
Minggu pagi, Maira sudah menyiapkan sarapan untuk ibu mertuanya, karena Dika ingin mengajak Maira makan di luar. Dan bu Ayu mengerti akan hal itu. Dika dan Maira sudah bersiap. Entah apa yang akan mereka lakukan hari ini. Dika sangat bersemangat mengajak Maira keluar jalan-jalan.
"Mai, bagaimana penampilanku ? Apa aku sudah terlihat tampan? " tanya Dika pada istrinya itu.
"Memang suamiku selalu tampan. Kenapa bertanya seperti itu? Apa mas Dika mau cari gebetan baru ya nanti. " kata Maira sambil mengerucutkan bibirnya.
"Dih, istriku sekarang sudah bisa ngambek. " kata Dika sambil mencolek dagu istrinya.
"Nggak gitu sayang. Aku tanya seperti itu, karena yang ada di sampingku ini seorang wanita yang masih sangat muda. Aku harus tampil sedikit lebih muda, biar istriku nggak malu kalau ada yang bilang. Jalan sama om-om. " kata Dika mengemukakan alasannya sambil terkekeh.
Maira langsung memeluk Dika.
"Biarin orang bilang apa tentang kita, aku tidak peduli. Yang aku tau, saat ini aku sedang jalan sama suamiku bukan om-om." kata Maira manja.
Inilah yang sangat di sukai Dika dari istrinya yaitu sifat manis dan manjanya. Saat ini hubungan mereka semakin dekat sejak malam pertama yang telah mereka lalui beberapa hari lalu. Dika mulai mengetahui sifat-sifat Maira yang tersimpan selama ini.
Memang Dika pernah mengatakan pada istrinya itu, " jangan pernah menyimpan unek-unek dalam hati sendirian. Keluarkan agar kamu merasa lega. Dan jangan sungkan mengekspresikan perasaan hatimu. Agar aku bisa tau apa yang kau rasakan. "
Begitulah hubungan mereka sekarang. Walau belum ada kata cinta yang terucap tapi rasa nyaman sudah mereka rasakan satu sama lain. Maira merasa nyaman saat berada disamping Dika begitu pula sebaliknya Dika sudah merasa nyaman dengan adanya Maira disisinya. Dia akan merasa bingung saat Maira tidak terlihat.
Pernah waktu itu, pulang kerja, tidak ada Maira yang menyambutnya seperti biasa. Dika tanya kepada bu Ayu dimana Maira. Dan bu Ayu sendiri tidak tau dimana Maira, karena sejak tadi bu Ayu ada di dalam rumah. Dan Maira ada diteras melayani pembeli. Dika jadi panik mendengar ucapan ibunya. Tapi tak lama, terdengar suara pagar di tutup. Dika langsung keluar rumah, dan dilihatnya istri kecilnya itu, tersenyum kepadanya.
"Mas Dika sudah pulang? " tanya Maira dengan polosnya.
Dika tidak menjawab dia malah langsung memeluk Maira. Tak peduli mereka masih berada di teras. Maira yang terkejut pun langsung mengingatkan suaminya itu kalau mereka saat ini masih berada di teras rumah.
"Mas, kita masih di teras lho. Ayo masuk dulu. " ajak Maira dan mencoba melepaskan pelukannya.
Dika lalu membawa Maira masuk ke dalam kamar. Bu Ayu yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Dika yang berlebihan.
"Mas Dika kenapa sih?" tanya Maira lagi, melihat sikap Dika yang aneh.
"Kamu dari mana saja Mai? " tanya Dika balik.
"Oh itu, barusan nganterin gorengan di rumah bu Lastri. Tadi kan dia pesen, karena gorengannya tinggal dikit, aku goreng semua aja. Setelah membereskan lapak dagangan, aku langsung mengantarkan pesanannya. " Maira menjelaskan kemana dia pergi barusan.
