Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Ejekan Awan


__ADS_3

☕️☕️


Remaja tujuh belas tahun gundah gulana karena cinta mungkin sudah hal biasa, remaja puber sampai lupa diri juga ada bahkan ada juga yang sampai menggadaikan nyawanya.


Namun kali ini kasusnya sedikit berbeda, bukan remaja yang puber tetapi laki-laki dewasa yang gundah gula melebihi remaja tujuh belas tahun.


Akhir-akhir ini Raja merasa Yana begitu jauh untuk dijangkau, pernyataan gadis itu yang terang-terangan pada Lulu membuatnya bertambah sadar bahwa mendapatkan Yana tak akan mudah.


Malam itu seperti biasa, balkon kamar dan sebatang cerutu menemani Raja memandang bulan yang terlihat lebih terang dari biasa, langit biru cerah penuh pesona dan gumpalan-gumpalan awan putih beriringan yang bergerak searah menandakan tujuan mereka sama.


Raja menghembuskan asap sisa nikotin dari mulutnya seolah membuang semua asap itu dari parunya tanpa ia sadari ada banyak sisa yang bersemayam di paru-parunya.


Sebenarnya bukan Raja tak paham bahaya si nikotin, hanya saja akhir-akhir ini ia butuh lebih banyak asupan nikotin itu dengan alasan untuk membuat pikiran lebih tenang.


Kembali pada gumpalan para awan yang beriringan dan terlihat terus saja berjalan begitu cepat seolah mengejek sang duda yang sedang duduk di balkon kamarnya sendirian.


“Sendirian aja om dud,,, gandengan dong kayak kita-kita” Jika si awan bisa bicara, Raja sangat yakin kata-kata itu yang para awan itu akan katakan padanya. Sungguh menyakitkan.


Namun memang begitu faktanya, ia sedang duduk sendiri hanya saja pikiranya berlima, yaitu ia Yana dan ketiga anaknya.


Saat mengigat sikap Yana pada Lulu lagi-lagi membuat Raja sadar kali ini bukan hanya cinta wanita itu untuk nya yang harus didapatkan, melainkan ia harus memastikan wanita itu mencintai ketiga anaknya juga.


Lalu bagaimana jika nanti wanita itu tak bisa menerima anak-anaknya apa yang harus ia lakukan.


“Aaaggggrrrrr jangan mondar mandir di kepala abang Ay, pening abang ini.” Monolog laki-laki itu sambil mengacak-acak rambut ikalnya yang sudah terlihat lebih panjang dari biasa.


Bukan fisiknya yang tak sempat pergi ke barbershop untuk memangkas Rambut, akan tatapi hati dan otaknya yang tak sempat berfikir untuk melakukan itu.


Bunyi notifikasi pesan pada ponselnya membuat Raja mengambil benda pipih yang sejak tadi tergeletak di atas pangkuannya. Pada aplikasi pesan tertulis nama si pengirim pesan yang mengganggu lamunan laki-laki itu.


Masyitah


’Pak mengingatkan jadwal untuk besok full sampai jam delapan malam ya, tidak ada yang bisa di cancel.”


Pesan itu hanya Raja baca tanpa ada ada niat secuil pun untuk membalasnya.


Sebelum kembali menyimpan ponselnya Raja melihat unggahan cerita terbaru pada aplikasi pesan dari teman-teman yang nomor kontak mereka tersimpan pada ponsel Raja.


Tak ada yang menarik hanya ada keluhan-keluhan dari pengguna aplikasi pesan itu, sampai matanya tertuju pada sebuah nama.

__ADS_1


‘My Ayyana’ Raja bergegas membuka cerita yang dibagikan pujaan hatinya itu.


Gadis itu mengunggah sebuah foto langit dengan bulan yang indah ‘Langit biarkan bulan tetap disana sampai aku puas menatapnya’ begitu keterangan yang gadis itu tulis pada foto tersebut.


Seperti burung puber kata Orin dalam novel “Anak Bumi di Bawah Langit karya Syaesha” Begitulah keadan hati Raja saat melihat unggahan cerita gadis itu, Raja langsung mengirim pesan pada wanita itu mengomentari foto yang wanita itu unggah.


‘Ay kita sedang melihat bulan yang sama’



*


Pesan itu langsung dibaca oleh penerimanya tapi tak ada balasan, hati Raja gelisah dan kecewa mungkin begitulah perasaan hati Tita yang pesannya hampir tak pernah Raja balas.



‘Ay sama kan,! bulannya’ Raja kembali mengirim pesan lengkap dengan foto yang baru saja ia bidik menggunakan kamera ponsel canggihnya.


