Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Lamaran Tidak Langsung


__ADS_3

Di rumah Yesha, semua orang sudah berkumpul. Mama Erina yang sejak siang berada di sana pun sangat antusias dengan makan malam kali ini. Ia sudah mengakrabkan diri dengan bu Hasna, ibunya Yesha. Pak Pram juga sudah bertemu lagi dengan sahabat lamanya itu. Mereka berbincang di ruang tengah sambil duduk lesehan di lantai beralaskan karpet agar terjalin keakraban kedua keluarga.


Ini semua adalah saran Jihan, karena menurut nya kalau duduk di bawah itu suasana kekeluargaan akan Tercipta. Kalau duduk di meja makan, kesannya terlalu resmi. Begitulah saran Jihan dengan semua ide nakal nya. Dia memang mencetuskan ini semua agar telihat suasana akrab dua keluarga seperti orang yang mau lamaran. Dalam hati dia terkikik geli dengan semua pemikirannya yang akan mengerjai kakaknya itu habis - habisan.


Yesha sengaja duduk di sebelah adiknya dan Aksa yang duduk dipangkuan Danu, sedangkan Jihan duduk di sebelah Yesha. Semua sudah diatur matang oleh Jihan. Dia benar-benar melakukan prank terbaik malam ini.


Saat mereka masih ngobrol santai sambil menunggu makanan yang dihidangkan bi Sumi, terdengar suara mobil yang berhenti di luar rumah. Jihan sudah menduga kalau itu adalah Abhi. Dia berdehem cukup keras untuk menetralkan detak jantungnya yang berdetak cepat. Dia menyiapkan mentalnya terlebih dahulu sebelum nanti kena marah habis-habisan oleh kakaknya.


Terdengar suara langkah kaki masuk ke dalam rumah Yesha, Semua orang tercengang melihat siapa yang datang.


"Abhi... "


"Mas Abhi... "


Pekik semua orang yang terkejut, kecuali Danu dan orang tua Yesha yang masih belum tahu sosok Abhi.


Abhi tidak menghiraukan panggilan semua orang, dia malah menatap semua orang disana, ada keluarganya, Yesha, seorang laki-laki muda sedang memangku Aksa yang terlihat akrab dan dua orang paruh baya yang tidak Abhi kenal.


"Yesha, jangan menikah dengannya. " Akhirnya sebuah kalimat keluar dari mulut Abhi membuat semua orang tercengang


"Aku mohon padamu, jangan menikah dengannya." Ucapnya lagi.


Ucapan Abhi tidak bisa di cerna dan di mengerti oleh semua orang.


"Apa maksudmu, mas. " tanya Yesha masih tidak mengerti.


"Batalkan pertunangan ini dan menikahlah denganku. "


Jederrr.....


Seperti suara petir yang dahsyat, kalimat terakhir Abhi seperti menyambar pendengaran semua orang.


"Apa maksudmu nak? " tanya mama Erina mendekat pada putranya yang masih berdiri dengan wajah yang sangat kacau, dia pura-pura tidak mengerti.


"Ma, pa. tolong lamarkan Yesha untukku, aku sudah memikirkannya. Dan aku sudah memutuskan akan menikahi Yesha. Sepertinya Aku mencintainya ma, aku tidak mau kehilangan dia. " ungkap Abhi kepada mamanya itu.


"Jangan begitu, nak. Kita harus memikirkannya lagi. jangan di waktu seperti ini. Kita harus mempersiapkan nya dulu. " ucap mama Erina yang sepertinya mengerti perasaan Abhi. Tapi dalam hatinys dia bersorak senang.


"Abhi... duduklah sini. " pak Pradipta meminta Abhi duduk di sebelahnya.


Di susul mama Erina yang ikut duduk di samping Abhi. Kini Abhi sudah diapit kedua orang tuanya.


Pak Pradipta menepuk tangan Abhi yang dingin. Sepertinya anaknya itu sedang berperang dengan perasaannya.


"Abhi, apa kau sudah memikirkannya? "

__ADS_1


Abhi mengangguk.


"Lalu apa kau sudah tau jawaban dari perasaanmu itu? "


Lagi-lagi Abhi mengangguk.


Pak Pram dan istrinya hanya menyimak apa yang dikatakan ayah dan anak itu, Begitu juga dengan Yesha yang tidak mengerti apa-apa. Sebenarnya semua orang sudah tau rencana ini. Jihan meminta maaf sebelumnya kepada kedua orang tua Yesha karena harus melakukan rencana ini,agar mereka tau bagaimana perasaan kakaknya itu kepada Yesha. Hanya Abhi dan Yesha yang tidak tau rencana licik jihan ini.


"Kalau begitu, coba katakan apa yang kamu rasakan setelah berjauhan dari Yesha selama beberapa hari ini. Papa hanya tidak ingin kamu salah mengenali perasaan mu, Abhi. " terang pak Pradipta .


Abhi menunduk lalu mengatakan apa saja yang dia rasakan selama beberapa hari ini tidak bertemu dan berkomunikasi dengan Yesha.