Dika merasa lega mendengarkan penjelasn dari Maira.
"Memangnya kenapa, mas?" tanya Maira yang bingung.
"Enggak, nggak apa-apa kok. Aku hanya khawatir, karena tidak ada yang menyambutku saat aku pulang kerja seperti biasa. "
"Ooohhh." Maira membulatkan bibirnya.
Begitulah drama rumah tangga yang pernah Dika dan Maira alami. Terlalu berlebihan memang. Tapi itulah rasanya jatuh cinta, setelah sekian lama tidak mengenal cinta.
*
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan bu Ayu, Dika dan Maira segera keluar Dari rumah. Ini pertama kalinya Maira berboncengan setelah menikah. Terakhir kali. Mereka berboncengan adalah saat Dika menabraknya dan membawanya ke rumahnya dan saat ini rumah itu sudah menjadi rumahnya juga.
Maira merasa senang merasakan angin yang menerpa wajahnya. Dika melihat Maira dari kaca spionnya, dan ikut tersenyum saat melihat ekspresi Maira bahagia.
"Kita jalan-jalan di car free day ya. Sambil nyari makan di pinggir jalan. Mau? " tawar Dika.
Dengan semangat Maira menganggukkan kepalanya. " Mau mas."
Dika tersenyum mendengar suara Maira.
Setelah memarkirkan motornya, Dika dan Maira bergandengan tangan. Mereka jadi perhatian beberapa orang karena mungkin bisa melihat perbedaan umur pasangan suami istri itu. Tapi baik Dika maupun Maira tidak peduli. Mereka tetap bergandengan tangan melewati orang-orang yang sedang memperhatikan mereka.
Senyuman tak pernah pudar dari wajah mereka. Mereka benar-benar seperti orang yang baru saja jatuh cinta, dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak.
"Mai, pengen makan apa? " tanya Dika yang sudah mulai merasa lapar setelah berkeliling. "
"Aku, pengen makan itu mas. " tunjuk Maira pada seorang penjual sate.
"Kamu pengen makan sate?" tanya Dika memastikan.
"Iya mas. "
Mereka akhirnya makan sate sesuai keinginan Maira.
"Dari dulu aku pengen makan sate mas, tapi nggak pernah keturutan.
" Emang kenapa? " tanya Dika sambil mengunyah makanannya.
Mendengar hal itu, Dika langsung menghentikan makannya. Dia lalu membelai wajah Maira, dengan tangan kirinya.
"Sekarang kalau kamu pengen makan apapun bilang sama aku ya? Aku sekarang suamimu, yang akan memenuhi semua keinginan mu, selama itu masih terjangkau." kata Dika sambil terkekeh.
Mendengar itu Maira tersenyum dan mengangguk.
"Setelah ini kita kemana? " tanya Maira, saat Dika sudah mengambil motornya dari tempat parkir.
"Nanti kamu juga tau. " jawab Dika yang tidak menjawab pertanyaan Maira.
Mereka berhenti di tempat penjualan ponsel. Dika lagi-lagi menggandeng Maira, karena dia jadi pusat perhatian para penjaga counter.
"Mau cari apa mas? " Salah satu pegawai counter menyapa Dika.
Dika menunjuk salah satu ponsel. Dan segera melakukan pembayaran setelah mengecek semuanya.
"Ponsel mas Dika rusak? " tanya Maira yang sejak tadi hanya memperhatikan Dika tanpa bersuara.
"Enggak, ini buat kamu. Biar kita bisa berkomunikasi. Tapi mas pesen, kamu bisa menjaga pertemanan di media sosial. " ujar Dika.
__ADS_1
"Aku sebenarnya nggak perlu ponsel mas. " kata Maira melihat ponsel yang sudah berada di tangannya.
"Saat ini mungkin masih belum butuh, tapi suatu saat nanti kamu pasti membutuhkannya. " kata Dika. " Terimalah ini adalah hadiah pertama ku untukmu. "
Mau tidak mau, akhirnya Maira menerima ponsel pemberian dari suaminya.
