yang terurai tak beraturan sambil tersenyum, Sedih dia rasakan mendengar ucapan dari sang anak.


"Itulah nak, kamu harus jadi orang baik, seperti tante Yesha. Agar bisa mendapatkan orang baik seperti om Abhi. " ujar Maya kepada anaknya.


"Sekarang ibu berusaha untuk menjadi orang baik, agar bisa menjadi ibu yang baik dulu buat Arum. " Maya memberikan senyumnya kepada anak semata wayangnya itu, kemudian mereka berdua mengarungi alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2