Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Umma


__ADS_3

☕️☕️☕️


Raja tersenyum bangga saat menceritakan Yana pada teman satu kampusnya dahulu, saat ini mereka sedang berada di sebuah kedai kopi menghabiskan waktu bersama setelah magrib sambil menunggu kedatangan Yana.


“Ga ku sangka jodoh juga kau sama dia lae.”Ucap teman Raja.


(Kata lae, hanya dipakai saat seorang laki-laki menyapa laki-laki lainnya. "Kata sapaan ini sebenarnya berasal dari Toba dan Mandailing)


“Rencana Allah memang tak bisa ditebak lae pasti yang terbaik.” Jawab Raja dengan senyum yang tak pernah lekang dari wajahnya.


“Anak-anak cemana lae.?”


Raja diam sejenak, mengingat sikap Lili yang masih tak dapat dikendalikan. “Baik, orang ini baik dengan Yana, gitu juga Yana sayang sama orang ini” Ucap Raja tak mungkin jujur dengan kondisi keluarganya saat ini.


“Mantap kali lae ini ah,” Puji teman Raja lagi.


Obrolan mereka terhenti saat ponsel Raja berbunyi, tulang Togar mengabarkan bahwa mobil yang mereka kendarai terpaksa berhenti di pertengahan jalan karena ada pohon tumbang di tengah jalan, kondisi hujan membuat warga sedikit kesulitan membersihkan jalan dengan cepat.


Saat Raja meminta berbicara dengan Yana Tulang Togar mengatakan Yana sedang berada jauh darinya. Raja mulai gusar, beruntung daerah tempat mereka tersangkut yang tulang Togar katakan ada pemukiman warga meskipun tak terlalu Ramai.


Namun ponsel Yana tak dapat dihubungi karena yang dapat tersambung hanya ponsel dengan tipe lama yang tak memiliki jaringan internet, Raja bergegas bangkit dari duduknya berencana menjemput Yana.


Langkah Raja terhenti saat menyadari ia juga tak dapat berjalan ketempat Yana dan anak-anak berada yang ada hanya menambah masalah saja.


☕️☕️☕️


“Apa ku bilang, kalau tadi Yana ga berangkat kan ga sangkut dia.” Ucap mak Duma sesaat setelah menutup panggilan telepon dengan Raja yang mengabarkan bahwa Yana sedang tersangkut di tengah perjalan.


“Apa pulak kau ini Duma, barusan ku telpon Togar baiknya mereka.” Ucap pak Azis menenangkan.


“Cemana lah nasib cucu-cucu sama menantuku itu huaaaaaaa.” Mak Duma menangis tak terbendung membuat pak Azis memijat kepalanya.


Bukan pak Azis tak cemas, hanya saja laki-laki itu sudah memastikan keadaan Yana baik-baik saja. Tak ada yang perlu dicemaskan berlebihan.


“Udah, tenang kau tenang.” Ucap pak Azis menenangkan istrinya ajaibnya itu.


“Baru sebulan aku dapat menantu baru pak, huaaaa”


“Inang, pening kepala ku dengar kau menangis tenang dulu kau.” Pak Azis memeluk mak Duma menenangkan.


“Huaaaaa.” Bukan berhenti mak Duma semakin keras menangis sambil menarik baju kaos pak Azis untuk mengelap air matanya.


“Ya Allah Duma baru ku pakai baju ini jangan kau lap air mata mu disitu.” Pak Azis tak habis pikir sejak menikah hingga saat ini punya anak dan cucu mak Duma tak pernah berubah masih saja manja.

__ADS_1


“Cemana itu pak.” Mak Duma masih tak mau diam.


“Sudah ku telpon Togar Duma.” Kesabaran pak Azis tak sedikitpun terkikis untuk istrinya.


“Tapi ga langsung sama Yana kan, cemana kalau Togar sama Jamilah macam-macam.” Mak Duma mulai dengan pikiran jeleknya yang harus segera diluruskan oleh sang suami.


“Astagfirullah, Duma adikmu si Togar itu, adik kandungmu cemana taat agamanya kau ragukan.” Pak Azis mengingatkan.


“Terus aku harus cemana.” Mak Duma berhenti menangis dan menatap mata pak Azis.


“Salat kau berdoa, belum salat isya kau kan! makanya banyak jin mu. Ucap pak Azis asal dan kembali menelpon Togar.


☕️☕️☕️☕️


Yana yang mulai ngantuk tersentak saat mobil yang mereka kendarai berhenti tiba-tiba, di depan mobil mereka ada dua mobil lain yang sudah lebih dahulu berhenti.


“Kenapa nantulang?” Tanya Yana heran.


“Ga tau juga aku, tunggu dulu itu tulang mu sedang turun nengok ada apa.” Jawab Jamilah.


“Kenapa tulang.” Tanya Yana saat Togar kembali menaiki mobil dengan baju yang sedikit basah.


“Ada pohon tumbang ke badan jalan di depan sana, ga bisa lewat kita.”


