Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
#S2 Dika 17


__ADS_3

"Maira kenapa? " tanya bu Ayu yang melihat Maira berlari masuk ke dalam kamarnya dengan menutupi wajahnya.


"Nggak kenapa-kenapa bu." Jawab Dika santai kemudia masuk ke dalam kamarnya mengikuti Maira.


Bu Ayu hanya geleng-geleng kepala , melihat tingkah Dika dan Maira . "Dasar pengantin baru ." kata bu Ayu sambil tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke televisi.


Di dalam kamar , Dika melihat Maira yang tengah tidur telungkup dan menutupi kepalanya dengan bantal. Dia lalu mendekatinya , dan duduk di tepi tempat tidur .


"Mai kamu nggak apa-apa kan ? " Tanya Dika yang ingin tahu keadaan Maira saat ini , Apakah wajahnya memerah seperti tadi pagi .


Maira tetap terdiam dan masih menutup kepalanya dengan bantal . Pelan-pelan Dika mengambil bantal yang dipakai untuk menutupi kepalanya lalu menyingkirkannya . Kemudian dia membalikkan tubuh Maira yang tengkurap agar terlentang .


Dan benar saja ,wajah Maira sudah memerah seperti yang dilihatnya tadi pagi .


"Kamu kenapa sih ?" tanya Dika yang pura-pura tidak tahu


"Malu Mas ? " Rengek Maira dengan masih menutupi wajahnya .


"Kenapa mesti malu , benar kata mereka kita adalah sepasang pengantin baru yang tidak tahu tempat ." Kata Dika dan langsung meledakkan tawanya


"Ih Mas Dika mah gitu ." Rengek Maira lag, kali ini dengan mengerucutkan bibirnya.


Dika menjadi gemas sendiri melihat tingjah laku maira yang seperti itu.


"Kenapa , bahkan jika kita melakukan lebih dari itu semua sudah diperbolehkan . Seperti ini misalnya ."


Dika langsung mencium bibir Maira yang sedang mengerucut itu dengan perlahan , dan menyesapnya pelan-pelan agar Maira bisa menikmatinya . Karena mungkin ini adalah pertama kali bagi Maira berciuman dengan seorang pria . Dan pria itu adalah suaminya sendiri saat ini .


Dika melihat Maira yang sangat kikuk dalam berciuman , hingga Sepertinya dia mulai tidak bisa bernafas . Dika lalu melepaskan tautan bibirnya , dan menyuruh Maira untuk bernafas .


"Bernafas Mai , jika tidak kau akan mati . Aku tidak mau menjadi Viral karena membunuh istri sendiri saat berciuman." Kata Dika bercanda karena dia hanya melihat Maira tengah tertegun . Hingga dia harus mengagetkannya agar Maira sadar dengan apa yang dia lakukan saat ini .


Mira yang akhirnya sadar , dia langsung menunduk malu .

__ADS_1


"Mas apa-apaan sih , aku malu tahu ."


"Mai Aku adalah suamimu sekarang . Dan aku ingin bermanja denganmu apa tidak boleh ?. Sudah tiga tahun aku tidak menjamah tubuh seorang wanita . Dan kali ini aku sudah memiliki istri , yang sudah halal untuk aku sentuh . Jadi aku harap , kamu tidak menolakku apapun yang ingin aku lakukan padamu . " Kata Dika dengan binar Mata penuh harap .


Maira yang mendengarkannya pun , merasa tersentuh . Dia Lalu memandang mata Dika lekat-lekat.


"Maa... maafkan aku mas. Aku masih belum terbiasa dengan keadaan kita saat ini . Terkadang aku lupa kalau aku sudah menikah . Sekali lagi maafkan aku ." Kata Maira penuh penyesalan .


"Tidak apa-apa , kita akan belajar saling mengenal dulu . Kemudian saling menyayangi , dan akan naik level menjadi saling mencintai . Kita akan belajar bersama , seperti yang aku katakan sebelumnya . Cinta pasti akan datang karena terbiasa , mungkin itulah yang akan kita alami setelah ini . Dan aku harap Cinta itu datang secepatnya . Agar aku bisa memilikimu seutuhnya . " Kata Dika panjang lebar , untuk mengutarakan isi hatinya .


"Dan sepertinya kelebihanmu dalam memasak membuatku candu. Aku sangat menyukai masakanmu. " kata Dika tanpa basa basi lagi untuk mencairkan suasana yang canggung bagi Maira.


"Benarkah ?" Mas Dika menyukai masakanku . Tanya Maira dengan penuh antusias .


Dika membalasnya dengan mengangguk Dan tersenyum . Dia Lalu merapikan rambut merah yang berantakan ke belakang , agar bisa memandang wajah Maira yang alami tanpa polesan make up.


Maira yang mendapat perlakuan seperti itu dari pria yang sudah menjadi suaminya jadi tersipu malu. Ternyata Dika yabg pertama dia kenal dengan Dika yang sekarang sangat berbeda. Dulu Dika sangat cuek dan pendiam, tapi sekarang dia sangat manis.


Maira dengan rasa malu dan takut , perlahan Maira mendekati Dika, Jarak mereka kini sangat dekat . Dika langsung memeluk Maira yang sudah dekat dengannya. Mencium aroma shampo di rambut Maira.


" Jangan pernah menolakku, Mai. " bisik Dika fi telinga Maira.