Namun tetap saja tak ada respon dari si penerima pesan itu, bahkan kali ini tak ada tanda bahwa pesan itu sudah terbaca.


☕️☕️☕️☕️


Namun pola hidup salah membuatnya lagi-lagi harus dilarikan kerumah sakit oleh mahasiswanya sesaat setelah selesai sidang skripsi salah satu mahasiswanya pagi itu.


Benar-benar buruk nasib si duda, dia memang mampu mengurus anaknya dengan baik tapi tidak dengan dirinya sendiri dan hatinya.


Lain Raja lain pula pada Yana siang itu saat jam pulang Yana harus singgah terlebih dahulu kesekolah Adam, karena Ali ayah anak itu sedang keluar kota dan Elita sedang ada rapat penting.


“Bunda.” Adam memanggil Yana dengan wajah sudah kusut.


“Bun lama banget sih! aku sampe kelaparan.” Cicit Adam kesal pada Yana yang terlambat datang menjemput.


“Bunda pikir tadinya om Utha bisa jemput kamu.” Jawab Yana jujur.


“Cir kamu gapapa kan tinggal sendiri.” Tanya Adam pada temannya yang sama-sama menunggu di jemput dengan wajah tak kalah kusut.


“Ga apalah nanti aku ke kelas kakak ku aja.” Jawab Lili lemas.


“Ayah Lili kemana kenapa belum jemput?” Yana yang mengenali gadis itu akhirnya membayar rasa penasarannya dengan bertanya pada gadis itu.

__ADS_1


“Ga tau, biasa ayah suruh Lili tunggu di depan kelas kak Lala.” Jawab gadis kecil itu jujur.


“Tapi pagi tadi ayah udah janji jemput siang, karena kakak sekolah sampai sore.” Ucap Lili lagi sambil melihat ke arah pintu gerbang sekolah itu berharap ayahnya terlihat disana.


Hati Yana terenyuh melihat keadaan yang ada, andai anak itu punya ibu mungkin tak akan seburuk itu keadaanya.


Dan bagaimana bisa Raja mengabaikan anaknya begitu saja, Yana lirik jam di tangan kirinya masih jam dua belas siang. Akan bagaimana keadaan Lili jika harus menunggu sampai jam lima sore.


“Ikut aku aja gimana?.” Jawab Ada memberi penawaran tanpa bertanya pada Yana terlebih dahulu.


“Boleh kan bun, kasian si kuncir dia kan bestie aku bun!” Adam mengungkapkan keinginannya pada Yana, sedang Yana masih terpaku menatap gadis kecil itu.


“Memangnya boleh pong?” Lili bertanya pada Adam memastikan ajakan Adam sebelumnya.


“Boleh dong, kita kan CS-bestie. Ia kan bun?.” Adam lagi-lagi memastikan dan masih saja tak dapat tanggapan dari Yana yang pikiranya masih melanglang buana entah kemana.


“Aku izin ke kak Lala dulu gimana.?” Tanya Lili pada Adam.


“Ga usah cir, nanti biar bunda ku yang telpon ayah kamu, Ayo.” Adam mengambil keputusan sepihak.


“Bun ayo, Lili juga ikut kita.” Kali ini ucapan Adam masuk ke telinga Yana dan langsung membuat gadis itu terkejut.


“Sekalian kamu bisa ketemu nenek ku cir, nanti kamu bisa tanya soal ibu tiri.” Ucap Adam lagi pada Lili.


Mata Lili langsung berbinar, kali ini ia akan mendapatkan jawaban yang bisa dibilang akurat karena perihal orang dewasa yang hampir sebulan ini ia pikirkan akan dijawab oleh orang dewasanya langsung.


Eh ga bisa Dam, nanti ayahnya nyariin.” Jawab Yana senetral mungkin berusaha menutupi keterkejutannya pada pernyataan-pernyataan Adam.


“Ayah kincir kan temen bunda, nanti bunda telpon aja ayahnya bilang sama ayahnya Lili ikut kita. Gampang kan.” Jawab Adam memudahkan urusan yang menurut Yana hal itu sangat sulit.


☕️☕️To be continue☕️☕️


Maaf rakan dua hari ini aku benar-benar sibuk 🙏 realita menuntut waktu lebih, terimakasihuntuk yang sudah sabar menunggu.


Dan sore ini buka NT ternyata ada yg nanya-nanyain aku jadi terharu 🙏 terima kasih untuk Rakan semua tiyum tayang dari Tittahhhhhh 💋💋


Kalau ga up aku biasa buat pengumuman di IG @coretan_nda


boleh di follow juga kalau berkenan

__ADS_1


__ADS_2