"Aku merindukannya, aku merindukan kelembutan Yesha, tutur kata dan perilakunya, Aku gelisah dan merasa kehilangan. Aku tidak bisa tidur selama beberapa hari. Namun semua terobati, tiap aku mendapatkan makan siang darinya. Tapi selama beberapa hari dia tidak mengirimi ku makanan, aku jadi semakin merasa kehilangan dan Merasa Yesha menjauh. Lalu aku putuskan ke mari beberapa waktu lalu, untuk melihat Yesha dari jauh, dan bertanya-tanya kenapa dia tidak mengirimiku makanan lagi. Tapi yang aku lihat sangat mengecewakan, Yesha sedang berbicara dan tersenyum dengan seorang pria bernama Andre. Disitu aku marah, apa itu juga di sebut cemburu? Aku tidak tau. " Abhi menarik napas nya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Hingga tadi aku menerima pesan dari Jihan, kalau hari ini Yesha akan bertunangan. Itu semakin membuatku kacau. Aku tidak rela jika Yesha bersanding dengan pria lain. "


Mendengar itu, Yesha melotot kearah Jihan dan dibalas Jihan dengan cengiran kudanya sambil menunjukkan dua jari berbentuk V


Semua orang tersenyum simpul mendengar semua ucapan Abhi, yang secara tidak langsung sama dengan mengungkapkan perasaannya. Sedangkan Yesha, setelah mendelik ke arah Jihan, dia langsung menunduk dan juga tersenyum. Yesha sebenarnya juga sudah menyiapkan jawaban atas mimpinya selama tiga hari ini dia berikhtiar. Jika Abhi meminta jawaban padanya.


"Baiklah, papa mengerti sekarang. " kata pak Pradipta setelah mendengarkan semua ungkapan isi hati Abhi.


"Bagaimana, nak Yesha. Abhi sudah mengungkapkan isi hatinya, bahkan dia mengatakannya kepada semua orang dan pasti di dengar juga oleh orang tuamu. Jadi, bagaimana menurutmu nak Yesha. Apakah kamu mau menerima Abhi untuk menjadi suamimu? " kata Pak Pradipta dengan lantang.


Abhi dan Yesha lalu mengangkat wajah mereka. Abhi merasa sangat terkejut dengan ucapan papanya barusan, apa maksudnya semua ini? Orang tua Yesha?


"Diam, Abhi... kita dengarkan jawaban Yesha dulu." sanggah papa Abhi.


"Nak...? " giliran Mama Erina yang bertanya kepada Yesha.


"Aku... Aku... menerimanya. Aku akan menerima mas Abhi untuk menjadi imamku jika mas Abhi menginginkannya. Setelah melakukan ikhtiar selama beberapa malam, dan petunjuk dari Allah semua mengarah pada Mas Abhi. Jadi dengan kata Bismillah, Aku yakin Menerimanya. "


"Alhamdulillah... " semua orang merasa senang dengan jawaban dari Yesha. Tapi dia juga penasaran akan satu hal.


"Tunggu... Kalau Yesha menerimaku, lalu bagaimana dengan dia? " Tanya Abhi yang mulai bingung dengan keadaan sekarang.


"Dia Danu, adik Yesha. " kata Mama Erina.


"Apa... jadi tidak ada acara tunangan? " tanya Abhi dengan terkejut.


"Tidak ada, rencana kami hanya makan malam disini, karena ternyata bapaknya Yesha adalah sahabat papamu dulu waktu SMA. "


"Apa? " Lagi-lagi Abhi terkejut dengan kenyataan yang di terimanya.


"Lalu pesan itu... " Abhi menoleh ke arah, adiknya yang sudah ambil ancang-ancang ingin melarikan diri.

__ADS_1


"Jihaaannn... " Abhi akan beranjak dari duduknya dan mengejar Jihan, tapi di tahan oleh papanya.


"Duduk, jangan seperti anak kecil, kamu nggak liat ada orang tuanya Yesha. " kata Pak Pradipta gemas kepada anaknya itu.


Abhi langsung terduduk setelah mendengar teguran daru papanya. Dia akan membalas adiknya itu nanti.


"Jadi, benar tidak ada acara lamaran? " tanya Abhi masih tak percaya.


Semua orang menggeleng.


"Hanya makan malam biasa? " tanyanya lagi.


Dan semua orang mengangguk mendengar pertanyaan Abhi.


"Lalu, jawaban Yesha tadi? Apa benar kamu menerimaku, jadi suamimu? " tanya Abhi kepada Yesha.


Yesha mengangguk malu-malu.


"Alhamdulillah.., " kata Abhi pada akhirnya.


Mama Erina berdiri dan mengambil tasnya. Lalu dia mengambil sesuati dari dalam tasnya.


"Nah, mumpunh momennya pas ini bapak ibu nya Yesha, bagaimana kalau kita lakukan acara tukar cincin untuk mengikat hubungan mereka berdua. Masalah tanggal pernikahannya nanti kita bahas lagi setelah makan malam. " kata Mama Erina menunjukkan sebuah kotak cincin dengan dua buah cincin disana.


Semua orang tak percaya dengan apa yang mereka lihat, ternyata mama Erina sudah menyiapkan semuanya dengan matang.


"Ma... " kata Abhi tak percaya.


"Ayo, ambil dan sematkan cincin ini di jari manis Yesha. "


Abhi mengambil kotak cincin itu dari mamanya dan dengan Bismillah Abhi memegang tangan Yesha.


"Ayesha, dengan disaksikan kedua orang tuaku dan kedua orang tuamu, aku ingin melamarmu. Apakah kau mau menjadi istriku? "


Yesha menunduk dan menganggukkan kepalanya.


Abhi lalu memasangkan cincin pemberian mamanya itu di jari manis Yesha, begitu juga sebaliknya.


"Alhamdulillah." ucapan syukur itupun terdengar memenuhi rumah Yesha.


Tak lupa Jihan dan Danu telah mengabadikan momen yang baru saja terjadi.


Lalu mereka melakukan makan malam bersama. Seperti biasa Yesha selalu melayani Abhi mengambilkan makanan untuknya, tapi kali ini dia sedikit canggung.


"Nggak usah canggung mbak, bentar lagi juga halal. " ledek Jihan.

__ADS_1


Jihan lalu mendapat tatapan tajam dari Abhi yang membuat Jihan beringsut, tatapan yang menyiratkan. "Aku butuh penjelasan."


__ADS_2