
Seperti biasa , pukul 05.00 sore Dika pulang dari kerja . Saat dia pulang , ada yang berbeda di rumahnya . Dilihatnya ada beberapa orang ,yang mengerubungi rumahnya . Namun setelah Iya tahu , dia jadi tersenyum sendiri . Kalau hari ini adalah hari pertama Maira berjualan . Dan sepertinya banyak yang berminat dengan jualan Maira .
"Assalamualaikum ." Dika memberikan salam kepada semua orang yang sedang berkumpul .
"Waalaikumsalam," jawab semua orang bersamaan .
Maira langsung menghampiri suaminya , dan meninggalkan dagangannya sejenak untuk menjalami suaminya itu .
"Sebentar ya Mas , Aku selesaikan melayani ibu-ibu dulu setelah itu aku akan tutup . "
"Iya , lanjutkanlah aku masih dulu ." kata Dika sambil tersenyum.
"Permisi ibu-ibu ." pamit Dika kepada beberapa orang ibu-ibu yang sedang memperhatikan mereka.
Maira kembali ke lapak dagangannya , dan Dika masuk ke dalam rumahnya .
Setelah semua orang sudah dilayani ,Maira memberitahu kalau setiap Menjelang magrib , sampai Isya lapaknya tutup dulu . Dan akan buka kembali , setelah melaksanakan salat Isya . Para ibu-ibu pun mengerti akan hal itu dan bisa memakluminya . Karena mereka harus menjunjung , rasa toleransi beragama ,beibadah dan berumah tangga .
Mereka berpikir , mungkin saja setelah kepulangan Dika . Maira harus melayani kebutuhan suaminya terlebih dahulu . Memang hatus diacungi jempol istri baru Dika ini, Maira rela meninggalkan pekerjaannya terlebih dahulu , untuk melayani suaminya yang baru pulang kerja .
Di dalam rumah , Maira langsung menuju dapur untuk membuatkan teh hangat untuk suaminya .Lalu meletakkannya di atas meja . Ia kemudian masuk ke dalam kamar , dan menyiapkan baju ganti untuk Dika yang sedang mandi .
Mereka bertiga berkumpul , di meja makan untuk menyantap makan malam yang sudah Maira siapkan . Yaitu soto ayam , permintaan suaminya .
"Enak banget sotonya Mai , kamu pintar masaknya . " puji Dika yang sudah tak sungkan lagi , walau ada ibunya .
"Biasa aja Mas , tadi juga diajari ibu menyiapkan bumbu bumbunya . Karena ini baru pertama kali aku masak soto ayam . Sebelumnya hanya sayur asem , atau sayur bayam aja . Untuk makanan baru Mungkin aku akan meminta bantuan Ibu mengajari aku untuk memasak . " Kata Maira yang tersipu setelah mendapatkan pujian dari suaminya
"Apa karena tangan Maira ya Bu yang pintar masak jadi walaupun pertama kali memasak masakannya sudah enak ."
"Ya bisa jadi . "Jawab Bu Ayu singkat . Dia merasa bahagia karena sudah berhasil mengajari Maira untuk memasak .
Setelah makan malam mereka berkumpul , di ruang keluarga untuk menceritakan apa saja yang terjadi hari ini .
"Bagaimana pengalaman pertamamu berjualan Mai, Apakah ramai ? " tanya Dika saat mereka duduk berdampingan
"Alhamdulillah mas , mungkin besok aku akan menambah porsinya . Ternyata orang-orang banyak yang menyukai gorengan . Dan mereka mengeluh karena harus keluar komplek dulu untuk membelinya. Tapi karena sekarang aku menjualnya , mereka tidak perlu repot-repot lagi membeli sampai keluar kompleks " kata Maira yang antusias menceritakan pengalamannya berjualan di hari pertama .
"Baguslah , Apa masih banyak jualannya?"
__ADS_1
"Enggak kok mas , mungkin hanya tinggal separuh saja . Karena aku bilang tadi setiap jam segini aku akan tutup , dan akan buka kembali setelah kita melaksanakan salat Isya ."
"Karena aku juga harus melayani Mas Dika yang baru pulang kerja ." Kata Maira lagi.
"Baguslah kalau begitu , kamu masih ingat tugas seorang istri. Pertahankan hal ini. "
Maira mengangguk. "Iya Mas aku mengerti , Aku tidak akan terlalu mengejar jualannku ini . Karena Aku melakukan ini hanya untuk mengisi waktu luang saja ." ujar Maira yang sepertinya, suaminya ini tidak mau di abaikan.
Tangan Dika kemudian terulur dan mengacak rambut Nisa dengan lembut.
