
Bu Ayu, Dika dan Dila masih berada di ruang keluarga, mereka sedang mencari jalan keluar untuk masalah Dila. Karena akan sangat memalukan jika melahirkan tanpa seorang suami.
"Katakan kepada Ibu, siapa pria terakhir yang tidur sama kamu atau pria yang sering tidur sama kamu. Yang nggak pake pengaman." Sakit rasanya, saat bu Ayu mengatakan semua itu kepada anaknya.
Dila terisak mendengar pertanyaan ibunya itu.
"Katakan Dil... " Dika pun bertanya dengan lembut, karena saat ini Dila butuh dukungan bukan kecaman.
"Pacar Dila, bu, mas. "
"Siapa? " tanyaa Dika penuh penekanan.
"Temen kampus aku. " kata Dika sambil menunduk.
"Hubungi dia suruh kemari besok, atau kita yang akan datang ke rumahnya besok. " Dika akhirnya mengambil keputusan.
Saat ini hanya dia yang bekerja sendiri mengurusi keluarganya yang sedang goyah. Kalau tanya kakaknya Bagus, dia tidak bisa diharapkan karena sedang mabuk janda jadi tidak pernah pulang ke rumah. Baru saja dia kehilangan istrinya, sekarang masalah keluarganya semakin membebaninya. Bahkan untuk menangisi atau mengingat kepergian Viopun sudah tidak sempat.
Dila menghubungi kekasihnya Anton berkali-kali tapi panggilan tidak terhubung. Itu membuat Dila panik.
Karena putus asa akhirnya Dila mengirim pesan chat kepada Anton, yang mengatakan mereka harus bertemu, atau Dila dan keluarganya akan datang ke rumahnya.
Sampai keesokan harinya Pesan itu tak kunjung di baca Anton, bahkan hanya centang satu. Yang menandakan ponsel Anton tidak aktif. Makin kalut saja perasaan Dila.
"Gimana Dil? Bisa dihubungi pacarmu itu?" tanya Dika saat mereka berada dimeja makan makan. Untuk sementara, Dika akan tinggal bersama ibunya sampai masalah Dila selesai.
" Dila menggeleng lemah. "
"Ya sudah kita samperin aja langsung ke rumahnya. " usul bu Ayu dengan bersungut-sungut. Dan segera diangguki Dila dan Dika.
Dalam masa duka ini, Abhi memang memberi keringanan kepada Dika untuk libur kerja selama tiga hari untuk menghormati keluarga yang berduka. Waktu libur ini, digunakan Dika untuk menyelesaikan masalah Dila.
Mereka sampai di sebuah rumah sederhana, yang tampak kosong tak berpenghuni. Dilihat dari sudut manapun rumah itu kosong. Dika turun dari mobilnya dan bertanya kepada warga sekitar, dimana penghuni rumah itu berada. Dan informasi yang Dika dapat adalah semua penghuninya sudah pindah, karena mereka hanya ngontrak disana. Sedangkan Anton sendiri adalah seorang pria beristri dengan seorang anak yang masih balita.
Makin kusut saja wajah Dila. Dia merasa dibohongi selama ini sama Anton.
"Makanya jadi wanita itu jangan murahan. " Ketus Bu Ayu kepada anaknya itu
"Sekarang kita harus kemana Dik? gimana dengan Dila? Ibu nggak mau jadi gunjingan para tetangga kalau anak ibu hamil di luar nikah. "
"Ya gimana lagi bu, aku juga bingung. "
Saat ini mereka sedang berada di rumah sendiri setelah mencari pacar Dila yang sudah menghilang.
"Ada apa ini, kenapa wajah kalian tegang semua. " tanya Bagus yang tiba-tiba datang.
"Kamu datang juga. Bantuin ibu mikir, Gus. "
"Kenapa? "
"Dila hamil, dan cowoknya ngilang gitu aja nggak tau kemana. "
"Terus aku harus apa? " tanya Bagus tanpa rasa simpati sedikitpun pada adiknya.
"Sudahlah bu nggak perlu minta tolong sama mas Bagus. Percuma. " ketus Dika.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa Hah. " Bagus emosi dan langsung menarik kerah baju adiknya.
"Sudah-sudah. Kalian ini, bukannya ngasih solusi. Malah berantem. " Bu Ayu melerai kedua anaknya yang akan berkelahi itu.
"Kamu nikah sama temen mas, mau Dil? " tanya Bagus pada akhirnya setelah mereka terdiam cukup lama.
"Siapa? " tanya Bu Ayu antusias.
"Si joko. katanya lagi nyari istri. "
"Enggak, mending aku gugurin anak ini daripada harus nikah sama dia. " ketus Dila.
"Ya udah, terserah kamu. "
Mendengar kata menggugurkan kandungan membuat hati Dika berdenyur nyeri. Karena ingat Aksa dan anaknya dengan Vio yang tidak berkembang.
"Jangan Dil. Kamu udah banyak berbuat dosa, jangan nambah dosa lagi dengan membunuh janin tak berdosa itu. Agar kamu nggak pernah menyesal suatu saat nanti. "
Ucapan Dika membuat semua orang di sana melongo. Sejak kapan Dika berpikir tentang dosa.
"Gini aja, kamu tinggal dirumah mas giman? Disana orang-orang nya nggak pernah peduli dengan tetangga satu sama lain.Jadi kamu nggak perlu khawatir. " ujar Dika mencoba memberikan solusi.
"Terus kalau Dila ikut kamu, ibu di rumah ini sama siapa dong Dik? masa iya ibu sendirian dirumah ini? " tanya bu Ayu dengan wajah memelas.
