Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Nasehat Sepasang Sejoli


__ADS_3

☕️☕️☕️


Semakin hari semakin galak semakin hari semakin ketus dan semakin hari semakin cerewet khususnya untuk Raja, itulah Yana saat ini dan Raja benar-benar sedang diuji kadar cintanya kepada wanitanya itu.


Mie ramen dan teh hijau depan sekolah sekarang jadi makanan favoritnya, nasi padang yang dulu hanya sesekali ia makan sekarang justru semakin Yana gemari.


Banyak hal-hal lainya yang Yana tak suka justru menjadi kegemarannya sejak hamil, hal paling menonjol adalah cemburunya yang berlebihan dan ungkapan cintanya pada Raja yang lebih terbuka.


“Abang senang Aya gini, kayak ngerasa dicintai gitu Ay.” Ucap Raja saat mereka menikmati sore dengan sebungkus nasi padang berdua di sebuah kursi yang terbuat dari semen di taman dekat sekolah mereka dulu.


“Aya, berharap nanti setelah dia lahir Aya bisa mikir lebih jernih balik kayak dulu lagi.” Ucap Yana sungguh-sungguh. Yana kadang terlambat menyadari sikapnya pada Raja akhir-akhir ini.


Ia bahkan pernah beberapa kali datang ke kampus tiba-tiba akhir-akhir ini, Tita sampai di buat pusing menghadapi Yana yang selalu datang membawa Lulu. Ia baru berhenti saat mak Duma memberinya banyak nasehat.


“Biar gini aja, abang suka.” Jawab Raja.


“Dan ternyata banyak hal yang Aya baru tau tentang abang.” Ucap Yana kemudian tak ingin lagi membahas lebih banyak kelakuan anehnya yang memalukan sejak awal hamil hingga sekarang.


“Contohnya.” Tanya Raja sambil menyuapi Yana nasi dengan tangannya, ini juga salah satu kelakuan yang tak pernah terjadi sebelum Yana hamil, dulu ia paling tak suka mengumbar kemesraan di depan orang lain dan bisa mandiri dalam segala hal.


Namun sekarang bahkan ia minta disuapi dengan tangan di tengah taman yang banyak orang lalu lalang.


“Banyak, ternyata abang sepatuh dan sesayang itu sama mamak, semoga nanti anak-anak juga begitu sama Aya.”


“Terus, abang juga galak dulu abang ga pernah marah tapi sekarang sering ngomel-ngomel.”


“Itu abang bela diri Ay, kalian berlima abang sendiri.” Jawab Raja lemas. Membuat Yana tertawa merasa lucu teringat jika sedang kompak dengan anak-anak dan mertuanya Raja selama ini selalu menuruti kemauan mereka namun Raja sering mengomel sendiri.


“Ada lagi,” Ucap Yana berikutnya dengan wajah jahilnya.


“Emm, apa.?”


“Ternyata suami ku juragan sawit, kayak judul film.” Ucapan Yana yang itu membuat Raja tertawa merasa geli mendengarnya.


“Dulu abang ga pernah cerita.” Tanya Yana serius.


“Kenapa harus cerita, dulu itu semua punya mamak sama bapak. Abang ga punya apa-apa ga ada yang bisa abang banggakan.”


“Jalan sama kamu juga dulu abang mampunya hanya beli kacang rebus Ay, itu yang abang punya dulu dan itu juga hasil mengajar les sana sini,” Ucap Raja jujur tentang keadaannya di masa lalu.


Yana beralih menatap laki-laki di sampingnya itu dalam-dalam, tangannya kanannya terangkat mengusap pipi kiri Raja lembut.


“Nanti Aya mau, anak-anak harus bisa seperti abang.” Ucap Yana serius.


“Abang butuh kerja sama kamu, sayang.” Jawab Raja dengan senyum paling manis dan di angguki oleh Yana tanda setuju.

__ADS_1


“Nanti Aya belajar sama mamak.” Ucapan Yana justru membuat Raja menarik napas panjang, Raja mengakui didikan mamaknya adalah didikan terbaik hanya saja kadang di luar jangkauan pemikiran dan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mampu.


Raja hanya berharap Yana tak mengadopsi semua kelakuan mamaknya, karena menurut Raja hanya pak Yazis sang bapak yang Allah beri kekuatan dan kemampuan menghadapi manusia seperti mamaknya.


☕️☕️☕️


Memasuki usia kehamilan sembilan bulan kehamilan Yana, mak Duma merasa jika anak dalam kandungan Yana bukan anak laki-laki. Sebelum membeli perlengkapan bayi lengkap mak Duma menyarankan Yana menanyakan ke dokter perihal jenis kelamin anak dalam kandungan Yana.


Selama ini Raja memang tak pernah mau saat dokter menawarkan untuk mengetahui jenis kelamin calon anaknya itu saat mereka sedang cek up kedokter.


Raja hanya yakin saja anak itu laki-laki, namun tak ingin kunci surganya kembali jadi taruhan akhirnya ia mengikuti saran mak Duma untuk menanyakan jenis kelamin bayinya saat pemeriksaan sore itu.


“Wah, gadis cantik ini seperti ibunya.” Ucap dokter Zakia dokter obgyn langganan Yana.