"Nanti aku akan membantumu berjualan. "kata Dika kemudian .
"Benarkah ?" Kata Bu Ayu dan Maira bersamaan
Dan langsung diangguki Dika . "Iya nanti aku akan membantumu , sayang . " Kata Dika lagi yang mencoba menggoda Maira .
Terang saja , wajah Maira langsung memerah mendengarkan kata sayang dari mulut Dika . Sedangkan Bu Ayu hanya tersenyum melihat tingkah anak dan menantunya .
"Semoga kalian akan bahagia selalu . " Doa bu Ayu dalam hati .
Seperti yang dikatakan Dika tadi , dia akan membantu istrinya berjualan . Ternyata banyak juga , peminat jajanan ini . Terbukti baru saja Maira buka , sudah ada beberapa anak yang datang untuk membelinya .
"Duh Mas Dika , sayang banget sama istri kayaknya . Sampai-sampai mau bantuin jualan ."
"Alhamdulillah ibu-ibu , doain aja ya ." Kata Dika membalas ucapan ibu-ibu yang menggodanya dan istrinya .
"Iya mas kita doain semoga kalian langgeng , dan segera diberi momongan . "
"Aamiin ."
Sedangkan Maira yang terus mendapat godaan , hanya bisa tertunduk dan tersenyum . Karena dia tidak biasa , mendapat perlakuan seperti ini .
Tak lama , jualan mereka habis terjual . Dika membantu Maira untuk membereskan lapak dagangannya . Setelah mengunci pagar dan pintu rumah, Dika dan Maira sekarang masuk ke dalam kamar untuk beristirahat . Sedangkan Bu Ayu sudah masuk dari tadi , karena dia tidak biasa tidur larut malam sekarang.
Maira dan Dika , sudah berada di kamarnya saat ini . Dengan antusias Maira menghitung hasil dagangannya hari ini bersama Dika .
Kamu tadi jualan berapa kilo Mai? " Tanya Dika kepada istrinya .
Maira lalu memberitahukan apa-apa saja yang harus di beli untuk dagangannya hari ini.
__ADS_1
"Jadi aku membeli, bahan untuk tepungnya kurang lebih tiga kilo untuk empat jenis makanan ini. " kata Maira pada akhirnya.
"Kalau begitu, jangan di tambah dulu porsinya Mai. segitu aja dulu. Kita tunggu sampai satu minggu ke depan. kalau makin banyak peminatnya nanti kamu boleh nambah. Untung sedikit dulu nggak apa-apa kan? " tanya Dika yang ingin tau respon istrinya.
Maira tersenyum, " iya mas. Dikit aja dulu, sambil menunggu peminatnya. "
"Baguslah. Itu, uang modal yang udah kembali, kamu belikan lagi bahan untuk jualan besok. dan untungnya kamu tabung. dengan begitu, nanti kamu akan tau berapa keuntungan yang akan kamu terima dari modal dua ratus ribu itu. "
Maira mengangguk mengerti. Dia lalu menyimpan uangnya di dalam sebuah tas.
"Dua hari lagi InsyaAllah aku gajian. Dan itu saatnya kamu harus bisa mulai menghitung pengeluaran kita selama satu bulan. "
"Iya mas. "
Mereka berdua akhirnya berbaring, dengan Dika yang langsung menempel di tubuh Maira lalu memeluknya.
"Mai... "
"Hmmm... apa mas. "
"Nanti saat kau sudah selesai, bolehkah aku meminta hak ku? " bisik Dika di telinga Maira.
Sontak saja ucapan Dika membuat Maira malu.
"Mas... "
"Apa, sayang. " goda Dika lagi dan langsung membalikkan tubuh Maira untuk menghadap ke arahnya.
Dia lalu merapikan rambut Maira yang menutupi wajahnya. Lalu dengan perlahan mengikis jarak keduanya. Dan di mulai lah ciuman panas antara mereka berdua.
"Bernapas Mai? " kata Dika tiap kali melihat Maira hampir kehabisan napas.
"Aku masih belajar mas. " kata Maira yang masih mengatur napasnya.
Mendengar jawaban Maira membuat Dika terkekeh geli. "Ternyata istriku benar-benar masih polos. "
"Mas ihhh, jangan godain aku terus, aku kan malu."
Dika lalu menyerang Maira lagi dengan ciumannya, kali ini dengan sedikit kasar. Seolah dia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Bahkan tangan nakalnya sudah masuk ke dalam baju tidur Maira, dan memainkan salah satu benda kenyal milik Maira. Maira yang baru kali ini di sentuh oleh seorang pria pun langsung menggeliat kegelian.
__ADS_1
"Mas... Ah.. stop.. aku masih belum bisa di pakai."