Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
#S2 Dika 30


__ADS_3

Dika menggantikan istrinya untuk melakukan pekerjaan rumah hari ini, yaitu mencuci baju . Untung ada mesin cuci yang memudahkannya melakukan pekerjaan itu. Karena Dika melihat Maira benar-benar tak berdaya hari ini. Wajahnya pucat, tapi dia tidak panas sama sekali atau ada gejala demam. Dia hanya mual dan perutnya terasa tidak nyaman.


"Dik apa tidak sebaiknya kamu bawa Maira ke dokter saja, Kasihan dia. " kata bu Ayu yang baru saja melihat keadaan Maira.


"Maira tidak mau bu, katanya dia hanya mual saja. Hanya butuh istirahat katanya. Nanti kalau sampai aku pulang kerja dia masih merasa tak nyaman aku akan membawanya ke dokter. Ibu nanti kabari aku aja, kalau ada apa-apa sama Maira nanti. "


"Baiklah ibu akan selesaikan masak dulu, setelah itu coba kamu suapi Maira, mungkin kalau perutnya sudah terisi dia akan baik-baik saja. "


"Baiklah bu. "


Dika lalu melanjutkan pekerjaannya menjemur baju. Setelah itu dia kembali ke kamar dan melihat keadaan Maira. Di belainya pucuk kepala Maira yang tengah terlelap, lalu di kecupnya kening Maira dengan lembut.


"Kamu kenapa sih, Mai? kenapa tiba-tiba seperti ini, padahal semalam kamu tidak apa-apa." gumam Dika yang merasa ada yang aneh pada diri Maira.


Dia lalu membersihkan tubuhnya, untuk berangkat ke kantor. Tapi sebelum itu dia harus memastikan Maira makan dulu.


Bu Ayu mengantarkan sepiring nasi beserta beberapa lauk di atasnya. Dia lalu memberikannya kepada Dika.


"Bangunkan Maira, dan suruh dia makan." kata Bu Ayu sambil menyimpan makanan itu di atas meja.


Dika lalu membangunkan Maira dan menyuruhnya makan.


"Mai.. bangun Mai... ayo makan dulu. "


Maira yang merasa tidurnya terganggu perlahan membuka matanya. Dilihatnya sang suami telah bersiap untuk pergi bekerja.


"Maaf mas, aku tidak menyiapkan kebutuhanmu. " kata Maira penuh penyesalan.


"Tidak apa, Mai. kamu kan sedang tidak enak badan. Ini ibu sudah menyiapkan makanan untukmu. Makan ya? biar aku yang suapi. " Kata Dika dengan sabar.


Melihat nasi yang dibawa Dika , Maira langsung lari ke kamar mandi, dan memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya. Dika dan bu Ayu berpandangan melihat sikap Maira. Dia langsung mengikuti Maira masuk ke dalam kamar mandi.


Dilihatnya keadaan Maira seperti tadi pagi, wajahnya semakin pucat. Dika langsung menggendong tubuh kecil Maira dan membaringkan nya di atas ranjang.


"Sudah Dik, jangan nunggi nanti. Bawa istrimu ke rumah sakit. Ibu meyakini sesuatu. " kata Bu Ayu yang ikut cemas melihat keadaan Maira.


"Kenapa bu?, memangnya Mairs kenapa? " tanya Dika yang juga ikut panik setelah melihat kepanikan pada ibunya.


Bu Ayu lalu membisikkan sesuatu kepada Dika. Dan seketika Dika langsung membulatkan matanya.


"Benarkah, itu bu? " tanya Dika dengan antusias.


"Karena itu, cepat pastikan. Bawa dia ke dokter atau rumah sakit. " kata bu Ayu yang memaksa anaknya untuk segera membawa Maira ke rumah sakit.


"Baiklah, bu. "


Dika lalu meminta ijin kepada atasannya. Kalau hari ini dia akan datang terlambat atau tidak masuk kerja. Karena harus membawa istrinya ke rumah sakit.


"Nanti kalau istri saya baik-baik saja. Saya akan masuk kerja pak. Tapi kalau istri Saya membutuhkan sesuatu, saya ambil cuti hari ini. "

__ADS_1


"Baiklah Dika. Semoga istrimu cepat sembuh dan baik-baik saja. " kata atasan Dika di kantor.


Dika segera membantu Maira berganti pakaian, dan mengenakan jaketnya. Mereka kemudian segera berangkat ke rumah sakit terdekat. Maira yang awalnya menolak dibawa ke rumah sakit, akhirnya pasrah juga, setelah melihat Dika yang tidak ingin di bantah. Kalau tidak suaminya itu pasti akan marah padanya.