Dika menghembuskan nafas kasar.
"Terserah ibu kalau begitu. Dila mau tinggal disini atau di rumah mas. Asal ibu dan Dila nyaman. Aku sudah pusing memikirkan semua ini. " kata Dika pada akhirnya.
Semua orang terdiam, dengan pikiran mereka masing-masing.
"Aku masuk dulu, aku akan pikirkan nanti. "
Di dalam Kamar Dila mencari nama kontak seseorang yang sangat dia kenal, karena beberapa kali dia berhubungan dengan pria itu. Selama ini selain kuliah, pekerjaan Dila yang lainnya adalah menjadi ayam kampus untuk memenuhi gaya hidup mewahnya. Uang jatah dari Dika tidak pernah cukup untuk memenuhi gaya hidup Dila yang diluar ekspektasi keluarganya.
Setelah menemukan nomor ponsel orang itu, Dila segera menghubunginya.
"Hallo ada apa Dila. " tanya orang diseberang telpon sana.
"Hallo om, Aku mau bicara sesuatu yang penting. "
"Apa katakanlah. "
"Aku hamil,"
"Anak siapa? "
Dila terdiam cukup lama dan itu membuat orang diseberang sana merasa curiga.
"Apa bukan anakku? "
"Aku tidak tau om, ini anak siapa? Tapi bisakah om membantuku sampai aku melahirkan anak ini? Lalu kita melakukan tes DNA. Jika ini anak Om, om bisa mengambilnya. Jika bukan aku akan pergi dengan anak ini. " kata Dila sambil menangis.
"Aku bingung, Om. Keluargaku tidak ada yang mau menerimaku, mereka merasa malu dengan gunjingsn para tetangga. Aku ingin minta tolong sama Om. "
Orang di seberang telpon sana terdiam mendengar curahan hati Dila. Dia juga kasihan sebernarnya dengan gadis itu. Tapi mau bagaimana lagi, resiko pekerjaannya kini sudah menghampiri gadis itu.
__ADS_1
"Baiklah, om akan kasih kamu tempat tinggal. Dan akan membiayai hidupmu sampai kamu melahirkan. Setelah itu aku tidak akan bertanggung jawab lagi padamu. Sesuai kesepakatan, jika anak itu anakku aku akan mengambilnya. Jika bukan kau boleh pergi. "
"Terima kasih Om. "
"Besok temui aku di cafe xx jam sepuluh. "
"Baik, om. Sekali terimakasih. "
Akhirnya Dila bisa bernapas lega. Satu masalah nya sudah teratasi. Dia akan pergi dari rumah besok. Karena dia juga tidak ingin membuat keluarganya malu.
Orang yang dimintai tolong Dila adalah seorang pemilik restoran . Sudah limabelas tahun menikah, tapi dia tidak kunjung dikaruniai anak. Akhirnya dia bermain gila dengan beberapa wanita lain, Dia ingin membuktikan apakah dirinya yang mandul atau istrinya. Karena, istrinya itu tidak pernah mau memeriksakan kesehatannya. Karena khawatir akan sesuatu yang tidak diinginkan. Meski begitu dia tetap bertahan dengan istrinya, tanpa berniat menceraikan nya.
*
Di kediaman Yesha, Abhi yang masih mendapatkan cuti setelah menikah kini sedang bermain berdua bersama Aksa di dalam kamarnnya. Kebetulan Danu sedang kuliah, jadi hanya ada Aksa dan Abhi yang ada dikamar itu.
"Aksa."
"Iya pa? "
"Papa mau ngomong sama Aksa. sini duduk di samping papa. " kata Abhi menepuk-nepuk tempat di sampingnya.
"Mau ngomong apa, pa? "
"Kalau papa mau ngomongin atau bertanya tentang ayah Dika sama Aksa boleh nggak? "
Mendengar papanya menyebut nama Dika membuat Aksa menegang. Sama seperti biasanya.
"Rileks Aksa, papa nggak tanya macem-macem kok. " kata Abhi sambil menepuk-nepuk bahu Aksa dari samping.
Aksa menunduk.
"Papa ingin tau, gimana perasaan Aksa kepada ayah Dika. "
"Aku nggak suka pa. Jangan bicara soal ayah Dika. "
"Kenapa? bukankah ayah Dika ayah kandung Aksa? "
"Iya tapi ayah Dika jahat pa. Jahat sama mama dan Aksa. "
Abhi menghembuskan nafasnya kasar. Rupanya luka yang ditorehkan Dika kepada anaknya sangat dalam. Dia tidak tau, apakah dia bisa membujuk Aksa untuk bertemu dengan ayahnya atau tidak.
"Tapi pernahkah Aksa merasakan sayang kepada Ayah Dika? "
Aksa mengangguk.
"Dulu, Aksa pengen banget di gendong ayah, dipamiti ayah saat berangkat kerja dan bermain bersama ayah. Tapi itu hanya impian Aksa. Ayah nggak pernah sayang sama Aksa. "
Hati Yesha yang mendengar penuturan anaknya di balik pintu terasa berdenyut. Dan tanpa terasa air matanya meluncur membasahi pipi.
"Kalau sekarang, ayah Dika pengen deket sama Aksa, dan pengen bermain sama Aksa. Apa Aksa mau? "
Aksa menggeleng.
"Nggak mungkin, pa. Ayah nggak mungkin mau menerima Aksa. Sekarang Aksa nggak peduli ayah Dika mau bermain sama Aksa atau tidak. Karena Aksa sudan punya papa yang sayang sama Aksa dan mama. " katanya sambil memeluk papa sambungnya itu.
__ADS_1