Dan dia mendapatkan jawaban dengan anggukan kepala dari Maira.


"Terima kasih karena kamu sudah mau menerimaku menjadi suamimu . Karena aku tahu , aku bukanlah pria sempurna yang bisa membahagiakanmu . Aku masih banyak kekurangan , Dan aku harap bersama denganmu Hidupku akan sempurna kelak ." kata Dika lagi dengan tulus.


Lagi-lagi Maira mengangguk.


Dika lalu melepaskan pelukannya.


"Aku juga berterima kasih kepada mas dika, karena mas Dika sudah mau menampungku dan akhirnya menjadikanku, istri mas Dika. " balas Maira dengan menunduk.


Dika lalu mengangkat dagu Maira agar tidak menunduk lagi dan menatapnya.

__ADS_1


"Mulai sekarang, katakan yang ingin kau katakan, jangan malu atau ragu. Jika aku mampu mengabulkan permintaanmu, akan aku berikan. Karena sekarang kau adalah tanggung jawabku. " ujar Dika lagi.


"Sekarang tidurlah. Aku akan memeriksa keluar dulu, apakah ibu sudah mengunci pintu apa belum. "


Dika lalu beranjak dari duduknya ,dan keluar dari kamar meninggalkan Maira sendirian . Dia Lalu memeriksa pagar pintu dan jendela rumah , Apakah sudah terkunci atau belum . Dia juga melihat-lihat rumahnya dari luar , Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu .


Di kamar , Maira sedang berbaring dan merenung. Dia merasa sangat tidak percaya , dengan apa yang ia alami saat ini . Karena dia sudah menjadi istri orang , itu artinya cepat atau lambat Dika pasti akan meminta haknya . Dan dia harus memberikannya kepada suaminya itu . Tapi apakah dia mampu ? Karena dia merasa sangat malu , bahkan berdekatan dengan digabung dia malu . Apalagi kalau sampai jika menyentuh tiap tanggal tubuhnya .Membayangkannya saja Maira sudah merasa merinding .


"kenapa aku memikirkan hal mesum sih . " pikir Maira dalam hati . Ia menutupi dirinya sendiri , karena memikirkan hal-hal mesum .


Maira belum juga bisa memejamkan matanya ,sedangkan Dika juga belum kembali ke kamar . Maira memutuskan untuk ke luar kamar dan mengambil air untuk minum di malam hari.


Maira mencari Dika kemana-mana tapi dia tidak ditemukan , dilihatnya pintu ruang tamu terbuka . Maira lalu melihat keluar melalui pintu . Dilihatnya dekat Tengah berada di luar pagar , dan sepertinya sedang memperhatikan sesuatu . Maira memberanikan diri untuk keluar dari rumah , dan menemui Dika di luar . Karena dia penasaran , Apa yang sedang dilakukan Dika sekarang .


"Mas Apa yang sedang kamu lakukan ? " Tanya Maiira yang sangat penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Dika.


"Aku hanya memperhatikan rumah ini , sepertinya aku harus membuat sedikit perubahan untuk rumah ini . " Kata Dika menjelaskan apa yang sedang dia lakukan .


"Ini adalah rumah peninggalan ayahku. Dulu kami hidup sangat bahagia dan tidak kekurangan satu apapun . Ayahku yang seorang pegawai negeri, bisa memanjakan kami semua . Tapi setelah Ayah meninggal semuanya berubah . Ibu juga berubah . Dulu ibu tak sama seperti sekarang . Jika dulu kamu yang menjadi istriku , mungkin kamu juga akan kabur seperti mantan istriku dan mantan kakak iparku ." Kata Dika sambil terkekeh mengingat masa lalu


"Apakah Mas Dika masih mencintai Mbak Yesha ?" Tanya Maira ragu-ragu dengan kepala tertunduk .


"Dulu iya , karena aku terlambat menyadari perasaanku padanya . Dan Itu membuatku sakit hati , padahal saat itu aku sudah menikah adalah istri keduaku . Tapi tetap saja , Aku tidak bisa melupakannya. " kata Dika yang sedang mengingat masa lalu .


"Lalu Apakah sekarang masihkah Masih Mencintainya ?" Tanya Maira Yang penasaran , dia ingin tahu jawaban Dika agar dia bisa menempatkan di mana hatinya berada .


Dika menggeleng . "Tidak ! Aku sudah membuang jauh-jauh perasaan itu , sejak dia menikah lagi dengan atasanku sendiri . Bukankah dia wanita yang sangat beruntung . Membuang batu kerikil dan mendapatkan batu berlian . " Dika terkekeh bila mengingat itu semua .


"Bagaimanapun aku tidak akan bisa kembali ke masa lalu , yang akan aku lakukan adalah menata masa depan bersamamu gadis yang sudah menjadi istriku . " Kata Dika mengalihkan pandangannya kepada Maira lalu menggenggam erat tangannya .


'Maukah kamu mengisi hari-hariku , agar terisi penuh kenangan Tentang Kita . Aku tidak mau lagi menoleh ke belakang , karena itu sangat menyakitkan . Dan biarlah itu menjadi pelajaran untukku , untuk menjalani masa depan yang lebih baik bersamamu ." Kata Dika lagi.


Maira tersenyum dan menganggukkan kepalanya yakin. Karen sekarang dia sudah bisa menempatkan dimana hatinya dan hati Diks berads.

__ADS_1


__ADS_2