Tak lama motor yang mereka kendarai pun segera sampai di rumah sakit. Dika langsung membawa Maira ke IGD agar segera mendapat penanganan.


Maira hanya pasrah saat mendapatkan pemeriksaan.


"Mbak Maira kapan terakhir kali mendapatkan tamu bulanan? " tanya dokter jaga itu tiba-tiba.


Maira mulai mengingat ingat kapan dia dapat tamu bulanan. " Sepertinya kurang lebih dua bulan yang lalu, dok. Setelah menikah. Karena saat menikah saya sedang dapat tamu bulanan. Namun setelah itu saya tidak mendapatkannya lagi. Sampai harii ini. Memang nya kenapa ya Dok? " tanya Maira yang penasaran.


"Maaf mbak, kita belum bisa memastikan. Kita akan bicarakan kepada suami mbak maira dulu ya. "


"Iya dok. " kata Maira pasrah.


Dika kemudian di panggil masuk ke dalam ruangan untuk membicarakan apa yang terjadi kepada Maira.


"Maaf pak, sepertinya mbak nya harus saya rujuk ke dokter lain untuk memastikan biar lebih jelas apa yang terjadi pada mbak Maira. Anda bisa kesana sekarang. Karena saya sudah menghubungi dokter yang bersangkutan. " ujar dokter jaga IGD


"Oh, baiklah dokter. Terimakasih. " melihat gelar dokter di balakang nya saja Dika sudah faham, dan pasti dugaan ibunya benar.


"Ini tempatnya dimana ya dok? "


"Dari ruangan ini lurus saja, pak. "


Lalu dia menuntun Maira jalan perlahan, menuju tempat dokter rujukan Maira berada.


"Mas sebenarnya aku sakit apa sih , kok sampai di rujuk-rujuk segala . Perasaan aku nggak kenapa-napa deh , aku cuma mual-mual aja nggak perlu sampai dirujuk seperti ini . " Protes Maira kepada suaminya .


"Nggak apa-apa Mai , ini untuk kesehatanmu juga . Lagi pula aku tidak keberatan mengantarmu dan Aku sudah izin kepada atasanku tadi. ." kata Dika jujur.


"Tapi kan aku merasa nggak enak mas , Mas Dika udah nggak kerja tapi malah nganterin aku . Terus Ibu di rumah mau masak untuk kita . Aku seperti istri dan menantu yang durhaka ." Kata Maira sambil terus berjalan.


"Kata siapa kamu menantu durhaka , tidak selamanya orang itu sehat . Pasti juga akan diberi sakit . Mungkin saat ini Allah memberimu sakit , jadi kamu harus menerimanya .Jangan mengeluh." kata Dika lagi.


"Aku tidak mengeluh Mas , aku hanya merasa seperti memanfaatkanmu saja. "


"Sudah jangan terlalu banyak merasa , atau memikirkan sesuatu yang tidak penting . Yang penting sekarang kamu sehat dulu . Dan kita saat ini sedang mencari obat untuk kesembuhanmu ."


Tanpa terasa Dika dan Maira , sudah sampai di tempat dokter spesialis kandungan yang direkomendasikan oleh dokter jaga IGD .


Mereka masuk ke ruangan dokter , dan tidak perlu antri . Karena sepertinya para pasien belum datang .


Dokter itu menyapa Maira dan Dika dengan senyuman yang tulus . Dia Lalu menanyakan apa saja keluhan yang dialami Maira .


"Kapan terakhir kali Anda datang bulan nona ?" Tanya Dokter yang bernama Riani itu


"Kenapa dokter di IGD dan di sini menanyakan hal yang sama kepadaku ?" Pikir Maira yang masih polos

__ADS_1


"Saya terakhir kali datang bulan , saat menikah dengan suami saya . Kurang lebih 2 bulan yang lalu .setelah itu sampai hari ini saya belum mendapatkan tamu bulanan lagi . "Jawab Maira sama seperti yang ia berikan kepada dokter jaga .


"Lalu apa keluhan anda saat ini ?' Tanya Dokter Ariani itu lagi


"Tadi pagi saat bangun tidur , saya merasakan perut saya sakit sekali mual dan rasanya diaduk-aduk . Hingga saya harus memuntahkan sesuatu namun tidak ada yang dapat saya keluarkan kecuali cairan . Karena saya memang belum makan sama sekali . "


"Lalu ? "


"Saat suami saya ingin menyuapi saya makan , saya seperti ingin muntah saat melihat nasi . Dan saya memuntahkan hal yang sama seperti tadi pagi ."