"Setelah ini kita kemana mas. " tanya Maira lagi.
"Kita ke toko pakaian, untuk mencarikanmu pakaian untuk acara perusahaan minggu depan. "
Maira mengangguk. Mereka berdua kembali menunggangi motor matik milik Dika untuk sampai di sebuah toko pakaian.
"Maaf, aku tidak bisa membawamu ke butik, hanya bisa membawamu ke toko pakaian ini." ujar Dika.
"Apaan sih mas, ngapain juga ke butik. Kalau baju di toko ini saja sudah bagus-bagus. " kata Maira sambil memilih-milih baju yang cocok untuknya.
"Mas, temanya apa? santai apa resmi? " tanya Maira.
"Semi resmi, Mai. "
Akhirnya sebuah gaun panjang menjadi pilihan Maira.
"Mas bagaimana kalau ini. " Maira menunjukkan baju yang sudah dia pilih.
Dika mengamati baju pilihan Maira, "Nanti kalau kamu pakai ini, kamu harus memakai kerudung Mai. " ucpa Dika yang menyampaikan pendapatnya.
"Tentu saja, nanti aku pakai kerudung. Mas Dika beliin juga ya kerudungnya. "
Dika tersenyum dan menggangguk.
Setelah membayar baju yang Maira pilih , Mereka kemudian menuju tempat penjualan kerudung . Di sana Maira memilih kerudung yang sesuai dengan pakaian yang akan dia pakai . Setelahnya ,Dika mengajak Maira ke toko kosmetik . Untuk membeli bedak dan pewarna bibir juga parfum . Apapun yang Maira butuhkan akan dikabulkan hari ini .
Setelah puas berbelanja pakaian dan kosmetik , Dika juga membeli pakaian untuk dirinya sendiri . Maira memilihkan sebuah kemeja dan juga kaos untuk sehari-hari juga untuk acara besok . Puas dengan belanjanya . Dika kemudian mengajak Maira ke sebuah toko elektronik .
"Mau cari apa kita di sini , mas. " tanya Maira yang tak mengerti . Karena di rumah semua alat elektronik Sudah mereka miliki , seperti TV , kulkas dan blender pun mereka sudah punya . Lalu suaminya mau mencari apa lagi .
Dika menuju , tempat mesin cuci . Maira yang melihat suaminya bertanya masalah mesin cuci kepada pegawai toko merasa heran . Apakah Dika akan membeli sebuah mesin cuci ? Pikirnya saat itu .
Dan benar saja , Dika membayar nota untuk pembelian Satu unit mesin cuci .
Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah , karena waktu sudah sangat siang . Sedangkan mesin cuci nanti akan dikirimkan sore hari .
Mas ngapain beli mesin cuci ?" Kata Maira Yang penasaran
"Aku tidak tega melihatmu mencuci sendiri , mencuci pakaianku dan pakaian ibu . Jadi biarlah mesin itu yang akan bekerja mencuci pakaian kita semua nanti . " Kata Dika dengan santainya .
"Aku akan mempermudah pekerjaan Mai , jadi Jangan membantah ." ujar Dika yang tak mau di bantah.
__ADS_1
Mendengar ucapan Dika , Maira menyunggingkan senyuman lebarnya . Dan senyuman itu tertangkap oleh Dika melalui kaca spion motornya . Dika merasa senang saat melihat senyuman itu .
"Tapi ngomong-ngomong , Kenapa Mas Dika punya uang sebanyak itu . Hari ini Mas Dika sudah belanja banyak . Mulai dari ponselku pakaian kita dan terakhir mesin cuci . Kalau dihitung-hitung semuanya sekitar 6 jutaan Mas . Dari mana Mas Deka punya uang sebanyak itu ? Maaf kalau aku berani bertanya ."