“Tenang dulu, jan turun dari mobil ini kelen ya ku cari dulu bantuan.” Ucap Togar memberi arahan pada istri, serta keponakan dan cucunya yang berada di dalam mobil.


“Umma aku takut.” Lala mendekat dan memeluk Yana. Lulu yang tertidur di pangkuan Jamilah juga mulai terusik dan membuka mata.


“Jangan takut, ada Allah yang jaga kita.” Ucap Yana menenangkan anak-anaknya setenang mungkin. Bagaimanapun tulang Togar dan nantulang Jamilah masih asing untuknya. Namun Yana yakin Allah akan menjaganya dan anak-anak.


Tulang Togar kembali naik ke mobil dan mengajak mereka semua turun, “di ujung sana ada rumah warga kalian menginap disitu dulu sampai kita bisa jalan.”


Yana sedikit Ragu mengikuti perintah Togar namun dari cerita mamak tulang Togar adalah orang baik dan selama bertahun tahun menjaga kebun sawit mamak tak pernah ada masalah. Akhirnya Yana memberanikan diri mengikuti saran tulang Togar dan nantulang.


“Kalian sini dulu, aku di mobil ga bisa ku tinggal gitu aja mobil bang Azis itu.” Ucap tulang Togar setelah mengantar mereka ke rumah warga yang Togar katakan sebelumnya.


“Masuk sini masuk, duduk sini kelen.” Ibu pemilik rumah mempersilahkan mereka duduk di tempat duduk yang terbuat dari papan dilapisi dengan tikar anyam.


“Muslim kelen,” Tanya ibu-ibu pemilik rumah yang terbuat dari papan dengan lantai semen kasar sebagian dan sebagian lagi tanah.


“Iya inang,” jawab Jamilah membenarkan.


“Apa mau ku kasih makan kelen, nanti ku kasih tak halal untuk kelen. Minta maaf lah aku ya.” Ucap ibu pemilik rumah itu tak enak.

__ADS_1


“Gapapa inang kami sudah makan.” Jawab Yana.


“Kamar tak ada, aku pun tidur di sini juga.” Ucap ibu itu sambil menunjuk tempat duduk yang mereka duduki.


“Tak apa inang kami pun bisa disini maaf lah sudah buat inang susah kami ini.” Ucap Jamilah pada ibu tua itu.


“Tak apa, tak susah aku saling tolong nya kita hidup ini nak ku”


Petir menggelegar, cahaya penerangan rumah hanya dari dua buah bohlam warna kuning yang berada di dalam rumah itu, Lala mendekatkan diri pada Yana. Lulu sudah memeluk Yana ala kanguru dengan mata terpejam karena mengantuk. Sedang Lili masih saja menjaga jarak aman dari Yana.


“Kira-kira kapan bisa jalan ya.” Tanya Yana pada Jamilah.


“Pohon tumbang itu kalau malam, macam gini cuaca lama lah itu bisa besok pagi.” Ibu tua pemilik rumah itu memberi jawaban atas pertanyaan Yana.


“Kita disini sampai pagi umma.?” Bisik Lala.


“Belum tau, semoga aja cepat ya bisa jalan.” Jawab Yana menenangkan.


Suara petir kembali menyambar rumah sederhana yang terbuat dari papan itu seolah bergoyang, jamilah terlihat lebih tenang sedang ibu pemilik rumah bersikap biasa saja.


Namun tidak untuk Yana ia kembali memeluk erat tiga anaknya untuk mendekat, Lala di kanan Lulu di pangkuan ya sedangkan Lili di kiri dan hanya mendekat sebentar saat petir saja selebihnya Lili kembali menjauh.


Petir berikutnya bersamaan dengan padam aliran listrik di rumah itu, Yana yang menyadari Lili takut gelap bergegas mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menyerahkan Lulu pada Lala.


“Peluk adik jangan di lepas satu detik pun, umma percaya sama kakak.”


Yana menyalakan senter pada ponselnya dan mengarahkan pada Lili yang sudah duduk memeluk kakinya dengan wajah pucat.


“Nantulang pegang ponsel ini sebentar.” Ucap Yana menyerahkan ponselnya pada Jamilah dan Yana segera meraih tubuh Lili dalam pelukannya. Gadis kecil itu tak menolak dan membalas pelukan Yana dengan erat.


“Umma aku takut.” Ucap Lili lirih di telinga Yana.


“Jangan takut ada umma disini kita akan baik-baik saja.” Ucap Yana memeluk gadis kecil yang baru pertama kali memanggilnya umma itu.


☕️☕️To be continue☕️☕️


Tulang : paman


Nantulang : bibi/istri paman


☕️”Saat ku kejar, dia lari menjauh, ingin ku ikat namun aku tak punya tali dan saat aku ikhlas sepenuh hati ia memanggilku umma juga dengan sepenuh hati.” Ayyan Ahmad


Jan lupa bahagia Rakan Jan lupa syenyummmmmm😊😊

__ADS_1


__ADS_2