“Jangan absurd seperti onty El ya dek bayi nanti.” Ucap dokter itu lagi, mengingat teman sejawatnya Elita adik dari Yana.


“Prediksinya dua minggu lagi ya, tapi bisa saja lebih cepat, kalau ada tanda-tanda langsung hubungi saya dan datang kesini.” Tambah dokter Zakia lalu menyudahi pemeriksaannya.


Saat di perjalanan pulang Yana memperhatikan wajah Raja yang berubah lebih diam sejak dokter Zakia menyatakan bahwa prediksi anak mereka perempuan. Raut kekecewaan itu tak bisa Raja sembunyikan begitu saja.


“Abang kecewa, abang berharap dia laki-laki.” Tanya Yana hati-hati sambil mengusap perutnya.


Juah di lubuk hati Raja jelas ia berharap anak dalam kandungan Yana adalah anak laki-laki namun tak mungkin ia berkata jujur pada Yana tentang hal itu.


“Nggak, abang cuma kepikiran kamu mau lahiran aja.” Jawab Raja setenang mungkin.


☕️☕️☕️


Tak ada yang bisa disalahkan, ia yang berasumsi sendiri selama beberapa bulan ini tentang anak dalam kandungan Yana.


“Kenapa kau,” tanya pak Azis yang datang menghampirinya.


“Gapapa, pak.”


“Jangan aku kau tokohi, bang.”


Raja tak menjawab, ia memilih diam dari pada harus menceritakan masalahnya pada bapak. Sudah jelas dia yang akan disalahkan.


“Soal cucu ku yang mau lahir itu.” Tanya pak Azis serius.


Lagi-lagi Raja diam seribu bahasa, ia saat ini sedang butuh waktu sendiri.


“Bang,” suara mak Duma yang ternyata berdiri di belakangnya sejak tadi membuatnya memalingkan wajah pada wanita yang sudah melahirkannya itu.


“Allah sedang sayang-sayangnya sama kau, nak ku.” Mak Duma mendekat mengusap kepala Raja.

__ADS_1


“Mamak sama bapak pun berharap anak itu laki-laki.”


“Tapi mamak sama bapak teringat cakap Yana beberapa bulan lalu, takut dia kalau punya anak sendiri nanti dia sombong dan lupa diri apalagi kalau nak itu laki-laki.”


“Hari ini mamak pun sadar dan takut bang,”


“Apa maksud mamak,?” tanya Raja yang tak paham kemana arah pembicaraan mak Duma, jika mamaknya sedang lembut begini biasa Raja harus lebih waspada.


“Bang, kalau anak itu laki-laki mungkin bukan cuma Yana yang berubah sama Lala Lili dan Lulu.” Ucap mak Duma serius.


“Kau pun akan berubah, bukan hanya kau bang aku sama mamaku pun bisa saja berubah.” Tambah pak Azis yang sedang dalam mode kompak dengan istrinya.


“Allah sedang sayang sama kita bang, Allah ajarkan kita adil dan ikhlas dalam waktu yang bersamaan.


“Cemana perasaan Lala, Lili sama Lulu kalau nanti tiba-tiba perhatian kita semua beralih sama bayi itu berlebihan cuma karena anak itu laki-laki dan sangat kita harapkan.?” Tanya mak Duma.


“Percaya sama mamak, Allah sedang menjaga keluarga mu, nak ku.”


“Tak ada ketetap Allah yang salah, bang.”


“Bersyukur, nak ku. Kalau kau bersyukur di tambahan Allah nanti nikmat mu. Tak lupa kau, kan, ajaran atok mu mengaji waktu kau kecil-kecil dulu.” Tambah pak Azis sambil menepuk pundak Raja seolah sedang menyadarkan kekhilafan anak sulungnya itu.


“Cemana kalau nanti kita ga bisa adil, bang. Atau Yana yang tak adil dan jadi masalah kedepanya.” Kali ini suara mak Duma yang terdengar lembut.


“Sekarang bapak rasa udah lebih dari bahagia kau hidup, bang. Orang diluar sana banyak yang sedang berharap jadi seperti mu sekarang ini.” Tambah pak Azis lagi.


Raja tak membantah dan menjawab sepatah katapun nasehat panjang pak Azis dan mak Duma, ia memilih diam merenungi diri atas kesalahannya yang sempat kecewa pada pemberi kehidupan.


“Makasih, mak, pak.” Ucap Raja sambil menyalami mamak dan bapaknya lalu berlalu begitu saja.


“Mau kemana kau, belum abis lagi cakap ku.” Tanya mak Duma.


“Jumpa istriku, aku sayang sama mamak.” Ucap Raja sedikit berteriak karena sudah berada cukup jauh dari gazebo.


“Tengo_”


“Tengoklah kelakuan anak mu itu, pak.” Ucap pak Azis memotong ucapan istrinya dan mengucapkan hal yang biasa keluar dari mulut mak Duma.


☕️☕️to be continue☕️☕️


☕️tokohi : bohongi (Bahasa yang digunakan di medan)


👱🏻‍♀️: kenapa bukan Ucok sih nda.


👧🏻: aku pun takut Rakan nanti ga adil aku sama LaLiLu cemana.

__ADS_1


☕️jan lupa bahagia jan lupa senyum.


__ADS_2