"Jadi sampai saat ini anda belum kemasukan sesuatu sedikitpun ." tanya Dokter sambil mengernyitkan keningnya.


"Belum dokter. hanya teh hangat yang dibuatkan suami saya. " kata Maira yang merasa khawatir dengan respon dokter tadi.


"Baiklah kalau begitu silahkan Anda berbaring di sana ." Kata dokter Ariyani sampai sambil menunjukkan brangkar pasien dan disana ada sebuah monitor .


Dika yang sejak tadi menyimak dan diam saja , mulai membantu Maira untuk berbaring di atas prakar . Seorang perawat menyingkapkan pakaian Maira sampai batas dada dia Lalu mengoleskan sebuah gell di bagian perut bawah. Lalu dokter Aryani menggeser alat itu di atas gel , dan terlihatlah sebuah gambar dimonitor .


"Wah ternyata benar dugaan saya , kalau Nona Maira sedang hamil . Dan lihat ini, ini adalah bakal calon anak kalian . Mungkin saat ini dia masih sebesar biji kedelai .Jadi nona Maira Harus makan yang banyak , agar biji kedelai ini bisa berubah menjadi seorang bayi ." Kata dokter itu sambil tersenyum .


Maira dan Dika saling berpandangan , mereka lalu tersenyum senang .


Setelah dokter menyelesaikan pemeriksaannya perawat lalu membersihkan , gel yang menempel di perut Maira . Setelah itu mereka berdua duduk berhadapan lagi dengan dokter Ariyani untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan dokter kepada mereka .


"Jadi Berapa usia kandungan istri saya dokter" tanya Dika dengan tak sabaran .


"Usia kandungannya sekitar 6 minggu Tuan . Jadi ini masih rentan . Calon ibu harus rajin makan agar perkembangan bayinya sehat dan ibunya juga sehat jika ibunya tidak sehat maka di dalam tubuh sang ibu , bayinya juga tidak bisa berkembang dengan baik ." Kata dokter itu memberi nasehat kepada Maira .


"Jika anda merasa mual saat melihat nasi , Anda bisa menggantinya dengan roti , buah-buahan , sayuran atau apapun yang bisa masuk ke dalam tubuh anda . Tidak harus nasi. Apapun bisa anda makan asalkan perut Anda kenyang dan nutrisi untuk bayi terjaga . Jangan lupa minum susu khusus ibu hamil , untuk menambah daya tahan ibu dan bayi ." kata dokter itu lagi .


"Dan ini , saya resepkan obat anti mual , vitamin dan mineral untuk Ibu dan bayinya juga . Agar Ibunya tetap dalam keadaan Fit selama masa kehamilan . Resepnya bisa anda tebus di apotek nanti ."


"Terima kasih Dokter , Saya akan menjaga kandungan istri saya dengan baik ." kata Dika dengan semangat.


"Seorang suami memang harus bisa menjadi suami siaga saat istrinya hamil . Apalagi saat hamil muda seperti ini , pasti dibutuhkan kesabaran ekstra kepada suami . Untuk menghadapi mood istri yang naik turun ."


"Saya ucapkan selamat kepada kalian berdua , sebagai calon ayah dan ibu . Semoga kehamilan anda berjalan baik sampai persalinan nanti . " kata dokter Aryani , sebelum mereka berpamitan .


Akhirnya Dika dan Maira keluar dari ruangan dokter . Dika menggenggam tangan Maira dengan erat. Dia sangat merasa bahagia hari ini , karena mendapatkan kabar gembira yang tidak pernah dia duga sama sekali .


"Mas Apa kau bahagia ?" Tanya Maira , yang melihat suaminya hanya diam setelah keluar dari ruangan dokter.


Dika lalu menghentikan langkahnya , dan menghadap ke arah Maira . Lalu tanpa aba-aba , dia langsung memeluk tubuh kecil Maira .


"Aku sangat bahagia Mai , sangat bahagia . Terima kasih , karena kau akan memberiku seorang anak . Terima kasih banyak Mai .' ucap Maira dengan tulus dan penuh kebahagiaan.


Dika lalu melepaskan pelukannya , dia Lalu memandang Maira lekat-lekat. "Jika kau menginginkan sesuatu , Katakanlah . Tak perlu merasa sungkan atau ragu sedikit pun . Jika aku mampu , aku akan memberikannya untukmu ." kata Dika yang tahu kalau ibu hamil pasti akan mengalami masa ngidam .


Maira mengangguk , dan sekarang giliran dia yang memeluk Dika. "Terimaksih, mas. "

__ADS_1


__ADS_2